بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Saat itu telah mendekat, dan bulan telah terbelah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُiqtarabati s-saa'atuSaat itu telah mendekat
- وَانْشَقَّ الْقَمَرُwa-nsyaqqa l-qamarudan bulan telah terbelah
Terjemahan per kata (4 kata)
- اقْتَرَبَتِiqtarabatitelah dekat
- السَّاعَةُs-saa'atuhari Kiamat
- وَانْشَقَّwa-nsyaqqadan terbelah
- الْقَمَرُl-qamarubulan
Inti bacaan
Bentuk iqtaraba muncul di lima ayat (7:185, 21:1, 21:97, 54:1, 96:19). Inshaqqa dipakai di empat ayat, dan tiga lainnya (55:37, 69:16, 84:1) tentang langit; di sini subjeknya al-qamar, yang di 18 dari 25 kemunculannya disebut bersama matahari.
Penjelasan pilihan kata
Ayat pembuka surah ini terdiri dari dua kalimat pendek, dan keduanya diawali kata kerja bentuk lampau: (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ, iqtarabati s-saa'atu), "Saat itu telah mendekat", dan (وَانْشَقَّ الْقَمَرُ, wa-nsyaqqa l-qamaru), "dan bulan telah terbelah".
Kata kerja (اقْتَرَبَتِ, iqtarabati) berakar ق-ر-ب, akar kata "dekat". Bentuk kata kerja ini dipakai di lima ayat. Di tiga ayat, bentuk itu menyatakan bahwa sesuatu yang dinanti telah dekat: ajal mereka di 7:185, janji yang benar di 21:97, dan perhitungan manusia di 21:1, (اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ, iqtaraba li-n-naasi hisaabuhum), "Telah dekat kepada manusia perhitungan mereka". Di 96:19 bentuk yang sama menjadi perintah untuk mendekat, disandingkan dengan perintah sujud. Kata "mendekat" di ayat ini menyebut jarak yang sudah menyempit, sedangkan saat tibanya tidak disebut.
Kata (السَّاعَةُ, s-saa'atu) bersandang al- dan dipakai di tiga puluh lima ayat untuk saat tertentu yang ciri-cirinya diuraikan di ayat-ayat itu. Di 7:187 orang-orang bertanya kapan saat itu terjadi, dan jawaban yang diberikan menyatakan bahwa pengetahuan tentangnya ada pada Tuhan, dan tidak ada yang dapat menjelaskan waktu terjadinya kecuali Dia. Di surah ini kata itu muncul lagi di 54:46, dua kali dalam satu ayat: (بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ, bali s-saa'atu maw'iduhum), "Bahkan, Saat itulah waktu yang dijanjikan bagi mereka", lalu Saat itu disebut lebih dahsyat dan lebih pahit. Terjemahan kedua ayat ini menuliskannya "Saat itu" dengan huruf kapital, sebagai padanan kata sandang yang menunjuk saat tertentu.
Kata kerja (وَانْشَقَّ, wa-nsyaqqa), "dan telah terbelah", berakar ش-ق-ق. Bentuk ini dipakai di empat ayat. Di tiga ayat lainnya kata kerja itu dipakai untuk langit, dan ketiganya berada di dalam kalimat tentang hari yang akan datang: (فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ, fa-idzaa nsyaqqati s-samaa'u), "Maka, apabila langit terbelah" (55:37), (إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, idzaa s-samaa'u nsyaqqat), "Apabila langit terbelah" (84:1), dan 69:16, yang melanjutkan kalimat "Maka apabila sangkakala ditiup" di 69:13. Di ketiga ayat itu terbelahnya langit berada di dalam kalimat yang dibuka dengan kata (إِذَا, idzaa), "apabila". Di ayat ini kata itu tidak ada. Terbelahnya bulan disebut sebagai kabar, dengan bentuk kata kerja yang sama dengan iqtarabati di sampingnya.
Bentuk lampau di Al-Qur'an tidak selalu menunjuk peristiwa yang sudah selesai. Di 16:1, (أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ, ataa amru llaahi fa-laa tasta'jiluuhu), "Ketetapan Allah telah datang, maka janganlah kalian meminta agar dipercepat", bentuk lampau "telah datang" dipakai untuk sesuatu yang masih diminta dipercepat. Karena itu bentuk kata kerja saja tidak memastikan kapan bulan terbelah, dan ayat ini tidak menguraikan bagaimana bulan itu terbelah.
Kata (الْقَمَرُ, l-qamaru), "bulan", bersandang al- dan dipakai di dua puluh lima ayat. Di delapan belas di antaranya bulan disebut bersama matahari, misalnya (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, asy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaanin), "Matahari dan bulan menurut perhitungan" (55:5), dan di 10:5 tempat-tempat peredaran bulan ditetapkan (لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ, li-ta'lamuu 'adada s-siniina wa-l-hisaaba), "agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan". Di 75:8-9 bulan disebut dalam gambaran hari itu: bulan menjadi gelap, lalu matahari dan bulan dikumpulkan. Di ayat ini bulan yang beredar menurut perhitungan itu disebut terbelah.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan dua kabar yang disandingkan: Saat itu telah mendekat, dan bulan telah terbelah. Surah sebelumnya ditutup dengan kabar yang serupa, (أَزِفَتِ الْآزِفَةُ, azifati l-aazifatu), "Yang dekat semakin mendekat" (53:57), dengan akar yang lain, أ-ز-ف. Pembaca yang membaca kedua surah berurutan mendengar kabar tentang dekatnya hari itu dua kali, di akhir surah yang satu dan di awal surah berikutnya.
Di 21:1 kabar yang serupa, telah dekat perhitungan manusia, langsung disusul keadaan manusia yang mendengarnya: (وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ, wa-hum fii ghaflatin mu'ridhuuna), "sedang mereka dalam kelalaian, berpaling". Surah ini menempuh urutan yang sama. Sesudah kabar tentang dekatnya Saat itu, ayat berikutnya menyebut orang-orang yang berpaling ketika melihat tanda (54:2), dengan kata kerja dari akar yang sama, ع-ر-ض. Di kedua tempat, kabar tentang dekatnya hari itu bertemu dengan orang-orang yang berpaling.
Bulan yang terbelah diletakkan di antara kabar itu dan ayat tentang tanda yang dilihat. Karena 54:2 langsung berbicara tentang tanda yang dilihat lalu disebut sihir, kabar tentang bulan terbelah terbaca sebagai salah satu tanda yang dilihat itu. Kata kerjanya pun sama dengan kata kerja yang di tiga ayat lain dipakai untuk langit pada hari itu, sehingga kedua kabar di ayat ini saling berkaitan: kata yang dipakai untuk bulan di awal surah ini dipakai juga untuk langit ketika Saat itu tiba.
Sisa surah ini, sampai 54:46, menguraikan arti kabar itu bagi pendengarnya: kaum-kaum yang mendustakan, peringatan yang datang kepada mereka, dan Saat itu yang disebut lagi sebagai waktu yang dijanjikan bagi mereka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut Saat itu telah mendekat tanpa menyebut kapan tibanya. Di 7:187 orang-orang bertanya kapan Saat itu terjadi, dan jawaban yang diberikan menyatakan bahwa pengetahuan tentangnya ada pada Tuhan. Kita terbiasa menunda hal yang tidak bertanggal. Pekerjaan tanpa tenggat mudah ditunda sampai bulan depan, lalu tahun depan. Kabar tentang Saat itu datang dengan jarak yang disebut dekat dan tanggal yang tidak diberitahukan, sehingga orang yang mendengarnya tidak punya tenggat yang bisa dijadikan alasan untuk menunda persiapannya.
- Bulan yang kita lihat hampir setiap malam dipakai untuk menghitung waktu. Di 2:189 bulan-bulan sabit disebut waktu-waktu bagi manusia dan haji, dan di 10:5 tempat peredaran bulan ditetapkan agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Ayat ini menyebut bulan yang sama bersama kabar tentang Saat itu. Benda yang dipakai manusia untuk menghitung hari-harinya disandingkan dengan kabar bahwa hitungan hari-hari itu akan berakhir. Setiap kali bulan sabit terlihat di awal bulan, satu bulan lagi dari umur kita sudah lewat. Berapa banyak bulan sabit yang masih akan kita lihat?
- Kita mengandalkan keteraturan: matahari terbit setiap pagi, bulan beredar menurut perhitungan (55:5), gaji datang setiap akhir bulan, dan tubuh bekerja tanpa perlu kita pikirkan. Keteraturan itu membuat kita lupa bahwa semuanya berjalan karena ada yang menjalankannya. Ayat ini menyebut bulan yang beredar teratur itu terbelah. Kabar itu mengingatkan bahwa segala sesuatu yang tampak tetap berada di tangan Penciptanya, dan bisa berubah ketika Dia menghendaki. Rasa aman yang bersandar pada keteraturan saja mudah goyah ketika keteraturan itu terganggu.
- Sesudah kabar tentang yang dekat di 53:57, surah sebelumnya menyebut orang-orang yang heran terhadap tuturan itu, tertawa dan tidak menangis, dan lengah (53:59-61). Kepada mereka kabar tentang dekatnya hari itu disampaikan dua kali berturut-turut, di 53:57 dan di ayat ini, dengan kata yang berbeda. Kita kadang merasa bosan mendengar pengingat yang sama, karena merasa sudah tahu isinya. Pengulangan di dua surah ini ditujukan kepada orang yang lengah, dan rasa sudah tahu bisa menjadi salah satu bentuk kelengahan itu.
- Kabar di ayat ini memakai bentuk "telah": telah mendekat, telah terbelah. Di 16:1 bentuk yang sama dipakai untuk ketetapan Allah yang masih diminta agar dipercepat. Manusia berjanji dengan kata "akan", dan janji itu bisa batal. Allah mengabarkan hari itu dengan kata "telah", seakan-akan sudah terjadi. Kita sering memperlakukan akhir hidup sebagai sesuatu yang jauh dan belum pasti. Bentuk kata di ayat ini mengajak menempatkannya sebagai kenyataan yang sudah pasti, dan menata hari ini sesuai dengan kepastian itu.
- Ayat ini mengabarkan bulan terbelah dengan dua kata dan tidak menguraikan caranya. Rasa ingin tahu tentang bagaimana peristiwa itu terjadi wajar, tetapi rasa ingin tahu itu bisa menyita perhatian sampai pesan di sampingnya terlewat. Ayat ini memasangkan kabar tentang bulan dengan kabar bahwa Saat itu telah mendekat. Pembaca yang berhenti pada pertanyaan tentang caranya bisa melewatkan hal yang disampaikan bersamanya: bahwa waktu yang tersisa sudah dekat, dan persiapan untuknya tidak bisa menunggu jawaban atas semua pertanyaan.