فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedelapan setelah penegasan keterlibatan aktif ilahi: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini menyoroti perhatian berkelanjutan sebagai nikmat, bukan sekadar penciptaan satu kali yang kemudian dibiarkan berjalan sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedelapan dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Bentuk pertanyaan dan kata (آلَاءِ, aalaa'i) diuraikan di 55:13, letak kemunculannya di 55:16 dan 55:18, apa yang biasanya didustakan di 55:21, sebutan Tuhan di 55:23, bentuk waktu kata kerjanya di 55:25, dan tempat kata aalaa'i di luar surah ini di 55:28. Di sini dibahas hal yang belum disentuh: kata lain yang dalam terjemahan ini juga menjadi "nikmat", dan cara kedua kata itu dipakai.

Al-Qur'an memakai dua kata yang dalam terjemahan ini sama-sama menjadi "nikmat". Kata pertama adalah aalaa'i, yang dipakai refrain ini. Kata kedua adalah (نِعْمَةَ, ni'mata), dari akar ن-ع-م, yang dalam berbagai bentuknya dipakai di 49 ayat, antara lain 5:3, 14:34, 16:18, dan 93:11. Di 5:3 tertulis (وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي, wa-atmamtu 'alaykum ni'matii), "telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian", dan di 93:11 (وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ, wa-ammaa bi-ni'mati rabbika fa-haddits), "dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka kisahkanlah". Surah ini menyebut nikmat tiga puluh satu kali lewat refrainnya, tetapi akar ن-ع-م tidak dipakainya sekali pun. Setiap kata "nikmat" dalam terjemahan surah ini berasal dari aalaa'i.

Dua ayat memakai ni'mata untuk pernyataan yang sama: (وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا, wa-in ta'udduu ni'mata llaahi laa tuhshuuhaa), "jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya" (16:18, juga 14:34). Di situ ni'mata berbentuk tunggal, dan kata ganti pada (تُحْصُوهَا, tuhshuuhaa) juga tunggal. Nikmat Allah dinyatakan tidak terhitung sebagai satu keseluruhan. Dua kata kerja dipakai berdampingan. (تَعُدُّوا, ta'udduu) berasal dari akar ع-د-د, akar kata untuk bilangan. tuhshuuhaa berasal dari akar ح-ص-ي, yang di 72:28 dipakai untuk Allah sendiri: (وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا, wa-ahshaa kulla syay'in 'adadan), "serta Dia menghitung segala sesuatu satu per satu". Kedua akar itu bertemu di ayat tersebut. Menghitung sampai tuntas, yang di 72:28 dikerjakan Allah, di 14:34 dan 16:18 dinyatakan di luar kesanggupan mereka yang disapa.

Refrain ini memakai kata yang lain, dan memakainya dalam bentuk jamak. aalaa'i adalah nikmat-nikmat, banyak dan masing-masing terpisah, dan kata tanya (بِأَيِّ, bi-ayyi) meminta satu di antaranya ditunjuk. Susunan itu tidak meminta pendengarnya menghitung semuanya, pekerjaan yang oleh 14:34 dan 16:18 sudah dinyatakan tidak akan selesai. Pendengar diminta menunjuk satu nikmat saja yang didustakan. Akibatnya, dua kata yang dalam terjemahan sama-sama menjadi "nikmat" dipakai untuk dua hal berbeda: ni'mata untuk keseluruhan yang tidak terhitung, dan aalaa'i di refrain ini untuk butir-butir yang bisa ditunjuk satu per satu.

Bahasa Indonesia tidak menandai tunggal dan jamak pada kata "nikmat", sehingga perbedaan kedua kata ini tidak tampak dalam terjemahan. Di refrain, jamaknya terbawa lewat "yang manakah", yang mengandaikan banyak pilihan. Di 14:34 dan 16:18, tunggalnya terbawa lewat akhiran "-nya" pada "menghitungnya", satu kata ganti untuk seluruh nikmat itu.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan ketergantungan seluruh makhluk kepada Allah. Di 55:29 semua yang ada di langit dan di bumi meminta kepada-Nya, dan setiap saat Dia dalam suatu urusan. Untuk pertama kalinya, pihak yang ditanya refrain ini baru saja diperlihatkan sebagai pihak yang meminta. Mereka meminta kepada-Nya, lalu merekalah yang ditanya.

Urutan itu mirip urutan 14:34, ayat yang dirujuk 55:29 untuk arti meminta. Di sana, sesudah Dia memberi dari segala yang dimohonkan, datang pernyataan bahwa nikmat Allah tidak akan mampu dihitung. Di kedua tempat, sesudah permintaan, pembicaraan beralih ke nikmat. Bedanya ada di ujung: 14:34 ditutup dengan penilaian, (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ, inna l-insaana la-zhaluumun kaffaarun), "sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur", sedangkan refrain ini ditutup dengan pertanyaan. Penilaian di 14:34 sudah dijatuhkan, sedangkan pertanyaan di sini masih menunggu jawaban.

Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud refrain kali ini. Ayat 55:29 baru saja menyebut dua hal: bahwa semua yang di langit dan di bumi meminta kepada-Nya, dan bahwa Dia tidak berhenti mengurus. Keduanya bisa masuk hitungan, tetapi refrain tidak menunjuk salah satunya, dan tafsiran ini tidak menambahkan apa yang tidak disebut. Pertanyaan ini sendiri diajukan kepada pihak yang baru saja digambarkan sedang meminta.

Ayat ini juga kemunculan kedua dari rangkaian kedua refrain, dua ayat sesudah 55:28. Dari 55:28 sampai 55:42, refrain datang selang satu ayat tanpa putus, sehingga setiap kabar baru di rentang itu langsung disusul pertanyaan yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Syukur sering berhenti di kalimat umum: nikmat Allah terlalu banyak untuk dihitung. Kalimat itu benar, dan Al-Qur'an sendiri menyatakannya di 14:34 dan 16:18. Refrain ini tidak meminta hitungan, tetapi bertanya satu nikmat yang mana yang didustakan. Pertanyaan yang sempit lebih sulit dihindari daripada pengakuan yang luas. Orang bisa mengakui bahwa nikmat-Nya tak terhitung sambil diam-diam mengingkari satu nikmat tertentu, misalnya kesehatan yang dianggap hasil kebiasaan baik semata, atau penghasilan yang dianggap hasil kerja keras semata.
  • Di 55:29 semua makhluk meminta kepada-Nya, dan satu ayat kemudian merekalah yang ditanya, sehingga hubungan itu tidak searah. Orang yang setiap hari meminta juga sedang ditanya tentang apa yang sudah diterimanya. Doa pagi dan pertanyaan refrain ini bertemu pada orang yang sama: ia memohon rezeki hari ini, lalu ditanya apakah rezeki kemarin sudah diakui datang dari Tuhannya. Permintaan yang tidak pernah disusul pengakuan membuat seseorang terus menjadi peminta tanpa pernah menjadi penerima yang sadar akan apa yang diterimanya.
  • Ayat 14:34 berakhir dengan penilaian bahwa manusia sangat zalim lagi sangat kufur. Refrain ini berakhir dengan pertanyaan. Keduanya berbicara tentang nikmat yang sama, tetapi yang satu sudah menutup perkara dan yang lain masih membukanya. Selama yang datang kepada pembaca masih berupa pertanyaan, jawabannya belum ditetapkan dari luar. Membaca refrain ini berarti masih diberi kesempatan menjawab sendiri. Tidakkah kesempatan menjawab itu termasuk nikmat yang paling jarang disadari, karena kesempatan itu selalu ada setiap kali ayat ini dibaca?
  • Surah yang menyebut nikmat tiga puluh satu kali tidak memakai kata yang paling umum untuk nikmat, tetapi kata jamak, lalu menyebut isinya satu per satu sepanjang surah: matahari dan bulan yang berjalan menurut perhitungan, tumbuhan yang bersujud, buah-buahan, dua laut, mutiara dan marjan, kapal-kapal yang berlayar. Rasa syukur yang tinggal dalam satu kata umum mudah kehilangan isinya. Allah memperlihatkan cara yang lain: nikmat disebut namanya, dan setiap nama disusul pertanyaan yang sama.
  • Ayat 14:34 menyebut bahwa Dia memberi dari segala yang dimohonkan. Sesuatu yang dulu diminta dengan sungguh-sungguh, setelah diterima, perlahan berubah menjadi hal biasa: pekerjaan yang dulu didoakan setiap malam, anak yang dulu dinanti bertahun-tahun, kesembuhan yang dulu diharapkan dengan cemas. Ketika refrain bertanya nikmat mana yang didustakan, jawabannya sering ada di antara hal-hal itu. Sesuatu yang dulu disebut sebagai permohonan kini tidak lagi disebut sebagai pemberian.
  • Di 72:28 Allah yang menghitung segala sesuatu satu per satu. Di 16:18 manusia dinyatakan tidak mampu menghitung nikmat-Nya sampai tuntas. Pembagian itu melegakan. Pembaca tidak dituntut membuat daftar lengkap, karena daftar itu tidak akan pernah selesai dan memang bukan tugasnya. Permintaan refrain lebih kecil dan lebih jujur: jangan mendustakan satu pun nikmat yang sudah dikenali. Hitungan lengkap tetap di tangan Dia, sedangkan pengakuan atas yang dikenali ada di tangan pembaca.