الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَalladziina idzaa asaabatsum musiibatun qaaluu innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji'uunayaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali
Aplikasi

Kalimat 'kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali' yang diucapkan saat musibah bukan sekadar formula, melainkan penegasan kerangka kepemilikan: apa pun yang hilang sebenarnya adalah titipan yang kembali kepada Pemiliknya. Konkretnya: menghadapi kehilangan (harta, orang terkasih, kesempatan) dengan kesadaran bahwa semuanya adalah titipan sementara membantu memproses duka tanpa merasa dirampas hak yang sebenarnya milik sendiri.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar s-w-b, q-w-l, a-l-h, r-j-'): DITERJEMAHKAN PENUH: 'Sungguh kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali', BEDA dari terjemahan lain yang membiarkan TRANSLITERASI Arab (innaa lillaah.). Prinsip terjemahan ini: terjemahan, bukan transliterasi.