وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Apa yang telah Tuhan kalian turunkan?” mereka berkata, “Dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْwa-idzaa qiila lahum maadzaa anzala rabbukumdan apabila dikatakan kepada mereka, apa yang telah Tuhan kalian turunkan
- قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَqaaluu asaatiiru l-awwaliinamereka berkata, dongeng-dongeng orang-orang terdahulu
Aplikasi
Respons peremehan terhadap wahyu, 'Dongeng-dongeng orang-orang terdahulu', menunjukkan pola retorika yang dikenali: menolak sesuatu yang serius dengan melabelinya sebagai cerita usang tanpa benar-benar terlibat dengan isinya. Konkretnya: mewaspadai kecenderungan meremehkan gagasan penting dengan melabelinya sebagai 'kuno/usang' tanpa benar-benar mengevaluasi isinya adalah kebiasaan berpikir yang perlu dijaga, baik saat menerima kritik maupun saat memberi penilaian terhadap gagasan orang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar q-w-l, n-z-l, r-b-b, s-t-r, a-w-l): anzala diterjemahkan 'menurunkan' (akar n-z-l); asaatiir al-awwaliin diterjemahkan 'dongeng-dongeng orang terdahulu' (akar s-t-r + akar '-w-l). Selaras.