خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- خَلَقَ الْإِنْسَانَkhalaqa l-insaanaDia menciptakan manusia
- مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِmin shalshaalin ka-l-fakhkhaaridari tanah kering seperti tembikar
Terjemahan per kata (5 kata)
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- مِنْmindari
- صَلْصَالٍshalshaalintanah liat kering
- كَالْفَخَّارِka-l-fakhkhaariseperti tembikar
Inti bacaan
Asal-usul rendah hati manusia: 'Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar', pengingat material dasar penciptaan yang sederhana, dasar untuk tidak menyombongkan diri atas keberadaan yang berasal dari bahan serendah tanah liat kering.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, khalaqa l-insaana min shalshaalin ka-l-fakhkhaari). Bentuk kalimat "Dia menciptakan manusia" sudah dibahas di 55:3, ayat yang menyebutkan pola yang sama muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:4, 55:3, 55:14, dan 96:2, dan menjelaskan mengapa 55:3 sendiri tidak menyebut bahannya sementara tiga tempat lain, termasuk ayat ini, selalu menyebutkannya. Penjelasan di sini berhenti pada apa yang belum dibahas di sana, yaitu bahan penciptaan itu sendiri, (مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ, min shalshaalin ka-l-fakhkhaari).
Kata (صَلْصَال, shalshaal) berasal dari akar ص-ل-ص-ل, akar empat huruf yang jarang, dan muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an: tiga kali di surah Al-Hijr, 15:26, 15:28, dan 15:33, serta sekali di sini. Di ketiga tempat pada surah Al-Hijr, kata ini selalu disusul frasa (مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ, min hama-in masnuunin), "dari lumpur hitam yang dibentuk", menjelaskan proses dua tahap, lumpur yang dibentuk lebih dulu, lalu mengering menjadi tanah liat yang berbunyi kalau diketuk. Ayat ini, satu-satunya dari empat kemunculan itu yang berada di luar surah Al-Hijr, tidak mengulang frasa "lumpur yang dibentuk" itu. Sebagai gantinya, ayat ini menambahkan perbandingan yang tidak ada di tiga tempat lain, yaitu (كَالْفَخَّارِ, ka-l-fakhkhaari).
Kata (فَخَّار, fakhkhaar) berarti "tembikar", benda tanah liat yang sudah dibakar dan mengeras. Bentuk kata ini, dengan makna tembikar, hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, tepat di ayat ini. Akar yang sama, ف-خ-ر, muncul di beberapa ayat lain, tetapi dengan kata yang berbeda dan makna yang sama sekali lain: (فَخُورٍ, fakhuurin) pada 31:18 berarti "sombong" atau "suka membanggakan diri", bentuk yang muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:36, 11:10, 31:18, dan 57:23, dan (تَفَاخُرٌ, tafaakhurun) pada 57:20 berarti "saling membanggakan diri", hanya muncul satu kali, tepat di ayat itu. Huruf akarnya sama, tetapi kata yang terbentuk darinya berbeda makna sama sekali, satu tentang benda tanah liat yang dibakar, satu lagi tentang sikap membanggakan diri. Keduanya tidak berhubungan makna meskipun berbagi huruf akar yang sama.
Perbandingan "seperti tembikar" ini menambahkan sesuatu yang tidak disampaikan oleh kata "tanah liat kering" saja. Tembikar adalah tanah liat yang sudah melalui proses pembakaran, mengeras, dan berbunyi nyaring kalau diketuk, berbeda dari tanah liat basah yang lembek atau tanah kering yang rapuh tanpa dibakar. Perbandingan ini memberi gambaran yang bisa dipahami secara langsung oleh siapa pun yang pernah melihat atau memegang benda tembikar, sesuatu yang keras, kering, dan bersuara ketika disentuh, sebuah gambaran yang lebih hidup daripada sekadar menyebut jenis tanahnya.
Tafsiran
Ayat ini adalah kemunculan kedua penciptaan manusia di surah ini, dan sebagaimana sudah dijelaskan di 55:3, kali ini bahannya disebutkan, berbeda dari kemunculan pertama yang berhenti pada penciptaannya saja. Yang paling berbicara dari ayat ini bukan fakta bahwa manusia diciptakan dari tanah, karena itu sudah dikenal luas, melainkan pilihan perbandingannya, yaitu seperti tembikar, benda yang sudah dibakar dan mengeras, bukan sekadar tanah kering biasa.
Ayat ini juga berdiri sebagai separuh pertama dari sebuah pasangan. Ayat berikutnya, 55:15, menyebut penciptaan jin dari nyala api, dan dua ayat ini bersama-sama menyajikan dua bahan yang berlawanan sifatnya, tanah yang padat dan keras melawan api yang menyala dan bergerak. Allah yang sama menciptakan kedua golongan ini dari dua bahan yang sama sekali berbeda, sesudah sembilan ayat yang berbicara tentang alam semesta dan sesaat sebelum surah ini menyapa kedua golongan itu bersama-sama sebagai dua golongan yang berat pada 55:31 dan jin dan manusia pada 55:33. Penyebutan bahan penciptaan yang berbeda ini mendahului penyapaan bersama itu, seakan menegaskan bahwa dua golongan yang berbeda asal-usulnya ini tetap disapa dengan pertanyaan yang sama tentang nikmat yang sama, dan tetap sama-sama berhutang jawaban atas pertanyaan yang akan diulang tiga puluh satu kali.
Renungan dan Hikmah
- Bahan yang disebut ayat ini begitu mudah ditemukan dan begitu akrab dalam keseharian, sesuatu yang bisa diinjak, dipegang, atau dibentuk tangan siapa pun. Dari bahan seakrab itu, Allah membentuk makhluk yang kemudian diberi akal, bahasa, dan kesanggupan menjelaskan, sebagaimana disebutkan di tiga ayat pembuka surah ini. Berapa sering kesanggupan berbahasa dan menalar itu dianggap datang dengan sendirinya, padahal jarak antara bahan awalnya yang begitu biasa dan kesanggupan yang begitu tidak biasa itu jauh lebih lebar daripada yang terasa sehari-hari?
- Tembikar dikenal karena bunyinya yang nyaring ketika diketuk, berbeda dari tanah basah yang tidak bersuara. Perbandingan ini memberi gambaran yang bisa dirasakan langsung, sesuatu yang keras dan kering, bukan sekadar disebut sebagai jenis tanah. Setiap kali tembikar terlihat atau tersentuh dalam keseharian, ada pengingat kecil yang tersedia tentang dari apa manusia ini pertama kali dibentuk oleh Allah, pengingat yang tidak memerlukan tempat khusus untuk ditemukan, karena benda tanah liat semacam itu ada di mana-mana.
- Ayat ini menyebut manusia dibentuk dari tanah yang padat, sedangkan ayat berikutnya akan menyebut jin dibentuk dari nyala api yang bergerak, dua bahan yang sifatnya saling berlawanan. Allah yang sama menciptakan kedua golongan ini dari dua bahan yang sama sekali berbeda, lalu tetap menyapa keduanya dengan pertanyaan yang sama tentang nikmat yang mereka terima, sebagaimana akan disebutkan beberapa ayat sesudah ini. Perbedaan bahan penciptaan ini tidak menghasilkan perbedaan kedudukan di hadapan pertanyaan yang sama itu.
- Manusia sudah disebut penciptaannya sejak 55:3, tetapi bahannya baru disebutkan di sini, sebelas ayat kemudian, sesudah serangkaian pemberian lain disebutkan lebih dulu, matahari, bulan, bintang, langit, bumi, dan segala isinya. Urutan ini menempatkan penyebutan bahan penciptaan manusia bukan di awal yang paling menonjol, melainkan menyisip di antara daftar pemberian yang lain, seakan Dia hendak menunjukkan bahwa manusia hanyalah satu dari sekian banyak yang diciptakan dan diberi tempat di bumi ini.
- Tanah tidak menjadi tembikar dengan sendirinya, ia perlu dibentuk dan melalui proses sebelum mengeras menjadi bentuk yang berguna. Perbandingan yang dipakai ayat ini menyiratkan proses serupa pada asal manusia, sesuatu yang dibentuk secara sengaja, bukan terjadi begitu saja tanpa tujuan. Tuhan yang membentuk manusia dari tanah yang serupa tembikar itu membentuknya dengan maksud, bukan kebetulan.
- Tembikar terdengar keras dan kuat ketika diketuk, tetapi justru karena itu ia juga mudah pecah kalau terbentur dengan cukup keras, berbeda dari tanah liat basah yang lentur dan tidak mudah retak. Perbandingan ini menyimpan dua sisi sekaligus, kekuatan yang terdengar dari bunyinya dan kerapuhan yang tersembunyi di balik kekerasannya. Manusia yang dibentuk Allah dari bahan semacam ini membawa kedua sifat itu bersamaan, tampak kokoh namun tetap rapuh terhadap benturan yang cukup kuat.