فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kelima setelah penyebutan mutiara dan marjan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang terus membangun akumulasi kesadaran, setiap nikmat spesifik yang disebutkan menambah bobot pertanyaan retoris yang semakin sulit dijawab dengan penyangkalan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kelima dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) menyapa jin dan manusia bersama, sebagaimana diuraikan di 55:13. Kemunculan ini membahas kata yang menjadi poros refrain itu, yaitu (رَبِّ, rabbi), "Tuhan", dan cara surah ini menyebut Dia yang bertanya.

Surah ini terdiri dari 78 ayat, dan nama Allah tidak muncul satu kali pun di dalamnya. Surah ini dibuka dengan (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) di 55:1. Sesudah itu, surah ini paling sering menyebut-Nya dengan (رَبِّ, rabbi), "Tuhan". Kata ini muncul 36 kali di surah ini: 31 kali di dalam refrain (misalnya 55:13, 55:16, 55:18), dua kali di 55:17, yaitu (رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ, rabbu l-masyriqayni wa-rabbu l-maghribayni), dan sekali masing-masing di 55:27, 55:46, dan 55:78.

Di surah ini kata itu tidak pernah berdiri sendiri. Kata ini selalu melekat pada pihak yang punya hubungan dengan-Nya. Di refrain, sebutan itu menjadi "Tuhan kalian berdua". Di 55:17 sebutannya Tuhan dua tempat terbit dan dua tempat terbenam. Di 55:27 dan 55:78 akhirannya tunggal, (رَبِّكَ, rabbika), "Tuhanmu", menyapa satu orang. Di 55:46 akhirannya menunjuk orang ketiga, (مَقَامَ رَبِّهِ, maqaama rabbihi), "kedudukan Tuhannya", bagi siapa yang takut kepada-Nya. Sepanjang surah, sebutan Tuhan melekat bergantian pada dua golongan, pada satu orang, dan pada setiap orang yang takut, dan tidak pernah terlepas dari yang disapa atau diurus-Nya.

Bentuk "Tuhan kalian berdua" hampir tidak dipakai di luar surah ini. Bentuk (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) seperti di refrain hanya ada di surah ini, 31 kali, semuanya di dalam refrain. Bentuk lain dari kata yang sama, (رَبُّكُمَا, rabbukumaa), hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an (7:20, 20:49), dan keduanya diucapkan oleh pihak yang menentang. Di 7:20 setan berkata kepada Adam dan pasangannya (lihat 7:19), (مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ, maa nahaakumaa rabbukumaa 'an haadzihi sy-syajarati), "Tuhan kalian berdua tidak melarang kalian berdua dari pohon ini", lalu memberi alasan palsu tentang larangan itu, yang oleh 7:22 disebut (بِغُرُورٍ, bi-ghuruurin), "dengan tipuan". Di 20:49 Firaun bertanya kepada Musa dan saudaranya, (فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَىٰ, fa-man rabbukumaa yaa muusaa), "maka siapakah Tuhan kalian berdua, wahai Musa?" Penanyanya Firaun, seperti terlihat dari 20:43 dan 20:47, ketika dua utusan itu disuruh mendatanginya.

Dalam terjemahan refrain ini, dual pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) cukup ditulis "Tuhan kalian", sedangkan dual pada (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) ditulis "kalian berdua dustakan". Kedua kata Arab itu sama-sama berbentuk dual. Terjemahan menandainya sekali saja, pada kata kerjanya, supaya kalimat Indonesia tidak menyebut "berdua" dua kali dalam satu pertanyaan pendek.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah menyebut mutiara dan marjan. Pertanyaan ini diajukan untuk kelima kalinya, dan untuk pertama kalinya ayat sebelumnya menyebut perhiasan, sesuatu yang tidak dibutuhkan untuk hidup. Urutan tagihannya sejauh ini: pemberian nyata dari langit dan bumi (55:13), keberadaan (55:16), keteraturan arah (55:18), batas yang ditahan (55:21), dan sekarang keindahan (55:23). Pertanyaan yang sama dipakai untuk semuanya, jadi tidak ada nikmat yang dianggap terlalu mewah untuk ditanyakan.

Kalau refrain ini dijajarkan dengan 20:49, terlihat dua cara memakai sebutan yang sama. Firaun memakai "Tuhan kalian berdua" untuk menantang: siapa Dia? Musa menjawab di 20:50 dengan menunjuk pemberian-Nya, (رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ, rabbunaa lladzii a'thaa kulla syay'in khalqahu tsumma hadaa), "Tuhan kami adalah yang memberi segala sesuatu bentuk penciptaannya, kemudian memberinya petunjuk". Surah ini menempuh jalan yang mirip. Alih-alih berdebat tentang siapa Tuhan itu, surah ini menyebut pemberian demi pemberian, lalu bertanya pemberian mana yang hendak didustakan.

Surah ini juga tidak sekali pun menyebut nama Allah, dan tetap tidak ada pembaca yang ragu siapa yang dimaksud. Dia dikenali lewat sebutan Ar-Rahmaan di ayat pertama, dan lewat apa yang diberikan-Nya di ayat-ayat sesudahnya. Setiap kali refrain menyebut "Tuhan kalian berdua", sebutan itu menunjuk Dia yang baru saja disebut mengeluarkan mutiara dari laut, menahan dua laut di batasnya, menumbuhkan buah, dan menciptakan kedua golongan pendengar itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah mutiara, Allah mengajukan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan sesudah buah dan biji-bijian. Keindahan tidak ditanyakan dengan nada yang lebih ringan. Barang mewah sering terasa sebagai hak orang yang mampu membelinya, hasil jerih payah sendiri, dan karena itu jarang dianggap pemberian. Refrain ini memasukkannya ke daftar yang sama dengan makanan pokok. Benda yang indah dan tidak wajib pun datang dari tempat yang sama, dan ditanyakan dengan kalimat yang sama.
  • Surah ini tidak sekali pun menyebut nama Allah, dan tetap tidak ada yang keliru menebak siapa yang dibicarakan. Dia dikenali lewat pemberian-Nya, satu per satu, dari matahari sampai mutiara. Ketika Firaun bertanya siapa Tuhan kedua utusan itu, jawabannya juga menunjuk pemberian, tidak menunjuk dalil yang rumit. Kalau hari ini diri sendiri ditanya siapa Tuhan yang disembah, pemberian mana yang bisa ditunjuk sebagai jawaban, dan sudahkah pemberian itu pernah benar-benar diperhatikan?
  • Sebutan Tuhan dalam refrain ini tidak pernah berdiri sendiri. Sebutan-Nya di refrain selalu "Tuhan kalian berdua", terikat pada dua golongan yang disapa. Pertanyaan tentang nikmat diajukan atas nama Tuhan yang mengurus mereka sendiri, yang dari-Nya datang buah, dua laut, dan mutiara tadi. Mendustakan pemberian dari orang asing masih bisa disebut salah paham. Mendustakan pemberian Tuhan sendiri, yang hubungannya disebut ulang setiap kali pertanyaan ini diajukan, lebih dekat kepada memutus ikatan.
  • Di luar surah ini, sebutan "Tuhan kalian berdua" pernah dipakai setan. Ia memakainya untuk membuat sebuah larangan terdengar seperti nikmat yang ditahan, seolah Tuhan melarang pohon itu supaya dua orang itu tidak menjadi lebih. Surah ini memakai sebutan yang sama ke arah yang berlawanan. Batas di antara dua laut, yang tampak seperti larangan, dimasukkan ke daftar nikmat. Batas yang sama bisa dibaca sebagai pemberian Allah atau sebagai kehilangan. Dari mana datangnya bisikan yang membacanya sebagai kehilangan?
  • Mutiara bisa digenggam dalam satu tangan, jauh lebih kecil daripada langit, matahari, atau dua laut yang baru disebut. Pertanyaan yang menyusulnya tetap sama besarnya. Ukuran benda tidak mengubah ukuran pertanyaan. Nikmat kecil yang dipakai setiap hari, jarum, kancing, sebutir garam, tidak menjadi lebih ringan hanya karena ukurannya kecil. Semuanya datang dari Tuhan yang sama dan ditanyakan dengan kalimat yang sama, tanpa dibedakan dari nikmat yang besar.
  • Al-Qur'an di 16:83 menyebut orang-orang yang mengenali nikmat Allah, lalu mengingkarinya. Mengenali dan mengingkari bisa terjadi pada orang yang sama. Nilai mutiara dikenali oleh siapa saja: mutiara ditimbang, ditawar, dan disimpan hati-hati. Nilainya sebagai barang diakui penuh, sementara nilainya sebagai pemberian tidak disebut sama sekali. Refrain ini tidak menanyakan apakah mutiara dikenali harganya, tetapi apakah pemberiannya diakui, dan dua hal itu ternyata bisa berjalan terpisah.