وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ
Milik-Nyalah kapal-kapal yang dibuat, yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُwa-lahu l-jawaari l-munsya'aatudan milik-Nyalah kapal-kapal yang dibuat
- فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِfii l-bahri ka-l-a'laamiyang berlayar di laut laksana gunung-gunung
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
- الْجَوَارِl-jawaarikapal-kapal
- الْمُنْشَآتُl-munsya'aatuyang berlayar
- فِيfiidi
- الْبَحْرِl-bahrilaut
- كَالْأَعْلَامِka-l-a'laamiseperti gunung
Inti bacaan
Pengakuan atas karya manusia sebagai bagian anugerah: 'milik-Nyalah (bahtera) buatan manusia yang berlayar di laut laksana gunung-gunung', bahkan pencapaian teknologi manusia (kapal besar) tetap dipandang sebagai bagian dari kepemilikan dan kendali ilahi, pengingat bahwa kemajuan manusia beroperasi dalam kerangka yang lebih besar, bukan pencapaian yang berdiri sendiri lepas dari sumber kemampuan itu sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ, wa-lahu l-jawaari l-munsya'aatu fii l-bahri ka-l-a'laami). Kata (وَلَهُ, wa-lahu) berarti "dan milik-Nya". Kata itu diletakkan paling depan, sebelum benda yang dimiliki disebut, dan terjemahan menangkapnya dengan "milik-Nyalah".
Kata (الْجَوَارِ, l-jawaari) sendiri tidak menyebut kapal secara langsung. Kata ini berasal dari akar ج-ر-ي dan menyebut sesuatu yang bergerak atau mengalir. Bentuk ini dipakai di 42:32, 55:24, dan 81:16. Di 81:16, (الْجَوَارِ الْكُنَّسِ, al-jawaari l-kunnasi), kata yang sama dipakai untuk benda-benda langit yang beredar lalu terbenam. Bentuk tunggalnya dipakai untuk kapal di 69:11, (فِي الْجَارِيَةِ, fii l-jaariyati), "ke dalam yang berlayar", dan untuk mata air di 88:12, (عَيْنٌ جَارِيَةٌ, 'aynun jaariyatun), "mata air yang mengalir". Kata ini menyebut gerakannya, dan apa yang bergerak baru jelas dari kata-kata di sekitarnya. Di ayat ini penjelasnya (فِي الْبَحْرِ, fii l-bahri), "di laut". Karena bahasa Indonesia membutuhkan kata benda yang jelas, terjemahan menulis langsung "kapal-kapal", tanpa kurung. Kata itu diperlukan sebagai inti bagi anak kalimat "yang berlayar", dan tidak sama dengan tambahan tafsir, sebab laut sudah disebut di ayat itu sendiri.
Kata (الْمُنْشَآتُ, l-munsya'aatu) hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an (55:24). Kata ini berasal dari akar ن-ش-أ, dan bentuknya menunjuk sesuatu yang dibuat atau diadakan. Kata ini tidak menyebut pembuatnya secara eksplisit di teks Arab. Karena itu terjemahannya cukup "yang dibuat", tanpa tambahan "buatan manusia" yang tidak ada di teksnya. Di beberapa ayat lain, akar yang sama dipakai untuk perbuatan Allah. Di 13:12 Dia (وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ, wa-yunsyi'u as-sahaaba ts-tsiqaala), "menjadikan awan yang berat". Di 23:14, sesudah tahap-tahap penciptaan manusia, Allah berfirman (ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ, tsumma ansya'naahu khalqan aakhara), "kemudian Kami jadikan ia ciptaan yang lain". Di 56:72 Allah bertanya tentang pohon sumber api yang dinyalakan manusia (56:71), (أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ, a-antum ansya'tum syajaratahaa am nahnu l-munsyi'uuna), "apakah kalian yang menumbuhkan pohonnya atau Kami yang menumbuhkan?" Jadi kata untuk kapal-kapal ini berasal dari akar yang di tempat lain dipakai untuk apa yang diadakan Allah. Ayat ini sendiri tidak menyebut pelakunya, dan batas itu dibiarkan terbuka.
Kata (كَالْأَعْلَامِ, ka-l-a'laami), "laksana gunung-gunung", hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an (42:32, 55:24), dan keduanya dalam kalimat yang sama tentang kapal. Kata ini berasal dari akar ع-ل-م, akar yang juga membentuk kata-kata untuk mengetahui. Di 16:16 akar ini membentuk (وَعَلَامَاتٍ, wa-'alaamaatin), "dan tanda-tanda penunjuk jalan", yang disebut sesudah gunung-gunung, sungai, dan jalan di 16:15, dan sebelum bintang yang dipakai untuk mencari arah. Akar ini dekat dengan gagasan tanda yang terlihat dari jauh dan dipakai untuk mengenali tempat. Al-Qur'an tidak merinci kata ini lebih jauh, karena kata itu muncul di dua ayat saja, dan bunyi keduanya hampir sama. Terjemahan "gunung-gunung" memilih tanda yang paling besar dan paling mudah dikenali, sehingga pembaca menangkap ukuran kapal-kapal itu.
Kalimat (الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ, l-jawaari fii l-bahri ka-l-a'laami) muncul juga di 42:32, hampir kata demi kata. Bedanya ada di pembukanya. 42:32 dibuka dengan (وَمِنْ آيَاتِهِ, wa-min aayaatihi), "dan di antara tanda-tanda-Nya". Ayat ini dibuka dengan (وَلَهُ, wa-lahu), "dan milik-Nya", dan menambahkan (الْمُنْشَآتُ, l-munsya'aatu), yang tidak ada di 42:32. Dua ayat menggambarkan kapal-kapal yang sama dengan perumpamaan yang sama, tetapi yang satu menyebutnya tanda, dan yang lain menyebutnya milik.
Tafsiran
Ayat ini menyebut kapal-kapal besar sebagai anugerah lain: hasil karya yang berlayar megah di lautan. Sampai ayat ini, semua nikmat yang disebut surah ini tidak dibuat tangan manusia: matahari, bulan, tumbuhan, dua laut, mutiara. Kapal adalah benda pertama dalam daftar itu yang dirakit. Untuk benda buatan ini, ayat ini meletakkan kata "milik-Nya" paling depan.
Ayat-ayat lain menunjukkan mengapa pernyataan itu berdasar. 36:41 menyebut kapal yang penuh muatan sebagai tanda, lalu 36:42 berkata (وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ, wa-khalaqnaa lahum min mitslihi maa yarkabuuna), "dan Kami ciptakan untuk mereka dari jenis serupa itu, apa yang mereka kendarai". Tepat sesudah 42:32, yang kalimatnya hampir sama dengan ayat ini, 42:33 menyatakan bahwa jika Dia menghendaki, Dia menghentikan angin, dan kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Kapal dirakit manusia, tetapi air yang menanggungnya dan angin yang menggerakkannya tidak dirakit siapa pun.
Ayat ini juga menutup rangkaian tentang laut yang dimulai di 55:19. Mula-mula dua laut bertemu, lalu batasnya, lalu apa yang keluar dari dalamnya, dan kini apa yang berlayar di atasnya. Laut dipandang dari dalam dan dari permukaannya: di bawah menyimpan mutiara dan marjan, di atas memikul kapal-kapal sebesar gunung. Bentuk dual yang padat di ayat-ayat sebelumnya berganti menjadi "di laut", tunggal, seakan pandangan bergeser dari dua laut yang dipisah ke satu hamparan yang dilayari.
42:32 menyebut kapal-kapal ini tanda, dan ayat ini menyebutnya milik. Dua sebutan itu saling melengkapi: sesuatu menjadi tanda karena menunjuk kepada pemiliknya. Dalam dua ayat itu, kapal yang paling besar pun tidak disebut sebagai kebanggaan pembuatnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kapal-kapal itu milik-Nya, padahal kapal dirakit dengan tangan. Kepemilikan tidak berpindah karena pembuatan. Pembuat kapal bekerja dengan kayu, besi, dan tali yang tidak diciptakannya, di atas air yang tidak diadakannya, dengan angin yang tidak dikendalikannya. Sumbangannya adalah susunannya. Semakin pandai manusia merakit, semakin mudah lupa bahwa semua bahan yang dirakit sudah ada sebelum tangan pertama menyentuhnya.
- Kata untuk kapal-kapal ini tidak menyebut siapa pembuatnya. Nama perusahaan, nama perancang, dan nama negara yang membangun kapal terbesar biasanya disebut dengan bangga. Ayat ini melewatkan semuanya dan langsung menyebut pemiliknya. Hasil rakitan yang megah tidak kehilangan nilainya karena pembuatnya tidak disebut. Perubahannya hanya pada arah pujian. Apakah hasil kerja yang paling dibanggakan hari ini masih bisa dilihat sebagai milik Allah, atau sudah sepenuhnya dianggap milik pembuatnya?
- Kapal sebesar gunung terlihat perkasa ketika berlayar. Di 42:33 Allah menyebut bahwa jika Dia menghendaki, angin dihentikan, dan kapal-kapal itu diam di permukaan laut. Kekuatan kapal bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Mesin sudah lama menggantikan layar, tetapi kapal tetap bergantung pada laut yang tenang, cuaca yang bersahabat, dan air yang mau menanggungnya. Rasa aman yang dibangun dari ukuran dan kekuatan bisa lupa pada ketergantungan yang tidak pernah hilang, sekalipun wujudnya berganti.
- Kapal yang sama disebut tanda di 42:32 dan disebut milik di ayat ini. Pelaut bisa melihat kapal setiap hari sebagai alat kerja, pedagang melihatnya sebagai modal, dan penumpang melihatnya sebagai kendaraan. Ayat-ayat ini menawarkan cara melihat yang lain: kapal sebagai sesuatu yang menunjuk kepada Allah dan tetap milik-Nya. Benda yang dipakai setiap hari bisa dipakai bertahun-tahun tanpa pernah dilihat seperti itu. Cara melihat itulah yang membedakan dua orang yang naik kapal yang sama.
- Kapal diumpamakan gunung, benda yang paling berat dan paling kokoh yang bisa dibayangkan. Tetapi kapal itu berlayar di atas air, benda yang tidak bisa digenggam dan tidak punya bentuk sendiri. Benda yang tampak paling kuat ternyata dipikul oleh air, yang tampak paling lemah. Kekuatan dan kelemahan tidak selalu berada di tempat yang diduga. Allah menaruh yang berat di atas yang cair, dan keduanya tetap pada tempatnya. Sesuatu yang selama ini dianggap lemah bisa jadi sedang memikul semuanya.
- Dua ayat sebelumnya menyebut apa yang keluar dari dalam laut. Ayat ini menyebut apa yang berlayar di atasnya. Laut yang sama menyimpan perhiasan di dalamnya dan membuka jalan di permukaannya. Di 16:14 dan 35:12, kapal-kapal di laut disebut bersama tujuan mencari sebagian karunia Allah. Perdagangan, perjalanan, dan hubungan antarbangsa sampai hari ini masih banyak bergantung pada jalur laut. Setiap barang yang tiba dari seberang laut ikut membawa pertanyaan yang sama dengan mutiara tadi, dan pertanyaan itu datang di ayat berikutnya.
- Kapal hari ini bisa jauh lebih besar daripada gunung-gunung yang dijadikan perumpamaan dalam ayat ini. Kapal yang dulu seperti gunung kini seperti kota yang mengapung. Tetapi kalimat ayat ini tidak perlu diubah: milik-Nyalah kapal-kapal itu. Semakin besar rakitan manusia, semakin besar pula yang sebenarnya diakui sebagai milik Allah. Perkembangan menambah ukuran, kecepatan, dan muatan, tetapi tidak menambah satu pun bahan yang tidak berasal dari-Nya. Adakah tingkat perkembangan yang membuat kalimat ini tidak berlaku lagi?