وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

dan bintang serta pepohonan tunduk sujud,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُwa-n-najmu wa-sy-syajarudan bintang serta pepohonan
  2. يَسْجُدَانِyasjudaanitunduk sujud

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالنَّجْمُwa-n-najmudan tumbuhan
  2. وَالشَّجَرُwa-sy-syajarudan pepohonan
  3. يَسْجُدَانِyasjudaanikeduanya bersujud

Inti bacaan

Ketundukan universal: 'bintang serta pepohonan tunduk sujud (kepada-Nya)', bahkan elemen alam yang tak berakal menunjukkan ketundukan, pengingat bahwa penolakan terhadap ketundukan adalah pilihan yang justru bertentangan dengan pola alam semesta.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ, wa-n-najmu wa-sy-syajaru yasjudaani). Kata kerja (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) berbentuk dual, bentuk khusus bahasa Arab untuk dua pelaku, bukan bentuk jamak untuk banyak pelaku. Bentuk ini dipakai karena subjeknya persis dua benda, (النَّجْمُ, an-najmu) dan (الشَّجَرُ, asy-syajaru), disebut sebagai satu kesatuan yang sujud bersama-sama. Bentuk (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini.

Bentuk dual berbeda dari bentuk jamak yang dipakai untuk tiga pelaku atau lebih. Kalau ayat ini hendak menyebut bintang dan pohon sebagai dua kelompok yang terpisah, masing-masing bisa diberi kata kerja tunggal sendiri-sendiri, seperti (يَسْجُدُ, yasjudu) untuk tiap kelompok. Tapi ayat ini memilih satu kata kerja dual untuk keduanya sekaligus. Pilihan ini menandakan bahwa bintang dan pohon diperlakukan sebagai satu pasangan yang sujud bersama, bukan dua peristiwa sujud yang kebetulan disebut berurutan dalam satu ayat.

Kata (النَّجْمُ, an-najmu) diterjemahkan "bintang". Rujukan yang bisa diperiksa untuk memastikan makna ini ada di tempat lain dalam Al-Qur'an sendiri. (86:3) menyebut (النَّجْمُ الثَّاقِبُ, an-najmu-ts-tsaaqibu), "bintang yang menembus", sebagai penjelasan atas "yang datang di malam hari" pada ayat sebelumnya di surah itu. Karena satu-satunya rujukan lain untuk kata ini di dalam Al-Qur'an secara jelas menunjuk benda langit, bukan tumbuhan, terjemahan "bintang" dipertahankan di sini. Pembacaan ini juga sejalan dengan ayat sebelumnya, (55:5), yang baru saja menyebut matahari dan bulan.

Kata kerja (يَسْجُدَانِ, yasjudaani) di ayat ini tidak diikuti objek apa pun. Tidak ada kata "kepada-Nya" atau "kepada Allah" yang menyertainya. Ini berbeda dari pola yang dipakai Al-Qur'an di tempat lain untuk topik serupa. Di (13:15), disebutkan (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-lillaahi yasjudu), "dan kepada Allah bersujud". Di (16:49), pola yang sama diulang, (وَلِلَّهِ يَسْجُدُ, wa-lillaahi yasjudu). Di (16:48), dipakai bentuk (سُجَّدًا لِلَّهِ, sujjadan lillaahi), "bersujud kepada Allah". Ketiga ayat itu menyebutkan tujuan sujud secara eksplisit. Ayat ini, satu-satunya di antara ayat-ayat bertema sama, tidak menyebutnya.

Ayat (22:18) memuat daftar terpanjang untuk topik ini: siapa yang di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan melata, dan kebanyakan manusia, semuanya disebut (يَسْجُدُ, yasjudu) "bersujud". Di ayat itu kata (وَالشَّجَرُ, wa-sy-syajaru) muncul persis sama seperti di sini. Ayat ini mengambil dua dari unsur panjang itu, bintang dan pepohonan, lalu menjadikannya subjek satu kalimat pendek berdiri sendiri, dengan kata kerja dual yang khusus untuk keduanya saja.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya, (55:5), dengan berpindah dari benda langit yang paling jauh, matahari dan bulan, menuju benda yang lebih dekat, bintang di langit dan pohon di bumi. Bersama ayat sebelumnya, ayat ini menyusun sepasang gerak menurun, dari langit ke bumi, sebelum ayat berikutnya, (55:7), berpindah lagi ke langit yang ditinggikan dan timbangan yang diletakkan.

Kata sujud di ayat ini dipakai untuk benda yang tidak berkehendak, sama seperti (55:5) menyatakan matahari dan bulan tunduk pada hitungan tanpa memiliki pilihan. Bedanya, di (55:5) ketundukan itu dinyatakan lewat kalimat tanpa kata kerja sama sekali, sedangkan di sini ketundukan itu dinyatakan lewat kata kerja yang biasanya dipakai untuk tindakan ibadah manusia. Pemilihan kata ibadah untuk benda-benda ini menegaskan bahwa ketundukan alam bukan sekadar hukum fisika yang netral, melainkan digambarkan dengan kosakata yang sama dipakai untuk sikap seorang hamba.

Ayat ini tidak menjawab siapa yang dituju oleh sujud itu, meski ayat-ayat lain yang setema, (13:15, 16:48, 16:49, 22:18), semuanya menyebutkannya. Ketiadaan itu bukan berarti tujuannya tidak ada, melainkan karena dalam konteks pembukaan surah ini, penyebutan Ar-Rahman di ayat pertama sudah cukup menjawabnya tanpa perlu diulang di tiap ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyandingkan yang paling jauh dari jangkauan manusia dengan yang paling dekat. Bintang bertengger di langit yang tak terjangkau tangan. Pohon tumbuh di halaman, bisa disentuh, ditanam, ditebang. Ayat ini menaruh keduanya dalam satu kalimat yang sama, dengan kata kerja yang sama pula. Jarak yang dalam kehidupan sehari-hari terasa begitu besar, antara langit yang jauh dan tanah yang dipijak, ternyata tidak mengubah cara keduanya diperlakukan dalam ayat ini, sama-sama tunduk, sama-sama disebut sujud.
  • Kata yang Allah pakai bukan sekadar 'tunduk' atau 'patuh'. Kata itu adalah kata yang sama dipakai untuk gerakan ibadah manusia, sujud. Bintang dan pohon tidak memiliki kehendak untuk taat atau membangkang, tapi kata itu tetap dipilih untuk menggambarkan keadaannya. Ini membuat jarak antara ibadah manusia dan ketundukan benda mati terasa lebih dekat daripada yang biasa dibayangkan, seolah seluruh ciptaan berbagi satu kosakata yang sama untuk menggambarkan posisinya di hadapan penciptanya. Kalau bintang dan pohon yang tak berkehendak saja disebut sujud, bagaimana dengan manusia yang justru diberi pilihan untuk taat atau menolak?
  • Di ayat-ayat lain yang membahas ketundukan seluruh ciptaan, disebutkan dengan jelas kepada siapa ketundukan itu ditujukan. Di sini, tidak. Ayat ini membiarkan pertanyaan itu tanpa jawaban tertulis. Bagi pembaca yang sudah membaca ayat pertama surah ini, jawabannya sebenarnya sudah ada sejak awal, tidak perlu diulang setiap kali. Ada sesuatu yang meyakinkan dari cara sebuah teks tidak perlu mengulang jawaban yang sudah jelas, seolah keyakinannya begitu kukuh hingga tidak butuh penegasan berulang-ulang.
  • Kata kerja yang dipakai berbentuk dual, khusus untuk dua pelaku, bukan bentuk jamak untuk banyak pelaku. Bintang bukan satu, jumlahnya tak terhitung. Pohon juga bukan satu, jenisnya beragam. Tapi ayat ini menyatukan keduanya menjadi dua kelompok besar, lalu memperlakukan keduanya sebagai satu pasangan yang bertindak bersama. Keragaman yang sesungguhnya luar biasa, jutaan bintang dan jutaan pohon, diringkas menjadi satu gerak kembar yang sederhana, seolah jumlah tidak pernah menjadi soal utama.
  • Ayat sebelumnya menyebut matahari dan bulan, dua benda langit yang paling besar dan paling jauh. Ayat ini turun satu tingkat, bintang yang jauh, lalu pohon yang dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari manusia. Gerak turun ini seakan membawa pembaca dari melihat langit yang luas ke melihat pohon di depan rumahnya sendiri, dan menyadari bahwa hal sekecil itu pun ternyata bagian dari tatanan yang sama besarnya dengan matahari dan bulan yang diciptakan Allah.
  • Sujud yang dilakukan manusia melibatkan gerakan tubuh yang bisa dilihat orang lain, sesuatu yang disengaja dan disadari. Bintang tidak bergerak turun ke tanah. Pohon tidak membungkuk. Tapi ayat ini tetap menyebut keduanya sujud. Ini memperluas makna ketundukan, dari gerakan fisik yang terlihat menjadi keadaan yang melekat pada cara sesuatu itu ada. Sebuah pohon yang tumbuh mengikuti hukum yang tidak ia pilih sendiri, dalam bahasa ayat ini, sudah dianggap sedang bersujud, sekalipun batangnya diam di tempat.