فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein ketujuh setelah pengingat kefanaan-kekekalan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini menyoroti kepastian adanya sesuatu yang kekal di tengah dunia yang fana sebagai sumber ketenangan, bukan keputusasaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan ketujuh dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuknya ada di 55:13, dan pembahasan kemunculan-kemunculan sebelumnya ada di 55:16 sampai 55:25. Di sini dibahas tiga hal: tempat kata (آلَاءِ, aalaa'i) di luar surah ini, peralihan dari "Tuhanmu" ke "Tuhan kalian berdua", dan sebab jarak tiga ayat sebelum kemunculan ini.

Di luar surah ini, kata (آلَاءِ, aalaa'i) dipakai di tiga ayat saja, seperti dicatat di 55:13, dan ketiganya berada di dekat berakhirnya kaum-kaum terdahulu. 7:69 adalah seruan Hud kepada kaum Ad: ingatlah ketika Dia menjadikan kalian pengganti-pengganti setelah kaum Nuh, (فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ, fa-dzkuruu aalaa'a llaahi), "maka ingatlah nikmat-nikmat Allah". 7:74 adalah seruan Saleh kepada kaum Tsamud dengan susunan yang sama, kali ini pengganti-pengganti setelah Ad. Di dua ayat itu, salah satu nikmat yang diminta untuk diingat berupa keadaan masih hidup dan menempati bumi sesudah kaum sebelumnya habis. Ayat ketiga, 53:55, datang sesudah daftar kaum yang dibinasakan di 53:50 sampai 53:54: Ad, Tsamud, kaum Nuh, dan negeri yang dijungkirbalikkan. Tentang Tsamud, 53:51 berkata (فَمَا أَبْقَىٰ, fa-maa abqaa), "maka Dia tidak menyisakan", dengan akar yang sama dengan (يَبْقَىٰ, yabqaa) di 55:27. Lalu 53:55 bertanya, (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbika tatamaaraa). Di surah 53, pertanyaan tentang nikmat datang sesudah kabar bahwa dari suatu kaum tidak ada yang disisakan. Di surah ini, pertanyaan yang serupa datang sesudah kabar bahwa semua yang di atas bumi binasa dan wajah Tuhanmu tetap ada.

Kata (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) di ayat ini datang langsung sesudah (رَبِّكَ, rabbika) di 55:27. Dalam dua ayat berurutan, sapaan berpindah dari satu orang ke dua golongan. Di surah ini peralihan antara "Tuhanmu" dan "Tuhan kalian berdua" di dua ayat yang bersebelahan terjadi dua kali, dan keduanya melibatkan sebutan (ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, dzuu l-jalaali wa-l-ikraami): di sini, dari 55:27 yang tunggal ke refrain yang dual, dan di ujung surah, dari refrain terakhir di 55:77 ke 55:78 yang tunggal. Kabar tentang yang tetap ada disampaikan kepada satu orang, lalu pertanyaan tentang nikmat kembali diajukan kepada kedua golongan.

Jarak dari kemunculan keenam di 55:25 ke kemunculan ini tiga ayat, salah satu dari empat jarak tiga ayat di surah ini yang dicatat di 55:21. Sebabnya tidak terletak pada kalimat yang panjang. 55:26 sudah kalimat yang lengkap, dan refrain bisa saja datang sesudahnya. Refrain ini menunggu sampai 55:27 menyebut siapa yang tetap ada. Dengan urutan itu, pertanyaan tentang nikmat tidak menyusul kabar tentang kebinasaan saja. Pertanyaan itu menyusul pasangan keduanya, yang binasa dan yang tetap ada.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan kekekalan Allah, dan setelah menyebut kebinasaan semua yang di atas bumi. Untuk pertama kalinya, yang baru saja disebut sebelum refrain tidak berupa sesuatu yang diberikan. Karena itu pertanyaannya terdengar lain: nikmat apa yang ada dalam kabar bahwa semua akan berakhir?

Dua ayat surah Al-A'raf memberi petunjuk. Kaum Ad dan kaum Tsamud diminta mengingat nikmat-nikmat Allah dengan menyebut bahwa mereka dijadikan pengganti sesudah kaum yang lenyap. Dalam dua seruan itu, berada di bumi sesudah kaum lain habis dihitung sebagai nikmat. Jin dan manusia yang ditanya di ayat ini ada di keadaan yang sama. Mereka masih termasuk "yang ada di atasnya". Waktu yang tersisa bagi mereka, sebelum kalimat 55:26 berlaku pada diri mereka, adalah bagian dari yang ditanyakan.

Nikmat yang kedua ada di 55:27 sendiri. Dia yang tetap ada sesudah semuanya habis disebut Tuhan yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, dengan kata kemuliaan yang berasal dari memuliakan. Seandainya tidak ada yang tetap ada, kebinasaan menjadi kata terakhir. Refrain ini menagih pengakuan karena kata terakhir itu bukan kebinasaan. Pertanyaan itu diajukan kepada dua golongan yang baru saja mendengar bahwa mereka akan berakhir, dan bahwa Tuhan yang nikmat-Nya ditanyakan tetap ada.

Renungan dan Hikmah

  • Kaum Ad diminta mengingat bahwa mereka hidup sesudah kaum Nuh habis. Kaum Tsamud diminta mengingat bahwa mereka hidup sesudah Ad habis. Pembaca ayat ini hidup sesudah banyak generasi habis. Allah menghitung keadaan itu sebagai nikmat: masih ada, masih di atas bumi, masih bisa menjawab. Pagi yang dimulai dengan napas biasa, tanpa kita meminta, adalah salah satu yang ditanyakan di sini, dan yang paling mudah dilupakan karena datang setiap hari.
  • Di 53:51 dikatakan bahwa Dia tidak menyisakan apa pun dari Tsamud. Di 55:27 dikatakan bahwa wajah Tuhanmu yang tersisa. Dua ayat dengan akar yang sama, dan keduanya disusul pertanyaan tentang nikmat. Satu menunjuk kaum yang habis tanpa sisa, satu menunjuk Dia yang tetap ada. Pembaca berdiri di antara keduanya dan bisa bertanya kepada dirinya: hidupku sedang mengarah ke mana, ke yang tidak disisakan atau ke yang tersisa? Surah 53 dan surah ini tidak memaksakan jawabannya. Keduanya meletakkan dua arah itu berdampingan.
  • Mendengar bahwa semuanya akan berakhir biasanya terasa sebagai kehilangan. Refrain ini menaruhnya di deretan pemberian. Kabar yang jujur tentang akhir memberi orang kesempatan menata hidupnya sebelum waktunya habis, kesempatan yang tidak dimiliki orang yang dibiarkan mengira dirinya tidak akan berakhir. Allah tidak menyembunyikan kabar itu dari jin dan manusia, dan keterusterangan-Nya itu termasuk yang ditanyakan di sini. Dokter yang jujur tentang umur pasiennya tidak sedang menghukum, tetapi memberi waktu.
  • Kabar tentang yang tetap ada disampaikan kepada satu orang, lalu pertanyaan tentang nikmat kembali diajukan kepada dua golongan. Tiap orang berhadapan sendiri dengan kenyataan bahwa hanya Tuhannya yang tetap ada. Pengakuan atas pemberian-Nya dituntut dari semua bersama-sama. Keyakinan dibawa sendiri-sendiri, sedangkan pengakuan atas nikmat dijalani bersama, di tengah orang lain yang menerima pemberian yang sama dari Tuhan yang sama. Tidak ada yang bisa mewakilkan keyakinannya, dan tidak ada yang bisa bersyukur sendirian untuk semua orang.
  • Refrain ini tidak datang sesudah 55:26, tetapi menunggu satu ayat lagi, sampai disebut siapa yang tetap ada. Allah tidak membiarkan pertanyaan tentang nikmat berdiri sesudah kabar kebinasaan tanpa kabar yang menyertainya. Orang yang hanya mendengar separuh pertama bisa menyimpulkan bahwa semuanya sia-sia. Separuh kedua membalik kesimpulan itu: ada yang tetap, dan Dia adalah Tuhan yang nikmat-Nya sedang ditanyakan kepada kita. Susunan dua ayat itu menjaga pendengar dari putus asa tanpa mengurangi beratnya kabar pertama.
  • Setiap kali seseorang yang dikenal meninggal, yang ditinggalkan berada di posisi kaum Ad dan Tsamud dalam dua seruan itu: masih di atas bumi sesudah yang lain pergi. Rasa kehilangan itu wajar, dan ayat ini tidak mencelanya. Allah menanyakan apakah waktu yang masih ada dipakai sebagai pemberian, atau dibiarkan lewat seakan-akan giliran itu tidak akan datang kepada yang ditinggalkan juga. Doa bagi yang pergi dan syukur atas waktu yang tersisa bisa diucapkan dalam napas yang sama.