وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan yang kalian miliki, sebagai ketetapan Allah atas kalian. Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian itu, kalian mencari dengan harta kalian untuk menikah, bukan untuk berzina. Karena apa yang telah kalian nikmati dari mereka, berikanlah kepada mereka imbalannya sebagai kewajiban. Dan tidak ada dosa bagi kalian mengenai apa yang saling kalian relakan sesudah kewajiban tersebut. Sesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْwa-l-muhsanaatu mina n-nisaa'i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba llaahi alaykumdan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan yang kalian miliki, sebagai ketetapan Allah atas kalian
  2. وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَwa-uhilla lakum maa waraa'a dzaalikum an tabtaghuu bi-amwaalikum muhsiniina ghayra musaafihiinadan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian itu, kalian mencari dengan harta kalian untuk menikah, bukan untuk berzina
  3. فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةًfa-maa stamta'tum bihi minhunna fa-aatuuhunna ujuurahunna fariidatankarena apa yang telah kalian nikmati dari mereka, berikanlah kepada mereka imbalannya sebagai kewajiban
  4. وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِwa-laa junaaha alaykum fiimaa taraadaytum bihi min ba'di l-fariidatidan tidak ada dosa bagi kalian mengenai apa yang saling kalian relakan sesudah kewajiban tersebut
  5. إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًاinna llaaha kaana aliiman hakiimansesungguhnya Allah berilmu lagi penuh hikmah
Aplikasi

Penekanan bahwa hubungan intim menuntut pemberian 'imbalan. sebagai suatu kewajiban', bukan hadiah opsional, melainkan hak yang harus dipenuhi terkait dengan keintiman yang terjadi. Konkretnya: kewajiban finansial yang terkait dengan komitmen personal (mahar, nafkah) bukan formalitas yang bisa diabaikan, ia adalah kewajiban riil yang harus dipenuhi, bukan sekadar simbol.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); kamu/-mu jamak diterjemahkan kalian per tag 2MP corpus; pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan). Glos kitab (618): adh-dhikr al-hakiim = 'decides judicially' / 'FREE FROM DEFECT; no incongruity' ( diterjemahkan QS 4:82, uji metodologi kita).