لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
Sungguh aku akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki kalian secara bersilangan, kemudian aku akan menyalibkan kalian semua.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَla-uqatti'anna aydiyakum wa-arjulakum min khilaafin tsumma la-usallibannakum ajma'iinasungguh aku akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki kalian secara bersilangan, kemudian aku akan menyalibkan kalian semua
Aplikasi
Ancaman kekerasan ekstrem (potong tangan-kaki bersilang, disalib) menjadi alat terakhir Fir'aun setelah persuasi gagal, kekuatan mentah dipakai menggantikan argumen begitu argumen tidak lagi mempan. Konkretnya: beralih ke ancaman dan kekerasan setelah persuasi gagal adalah tanda kehabisan cara yang sah, bukan tanda kekuatan sejati, pola ini (dari argumen ke ancaman) adalah sinyal peringatan tentang kualitas posisi yang sebenarnya lemah, bukan kuat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
then will I crucify you all together.” *thumma la-usallibannakum* diterjemahkan 'lalu aku bunuh di atas salib kalian semua', terjemahan ini menambah 'bunuh' yg TAK ADA di Arab (Arab hanya *usallibannakum* = 'menyalibkan'; terjemahan lain/sebagian penerjemah keduanya cuma 'menyalib(kan)' tanpa menyebut 'bunuh' eksplisit, sebab penyaliban zaman itu MEMANG cara membunuh, bukan hukuman terpisah). 'bunuh' adalah tafsir-tambahan ( melarang tambahan tak-bertekstual), 'lalu aku salib kalian semua' sudah cukup & lebih setia teks.