Ayat 2:11

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi,” mereka berkata, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang memperbaiki keadaan.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَwa-idzaa qiila lahum laa tufsiduu fii l-ardi qaaluu innamaa nahnu muslihuunadan apabila dikatakan kepada mereka, janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi, mereka berkata, sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang memperbaiki keadaan
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menghadirkan sebuah percakapan: satu pihak melarang, pihak lain menjawab. Yang menarik bukan isi larangannya, melainkan bentuk jawabannya.

Larangan yang disampaikan adalah "janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi" (لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ, laa tufsiduu fii l-ardi), memakai kata kerja dari akar yang berarti merusak. Jawaban mereka memakai kata dari akar yang berlawanan sama sekali: "sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang memperbaiki keadaan" (إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ, innamaa nahnu muslihuuna), dari akar yang berarti memperbaiki atau mendamaikan. Mereka tidak menyangkal perbuatannya; mereka menamai ulang perbuatan itu dengan nama yang berlawanan.

Jawaban itu mengandung tiga lapis penegasan sekaligus. Pertama, ada kata pembatas di depannya yang berarti "hanyalah", menutup kemungkinan lain. Kedua, kata ganti "kami" (نَحْنُ, nahnu) disisipkan padahal kata yang menyusul sudah menandai bentuk jamak, jadi penambahan itu murni untuk penekanan. Ketiga, yang dipakai bukan kata kerja "kami memperbaiki", melainkan kata benda pelaku, yaitu sebutan bagi orang yang memperbaiki. Mereka tidak sedang menyatakan apa yang mereka lakukan, melainkan menyatakan siapa mereka.

Kalimat pembukanya memakai bentuk yang tidak menyebutkan siapa yang berbicara: "apabila dikatakan kepada mereka" (وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ, wa-idzaa qiila lahum). Siapa pun yang menyampaikan larangan itu tidak disebut namanya, sehingga yang tersisa hanyalah larangannya sendiri dan jawaban atasnya.

Larangan yang sama muncul dua kali lagi di Al-Qur'an (7:56, 7:85). Tetapi jawaban seperti yang tercatat di ayat ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.

Tafsiran

Yang digambarkan ayat ini bukan orang yang berbohong tentang perbuatannya, melainkan orang yang memberi nama lain pada perbuatan yang sama. Larangannya menyebut kerusakan; jawabannya menyebut perbaikan. Perbuatan yang ditunjuk kemungkinan besar sama, yang berbeda hanyalah kata yang dipakai untuk menyebutnya.

Kemampuan memberi nama baik pada perbuatan buruk adalah salah satu keahlian yang paling mudah dipelajari dan paling sulit disadari. Yang mengambil hak orang lain menyebutnya penertiban. Yang menyingkirkan pesaing menyebutnya efisiensi. Yang merusak menyebut diri sedang membangun. Dalam setiap kasus, kata yang dipakai bukan kebohongan yang disusun untuk mengelabui orang lain, melainkan lensa yang lebih dulu dipakai untuk melihat diri sendiri.

Tiga lapis penegasan dalam jawaban mereka justru memperkuat kesan itu. Orang yang sekadar berkelit biasanya menjawab seperlunya. Yang menjawab dengan penegasan berlapis lebih menyerupai orang yang sedang meyakinkan, dan yang paling perlu diyakinkan sering kali adalah diri sendiri.

Dan yang mereka pakai bukan kata kerja melainkan sebutan. Mereka tidak berkata "kami sedang memperbaiki", melainkan "kami adalah orang-orang yang memperbaiki". Perbedaan itu penting: yang pertama masih bisa diperiksa dengan melihat hasilnya, yang kedua adalah identitas yang dianggap melekat terlepas dari apa pun yang terjadi.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 6)
  • Mereka tidak berkata "kami tidak merusak". Mereka berkata "kami adalah orang-orang yang memperbaiki". Perbuatan yang ditunjuk kemungkinan sama; yang berbeda hanya kata yang dipakai untuk menyebutnya. Memberi nama baik pada perbuatan buruk adalah keahlian yang paling mudah dipelajari dan paling sulit disadari, karena yang dikelabui pertama kali bukan orang lain melainkan yang memakai nama itu sendiri.
  • Yang mereka pakai bukan kata kerja melainkan sebutan. Bukan "kami sedang memperbaiki", melainkan "kami adalah orang-orang yang memperbaiki". Yang pertama masih bisa diperiksa dengan melihat hasilnya; yang kedua adalah identitas yang dianggap melekat terlepas dari apa pun yang terjadi. Identitas yang dipasang sebagai perisai membuat setiap kritik terasa seperti serangan pribadi, bukan pertanyaan tentang perbuatan.
  • Jawaban mereka mengandung tiga lapis penegasan sekaligus: kata pembatas "hanyalah", kata ganti "kami" yang sebenarnya tidak diperlukan, dan sebutan sebagai identitas. Orang yang sekadar berkelit biasanya menjawab seperlunya. Yang menjawab dengan penegasan berlapis lebih menyerupai orang yang sedang meyakinkan, dan yang paling membutuhkan keyakinan itu sering kali adalah diri sendiri.
  • Larangan memakai kata dari akar yang berarti merusak; jawaban memakai kata dari akar yang berarti memperbaiki dan mendamaikan. Dua kata yang paling berjauhan artinya dipakai untuk menyebut satu perbuatan yang sama. Jarak antara dua kata itu adalah jarak antara bagaimana sebuah perbuatan terlihat dari luar dan bagaimana ia dirasakan oleh yang melakukannya.
  • Kalimat pembukanya tidak menyebutkan siapa yang menyampaikan larangan itu. Yang tersisa hanyalah larangannya dan jawaban atasnya. Ketika sumber sebuah teguran tidak disebutkan, teguran itu berhenti menjadi urusan antarpribadi dan tinggal sebagai isi yang harus ditimbang sendiri. Menolak teguran karena tidak menyukai yang menyampaikannya menjadi tidak mungkin di sini.
  • Larangan yang disebut menyangkut kerusakan di bumi, tempat yang bisa dilihat, disentuh, dan dihitung kerusakannya. Bukan urusan batin yang tersembunyi, melainkan akibat yang berbekas pada tanah, pada air, dan pada orang-orang yang tinggal di atasnya. Klaim tentang niat baik tidak pernah bisa membatalkan bekas yang bisa diukur.

Ayat 2:12

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Ingatlah, sesungguhnya merekalah para pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَalaa innahum humu l-mufsiduuna wa-laakin laa yash'uruunaingatlah, sesungguhnya merekalah para pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini adalah bantahan langsung atas klaim yang baru diucapkan di ayat sebelumnya, dan bantahannya disusun lebih tegas satu tingkat daripada klaim yang dibantahnya.

Klaim mereka di 2:11 memakai tiga lapis penegasan. Bantahan di sini memakai lebih banyak lagi. Dibuka dengan kata penarik perhatian, "ingatlah" (أَلَا, alaa), lalu kata penegas "sesungguhnya" yang sudah membawa kata ganti "mereka" di dalamnya (إِنَّهُمْ, innahum), lalu kata ganti "mereka" disebut sekali lagi secara terpisah (هُمُ, humu), padahal secara tata bahasa sudah cukup tanpa pengulangan itu.

Yang paling menentukan adalah bentuk kata terakhirnya. Di 2:11 mereka menyebut diri "orang-orang yang memperbaiki" tanpa kata sandang, sehingga bunyinya "kami termasuk orang yang memperbaiki", salah satu dari banyak. Di sini bantahannya memakai kata sandang: "para pembuat kerusakan" (الْمُفْسِدُونَ, l-mufsiduuna), sehingga bunyinya bukan "mereka termasuk perusak" melainkan "merekalah para perusak itu". Klaim yang terbuka dijawab dengan penunjukan yang tertentu.

Seluruh rangkaian "merekalah para pembuat kerusakan" (هُمُ الْمُفْسِدُونَ, humu l-mufsiduuna) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, demikian pula penutupnya, "tetapi mereka tidak sadar" (وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ, wa-laakin laa yash'uruuna).

Kata "tidak sadar" di penutup memakai kata kerja yang sama persis dengan penutup 2:9, yaitu kata yang berakar pada merasakan atau menangkap dengan kepekaan, bukan pada mengetahui. Dua kali dalam rangkaian ayat yang sama, yang disebut hilang bukanlah informasi melainkan kepekaan.

Tafsiran

Bantahan di ayat ini tidak menyerang perbuatan mereka, melainkan sebutan yang mereka pakai. Mereka menyebut diri sebagai golongan yang memperbaiki; ayat ini menjawab dengan menempatkan mereka sebagai golongan yang persis sebaliknya, dan menempatkannya dengan lebih tegas daripada klaim yang mereka ucapkan. Mereka mengaku termasuk; mereka dinyatakan sebagai yang tertentu.

Tetapi penutup ayat ini mengubah seluruh nadanya. Setelah bantahan yang begitu tegas, kalimat terakhirnya justru menyatakan bahwa mereka tidak menyadarinya. Ini bukan gambaran orang yang berbohong sambil tahu ia berbohong. Ini gambaran orang yang benar-benar merasa sedang memperbaiki keadaan.

Dan justru di situlah letak beratnya. Kebohongan yang disadari masih menyisakan jalan pulang, karena yang berbohong tahu di mana letak kebenarannya. Keyakinan yang keliru tidak menyisakan jalan itu; tidak ada yang perlu diperbaiki karena tidak ada yang terasa salah. Setiap teguran akan terdengar sebagai kesalahpahaman orang lain, bukan sebagai kemungkinan bahwa ia sendiri keliru.

Kata yang dipakai untuk ketidaksadaran itu berakar pada merasakan, bukan pada mengetahui, dan kata yang sama sudah muncul beberapa ayat sebelumnya. Yang digambarkan bukan kekurangan informasi. Informasi bisa disampaikan; kepekaan yang hilang tidak bisa diberikan dari luar. Peringatan yang paling jelas sekalipun hanya akan lewat tanpa terasa.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 6)
  • Setelah bantahan yang begitu tegas, ayat ini justru ditutup dengan pernyataan bahwa mereka tidak menyadarinya. Yang digambarkan bukan orang yang berbohong sambil tahu ia berbohong, melainkan orang yang benar-benar merasa sedang memperbaiki keadaan. Kebohongan yang disadari masih menyisakan jalan pulang, karena pelakunya tahu di mana letak kebenaran. Keyakinan yang keliru tidak menyisakan jalan itu.
  • Orang yang merasa sedang memperbaiki akan mendengar setiap teguran sebagai kesalahpahaman orang lain, bukan sebagai kemungkinan bahwa ia sendiri keliru. Tidak ada yang perlu dibenahi karena tidak ada yang terasa bengkok. Inilah sebabnya kelompok ini digambarkan lebih sulit ditembus daripada mereka yang menolak secara terbuka: penolakan terbuka setidaknya mengakui ada sesuatu yang ditolak.
  • Klaim mereka memakai bentuk yang terbuka: termasuk golongan yang memperbaiki, salah satu dari banyak. Bantahannya memakai bentuk yang tertentu: merekalah para perusak itu. Sebuah pengakuan yang diucapkan dengan longgar dijawab dengan penunjukan yang tepat sasaran. Yang mengaburkan diri dalam kelompok justru ditunjuk dengan paling jelas.
  • Kata yang dipakai untuk ketidaksadaran mereka berakar pada merasakan, bukan pada mengetahui, dan kata yang sama sudah muncul beberapa ayat sebelumnya. Yang hilang bukan informasi. Informasi bisa disampaikan siapa saja; kepekaan yang sudah tumpul tidak bisa diberikan dari luar. Peringatan yang paling terang sekalipun akan lewat tanpa terasa oleh yang sudah kehilangan alat untuk merasakannya.
  • Ayat ini dibuka dengan kata penarik perhatian, sebuah seruan agar yang membaca berhenti sejenak dan menyimak. Namun yang dibicarakan justru orang-orang yang tidak akan menyimak. Seruan itu, dengan demikian, tidak ditujukan kepada mereka yang digambarkan, melainkan kepada siapa pun yang masih bisa memeriksa apakah gambaran itu mengenai dirinya juga.
  • Perasaan sedang berbuat benar tidak pernah menjadi bukti bahwa yang dilakukan memang benar. Kedua hal itu berada di wilayah yang berbeda: yang satu di dalam dada, yang lain pada bekas yang ditinggalkan di dunia. Satu-satunya jalan menghubungkan keduanya adalah kesediaan memeriksa bekas itu, dan kesediaan semacam itu justru yang paling sulit muncul pada orang yang sudah merasa benar.