"na'budu" = "kami mengabdi" (BUKAN "kami menyembah"). Inti akar ini = posisi hamba (عَبْد, 'abd) di hadapan tuan (رَبّ, rabb / مَالِك, malik), penyerahan menyeluruh, BUKAN sekadar tindakan ritual (bersujud, berdoa) yg punya awal dan akhir. Paralel dgn keputusan lama salaat (yg juga BUKAN tindakan ritual devotional):
- hamba diterjemahkan mengabdi diterjemahkan pengabdian (Indonesia) = abd diterjemahkan 'abada diterjemahkan
'ibaadah (Arab).
- "Menyembah" kehilangan sambungan ke "hamba" sama sekali; ia
menyempitkan makna ke ranah ritual.
(argumen Pak FD): 1:1-4 = kredensial pihak yg berhak menerima pengabdian (Tuhan seisi alam, Ar-Rahman Sang Pengasih, Pemilik Hari Pertanggungjawaban); 1:5 = inti kontrak (pengabdian + permohonan pertolongan eksklusif); 1:6-7 = konsekuensi/pelaksanaan kontrak. Pergantian tata bahasa menegaskan: orang ketiga (1:1-4) diterjemahkan orang kedua dgn penekanan eksklusif (1:5) diterjemahkan imperatif permohonan (1:6-7).
(87+ ayat). Setiap kali bertemu na'budu/ya'budu/'ibaadah/ 'abd/'ubaad/'aabid dsb., "mengabdi/pengabdian/hamba" harus dipakai, BUKAN "menyembah/penyembahan/penyembah", KECUALI ada konteks spesifik yg secara eksplisit menyempit ke tindakan ritual tertentu (yg hampir tidak pernah terjadi mengingat sifat akar ini di seluruh Qur'an). Ayat-ayat yg sudah menggunakan "menyembah" di kolom terjemahan (versi lama) akan diperbaiki satu per satu saat tiba gilirannya dalam proses tulis-ulang.