كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di atasnya akan binasa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍkullu man 'alayhaa faaninsemua yang ada di atasnya akan binasa

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. كُلُّkullusetiap
  2. مَنْmanorang yang
  3. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  4. فَانٍfaaninyang binasa

Inti bacaan

Pengingat kefanaan universal: 'semua yang ada di atasnya (bumi) akan binasa', kesetaraan nasib akhir bagi seluruh makhluk hidup, dasar untuk tidak menaruh kepercayaan berlebihan pada keabadian status, kekayaan, atau kekuasaan duniawi apa pun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ, kullu man 'alayhaa faanin), empat kata. Kata terakhirnya, (فَانٍ, faanin), berarti "yang binasa" atau "yang lenyap". Akar ف-ن-ي tidak dipakai di ayat lain; ini satu-satunya kemunculannya. Bahasa Indonesia mengenal kata ini sebagai fana, "tidak kekal", dan dari situ kata kefanaan. Bentuknya kata benda yang menyebut pelaku suatu keadaan, "yang binasa", tidak berbentuk kata kerja, sehingga kata itu sendiri tidak membawa penanda waktu. Kata "akan" dalam terjemahan datang dari keadaan yang dibicarakan: mereka yang ada di atasnya masih hidup ketika disapa surah ini, jadi kebinasaan itu belum terjadi pada mereka. Terjemahan memakai "binasa", kata yang juga dipakai untuk (هَالِكٌ, haalikun) di 28:88. Dua kata Arab itu berbeda. Akar ه-ل-ك dipakai di enam puluh tiga ayat, antara lain untuk orang yang meninggal di 4:176, untuk segala sesuatu di 28:88, dan untuk kaum yang dibinasakan di 53:50, "Dialah yang membinasakan Ad yang terdahulu". Perbedaan kedua kata itu dijaga di uraian ini, tidak di terjemahan.

Kata (كُلُّ مَنْ, kullu man), "semua yang", harfiahnya "setiap siapa", memakai (مَنْ, man), kata yang menunjuk makhluk hidup. Al-Qur'an memakainya juga untuk hewan. 24:45 menyebut hewan yang berjalan dengan perutnya dengan kata yang sama, (مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ, man yamsyii 'alaa bathnihi). Kalimat yang sejajar di 28:88 memilih kata lain, (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ, kullu syay'in haalikun illaa wajhahu), "segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya". Kata (شَيْءٍ, syay'in), "sesuatu", mencakup benda. Ayat 28:88 berbicara tentang segala sesuatu, sedangkan ayat ini tentang yang hidup di atas bumi, termasuk dua golongan yang sedang disapa surah ini. Susunan (كُلُّ مَنْ, kullu man) muncul di dua ayat saja: di sini dan di 19:93, "tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba".

Kata (عَلَيْهَا, 'alayhaa), "di atasnya", memakai akhiran -haa yang merujuk kembali ke bumi yang telah disebut di 55:10, (وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ, wa-l-ardha wadha'ahaa li-l-anaami), "dan bumi Dia bentangkan untuk makhluk". Tambahan "(bumi)" dalam kurung tidak dipakai dalam terjemahan. Akhiran itu diterjemahkan "-nya" tanpa penjelasan tambahan, sebab bumi sudah disebut dan pembaca bisa merujuk kembali. Susunan (وَمَنْ عَلَيْهَا, wa-man 'alayhaa) muncul sekali lagi di 19:40, dan di sana buminya disebut terang: (إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا, innaa nahnu naritsu l-ardha wa-man 'alayhaa), "sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa yang ada di atasnya". Di 19:40, yang tinggal sesudah bumi dan penghuninya disebut pewaris. Di surah ini, yang tinggal disebut di ayat berikutnya.

Cakupan ayat ini dibatasi oleh kata itu sendiri: yang di atas bumi. Penghuni langit tidak disebut di sini. Tiga ayat kemudian, 55:29 menyebut siapa yang di langit dan bumi sebagai yang meminta kepada-Nya, dan 39:68 menyebut bahwa ketika sangkakala ditiup, matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Ayat ini sendiri berhenti pada bumi, dan kalimatnya tidak memuat kata pengecualian. 28:88 dan 39:68 sama-sama menyertakan (إِلَّا, illaa), "kecuali", di dalam kalimatnya. Ayat ini selesai tanpa pengecualian, dan apa yang tetap ada disebut dalam kalimat baru di 55:27, yang uraiannya ada di sana.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kefanaan semua yang ada di bumi sebagai kontras terhadap kekekalan Allah yang disebut di ayat berikutnya. Ayat ini yang pertama di surah ini membicarakan berakhirnya sesuatu. Dua puluh lima ayat sebelumnya menyebut hal yang diberikan, diciptakan, dijalankan, dan dilayarkan. Tepat sesudah kapal yang laksana gunung-gunung dan refrain keenam, surah ini menyatakan dalam empat kata bahwa semua yang hidup di atas bumi akan binasa.

Kalimatnya datar. Tidak ada ancaman, tidak ada sebab yang disebut, tidak ada dosa yang dikaitkan dengannya. Kebinasaan di sini tidak dijatuhkan sebagai hukuman kepada suatu kaum, seperti kebinasaan kaum Ad di 53:50. Kebinasaan itu berlaku bagi semua yang di atas bumi, yang taat maupun yang ingkar. Karena itu ayat ini tidak membedakan kedua golongan yang disapa surah ini. Jin dan manusia, yang diciptakan dari bahan berbeda di 55:14 dan 55:15, disatukan lagi di sini oleh satu keadaan.

Letaknya pun berarti. Ayat ini ditaruh di dalam deretan yang setiap bagiannya ditutup dengan pertanyaan tentang nikmat. Refrain berikutnya, 55:28, datang sesudah ayat ini dan ayat sesudahnya, sehingga kabar tentang kebinasaan pun berada di dalam deretan nikmat, tidak di luarnya. Apa yang membuat kabar ini bisa dibaca sebagai nikmat baru terlihat sesudah 55:27 menyebut siapa yang tetap ada, dan uraiannya ada di 55:28.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut semuanya tanpa kata "kecuali" di dalam kalimat itu. Di 28:88 pengecualian disertakan, di sini tidak. Tidak ada kedudukan, keturunan, atau amal yang membuat seseorang keluar dari empat kata ini. Orang yang diam-diam merasa dirinya pengecualian, karena masih muda, sedang sehat, atau sedang di puncak, sedang membaca kalimat yang tidak menyediakan tempat untuk perasaan itu. Kalimat ini tidak menakut-nakuti, hanya tidak memberi celah.
  • Dua golongan yang sejak awal disapa surah ini, jin dan manusia, termasuk di dalam kata "semua yang ada di atasnya". Pertanyaan tentang nikmat diajukan kepada mereka yang juga akan berakhir. Itu mengubah cara mendengarnya. Pihak yang ditanya tidak menonton dari tempat yang abadi; mereka ikut serta dengan waktu yang terbatas. Jawaban atas pertanyaan-Nya tidak bisa ditunda tanpa batas, sebab orang yang akan menjawabnya pun tidak tanpa batas. Surah ini memberi tahu batas itu di tengah deretan pertanyaannya, tidak menyimpannya sampai akhir.
  • Al-Qur'an memakai kata ini satu kali, di satu kalimat empat kata, tanpa pengulangan dan tanpa hiasan. Kita memakainya berkali-kali, dalam ucapan tentang hidup yang fana, sering sampai kata itu tidak lagi terasa beratnya. Allah menaruhnya sekali dan membiarkannya berdiri sendiri. Kata yang sering kita ulang paling cepat kehilangan bobotnya. Membaca ayat ini pelan-pelan mengembalikan bobot itu, kalau kita mau berhenti sejenak di kata terakhirnya. Satu kata itu cukup untuk semua yang hidup di atas bumi.
  • Kabar ini datang tepat sesudah kapal yang laksana gunung. Bangunan paling besar pun tidak mengubah keadaan orang yang membangunnya, yang tetap termasuk penghuni bumi. Apa pun yang kita dirikan, gedung, lembaga, nama baik, bisa bertahan lebih lama dari pendirinya, tetapi pendirinya tidak ikut bertahan karena itu. Allah menyebut karya yang megah, lalu menyebut bahwa semua yang di atas bumi binasa, dengan hanya satu pertanyaan tentang nikmat di antara keduanya.
  • Bumi yang di 55:10 Dia bentangkan untuk makhluk adalah bumi yang sama yang di sini ditinggalkan semua yang ada di atasnya. Tempat itu diberikan, tetapi tidak diserahkan untuk selamanya. Kita tinggal di atasnya seperti penghuni yang tahu rumahnya pinjaman: merawatnya, memakainya, tanpa mengira bisa membawanya pergi. 19:40 menyebut siapa pewarisnya sesudah semua penghuninya pergi, yaitu Dia sendiri, dan ayat ini tidak menyebut pewaris lain. Barang pinjaman boleh dinikmati sepenuhnya, asal tidak diakui sebagai milik sendiri.
  • Tidak ada ancaman di ayat ini, tidak ada dosa yang disebut. Kebinasaan disampaikan sebagai keadaan, tidak sebagai hukuman. Bagaimana rasanya membaca kalimat yang tidak menakut-nakuti tetapi juga tidak menghibur? Allah menyampaikannya apa adanya, dan cara menyampaikan itu seperti mempercayai pendengarnya cukup dewasa untuk menerima kabar yang paling pasti tanpa dibungkus. Pendengar tinggal memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan kabar itu.