وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Dan wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَwa-yabqaa wajhu rabbikadan wajah Tuhanmu tetap kekal
- ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِdzuu l-jalaali wa-l-ikraamiyang memiliki kebesaran dan kemuliaan
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَيَبْقَىٰwa-yabqaadan tetap kekal
- وَجْهُwajhuwajah
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- ذُوdzuupemilik
- الْجَلَالِl-jalaalikebesaran
- وَالْإِكْرَامِwa-l-ikraamidan kemuliaan
Inti bacaan
Kontras kekekalan tunggal: '(akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal', satu-satunya yang tidak tunduk pada hukum kefanaan, titik jangkar bagi makna dan nilai yang tidak ikut lenyap bersama segala sesuatu yang binasa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, wa-yabqaa wajhu rabbika dzuu l-jalaali wa-l-ikraami). Kata kerja (يَبْقَىٰ, yabqaa), "tetap ada" atau "tetap kekal", dalam bentuk ini hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akarnya, ب-ق-ي, dipakai di dua puluh satu ayat, dengan arti dasar "tersisa" atau "tinggal sesudah yang lain pergi". Bentuk perbandingannya, "lebih kekal", muncul tujuh kali: 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17, misalnya 20:73, (وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, wa-llaahu khayrun wa-abqaa), "Allah lebih baik dan lebih kekal". 16:96 memasangkannya dengan lawannya: (مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ, maa 'indakum yanfadu), "apa yang di sisi kalian akan lenyap", dan (وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ, wa-maa 'inda llaahi baaqin), "dan apa yang di sisi Allah kekal". Akar yang sama juga dipakai untuk kaum yang lenyap. Tentang Tsamud, 53:51 berkata (فَمَا أَبْقَىٰ, fa-maa abqaa), "maka Dia tidak menyisakan", dan 69:8 bertanya (فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ, fa-hal taraa lahum min baaqiyatin), "maka adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka?". Kata kerja di ayat ini memakai arti yang sama, tersisa sesudah yang lain habis, tepat sesudah 55:26 menyatakan bahwa semua yang di atas bumi binasa.
Ayat ini dibuka dengan (وَ, wa), "dan". Tambahan "(Akan tetapi,)" tidak dipakai dalam terjemahan, sebab penghubung dalam teks Arabnya hanya wa (dan), tanpa kata pertentangan atau kontras yang tertulis secara eksplisit. Bandingkan dengan 28:88, yang menyatakan hal serupa dalam satu kalimat dengan pengecualian, (إِلَّا وَجْهَهُ, illaa wajhahu), "kecuali wajah-Nya". Di sini yang tetap ada tidak disebut sebagai pengecualian dari kalimat sebelumnya. Wajah Tuhanmu disebut dalam kalimat sendiri, dengan kata kerjanya sendiri, sesudah kalimat tentang kebinasaan selesai.
Kata (وَجْهُ, wajhu), "wajah", dipakai untuk Allah di sebelas ayat. Delapan di antaranya menyebut wajah-Nya sebagai yang dicari atau diharapkan orang: 2:272, 6:52, 13:22, 18:28, 30:38, 30:39, 76:9, dan 92:20, misalnya 13:22, (ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ, ibtighaa'a wajhi rabbihim), "demi mencari wajah Tuhan mereka". Satu, 2:115, menyebut bahwa ke mana pun orang menghadap, (فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ, fa-tsamma wajhu llaahi), "di sanalah wajah Allah". Dua sisanya, 28:88 dan ayat ini, memasangkan wajah-Nya dengan kebinasaan segala yang lain. Di ayat ini kata itu diterjemahkan "wajah", sama seperti di 28:88, dan tidak memerlukan penjelasan tambahan "(zat)", sebab kata itu tidak tertulis di teks Arab. Apa yang dimaksud dengan wajah bagi Allah tidak diuraikan Al-Qur'an, dan terjemahan ini tidak mengisinya. Akhiran tunggal pada (رَبِّكَ, rabbika), "Tuhanmu", sudah dicatat di 55:23: di surah ini akhiran itu muncul di ayat ini dan di 55:78, dan kedua kemunculan itu membawa sebutan yang sama.
Sebutan (الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, l-jalaali wa-l-ikraami), "kebesaran dan kemuliaan", hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, keduanya di surah ini: di ayat ini dan di ayat penutupnya, 55:78. Kata pembukanya berbeda bentuk. Di sini (ذُو, dzuu), berakhiran -uu, sama dengan (وَجْهُ, wajhu), sehingga "yang memiliki kebesaran dan kemuliaan" melekat pada wajah. Di 55:78 bentuknya (ذِي, dzii), berakhiran -ii, sama dengan (رَبِّ, rabbi) pada "Tuhanmu" di ayat itu, sehingga di sana sebutan itu melekat pada Tuhan, tidak pada kata "nama" yang mendahuluinya. Akar ج-ل-ل tidak dipakai di ayat lain, sehingga makna (الْجَلَالِ, l-jalaali) tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain; terjemahan ini menulisnya "kebesaran". Kata (الْإِكْرَامِ, l-ikraami) lain halnya. Kata itu berupa kata benda dari kata kerja "memuliakan" yang dipakai di beberapa ayat, misalnya 89:15, ketika Tuhan menguji manusia (فَأَكْرَمَهُ, fa-akramahu), "lalu memuliakannya", dan 89:17, "kalian tidak memuliakan anak yatim". Karena itu, kemuliaan dalam sebutan ini mengandung tindakan memuliakan pihak lain, tidak hanya keadaan mulia pada diri-Nya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kekekalan Allah sebagai Dia yang tidak fana, berbeda dari segala ciptaan yang baru saja disebut binasa di 55:26. Kedua ayat itu satu pasangan. Ayat pertama menyebut siapa yang berakhir, ayat kedua siapa yang tetap ada. Kata kerja untuk yang tetap ada berakar sama dengan kata yang dipakai untuk sisa kaum yang dibinasakan. Di sini, sesudah semua yang di atas bumi habis, wajah Tuhanmu tetap ada.
Di tengah surah yang hampir seluruhnya menyapa dua pihak, penyebutan tentang yang tetap ada memakai sapaan tunggal, "Tuhanmu". Pertanyaan tentang nikmat diajukan kepada dua golongan bersama-sama, sedangkan kabar tentang siapa yang tetap ada disampaikan seakan kepada satu orang. Hal yang sama terjadi di 55:78, ayat penutup surah, dengan sebutan yang sama. Teks tidak menyatakan sebabnya, tetapi akibatnya terasa: di hadapan yang kekal, tiap pendengar disapa sendiri-sendiri.
Sebutan yang menyertainya menggabungkan dua hal. Kebesaran menyangkut diri-Nya. Kemuliaan, dengan kata yang berasal dari "memuliakan", menyangkut sikap-Nya kepada yang lain. Tuhan yang tetap ada sesudah semuanya habis tidak digambarkan sebagai kekuatan yang dingin dan jauh. Dia besar, dan Dia memuliakan. Surah ini ditutup di 55:78 dengan memberkahi nama Tuhan yang membawa sebutan yang sama, sehingga sebutan ini berdiri di dua tempat: di peralihan dari daftar pemberian ke kabar tentang akhir, dan di ujung surah.
Renungan dan Hikmah
- Delapan ayat menyebut orang yang mencari atau mengharapkan wajah-Nya. Ayat ini menyebut bahwa wajah-Nya yang tinggal sesudah semuanya habis. Dua hal itu bertemu dengan sendirinya: wajah yang diminta untuk dicari tidak akan hilang. Apa pun selain itu yang dikejar dengan sungguh-sungguh, jabatan, pujian, harta, sedang dikejar menuju sesuatu yang pada waktunya akan ditinggalkan atau meninggalkan pengejarnya. Ayat ini tidak melarang mengejar hal-hal itu, hanya memperlihatkan mana yang tinggal.
- Allah menyebut "Tuhanmu", tidak "Tuhan kalian berdua", tepat ketika menyebut siapa yang tetap ada. Di hadapan pertanyaan tentang nikmat, orang masih bisa bersembunyi di tengah kerumunan golongannya. Di hadapan kabar ini, sapaannya tunggal. Ketika semua yang lain berakhir, tiap orang tinggal memiliki hubungannya sendiri dengan Tuhannya, tanpa teman yang bisa dijadikan alasan dan tanpa keramaian yang bisa ditiru. Sapaan tunggal itu muncul lagi di ayat penutup surah, dengan sebutan yang sama.
- Kata kemuliaan di ayat ini berasal dari memuliakan. Pemilik wajah itu tidak digambarkan sebagai kekuatan yang berdiri sendirian tanpa peduli. Dia besar, dan Dia memuliakan. Takut akan akhir sering membuat orang membayangkan sesuatu yang dingin dan kosong di baliknya. Ayat ini menaruh di balik akhir itu Tuhan yang sebutannya mengandung sikap memuliakan kepada yang lain, sebagaimana di 89:15 Dia memuliakan manusia yang diuji-Nya.
- Kalimat ini tidak dimulai dengan "namun", tetapi disambung dengan "dan". Perbedaan antara yang binasa dan yang tetap ada tidak perlu ditandai dengan kata pertentangan, karena ukurannya tidak sebanding. Kita sering menimbang yang sementara dan yang abadi seakan-akan keduanya sama berat dan perlu dibandingkan dengan hati-hati. Allah menyebut keduanya berurutan, dengan kata sambung paling sederhana, dan membiarkan pembaca melihat sendiri jaraknya.
- Adakah engkau melihat seorang pun yang tersisa dari mereka? Pertanyaan 69:8 tentang kaum yang lenyap memakai akar yang sama dengan kata "tetap ada" di ayat ini. Di kedua tempat, yang tersisa diukur sesudah semuanya lewat. Pertanyaan yang sama pantas diajukan pembaca kepada dirinya: apa dari hidupnya yang akan tersisa? 16:96 menjawab dengan akar yang sama: apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah kekal. Jawabannya tidak berupa daftar, tetapi tempat: di sisi siapa sesuatu disimpan.
- Dia yang tinggal disebut dengan dua sifat, tidak dengan lamanya. Ayat ini tidak berkata "yang paling lama bertahan", tetapi menyebut siapa yang tetap ada dan seperti apa Dia. Gunung yang di 55:24 menjadi ukuran besarnya kapal pun tidak disebut kekal. Tuhan yang tetap ada di ayat ini dikenali dari kebesaran dan kemuliaan-Nya, tidak sekadar dari tidak habisnya. Karena itu yang dituju pembaca bukan sekadar sesuatu yang awet, tetapi Dia yang layak dituju.