قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍqul innii akhaafu in asaytu rabbii adzaaba yawmin azhiiminkatakanlah, sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku
Aplikasi
Nabi sendiri mengucapkan rasa takut akan konsekuensi durhaka, bukan klaim kekebalan karena posisinya sebagai pembawa pesan. Konkretnya: tidak ada posisi atau peran (betapa pun tinggi/terhormat) yang membebaskan seseorang dari kewajiban memeriksa diri dan takut pada konsekuensi tindakannya sendiri, kerendahan hati untuk mengakui rasa takut akan kesalahan sendiri adalah sikap yang dicontohkan, bukan dihindari.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja.)' Akar akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.