الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
Matahari dan bulan menurut perhitungan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍasy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaaninmatahari dan bulan menurut perhitungan
Terjemahan per kata (3 kata)
- الشَّمْسُasy-syamsumatahari
- وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan
- بِحُسْبَانٍbi-husbaanindengan perhitungan
Inti bacaan
Keteraturan kosmik: 'matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan', sistem alam yang presisi dan terukur menjadi model bagi kehidupan manusia untuk juga hidup dengan keteraturan dan perencanaan, bukan kekacauan tanpa arah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ, asy-syamsu wa-l-qamaru bi-husbaanin). Dalam bahasa Arabnya, kalimat ini tidak memakai kata kerja sama sekali. Kata (الشَّمْسُ, asy-syamsu) dan (الْقَمَرُ, al-qamaru) berkedudukan sebagai subjek, lalu (بِحُسْبَانٍ, bi-husbaanin) berkedudukan sebagai keterangan, tanpa kata penghubung apa pun di antara keduanya. Susunan tanpa kata kerja seperti ini disebut kalimat nominal. Matahari dan bulan tidak sedang digambarkan sedang melakukan sesuatu. Keduanya digambarkan sebagai keadaan yang sudah tetap begitu adanya, bukan peristiwa yang sedang berlangsung. Sebagian terjemahan menambahkan kata "(beredar)" di sini, padahal kata itu tidak punya padanan dalam teks Arabnya. Karena kalimat ini nominal, tanpa kata kerja, tambahan semacam itu memasukkan gagasan gerak yang tidak dinyatakan ayat, dan karena itu tidak dipakai.
Di ayat lain, gerak matahari dan bulan memang disebut dengan kata kerja. Tiga ayat, (13:2, 35:13, 39:5), memakai frasa (يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى, yajrii li-ajalin musamman) yang berarti "berjalan menuju ajal yang ditentukan". Di sana ada kata kerja (يَجْرِي, yajrii), ada gerak yang sedang berlangsung menuju sebuah batas waktu. Ayat ini justru memilih bentuk yang lain sama sekali. Tidak ada kata kerja, hanya keterangan (بِحُسْبَانٍ, bi-husbaanin). Bedanya, tiga ayat itu menonjolkan matahari dan bulan sebagai sesuatu yang bergerak menuju titik akhir. Ayat ini menonjolkan matahari dan bulan sebagai sesuatu yang sudah berada dalam hitungan, tanpa perlu disebut sedang menuju ke mana.
Kata (بِحُسْبَانٍ, bi-husbaanin) berasal dari akar yang sama dengan (حِسَاب, hisaab), "perhitungan". Tapi bentuk yang dipakai di sini, (حُسْبَان, husbaan), bukan bentuk yang biasa dipakai Al-Qur'an. Bentuk (حِسَاب, hisaab) muncul puluhan kali, hampir selalu untuk perhitungan amal di hari kiamat, misalnya di (13:18, 13:21, 13:40, 13:41, 14:41). Bentuk (حُسْبَان, husbaan) jauh lebih jarang. Ia hanya muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, lalu di (6:96) dan (18:40).
Di (6:96), Allah disebut menjadikan matahari dan bulan sebagai (حُسْبَانًا, husbaanan), ditutup dengan "itulah ketetapan Yang Perkasa lagi Yang Mengetahui". Rujukannya sama seperti di sini: gerak matahari dan bulan yang teratur, bisa dihitung, tidak sembarangan. Di (18:40), kata yang sama dipakai untuk hal yang berbeda. Seorang pemilik kebun berharap Tuhannya mengirim (حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ, husbaanan mina-s-samaa'), bencana dari langit, atas kebun tetangganya yang sombong. Objek kata itu di sana bukan lagi matahari dan bulan, melainkan bencana. Yang tetap sama di ketiga tempat adalah gagasan dasarnya: sesuatu yang datang atau berjalan menurut ukuran yang pasti, bukan kebetulan. Bedanya hanya pada apa yang diukur, gerak benda langit di dua ayat, atau bencana yang turun di ayat ketiga.
Karena itu, kata "perhitungan" dipilih untuk terjemahan, bukan "peredaran" atau "orbit". Kedua kata itu menambahkan gagasan bentuk lintasan melingkar yang tidak ada di kata Arabnya sendiri. Ayat ini tidak menjelaskan bentuk lintasan matahari dan bulan. Ayat ini hanya menyatakan bahwa keduanya tunduk pada hitungan yang pasti.
Tafsiran
Ayat ini adalah titik balik dalam pembukaan surah. Empat ayat sebelumnya, (55:1-4), berbicara tentang Ar-Rahman, Al-Qur'an, penciptaan manusia, dan pengajaran kemampuan menjelaskan. Semuanya berpusat pada manusia. Mulai ayat ini, sorotan berpindah ke langit. Matahari dan bulan disebut lebih dulu daripada bintang dan pepohonan di (55:6), lalu langit serta timbangan di (55:7). Urutan ini bergerak dari yang paling jauh dan paling besar menuju yang lebih dekat dan lebih kecil, lalu ke sesuatu yang dipegang langsung oleh tangan manusia, yaitu timbangan di (55:8-9).
Yang ditegaskan ayat ini bukan sekadar bahwa matahari dan bulan ada, melainkan bahwa keduanya tunduk pada ukuran yang pasti, sama seperti manusia di (55:3-4) diberi bentuk dan kemampuan bicara yang juga bukan kebetulan. Surah ini menghubungkan dua hal yang tampak berbeda, kemampuan manusia berbicara dan ketertiban gerak benda langit, sebagai dua tanda dari sumber yang sama, Ar-Rahman, yang disebut di ayat pembuka surah ini.
Ayat ini juga membuka rangkaian empat ayat, (55:5-8), yang semuanya berbicara tentang sesuatu yang ditegakkan atau diletakkan menurut ukuran: matahari dan bulan menurut hitungan, bintang dan pohon dalam sujud, langit ditinggikan bersama timbangan, lalu manusia diperintah tidak melampaui batas dalam timbangan itu. Rangkaian ini menurun dari langit ke bumi, dari benda-benda yang tidak punya pilihan untuk taat, sampai ke manusia yang punya pilihan dan karena itu diberi perintah, bukan sekadar pernyataan keadaan.
Renungan dan Hikmah
- Allah tidak berhenti pada matahari yang terang atau bulan yang indah dipandang. Yang disebut justru hitungan. Ada jarak antara kagum pada sesuatu karena tampilannya, dan kagum pada sesuatu karena keteraturannya yang bisa diukur berulang kali dan selalu sama. Yang kedua lebih sulit dipalsukan. Cahaya bisa jadi tipuan mata, tapi hitungan yang selalu tepat, tahun demi tahun, sulit dijelaskan sebagai kebetulan belaka, dan justru di situlah kekagumannya bertahan lebih lama.
- Matahari dan bulan adalah dua benda paling menonjol di langit yang bisa dilihat mata telanjang, tapi Allah tidak menyebut ukurannya, jaraknya, atau kekuatan cahayanya. Yang disebut hanya bahwa keduanya berjalan menurut hitungan. Kebesaran fisik tidak membebaskan dari batas. Semakin besar sesuatu di alam semesta ini, semakin ia justru terlihat tunduk pada aturan yang tidak dibuatnya sendiri, sebuah pola yang mengingatkan bahwa besar dan bebas dari aturan adalah dua hal yang berbeda. Kalau matahari dan bulan yang sebesar itu tidak bebas dari ukuran, pantaskah manusia yang jauh lebih kecil merasa dirinya lebih bebas dari batas?
- Kalimat ayat ini tidak memakai kata kerja. Tidak ada 'sedang berjalan' atau 'akan berjalan'. Yang ada hanya keadaan yang dinyatakan selesai sejak semula. Sesuatu yang selalu terjadi tanpa jeda dan tanpa pengecualian, lama-lama berhenti terasa sebagai peristiwa. Ia menjadi latar, seperti udara yang tidak disadari selama masih ada. Ayat ini menaruh matahari dan bulan pada posisi itu, bukan kejadian yang layak dikagumi sesekali, melainkan latar yang menopang segala sesuatu yang lain.
- Manusia menyusun kalender, menghitung hari, menandai musim tanam, dengan mengamati matahari dan bulan. Tapi hitungan yang dipakai manusia bukan hitungan yang diciptakan manusia. Ia hanya membaca hitungan yang sudah ada lebih dulu di gerak keduanya. Seluruh sistem waktu yang dipakai untuk mengatur kehidupan sehari-hari, jadwal ibadah, musim panen, bergantung pada sesuatu yang ayat ini sebut sebagai kepastian yang sudah berdiri sendiri, dipinjam, bukan disusun dari nol oleh manusia.
- Allah tidak memberi matahari dan bulan kesempatan untuk memilih pola geraknya. Bandingkan dengan manusia, yang beberapa ayat sebelumnya justru diberi bentuk dan kemampuan bicara, sesuatu yang membuka pilihan. Ketaatan matahari dan bulan bukan hasil kepatuhan yang bisa dipuji, karena tidak pernah ada pilihan lain yang tersedia bagi keduanya. Justru karena itu, ketertiban semesta terasa berbeda kelas dari ketertiban yang diharapkan dari manusia, yang satu otomatis, yang lain menuntut kesadaran untuk memilih taat.
- Kata yang menggambarkan hitungan matahari dan bulan di ayat ini adalah kata yang sama yang dipakai di ayat lain untuk bencana yang turun dari langit. Bagi pembaca, ini artinya kejadian yang terasa acak dan kejadian yang terasa paling teratur di alam semesta ternyata dua wajah dari gagasan yang sama, keduanya diukur, bukan keduanya kebetulan. Yang berbeda hanya perasaan manusia saat mengalaminya, bukan cara kerja di baliknya, dan itu berarti tidak ada kejadian yang benar-benar lepas dari ukuran.
- Surah ini dibuka dengan nama Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, tapi ayat tentang matahari dan bulan ini tidak berbicara tentang kasih sayang. Ia berbicara tentang ketepatan. Sesuatu yang terasa dingin dan matematis, hitungan, ternyata ditempatkan tepat sesudah nama yang paling hangat di antara nama-nama Allah. Kasih sayang di sini tidak digambarkan lewat kelembutan, melainkan lewat kepastian yang tidak pernah meleset, sesuatu yang bisa disandari justru karena ia tidak berubah-ubah menurut suasana.