Ayat 1:1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِbismi llaahi r-rahmaani r-rahiimidengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih
Penjelasan pilihan kata

"Bismillah" (بِسْمِ اللَّهِ, bismi llaahi) membuka surah ini. "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) dipertahankan sebagai nama, bukan diterjemahkan, karena ada ayat yang secara eksplisit menyandingkannya dengan "Allah" sebagai dua nama yang setara: "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman" (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana), "nama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah" (فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, fa-lahu l-asmaa'u l-husnaa), demikian bunyi 17:110. Bukti yang lebih tajam ada di 25:59: frasa "yang menciptakan langit dan bumi, kemudian bersemayam di atas Arasy" (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, alladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-arda wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaamin) adalah kalimat yang sama persis dengan yang di ayat lain (7:54, 10:3, 32:4) bersubjek "Allah", tetapi di sini langsung diikuti "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) sebagai penjelasnya, menyamakan keduanya dalam satu kalimat. Pola ini berulang: "Ar-Rahman" berkali-kali menjadi subjek kalimat yang melakukan tindakan sendiri, seperti mengajarkan Al-Qur'an dan menciptakan manusia (55:1-3) atau bersemayam di atas Arasy (20:5), sebuah peran gramatikal yang mustahil dimainkan kata sifat semata. "Ar-rahiim" (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) sebaliknya tidak pernah menjadi subjek kalimat sendiri di ayat mana pun; ia selalu menerangkan subjek yang sudah ada, dan di ayat lain (9:128) juga dipakai menggambarkan sifat seorang rasul, karena itu diterjemahkan "Sang Pengasih", bukan dipertahankan sebagai nama.

Tafsiran

Ayat pembuka ini menyandingkan dua kata yang berasal dari akar yang sama, namun berbeda status: satu adalah nama yang bisa menggantikan "Allah" sepenuhnya sebagai pelaku kalimat, satu adalah sebutan sifat yang selalu menerangkan pelaku lain, seperti dijelaskan di atas. Susunan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" karena itu bukan dua sebutan yang setara kedudukannya, melainkan nama diikuti sebutan sifat yang menjelaskannya, seperti seseorang disebut dengan namanya lalu segera diterangkan sifatnya. Ayat-ayat berikutnya akan segera membahas hal yang lebih berat, yaitu hari pertanggungjawaban di 1:4 dan kemungkinan tersesat atau dimurkai di ayat penutup surah ini; menempatkan nama dan sifat kasih sayang di baris paling awal membingkai seluruh pembahasan berikutnya, termasuk bagian yang paling mengingatkan sekalipun, sebagai bagian dari rahmat yang disebut lebih dulu.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 5)
  • Kedua kata dalam ayat ini berasal dari akar yang sama, tapi statusnya berbeda jauh: satu bisa berdiri sendiri sebagai pelaku, satu selalu bergantung pada pelaku lain untuk diterangkan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam perbedaan itu, tentang apa yang menjadi bagian dari identitas diri sendiri sejak semula, dan apa yang sekadar sifat yang menempel dari luar.
  • Sebelum kalimat lain diucapkan, sebelum satu perintah pun disampaikan, yang pertama muncul adalah sebuah nama yang berarti pengasih. Apa pun yang datang setelahnya, betapa pun berat, akan selalu berdiri di atas fondasi yang telah diletakkan lebih dulu ini.
  • Ayat-ayat berikutnya dalam surah ini akan segera membahas hal yang jauh lebih berat: hari pertanggungjawaban, jalan yang bisa ditempuh salah, murka yang mungkin diturunkan. Meletakkan nama kasih sayang tepat sebelum semua itu bukan kebetulan urutan; ia terasa seperti cara memperkenalkan sesuatu yang berat lewat pintu yang lembut lebih dulu.
  • Baris ini begitu akrab, diucapkan berulang kali hingga mudah terlewat tanpa benar-benar didengar. Namun di baliknya ada argumen yang tersusun dari perbandingan sangat cermat lintas ayat, sesuatu yang jauh lebih padat daripada yang biasa disadari siapa pun yang mengucapkannya sambil lalu.
  • Cara sesuatu diperkenalkan pertama kali sering menentukan bagaimana semua yang menyusul akan dipahami. Ayat ini memperkenalkan bukan lewat perintah atau ancaman, melainkan lewat nama yang berarti kasih; pilihan itu sendiri, tentang apa yang layak disebut lebih dulu, adalah sebuah pesan yang berdiri sendiri.

Ayat 1:2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَal-hamdu lillaahi rabbi l-aalamiinasegala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam
Penjelasan pilihan kata

"Segala puji" (الْحَمْدُ, al-hamdu) berbentuk kata benda, bukan kata kerja, memakai kata sandang "ال" yang menandakan pujian menyeluruh. Kata ini secara klasik dibedakan dari kata untuk "syukur": syukur hanya sah diucapkan atas kebaikan yang benar-benar diterima, sedangkan pujian jenis ini bisa disampaikan atas sifat yang layak dipuji terlepas dari ada tidaknya kebaikan yang diterima langsung, kalimat pembuka ini bahkan dikenal secara khusus sebagai ucapan orang yang sedang tertimpa kesulitan, saat tidak ada kebaikan duniawi baru yang sedang diterima. "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-aalamiina) adalah sebutan pertama dari rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" secara berturutan sampai 1:4; karena satu kalimat ini terbentang lintas tiga ayat, terjemahan diakhiri koma di sini dan di 1:3, baru ditutup titik setelah sebutan ketiga selesai di 1:4.

Kalimat pembuka ini bukan satu-satunya kemunculannya. Kata yang sama persis muncul lagi di 6:45, "dan segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam" (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, wa-l-hamdu lillaahi rabbi l-aalamiina), tepat setelah menggambarkan habisnya suatu kaum yang zalim, dan di 37:182 dengan kata yang sama persis, menutup rangkaian panjang kisah para nabi yang diselamatkan dari kaum mereka masing-masing. Ayat 45:36 memakai bentuk yang diperluas, "maka bagi Allah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan seisi alam" (فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-lillaahi l-hamdu rabbi s-samaawaati wa-rabbi l-ardi rabbi l-aalamiina), menempatkan "Tuhan seisi alam" sebagai sebutan puncak setelah dua sebutan yang lebih sempit disebut lebih dulu.

Sebutan yang sama juga muncul dalam mulut penentang. Firaun, ketika diberitahu bahwa ia diutus rasul dari "Tuhan seisi alam", balik bertanya dengan nada meremehkan, "Apa itu Tuhan seisi alam?" (وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, wa-maa rabbu l-aalamiina, 26:23), sebutan yang sama persis dengan yang membuka Al-Qur'an sebagai pengakuan penuh, di sini dilontarkan sebagai penolakan untuk mengakui.

Cakupan kata "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-aalamiina) sendiri punya lebih dari satu pemahaman secara klasik: sebagian memahaminya secara khusus mencakup jin dan manusia, bersandar pada ayat lain yang menyebut peringatan diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1) padahal peringatan itu jelas tidak ditujukan kepada binatang atau benda mati, hanya kepada makhluk yang bisa diseru dan diminta pertanggungjawaban; sebagian pemahaman lain mencakup seluruh makhluk tanpa kecuali.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan pujian bukan sebagai tindakan yang menunggu kebaikan diterima lebih dulu, melainkan sebagai kenyataan yang berlaku dengan sendirinya, bahkan dikenal sebagai kalimat yang justru diucapkan orang yang sedang kesulitan. Dasarnya pun bukan jasa yang dirasakan satu pihak saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Kata-kata pembuka ini ternyata bukan sekali pakai: ia dipinjam kembali di tempat lain persis pada momen-momen penyelesaian, entah setelah kejahatan sebuah kaum berakhir atau setelah rangkaian panjang kisah para nabi sampai pada penutupnya, seolah kalimat yang membuka kitab ini sekaligus membawa kosakata penutupan. Sebutan yang sama, "Tuhan seisi alam", bisa jatuh dalam dua sikap yang berlawanan sama sekali: di sini sebagai pengakuan penuh, di mulut Firaun sebagai pertanyaan yang menolak mengakui. Kata-katanya sama; yang berbeda adalah sikap yang membawanya. Cakupan "seisi alam" sendiri, kalau bacaan yang mengaitkannya dengan makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban itu benar, berarti ayat pembuka ini sejak awal sudah menyertakan setiap pembaca bukan sekadar sebagai bagian dari yang ada, melainkan sebagai pihak yang kelak diminta menjawab.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 6)
  • Pujian di ayat ini bukan tindakan yang baru dimulai oleh siapa pun yang mengucapkannya, melainkan kenyataan yang dinyatakan sudah berlaku dengan sendirinya. Kalimat ini bahkan dikenal secara khusus sebagai ucapan orang yang sedang tertimpa kesulitan, bukan hanya ucapan orang yang baru menerima kebaikan. Ada sesuatu yang menggugah dalam kenyataan itu: pengakuan semacam ini ternyata tidak menunggu keadaan menjadi baik lebih dulu untuk layak diucapkan.
  • Dasar pujian ini bukan jasa tertentu yang dirasakan satu kelompok saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Ada beda besar antara penghargaan yang lahir karena menerima sesuatu secara pribadi, dan pengakuan atas sesuatu yang benar terlepas dari untung atau rugi yang dirasakan.
  • Kata-kata yang membuka seluruh Al-Qur'an ini ternyata bukan sekali pakai. Kata yang sama muncul lagi di tempat lain, tepat pada saat sesuatu yang sulit akhirnya usai, atau ketika sebuah rangkaian kisah panjang akhirnya sampai pada penutupnya. Sebuah pembukaan yang meminjam kata-kata dari momen penutupan menyimpan sesuatu yang layak direnungkan tentang ke arah mana keseluruhan bacaan ini sebenarnya menuju.
  • Sebutan yang sama persis, kata demi kata, muncul lagi jauh di ayat lain, kali ini diucapkan sebagai pertanyaan meremehkan oleh seorang penguasa yang menolak mengakuinya. Kata yang sama bisa menjadi pengakuan penuh atau penolakan penuh; yang membedakan keduanya bukan kata-katanya, melainkan sikap orang yang mengucapkannya.
  • Cakupan sebutan "seisi alam" di sini, menurut sebagian pemahaman klasik, bukan sekadar segala sesuatu yang ada secara fisik, melainkan secara khusus makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban. Kalau bacaan ini benar, maka yang tercakup di dalamnya bukan soal eksistensi semata, melainkan soal kesanggupan untuk menjawab, sebuah kategori yang menyertakan siapa pun yang sedang membaca kalimat ini sekarang.
  • Kalimat yang menggambarkan siapa yang dipuji ini tidak selesai dalam satu napas; ia terbentang sampai tiga ayat sebelum benar-benar tuntas. Ada sesuatu yang layak diperhatikan dalam cara ini: memahami sesuatu yang penting kadang memang tidak bisa dipadatkan menjadi satu baris saja.

Ayat 1:3

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ar-Rahman, Sang Pengasih,

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِr-rahmaani r-rahiimiAr-Rahman, Sang Pengasih
Penjelasan pilihan kata

"Ar-Rahman, Sang Pengasih" (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, r-rahmaani r-rahiimi) adalah sebutan kedua dalam rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" sejak 1:2, masih dalam satu kalimat yang sama; ketiga sebutan ini berakhiran sama, tanda bahwa semuanya menerangkan kata yang sama, bukan berdiri sebagai kalimat terpisah-pisah. Dua kata ini persis sama dengan yang muncul di basmalah pembuka (1:1, lihat penjelasan di sana untuk alasan Ar-Rahman dipertahankan sebagai nama), diulang di sini bukan sebagai pengulangan berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rangkaian sebutan yang sama.

Pasangan "Ar-Rahman, Ar-Rahiim" bersama-sama muncul 111 kali di seluruh Al-Qur'an, tetapi hampir semuanya adalah basmalah pembuka surah, diulang di awal 113 dari 114 surah. Kemunculan sebagai bagian kalimat yang sesungguhnya, bukan formula pembuka, hanya terjadi tiga kali: di sini, dan di 2:163, "tidak ada tuhan selain Dia, Ar-Rahman, Sang Pengasih" (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, laa ilaaha illaa huwa r-rahmaanu r-rahiimu), serta di 59:22, "Dialah Ar-Rahman, Sang Pengasih" (هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, huwa r-rahmaanu r-rahiimu), keduanya persis setelah menegaskan tidak ada tuhan selain Dia. Ayat 41:2 memakai bentuk sedikit berbeda, menyandarkan sumber wahyu langsung kepada pasangan sebutan ini: "suatu penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih" (تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, tanziilun mina r-rahmaani r-rahiimi).

Tafsiran

Pengulangan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" persis setelah "Tuhan seisi alam" di ayat sebelumnya bukan kebetulan, dan bukan pula pola sekali pakai. Dua kali lagi di tempat lain, pasangan sebutan yang sama muncul tepat setelah penegasan paling tegas tentang keesaan Allah, "tidak ada tuhan selain Dia". Pola yang berulang ini menunjukkan sesuatu: pernyataan tentang keesaan yang paling ketat dan tanpa kompromi, dalam kebiasaan teks ini, tidak pernah dibiarkan berdiri sendirian tanpa disertai penegasan kasih sayang segera sesudahnya. Di sini, kekuasaan atas seluruh alam semesta, yang bisa terdengar menjauhkan jika berdiri sendiri, langsung diimbangi dengan penegasan yang sama. Susunan ini menahan pembaca agar tidak memahami "Tuhan seisi alam" semata sebagai kekuasaan tanpa batas, sebelum sampai pada ayat berikutnya yang membicarakan hari pertanggungjawaban. Bahkan sumber wahyu itu sendiri, di tempat lain, disandarkan langsung kepada pasangan sebutan yang sama: apa yang diturunkan datang dari sumber yang sama yang telah disebut lebih dulu sebagai pengasih, termasuk bagian-bagian yang nanti terasa berat.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 5)
  • Kata-kata yang sama ini terucap berulang-ulang, ratusan kali, setiap kali sebuah surah baru dimulai, sampai mudah menjadi sekadar pembuka yang terlewat begitu saja tanpa benar-benar didengar. Namun di luar pengulangan sebagai formula itu, kata yang sama ini nyaris tidak pernah muncul lagi sebagai bagian sungguhan dari sebuah kalimat. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam kelangkaan itu: seberapa sering sesuatu yang sering diucapkan justru kehilangan bobotnya, dan seberapa jarang kesempatan untuk benar-benar mendengarnya sebagai pernyataan yang dimaksudkan sepenuhnya.
  • Pernyataan paling tegas dan tanpa kompromi tentang keesaan, "tidak ada tuhan selain Dia", di dua tempat lain juga tidak pernah dibiarkan berdiri sendirian; ia selalu segera disusul penegasan kasih sayang yang sama seperti di sini. Ada pola yang layak diperhatikan: ketegasan yang paling mutlak sekalipun, dalam kebiasaan teks ini, tidak pernah datang tanpa kehangatan yang menyertainya.
  • Di tempat lain, apa yang diturunkan sebagai wahyu disandarkan langsung kepada pasangan sebutan yang sama ini sebagai sumbernya. Ini berarti bagian mana pun dari pesan yang datang kemudian, termasuk yang terasa berat atau mengingatkan, berasal dari sumber yang sejak awal sudah dikenali sebagai pengasih, bukan dari sumber yang berbeda atau berubah wataknya di tengah jalan.
  • Kata yang sama persis baru saja muncul dua baris sebelumnya, di baris pembuka. Mendengarnya lagi begitu cepat bisa terasa seperti pengulangan semata, padahal posisinya sudah berubah: di sana bagian dari cara menyebut nama, di sini bagian dari kalimat yang sedang menerangkan siapa yang dipuji. Kata yang sama, diucapkan dua kali berdekatan, tidak selalu berarti mengatakan hal yang persis sama.
  • Tiga sebutan yang menerangkan siapa yang dipuji di sini tersusun dalam urutan tertentu: cakupan yang meliputi segalanya lebih dulu, kemudian kasih sayang, baru kemudian, di ayat berikutnya, hari ketika semua akan dipertanggungjawabkan. Urutan itu sendiri terasa seperti sebuah pilihan yang disengaja: sebelum sampai pada bagian yang paling menuntut kewaspadaan, pembaca lebih dulu diperkenalkan pada kasih sayang yang melingkupinya.

Ayat 1:4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Pemilik Hari Pertanggungjawaban.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِmaaliki yawmi d-diiniPemilik Hari Pertanggungjawaban
Penjelasan pilihan kata

"Pemilik" (مَالِكِ, maaliki) menutup rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" sejak 1:2. Kalimat panjang yang terbentang tiga ayat itu baru diakhiri titik di sini. Kata ini dibedakan dari bacaan alternatif "raja" karena menunjuk bukan cuma kepada kekuasaan memerintah, melainkan kepada kepemilikan yang penuh atas apa yang disebut sesudahnya: Dialah yang memiliki hari itu sendiri. "Hari Pertanggungjawaban" (يَوْمِ الدِّينِ, yawmi d-diini) menerjemahkan kata "diin" sebagai "pertanggungjawaban", konsisten di seluruh terjemahan ini, bukan kata "agama" yang lazim di banyak terjemahan lain. Alasan perbedaan ini bukan sekadar pilihan kata sembarangan, melainkan bertumpu pada bukti dari beberapa jalur yang saling menguatkan.

Pertama, para penyusun kamus bahasa Arab klasik sendiri mencatat bahwa kata "diin" di ayat ini berarti perhitungan dan pembalasan, bukan ketaatan atau lembaga keagamaan. Kamus besar klasik secara eksplisit mendaftarkan makna "pembalasan, perhitungan, dan ganjaran" (requital, recompense, reckoning) untuk kata "diin", dan justru mengutip ayat ini, "Maaliki yawmi d-diin", sebagai bukti pemakaiannya. Jadi menerjemahkan "diin" di sini sebagai "pertanggungjawaban" bukan penyimpangan dari makna klasik, melainkan justru mengikuti salah satu makna yang dicatat oleh para ahli bahasa Arab sendiri.

Kedua, hubungan antara "diin" dan tanggung jawab terhadap sesama manusia ditegaskan dengan sangat jelas di tempat lain. Surah Al-Ma'un (107) dibuka dengan pertanyaan tajam: "Tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" (أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, a-ra'ayta lladzii yukadzdzibu bi-d-diini, 107:1). Pertanyaan itu langsung dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim" (فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ, fa-dzaalika lladzii yadu'u l-yatiima, 107:2), "dan tidak mendorong memberi makan orang miskin" (وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, wa-laa yahuddu alaa ta'aami l-miskiini, 107:3). Ayat itu tidak menggambarkan pendustaan sebagai sekadar kesalahan keyakinan yang abstrak. Ia langsung mendefinisikannya dalam wujud perilaku konkret terhadap orang yang paling lemah. Urutannya penting: bukan "ia berbuat jahat karena ia pendusta," melainkan "itulah orang yang mendustakan". Perbuatannya itulah definisi dari pendustaannya. Kalau "diin" diterjemahkan sebagai "agama" di ayat itu, pembaca akan bertanya apa hubungan antara mendustakan agama dan menghardik anak yatim; hubungan itu menjadi gelap dan penuh teka-teki. Tetapi kalau "diin" adalah pertanggungjawaban, hubungannya langsung terang: orang yang mengingkari bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, merasa bebas melakukan apa pun terhadap yang lemah tanpa akibat.

Pola yang sama muncul di surah lain. Di awal surah Al-Mutaffifin (83), kecurangan dalam menakar dan menimbang, bentuk penipuan yang paling sehari-hari dan paling menguntungkan pelakunya, dikutip lebih dulu. Lalu kecaman itu memuncak pada gambaran tentang "orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban" (الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ, alladziina yukadzdzibuuna bi-yawmi d-diini, 83:11). Sekali lagi urutannya sama: kecurangan dalam urusan paling remeh, dilakukan di bawah radar penglihatan manusia, adalah buah paling nyata dari keyakinan bahwa tidak akan ada hari ketika semua itu dihisab. Surah Al-Infitar (82) bahkan lebih gamblang lagi. Ia membuka dengan pertanyaan, "Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Sang Mulia?", lalu pertanyaan itu dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Sekali-kali tidak! Bahkan, kalian mendustakan pertanggungjawaban" (بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ, bal tukadzdzibuuna bi-d-diini, 82:9), yang langsung disusul oleh peringatan tentang malaikat pencatat, pengadilan akhir, dan hari ketika "tak seorang pun berkuasa apa-apa bagi orang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah" (82:19). Ketiga surah ini, Al-Ma'un, Al-Mutaffifin, dan Al-Infitar, masing-masing membentangkan hubungan yang sama: pengabaian terhadap yang lemah, kecurangan dalam muamalah, dan kelengahan moral, semuanya bersumber dari satu akar yang sama, yaitu mengingkari adanya sistem pertanggungjawaban yang akan menagih semuanya pada waktunya.

Ketiga, kata "diin" di Al-Qur'an sendiri dipakai secara netral. Ia bisa mengarah kepada Allah maupun kepada selain-Nya. Firaun punya "diin" (40:26), orang yang mempermainkan hidup juga punya "diin" (6:70, 7:51), dan surah Al-Kafirun ditutup dengan "bagi kalian diin kalian, bagiku diin-ku" (109:6). Kata ini bukan nama satu sistem tertentu, melainkan nama untuk sistem nilai yang dijalani setiap orang, apa pun isinya. Menerjemahkannya sebagai "agama" dalam arti institusi keagamaan akan menyulitkan di ayat-ayat ini; menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", sistem hidup yang kelak dihisab, justru membuat ayat-ayat itu terang.

Keempat, frasa "yawm ad-diin" muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an, dan di antaranya, "ad-diin" tanpa "yawm" muncul di 51:6 sebagai sesuatu yang "pasti terjadi" (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un), disejajarkan dengan kepastian "apa yang dijanjikan kepada kalian" di ayat sebelumnya. Penegasan bahwa "pertanggungjawaban pasti terjadi" muncul di tengah rangkaian sumpah kosmis yang agung (51:1-5), memberikan bobot yang sama kepadanya seperti kepastian hukum-hukum alam semesta itu sendiri.

Tafsiran

Rangkaian tiga sebutan sejak 1:2 sampai ayat ini bergerak mengikuti sebuah urutan yang bukan sekadar daftar: dari "Tuhan seisi alam" (cakupan kekuasaan atas segalanya), ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih" (sifat yang mewarnai kekuasaan itu), sampai "Pemilik Hari Pertanggungjawaban" (saat ketika seluruh kekuasaan dan kasih sayang itu bertemu dalam perhitungan yang menentukan nasib setiap pribadi). Di ayat terakhir inilah rangkaian itu menemukan titik paling personalnya: dari "seisi alam" yang mencakup semesta, menyempit menjadi "hari", satu titik waktu, yang di dalamnya masing-masing orang akan berdiri sendiri. Ayat 82:19 merumuskan mengapa hari itu demikian menentukan: pada hari itu, tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain, dan seluruh urusan menjadi milik Allah sepenuhnya. Hari itulah yang disebut "Hari Pertanggungjawaban."

Kata "diin" yang diterjemahkan "pertanggungjawaban" di sini bukan sekadar "hari pembalasan" sebagai label kosong. Seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang sudah disebutkan, dari anak yatim yang dihardik karena orang mengingkari pertanggungjawaban (107:2), sampai takaran yang dicurangi oleh orang yang sama-sama mendustakan hari itu (83:1-11), "mendustakan diin" bukanlah pernyataan abstrak tentang teologi. Ia adalah fondasi yang, begitu diingkari, konsekuensinya langsung tampak dalam cara setiap orang memperlakukan orang lain yang lebih lemah darinya. Dengan demikian, menempatkan "Pemilik Hari Pertanggungjawaban" sebagai sebutan penutup dari rangkaian ini bukan ancaman yang berdiri sendiri, melainkan penutup dari sebuah busur: dari kekuasaan, ke kasih sayang, ke perhitungan. Tiga titik yang bersama-sama membentuk gambaran utuh tentang siapa yang sedang disapa di seluruh surah ini.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 6)
  • Di surah Al-Ma'un, pertanyaan "tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" tidak menunggu jawaban teologis. Jawabannya langsung berupa gambaran: itulah orang yang menghardik anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin. Keyakinan tentang pertanggungjawaban, atau pengingkarannya, ternyata tidak tinggal di dalam kepala. Ia menjelma menjadi cara seorang manusia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas atau menguntungkannya.
  • Kecurangan paling remeh, mengurangi takaran saat menjual dan meminta dilebihkan saat membeli, ternyata dalam Al-Qur'an didudukkan sejajar dengan mendustakan hari perhitungan. Bukan karena keduanya sama beratnya, melainkan karena yang kedua adalah akar dari yang pertama: kalau tidak ada yang akan menghisab, kenapa harus jujur saat tidak ada yang melihat? Kecurangan kecil-kecilan yang dianggap wajar dalam bisnis dan birokrasi, dalam cara pandang ini, bukan sekadar pelanggaran aturan. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa pertanggungjawaban itu tidak nyata.
  • Rangkaian tiga sebutan yang menutup di ayat ini, kekuasaan, kasih sayang, dan perhitungan, membentuk sebuah busur yang setiap titiknya diperlukan agar yang lain tidak disalahpahami. Kekuasaan tanpa kasih sayang menjadi tirani; kasih sayang tanpa perhitungan menjadi pembiaran; perhitungan tanpa dua yang pertama menjadi kengerian belaka. Menempatkan ketiganya dalam satu kalimat yang sama, satu tarikan napas, adalah pernyataan bahwa semuanya benar bersama-sama dan tidak boleh dipisahkan.
  • Penutup surah Al-Infitar menggambarkan hari itu dalam satu baris yang merangkum semuanya: hari ketika tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain. Jabatan, koneksi, kekayaan, nama besar, semua yang bisa diandalkan untuk menutupi atau meringankan kesalahan di dunia, tidak berfungsi pada hari itu. Inilah makna "Pemilik Hari Pertanggungjawaban": pada hari itu, kepemilikan berpindah sepenuhnya dari tangan siapa pun kepada-Nya.
  • Ada gerakan menyempit yang disengaja dalam tiga ayat terakhir rangkaian ini: dari "seisi alam" yang maha luas, ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih" yang menyentuh hati, ke "Hari Pertanggungjawaban" yang menunjuk satu titik waktu tertentu. Gerakan ini terasa seperti bingkai yang perlahan mengecil sampai akhirnya hanya menyisakan satu pembaca, berhadapan dengan hari ketika semua urusan dikembalikan kepada-Nya.
  • Kata "diin" di Al-Qur'an bukan milik satu pihak saja. Firaun punya "diin", para pengejek pun punya "diin", dan Nabi diperintahkan berkata "bagiku diin-ku, bagimu diin-mu". Yang membedakan satu "diin" dari yang lain bukan kata itu sendiri, melainkan arahnya: kepada siapa sistem itu menghadap. Menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", bukan "agama" sebagai institusi, menjaga agar pembaca tidak menyangka bahwa "diin" adalah nama satu lembaga tertentu yang dianut sebagian orang dan ditolak sebagian lain. Ia adalah kenyataan yang mencakup semua, disadari atau tidak.