وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ
Dan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka; padahal setiap urusan telah tetap.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْwa-kadzdzabuu wa-ttaba'uu ahwaa'ahumdan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka
- وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّwa-kullu amrin mustaqirrunpadahal setiap urusan telah tetap
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَكَذَّبُواwa-kadzdzabuudan mendustakan
- وَاتَّبَعُواwa-ttaba'uudan mereka mengikuti
- أَهْوَاءَهُمْahwaa'ahumkeinginan mereka
- وَكُلُّwa-kulludan setiap
- أَمْرٍamrinurusan
- مُسْتَقِرٌّmustaqirrunyang tetap
Inti bacaan
Mustaqirr hanya muncul di 54:3 dan 54:38 (azab yang tetap), dan 6:67 memakai bentuk mustaqarr untuk setiap berita. Ahwaa'ahum ada di 12 ayat, selalu bersama kata kerja berakar ت-ب-ع, sedangkan akar ك-ذ-ب muncul di delapan ayat surah ini.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat dua kata kerja bentuk lampau yang dirangkai dengan "dan": (وَكَذَّبُوا, wa-kadzdzabuu), "dan mereka mendustakan", dan (وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ, wa-ttaba'uu ahwaa'ahum), "dan mengikuti hawa nafsu mereka". Kata kerja di 54:2 menggambarkan kebiasaan yang berulang setiap kali tanda terlihat. Di ayat ini bentuknya lampau, dan apa yang mereka lakukan disebut sebagai sesuatu yang sudah terjadi.
Kata kerja kadzdzabuu berakar ك-ذ-ب dan di ayat ini tidak disertai sasaran: apa yang mereka dustakan tidak disebut. Di surah ini akar yang sama dipakai di delapan ayat, dan di beberapa ayat sasarannya disebut: (كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ, kadzdzabat tsamuudu bi-n-nudzuri), "Tsamud telah mendustakan peringatan-peringatan" (54:23), dan (كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا, kadzdzabuu bi-aayaatinaa kullihaa), "Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami" (54:42). Ayat ini menyambung 54:2, sehingga tanda yang baru disebut termasuk yang mereka dustakan, tetapi kata kerjanya dibiarkan tanpa sasaran. Di surah sesudahnya, Ar-Rahman, akar yang sama menjadi refrain yang diulang tiga puluh satu kali.
Kata (أَهْوَاءَهُمْ, ahwaa'ahum), "hawa nafsu mereka", berbentuk jamak dari hawaa, berakar ه-و-ي, kata yang berarti keinginan atau kecenderungan hati. Kata ahwaa'ahum dipakai di dua belas ayat, dan di kedua belas ayat itu kata tersebut didahului kata kerja dari akar ت-ب-ع, "mengikuti". Di 47:14 susunannya sama persis dengan ayat ini, tentang orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya. Di 23:71 kata kerja itu dipakai dengan pelaku yang lain: (وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ, wa-lawi ttaba'a l-haqqu ahwaa'ahum), "Dan sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka", niscaya binasalah langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya.
Surah sebelumnya memakai akar ini dua kali. Tentang rasul: (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-maa yanthiqu 'ani l-hawaa), "dan ia tidak berbicara dari hawa nafsu" (53:3). Tentang nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka namakan sendiri: (إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ, in yattabi'uuna illaa zh-zhanna), "Mereka hanya mengikuti dugaan", (وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ, wa-maa tahwaa l-anfusu), "dan apa yang diinginkan hawa nafsu" (53:23).
Kalimat kedua, (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun), "padahal setiap urusan telah tetap", memakai kata (مُسْتَقِرٌّ, mustaqirrun) dari akar ق-ر-ر, akar yang juga membentuk kata untuk tempat menetap, seperti di 36:38 tentang matahari yang berjalan menuju tempat ketetapannya. Bentuk mustaqirr dipakai di dua ayat, keduanya di surah ini: di sini, dan di 54:38, (عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ, 'adzaabun mustaqirrun), "azab yang tetap", yang menimpa kaum Lut pada pagi hari. Bentuk lain dari akar ini dipakai di 6:67 bersama kata berita: (لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ, li-kulli naba'in mustaqarrun), "Bagi setiap berita ada ketetapannya". Huruf wa di depan kalimat ini diterjemahkan "padahal", karena kalimat itu menerangkan keadaan yang berlaku bersamaan dengan pendustaan mereka, seperti "padahal" dalam terjemahan 53:23.
Kata penutup 54:2 dan ayat ini, mustamirrun dan mustaqirrun, berpola sama, dan masing-masing dipakai dua kali di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang menyertai sikap yang digambarkan 54:2. Mereka melihat tanda, berpaling, dan menyebutnya sihir, dan ayat ini menambahkan dua perbuatan: mendustakan dan mengikuti hawa nafsu. Tanda sudah mereka lihat, dan sikap mereka ditentukan oleh keinginan yang mereka ikuti.
Surah sebelumnya sudah menyandingkan hawa nafsu dengan apa yang telah datang kepada mereka dalam satu ayat. Di 53:23 mereka disebut mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu, lalu ayat itu menambahkan (وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ, wa-la-qad jaa'ahum min rabbihimu l-hudaa), "padahal, sungguh telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka". Ayat ini dan ayat sesudahnya mengikuti urutan yang sama: mengikuti hawa nafsu (54:3), lalu "sungguh telah datang kepada mereka" sebagian berita (54:4). Di kedua tempat, apa yang mereka ikuti disebut sebelum apa yang telah datang kepada mereka.
Kalimat kedua menyandingkan keinginan mereka dengan urusan yang menetap. Di 23:71 kaitan keduanya dinyatakan: seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, binasalah langit dan bumi, lalu ayat itu menyebut (فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ, fa-hum 'an dzikrihim mu'ridhuuna), "tetapi mereka berpaling dari peringatan mereka", dengan akar yang sama dengan berpaling di 54:2. Setiap urusan menetap di tempatnya sendiri, tanpa mengikuti keinginan mereka.
Di surah ini, apa yang menetap diperlihatkan dalam kisah, misalnya azab yang menimpa kaum Lut (54:38). Menjelang penutupnya, surah ini kembali memakai susunan "setiap" untuk catatan perbuatan: (وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ, wa-kullu shaghiirin wa-kabiirin), "Segala yang kecil atau yang besar", (مُسْتَطَرٌ, mustatharun), "tertulis" (54:53). Pendustaan dan keinginan yang mereka ikuti juga tercatat dan menetap di tempatnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja mengikuti menempatkan keinginan di depan dan orangnya di belakang. Kita mengalaminya dalam keputusan sehari-hari, ketika kita sudah menetapkan apa yang kita mau, lalu mencari dalil dan pendapat yang mendukungnya. Seseorang yang ingin membeli barang mahal dengan cicilan bisa menemukan sepuluh alasan mengapa pembelian itu perlu, dan tidak menemukan alasan untuk menunda. Ayat ini memperlihatkan bahwa orang yang mengikuti keinginannya bisa melihat tanda dan tetap tidak berubah, karena arah langkahnya sudah ditentukan oleh apa yang ia ikuti.
- Di ayat ini kata mendustakan tidak disertai sasaran. Penolakan yang sudah menjadi sikap bisa kehilangan sasarannya: orang menolak apa saja yang datang dari pihak tertentu tanpa lagi memeriksa isinya. Kita melihatnya dalam perdebatan tentang agama, politik, atau urusan kantor, ketika jawaban "tidak" sudah siap sebelum usulnya dibacakan. Pertanyaan sederhana, apa persisnya yang sedang saya tolak, membantu keluar dari sikap itu dan mengembalikan penolakan kepada sesuatu yang bisa diperiksa.
- Kalimat terakhir ayat ini, setiap urusan telah tetap, memberi pegangan bagi orang yang melihat kebohongan tampak menang. Orang yang dizalimi di tempat kerja, keluarga yang haknya diambil, atau orang yang difitnah bisa merasa urusannya tidak akan pernah jelas. Di 6:67 kalimat yang serupa disusul janji, dan kelak kalian akan mengetahui. Setiap urusan punya tempat menetapnya, dan waktu untuk sampai ke sana ada di tangan Allah, tidak di tangan orang yang sedang berkuasa atau yang paling keras suaranya.
- Kita kadang berharap kenyataan menyesuaikan diri dengan keinginan kita: hasil pemeriksaan kesehatan yang lebih baik dari kebiasaan makan kita, atau usaha yang berhasil tanpa perhitungan. Di 23:71 Allah menyatakan bahwa seandainya kebenaran mengikuti hawa nafsu mereka, langit dan bumi akan binasa. Tatanan yang menopang hidup kita bertahan karena tidak tunduk pada keinginan siapa pun. Menerima kenyataan yang tidak sesuai keinginan termasuk bagian dari menerima tatanan itu, dan dari situ perbaikan yang sungguh-sungguh bisa dimulai.
- Surah sebelumnya menyebut rasul tidak berbicara dari hawa nafsu, dan ayat ini menyebut orang-orang yang menolaknya mengikuti hawa nafsu mereka. Dua sikap itu berhadapan: berbicara dari wahyu, dan mengikuti keinginan. Ketika kita berbicara tentang agama, menasihati anak, atau menilai orang lain, asal ucapan kita layak dipertanyakan. Apakah kata-kata ini bersandar pada apa yang Allah turunkan, atau pada keinginan kita sendiri yang diberi pakaian dalil? Pertanyaan itu sulit dijawab dengan jujur, dan karena itu perlu sering diajukan.
- Ayat sebelumnya menggambarkan kebiasaan, dan ayat ini menyebut hasilnya dalam bentuk lampau: mereka telah mendustakan. Kebiasaan yang diulang setiap hari akhirnya menjadi riwayat hidup seseorang. Di 54:52-53 disebutkan bahwa segala sesuatu yang mereka perbuat ada dalam kitab-kitab catatan, yang kecil maupun yang besar. Kebiasaan kecil, seperti menunda salat, mengabaikan panggilan orang tua, atau meremehkan janji, tercatat satu per satu. Mengubah kebiasaan hari ini berarti mengubah catatan yang sedang ditulis.