وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِwa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthidan tegakkanlah timbangan dengan adil
  2. وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَwa-laa tukhsiruu l-miizaanadan janganlah kalian mengurangi timbangan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَقِيمُواwa-aqiimuudan tegakkanlah kalian
  2. الْوَزْنَl-waznatimbangan
  3. بِالْقِسْطِbi-l-qisthidengan keadilan
  4. وَلَاwa-laadan janganlah
  5. تُخْسِرُواtukhsiruukalian mengurangi
  6. الْمِيزَانَl-miizaanatimbangan

Inti bacaan

Instruksi praktis ganda: 'tegakkanlah timbangan dengan adil, dan janganlah kalian mengurangi timbangan itu', perintah aktif (menegakkan) dipasangkan larangan (mengurangi), standar kejujuran dagang dan interaksi yang harus dijaga secara proaktif, bukan sekadar menghindari kecurangan pasif.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ, wa-aqiimuu l-wazna bi-l-qisthi wa-laa tukhsiruu l-miizaana). Ayat ini memuat dua perintah sekaligus: perintah positif, (أَقِيمُوا, aqiimuu) "tegakkanlah", dan larangan, (لَا تُخْسِرُوا, laa tukhsiruu) "janganlah kalian mengurangi". Berbeda dari ayat sebelumnya, (55:8), yang hanya berisi satu larangan, ayat ini menutup rangkaian dengan sepasang perintah, satu mengarahkan apa yang harus dilakukan, satu lagi menegaskan apa yang tidak boleh dilakukan.

Kata (أَقِيمُوا, aqiimuu) berasal dari akar yang sama dengan (قَوَّامِينَ, qawwaamiina), sebutan bagi orang yang menegakkan keadilan, yang muncul di (4:135), "jadilah kalian penegak keadilan". Kata "menegakkan" dipilih untuk terjemahan (أَقِيمُوا, aqiimuu), bukan "gunakanlah" atau "pakailah", karena akar kata ini secara konsisten menekankan gagasan berdiri lurus dan stabil, bukan sekadar memakai sesuatu.

Kata (الْوَزْنَ, al-wazna) di awal ayat ini, dan kata (الْمِيزَانَ, al-miizaana) di akhir ayat yang sama, berasal dari akar yang persis sama, seperti sudah disebutkan di (55:7). Ayat ini memakai kedua bentuk kata itu sekaligus dalam satu kalimat: perintah menegakkan (الْوَزْنَ, al-wazna), perbuatan menimbang, lalu larangan mengurangi (الْمِيزَانَ, al-miizaana), alat timbangannya. Perbuatan dan alat disebut berdampingan, seakan menegaskan bahwa menjaga keduanya adalah satu paket yang tidak bisa dipisah.

Kata (بِالْقِسْطِ, bi-l-qisthi), "dengan adil", muncul empat belas kali di sembilan surah, sebagian besar dalam konteks kesaksian dan penegakan keadilan sosial, seperti di (4:135) dan (5:8), yang sama-sama memerintahkan orang beriman menjadi penegak keadilan. Ayat ini memakai kata yang sama, tapi dalam konteks yang jauh lebih kecil dan konkret, menimbang barang. Kosakata keadilan sosial yang besar dipakai di sini untuk urusan sehari-hari yang tampak sepele, menyamakan derajat keduanya.

Kata (تُخْسِرُوا, tukhsiruu), "kalian mengurangi", berasal dari akar yang berarti rugi atau berkurang, akar yang sama dengan (خُسْرَان, khusraan), "kerugian", kata yang berulang kali dipakai Al-Qur'an untuk menggambarkan kerugian besar di akhirat. Bentuk persis (تُخْسِرُوا, tukhsiruu) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini. Ayat ini memakai kata kerugian yang biasanya menggambarkan sesuatu besar, untuk sebuah tindakan kecil, mengurangi berat timbangan sedikit demi sedikit.

Ayat ini juga menutup rangkaian dua ayat (55:8-9) dengan susunan yang berimbang. Ayat sebelumnya memakai satu larangan tanpa perintah positif. Ayat ini membalikkan urutan itu, perintah lebih dulu, larangan kemudian, dan kata (الْمِيزَانَ, al-miizaana) yang menutup ayat ini adalah kata yang sama persis dengan yang menutup ayat sebelumnya, membuat kedua ayat terasa seperti dua sisi dari satu keping yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian empat ayat yang dimulai di (55:5), dari matahari dan bulan yang tunduk pada hitungan, sampai ke perintah langsung kepada manusia tentang timbangan. Ayat sebelumnya, (55:8), baru melarang satu sisi pelanggaran, melampaui batas. Ayat ini melengkapinya dengan sisi yang berlawanan, mengurangi, sekaligus menambahkan perintah positif yang belum ada di ayat sebelumnya, menegakkan timbangan dengan adil.

Bersama (55:8), ayat ini menyempurnakan gambaran keadilan dalam menimbang menjadi tiga bagian: menegakkan dengan aktif, tidak melampaui batas ke satu arah, dan tidak mengurangi ke arah yang berlawanan. Ketiganya membentuk definisi keadilan yang lengkap, bukan sekadar tidak berbuat jahat, melainkan juga aktif menjaga keseimbangan di tengah.

Ayat ini juga menutup gerak turun yang dimulai sejak (55:5), dari langit yang jauh, matahari dan bulan, turun ke bintang dan pohon, naik lagi ke langit yang ditinggikan bersama timbangan, lalu akhirnya sampai ke tangan manusia yang diperintah menegakkannya sendiri. Timbangan yang di (55:7) disebut sebagai bagian dari penciptaan langit, di ayat ini sudah sepenuhnya berpindah menjadi tanggung jawab harian manusia, ditutup dengan seruan langsung kepada orang yang membaca dan mendengarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh menegakkan, lalu melarang mengurangi, dalam satu ayat yang sama. Tidak curang saja ternyata belum cukup. Ayat ini menuntut lebih dari sekadar diam tanpa berbuat salah. Ia menuntut tindakan aktif menegakkan keadilan, bukan hanya menahan diri dari kecurangan. Ada jarak antara orang yang tidak pernah mencuri dan orang yang aktif menjaga supaya orang lain juga tidak dirugikan, dan ayat ini meminta yang kedua, bukan sekadar yang pertama.
  • Timbangan disebut dua kali berturut-turut dalam satu ayat, dengan dua kata yang berasal dari akar sama. Yang satu soal menegakkan perbuatannya, yang lain soal menjaga alatnya supaya tidak dikurangi. Bagi pembaca, ini seperti pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup kalau alat yang dipakai sudah dirusak duluan, dan alat yang baik saja tidak berguna kalau perbuatan memakainya tidak dijaga. Keduanya harus berjalan bersamaan, bukan salah satu saja. Apa gunanya niat baik kalau alat yang dipakai sudah tidak jujur sejak awal?
  • Allah menyebut langit dan timbangan sebagai bagian dari penciptaan yang sama, tepat sebelum ayat ini turun ke urusan pasar. Neraca yang tadinya digambarkan seluas penciptaan langit, di sini dipindahkan ke tangan manusia, ke urusan pasar yang sekecil menimbang barang dagangan. Ukuran yang sama besarnya dengan penciptaan alam semesta ternyata dipercayakan pengawasannya kepada tangan-tangan kecil manusia biasa yang berdiri di depan timbangan setiap hari, jauh dari langit yang disebut beberapa ayat sebelumnya.
  • Kata yang dipakai untuk melarang mengurangi timbangan berasal dari akar yang sama dengan kata kerugian besar yang biasanya menggambarkan nasib buruk di akhirat. Al-Qur'an memakai kosakata sebesar itu untuk tindakan sekecil mengurangi sedikit berat timbangan. Ini seperti mengatakan bahwa kerugian besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dianggap remeh, dan tidak ada kecurangan yang benar-benar kecil kalau dilihat dari akar katanya sendiri.
  • Kata untuk adil di ayat ini adalah kata yang sama dipakai Al-Qur'an untuk memerintahkan orang beriman menjadi saksi yang jujur dan penegak keadilan dalam masalah besar. Di sini, kata besar itu dipakai untuk urusan menimbang barang di pasar. Pembaca diajak melihat bahwa kejujuran dalam skala kecil dan keadilan dalam skala besar sebenarnya diukur dengan mistar yang sama, bukan dua standar berbeda tingkatnya, seolah tidak ada ruang untuk berlaku curang hanya karena urusannya kecil.
  • Dibaca bersama ayat sebelumnya, dua ayat ini menyusun keadilan bukan sebagai satu larangan tunggal, melainkan tiga langkah: menegakkan secara aktif, tidak melampaui ke satu arah, dan tidak mengurangi ke arah lain. Kebanyakan orang berhenti pada langkah kedua, sekadar tidak curang. Allah menuntut ketiganya sekaligus, sebuah standar yang lebih lengkap daripada yang biasa dianggap cukup dalam kehidupan sehari-hari, dan lebih berat dituntaskan daripada sekadar berhenti berbuat salah.