أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Maka apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُa-fa-mani ttaba'a ridwaana llaahi ka-man baa'a bi-sakhatin mina llaahi wa-ma'waahu jahannamumaka apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya Jahanam
  2. وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-masiirudan itulah seburuk-buruk tempat kembali
Aplikasi

Pertanyaan retoris ini menolak kesetaraan semu antara orang yang mengejar rida Allah dan orang yang justru kembali membawa murka-Nya, keduanya sama-sama 'hasil', tapi tidak sama nilainya. Konkretnya: jangan menilai dua jalan hidup hanya dari hasil lahiriah yang tampak serupa (sama-sama 'berhasil' menurut standar duniawi), periksa arah dan motif di baliknya, karena itulah yang benar-benar membedakan.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar t-b-', r-d-w, a-l-h, b-w-a, s-kh-t, a-w-y, b-a-s, s-y-r): ittaba'a ridwaan allaah diterjemahkan 'mengikuti keridaan Allah'; baa'a bi-sakhat diterjemahkan 'kembali membawa kemurkaan'; masiir diterjemahkan 'tempat kembali'. Selaras.