Ayat 55:19

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Dia mengalirkan dua laut yang bertemu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِmaraja l-bahrayni yaltaqiyaaniDia mengalirkan dua laut yang bertemu

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. مَرَجَmarajamengalirkan
  2. الْبَحْرَيْنِl-bahraynidua laut
  3. يَلْتَقِيَانِyaltaqiyaanikeduanya bertemu

Inti bacaan

Fenomena alam yang menakjubkan: 'Dia mengalirkan dua laut yang bertemu', pengamatan terhadap keajaiban alam (pertemuan dua badan air) sebagai bahan refleksi, dorongan mengamati fenomena alam dengan kepekaan bukan sekadar melewatkannya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ, maraja l-bahrayni yaltaqiyaani). Kata kerja (مَرَجَ, maraja), "mengalirkan" atau "membiarkan mengalir bebas", berasal dari akar m-r-j yang sama dengan kata (مَارِجٍ, maarijin) di 55:15, kata benda hapax yang menyebut nyala api bahan penciptaan jin. Dua lema ini berbeda (yang satu kata kerja, yang satu kata benda), sehingga bukan pengulangan kata yang sama, tapi berasal dari akar yang sama, dan sama-sama membawa gagasan inti sesuatu yang dilepas bergerak, tidak diam atau dikekang.

Frasa (مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ, maraja l-bahrayni) persis sama, kata demi kata, dengan pembuka 25:53: (وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا, wa-huwa lladzii maraja l-bahrayni haadzaa 'adzbun furaatun wa-haadzaa milhun ujaajun wa-ja'ala baynahumaa barzakhan wa-hijran mahjuuran), "Dan Dialah yang mengalirkan dua laut; yang ini tawar lagi segar, dan yang ini asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya pembatas dan penghalang yang tak tertembus." Dua ayat ini, satu-satunya tempat kata kerja (مَرَجَ, maraja) muncul di seluruh Al-Qur'an, sama-sama memakai kata kerja yang sama untuk peristiwa yang sama, dua laut, tapi merincinya dengan cara yang berbeda.

25:53 menyebut secara eksplisit apa yang membedakan dua laut itu, tawar-segar lawan asin-pahit, lalu menegaskan pemisahnya dengan dua kata sekaligus, (بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا, barzakhan wa-hijran mahjuuran), "pembatas" dan "penghalang yang tak tertembus", penekanan ganda pada keterpisahan. Ayat ini tidak merinci jenis air kedua laut itu, dan memakai kata kerja (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani), "keduanya bertemu", sebuah penegasan pertemuan, bukan pemisahan, sebagai kata kerja penutup. Ayat berikutnya, 55:20, baru menyebut pembatasnya, dengan satu kata saja, (بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ, barzakhun laa yabghiyaani), "ada pembatas yang tidak dilampaui masing-masing", tanpa penekanan ganda seperti di 25:53. Dua ayat yang memakai kata kerja pembuka yang sama persis ini akhirnya membawa citra yang sedikit berbeda: 25:53 menekankan keterpisahan yang terjaga rapat sejak awal disebutkan, sedangkan 55:19-20 menekankan pertemuan yang tetap terjaga batasnya, bukan penjagaan jarak sejak awal.

Akar m-r-j juga membentuk kata sifat (مَرِيجٍ, mariijin) di 50:5, satu-satunya kemunculannya, menggambarkan keadaan orang yang mendustakan kebenaran sebagai (فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ, fa-hum fii amrin mariijin), "mereka dalam keadaan kacau". Lema ini berbeda dari (مَرَجَ, maraja) dan (مَارِجٍ, maarijin), bukan kata yang sama, hanya berasal dari akar yang sama, dan di sana kekacauan yang dibawanya bernada negatif, keadaan orang yang menolak kebenaran. Pada ayat ini, gagasan "dilepas mengalir" dari akar yang sama justru menjadi tanda keteraturan yang dikendalikan: dua laut dibiarkan bertemu, tapi tetap tidak saling melampaui batasnya, sebagaimana disebut ayat berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini berpindah dari langit dan arah matahari ke permukaan bumi, menyebut fenomena dua laut yang bertemu sebagai nikmat berikutnya yang akan ditagih pengakuannya. Berbeda dari ayat kembarnya di 25:53 yang menegaskan pemisahan ketat antara air tawar dan air asin dengan dua kata pembatas sekaligus, ayat ini justru memilih menonjolkan pertemuan, dua laut yang saling bertemu, sebelum ayat berikutnya baru menambahkan bahwa pertemuan itu tetap punya batas yang tidak dilampaui.

Perbedaan penekanan ini membuat ayat ini terasa seperti citra yang lebih dekat dengan pengamatan sehari-hari: air yang mengalir bertemu, membaur di permukaan, tapi tetap punya batas yang tidak pernah benar-benar hilang, sebagaimana bisa diamati di muara sungai atau di tempat dua arus laut bertemu. Ayat ini tidak menjelaskan mengapa batas itu tetap ada padahal keduanya bertemu, ia hanya menyatakannya sebagai fakta yang layak ditanyakan: siapa yang menjaga agar pertemuan itu tidak pernah menjadi percampuran yang menghilangkan batas sama sekali.

Ayat ini juga meneruskan pola bentuk dual yang mulai padat sejak dua ayat sebelumnya, dua tempat terbit dan dua tempat terbenam. Laut di sini pun disebut dalam bentuk dual, (الْبَحْرَيْنِ, l-bahrayni), dan kata kerja penutupnya, (يَلْتَقِيَانِ, yaltaqiyaani), berakhiran dual pula. Tiga ayat berturut-turut, 55:17 sampai 55:19, sama-sama membawa bentuk dual pada kata bendanya, seakan langit dan lautan yang disebut satu demi satu ikut mengikuti irama pasangan yang sama dengan kata ganti dual pada refrain yang menyapa jin dan manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua laut yang dibiarkan Allah bertemu, bukan dua laut yang terpisah rapat sejak awal. Pertemuan itu sendiri sudah disebut lebih dulu, baru kemudian batasnya ditegaskan di ayat berikutnya. Ada hal-hal yang bisa saling bertemu dan berdekatan tanpa harus kehilangan batas masing-masing, sebuah kemungkinan yang jarang dipikirkan ketika pertemuan biasanya dibayangkan sebagai peleburan total tanpa sisa, seolah kedekatan selalu berarti hilangnya perbedaan.
  • Kata kerja pembuka ayat ini sama persis dengan ayat lain yang menyebut peristiwa yang sama, tapi ayat itu menekankan pemisahan sejak awal sedangkan ayat ini menekankan pertemuan lebih dulu. Kejadian yang sama bisa diceritakan dengan penekanan berbeda tanpa satu pun versinya salah, bergantung pada sisi mana yang hendak ditonjolkan, sebuah pengingat bahwa satu peristiwa bisa punya lebih dari satu cara sah untuk diceritakan, tergantung bagian mana yang ingin diperhatikan lebih dulu dan kepada siapa cerita itu ditujukan.
  • Akar kata yang membentuk kata kerja "mengalirkan" di sini juga membentuk kata sifat "kacau" di ayat lain, dipakai untuk menggambarkan keadaan orang yang menolak kebenaran. Gagasan "dilepas bergerak bebas" yang sama bisa menjadi keteraturan yang menakjubkan ketika dikendalikan, atau menjadi kekacauan ketika lepas kendali sama sekali. Kebebasan bergerak sendiri bukan penentu baik atau buruknya sesuatu; yang menentukan adalah ada atau tidaknya batas yang menjaganya, sesuatu yang berlaku sama pada air laut maupun pada keadaan diri sendiri.
  • Dua air yang bertemu di permukaan tidak menunjukkan batasnya secara kasat mata, tapi keduanya tidak benar-benar melebur menjadi satu. Ada batas-batas yang dijaga Allah tetap berlaku sekalipun tidak kelihatan dari luar, dan justru karena tidak kelihatan itulah keberadaannya paling mudah dilupakan atau diragukan, padahal ketiadaan tanda yang mencolok bukan berarti ketiadaan batas yang sesungguhnya.
  • Pertemuan air tawar dan air asin bukan peristiwa langka, ia bisa diamati di banyak muara dan pesisir, berulang setiap hari tanpa pernah benar-benar bercampur habis. Sesuatu yang begitu sering terjadi hingga tidak lagi terasa istimewa tetap dipilih sebagai bukti yang layak dipertanyakan pengakuannya. Kalau sesuatu sesering ini terjadi tanpa pernah gagal, mengapa justru yang paling sering dilihat yang paling jarang dianggap tanda dari Allah?
  • Kata yang dipakai ayat ini untuk "mengalirkan" membawa gagasan sesuatu yang dibiarkan bergerak bebas, bukan dikekang diam. Tapi kebebasan bergerak itu sendiri, sebagaimana ayat berikutnya akan menegaskan, tetap punya batas yang tidak dilampaui. Dibiarkan bergerak leluasa dan dibiarkan tanpa batas ternyata dua hal yang berbeda, dan perbedaan itu yang membuat pergerakan tetap menjadi keteraturan, bukan kekacauan yang lepas kendali sama sekali.

Ayat 55:20

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui masing-masing.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌbaynahumaa barzakhundi antara keduanya ada pembatas
  2. لَا يَبْغِيَانِlaa yabghiyaaniyang tidak dilampaui masing-masing

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  2. بَرْزَخٌbarzakhunbatas
  3. لَاlaatidak
  4. يَبْغِيَانِyabghiyaanikeduanya melampaui

Inti bacaan

Batas alami yang terjaga: 'di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui masing-masing', keteraturan alam yang menjaga keseimbangan tanpa saling menghancurkan, model bagi hubungan antar-entitas yang berbeda untuk tetap menjaga batas yang sehat tanpa saling melampaui.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ, baynahumaa barzakhun laa yabghiyaani). Kata (بَيْنَهُمَا, baynahumaa) berarti "di antara keduanya". Akhiran -humaa di situ menunjuk dua pihak, tetapi dua pihak itu tidak disebut lagi di ayat ini. Pembaca harus kembali ke 55:19 untuk tahu siapa mereka, yaitu (الْبَحْرَيْنِ, l-bahrayni), "dua laut". Ayat ini menyambung kalimat yang dimulai di ayat sebelumnya. Perbandingannya dengan 25:53, yang menyebut pembatas yang sama dengan dua kata sekaligus, sudah diuraikan di 55:19. Di sini dibahas dua kata yang belum disentuh di sana: kata untuk pembatas itu sendiri, dan kata kerja penutupnya.

Kata (بَرْزَخٌ, barzakhun), yang diterjemahkan "pembatas", hanya muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an (23:100, 25:53, 55:20). Dua di antaranya tentang dua laut, yaitu 25:53 dan ayat ini. Pemakaian ketiga tidak berbicara tentang air sama sekali. Di 23:100 kata ini berdiri di antara kematian dan hari kebangkitan: (وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ, wa-min waraa'ihim barzakhun ilaa yawmi yub'atsuuna), "dan di belakang mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan". Orang di ayat itu meminta kesempatan untuk beramal saleh pada apa yang telah ditinggalkannya, dan jawabannya (كَلَّا, kallaa), "sekali-kali tidak". Di ketiga tempat itu, kata ini menunjuk sesuatu yang berdiri di antara dua hal dan menahan yang satu agar tidak masuk ke yang lain. Tidak satu pun dari tiga ayat itu menjelaskan bentuknya, bahannya, atau rupanya. Karena itu terjemahan di sini memakai "pembatas", kata yang menyebut gunanya. Kata seperti "dinding" atau "tembok" tidak dipakai, sebab pembaca akan membayangkan rupa yang tidak disebut teksnya.

Ada satu beda kecil tetapi nyata antara ayat ini dan 25:53. Di 25:53 kata itu datang sesudah kata kerja: (وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا, wa-ja'ala baynahumaa barzakhan), "dan Dia jadikan di antara keduanya pembatas". Ayat itu menyebut siapa yang membuat pembatasnya. Ayat ini tidak memakai kata kerja apa pun di bagian itu. Bagian itu hanya menyatakan bahwa pembatas itu ada. Pelakunya sudah disebut di awal kalimat, di 55:19, lewat kata (مَرَجَ, maraja), "Dia mengalirkan". Kata (بَرْزَخٌ, barzakhun) di sini juga tanpa kata sandang al-, sehingga kata itu tidak menunjuk pembatas tertentu yang sudah dikenal pembaca. Pembaca diberi tahu bahwa batas itu ada, tetapi tidak diberi tahu seperti apa rupanya.

Al-Qur'an juga menyebut pemisah dua laut dengan kata lain. Di 27:61 tertulis (وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا, wa-ja'ala bayna l-bahrayni haajizan), "dan menjadikan pemisah antara dua laut". Kata (حَاجِزًا, haajizan), "pemisah", dalam bentuk ini hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an (27:61). Untuk pemisah antara dua laut, Al-Qur'an memakai tiga sebutan: pembatas (25:53, 55:20), penghalang yang tak tertembus (25:53), dan pemisah (27:61). Ketiganya menyebut apa yang dilakukan batas itu. Tidak ada yang menyebut bahan pembatas itu.

Kata kerja penutupnya, (يَبْغِيَانِ, yabghiyaani), berasal dari akar ب-غ-ي, dan bentuk persis ini hanya ada di ayat ini. Akhirannya menunjuk dua pelaku yang sedang dibicarakan, yaitu dua laut tadi. Kata (لَا, laa) di depannya meniadakan perbuatan itu, dan bentuk kata kerjanya menandai keadaan yang terus berlangsung, tidak terbatas pada satu waktu. Di sejumlah ayat lain, akar ini dipakai untuk satu pihak yang melanggar wilayah pihak lain. Dua orang yang datang kepada Daud berkata (بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ, baghaa ba'dhunaa 'alaa ba'dhin), "sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain" (38:22). Dua ayat sesudahnya menyebut orang-orang yang berserikat, (لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, la-yabghii ba'dhuhum 'alaa ba'dhin), "benar-benar saling merugikan satu sama lain" (38:24). Tentang dua golongan orang beriman yang bertikai, 49:9 berkata (فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ, fa-in baghat ihdaahumaa 'alaa l-ukhraa), "jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap yang lain". Di ketiga ayat itu ada dua pihak, dan satu pihak melanggar wilayah pihak lainnya. Akar yang sama juga dipakai di 10:23 untuk menyatakan ke mana akibat pelanggaran itu kembali: (إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ, innamaa baghyukum 'alaa anfusikum), "sesungguhnya aniaya kalian hanyalah atas diri kalian sendiri". Ayat ini memakai kata kerja dari akar yang sama untuk dua laut, lalu meniadakannya.

Satu unsur dari ayat-ayat tadi tidak ada di ayat ini. Di 38:22, 38:24, dan 49:9, kata kerja itu diikuti (عَلَىٰ, 'alaa), "terhadap", lalu disebut siapa yang dilanggar. Di sini kata itu tidak ada, jadi teksnya tidak menyebut apa yang tidak dilampaui kedua laut itu. Terjemahan "pembatas yang tidak dilampaui masing-masing" mengikatnya pada pembatas yang baru disebut, karena kalimatnya tidak menyebut pembatas lain. Membaca "keduanya tidak saling melanggar" juga sejalan dengan tiga ayat tadi. Dua bacaan itu sampai ke gambaran yang sama: tidak ada laut yang masuk ke wilayah laut lainnya. Akar yang sama punya arti lain lagi, "mencari", dan arti itu muncul di dua ayat tentang laut: (لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ, li-tabtaghuu min fadhlihi), "agar kalian dapat mencari sebagian karunia-Nya" (35:12, juga 16:14). Terjemahan di sini memilih arti "melampaui", karena ayat ini, seperti 38:22 dan 49:9, sedang menggambarkan dua pihak yang berbatasan.

Gagasan tidak melampaui batas juga muncul di surah ini lewat akar lain, ط-غ-ي. Di 55:8 manusia diminta (أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ, allaa tathghaw fii l-miizaani), "agar kalian tidak melampaui batas dalam timbangan". Akar ط-غ-ي yang sama dipakai 69:11 untuk air: "ketika air melampaui batas", saat air meluap dan manusia diangkut dalam kapal. Karena akarnya berbeda, kata-kata itu bukan kata yang sama dengan (يَبْغِيَانِ, yabghiyaani). Keduanya hanya sama dalam gagasan: ada batas, dan batas itu bisa dijaga atau dilangkahi.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kedua laut tetap terjaga batasnya meski bertemu, tidak saling mencampuri. Kata kerja penutupnya membuat ayat ini lebih dari gambaran alam. Kata dari akar yang sama, di ayat-ayat lain, dipakai untuk pihak-pihak yang bisa memilih: dua orang yang bersengketa, orang-orang yang berserikat, dua golongan yang bertikai. Di sini kata kerja itu dipakai untuk air, lalu ditiadakan. Dua laut digambarkan seperti dua tetangga yang tidak pernah melanggar wilayah satu sama lain.

Surah ini sudah menyentuh gagasan yang dekat di awalnya. Di 55:8 manusia diminta agar tidak melampaui batas dalam timbangan. Kepada manusia, menjaga batas disampaikan sebagai permintaan. Tentang dua laut, menjaga batas disampaikan sebagai kenyataan yang sedang berlangsung. Pihak yang tidak punya pilihan sudah berada di dalam batasnya. Pihak yang punya pilihan masih harus diminta.

Ayat ini juga tidak menjadikan ketenangan dua laut itu sifat bawaan air. Di 69:11 Al-Qur'an menyebut air yang melampaui batas, air yang meluap sampai manusia harus diangkut dalam kapal. Air yang sama, yang di sana meluap, di sini tertahan. Air yang tertahan di ayat ini berada dalam keadaan yang dijaga. Siapa yang menjaganya sudah disebut di awal kalimat, yaitu Dia yang mengalirkan kedua laut itu, dan 25:53 menyebutnya terang: Dia yang menjadikan pembatas di antara keduanya.

Pertanyaan yang menyusul di 55:21 baru datang sesudah batas ini disebut, tidak sesudah dua laut sekadar bertemu. Karena itu refrain sesudahnya akan menagih pengakuan atas pertemuan yang tetap berbatas, dan ayat ini melengkapi gambaran itu.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai Allah untuk dua laut ini berasal dari akar yang di tempat lain dipakai untuk orang-orang yang berserikat dan saling merugikan. Semakin dekat dua pihak, semakin banyak kesempatan untuk melanggar. Dua laut ini bersentuhan setiap saat, lebih dekat daripada tetangga mana pun, dan tetap tidak melangkahi batasnya. Kedekatan ternyata tidak harus berakhir dengan saling menguasai. Di antara rekan kerja, saudara, atau dua kelompok yang berbagi wilayah, masih ada kemungkinan lain selain yang sering terjadi.
  • Kata pembatas yang sama dipakai di 23:100 untuk batas yang lain. Di sana orang yang sudah didatangi kematian meminta dikembalikan untuk memperbaiki apa yang telah ditinggalkannya, lalu dijawab "sekali-kali tidak". Batas di antara dua laut menahan air agar tidak masuk ke wilayah lain. Batas di 23:100 menahan orang agar tidak bisa kembali. Setiap hari yang berlalu membawa diri sendiri lebih dekat ke batas yang kedua itu. Selagi batas itu belum sampai, apa yang ingin diperbaiki masih bisa diperbaiki. Apa yang sedang ditunda perbaikannya karena waktu terasa masih panjang?
  • Air tidak memilih untuk menjaga batasnya, dan ayat ini tetap menyebutnya tidak melampaui. Manusia bisa memilih, dan kepadanya Allah berkata di awal surah ini agar tidak melampaui batas dalam timbangan. Air dijaga tanpa perlu diminta, sedangkan manusia diberi kebebasan, lalu diminta. Kebebasan memilih tampak seperti kelebihan manusia atas air. Kebebasan itu pula yang membuat manusia, di antara keduanya, bisa gagal menjaga batas. Batasnya sama-sama ada. Bedanya, air berada di dalam batas karena ditahan, sedangkan manusia harus menahan dirinya sendiri.
  • Di 10:23 Allah berkata bahwa aniaya manusia hanya menimpa dirinya sendiri, dan kata aniaya di sana berasal dari akar yang sama dengan kata kerja di ayat ini. Kalau salah satu laut melampaui batasnya, laut yang lain kehilangan lebih dari wilayahnya. Kalau keduanya bercampur habis, 25:53 tidak akan bisa lagi menyebut yang satu tawar dan yang lain asin. Batas yang dijaga melindungi dua pihak sekaligus, yang tidak dilanggar dan yang tidak melanggar. Melangkahi wilayah orang lain sering terasa seperti mendapat sesuatu. Menurut 10:23, orang yang melangkahi itu sendiri ikut rugi.
  • Ketika dua golongan orang beriman bertikai, 49:9 meminta pihak lain berdiri di antara keduanya untuk mendamaikan, dan pihak yang berbuat aniaya harus diperangi sampai pihak itu kembali kepada perintah Allah. Di antara dua laut, pembatas yang dijadikan Allah berdiri di tengah, dan tidak ada pihak lain yang perlu ikut campur. Manusia yang bertikai butuh penengah, hakim, dan aturan tertulis. Dua laut ini tidak membutuhkannya. Apakah damai di antara manusia hanya bisa dijaga dari luar, atau ada batas yang bisa dijaga dari dalam diri masing-masing?
  • Air yang di ayat ini tertahan, di 69:11 meluap melampaui batas. Ketenangan dua laut tidak datang dengan sendirinya dari sifat air. Allah menjaga pantai yang aman, muara yang tenang, dan air yang tetap di tempatnya setiap saat. Sesuatu yang dijaga terus-menerus mudah dikira berjalan sendiri. Baru ketika penjagaan itu dilepas, sebagaimana diceritakan di 69:11, terlihat betapa besar yang selama ini ditahan. Rasa aman sehari-hari berdiri di atas penjagaan yang jarang disadari.
  • Kata kerja di ayat ini menunjuk dua pelaku, dan peniadaannya berlaku untuk keduanya. Tidak ada laut yang disebut lebih baik karena lebih dulu mengalah, dan tidak ada yang disebut sebagai pihak yang biasa melanggar. Dalam pertikaian manusia, 49:9 menyebut "salah satu dari keduanya" yang berbuat aniaya. Di ayat ini Allah tidak menyebut salah satu. Keduanya berada di dalam batas dengan cara yang sama. Damai seperti ini tidak bergantung pada satu pihak yang terus mengalah, tetapi pada dua pihak yang sama-sama tahu di mana wilayahnya berakhir.