قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
Ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰqaala rabbi lima hashartanii a'maaia berkata, ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta
- وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًاwa-qad kuntu basiiranpadahal sungguh dahulu aku dapat melihat
Aplikasi
Pertanyaan protes yang jujur: 'mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?', kebingungan dan keberatan yang diungkapkan terus terang terhadap konsekuensi yang dialami, sebuah dialog yang jujur meski di tengah situasi yang sulit.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
sebutan diterjemahkan 'melihat' per takrif corpus; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (-amandemen: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. of dariir'; cabang-2: 'endowed with mental perception'.