وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ ۚ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ ۚ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan menjadikan apa yang dia infakkan sebagai sarana mendekat di sisi Allah dan salat-salat Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah sarana pendekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (4 jeda)
  1. وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِwa-mina l-a'raabi man yu'minu billaahi wa-l-yawmi l-aakhiri wa-yattakhidzu maa yunfiqu qurubaatin inda llaahi wa-salawaati r-rasuulidan di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan menjadikan apa yang dia infakkan sebagai sarana mendekat di sisi Allah dan salat-salat Rasul
  2. أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْalaa innahaa qurbatun lahumketahuilah, sesungguhnya itu adalah sarana pendekatan bagi mereka
  3. سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِsa-yudkhiluhumu llaahu fii rahmatihiAllah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya
  4. إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Aplikasi

Kontras penting setelah kritik luas terhadap orang Badui (9:97-98): sebagian dari kelompok yang sama justru 'menjadikan apa yang dia infakkan sebagai sarana mendekat di sisi Allah', bukti bahwa kritik kolektif tidak berlaku merata pada setiap individu di dalamnya. Konkretnya: setelah mengkritik sebuah kelompok secara umum, penting mengakui secara eksplisit individu-individu di dalamnya yang justru menunjukkan ketulusan genuine, generalisasi kolektif tidak seharusnya menghapus pengakuan terhadap pengecualian yang nyata dan layak dihormati.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,., pola generik yg sama. Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.