فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ
Maka, apabila langit terbelah, lalu menjadi merah mawar seperti minyak,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُfa-idzaa nsyaqqati s-samaa'umaka, apabila langit terbelah
- فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِfa-kaanat wardatan ka-d-dihaanilalu menjadi merah mawar seperti minyak
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- انْشَقَّتِnsyaqqatiterbelah
- السَّمَاءُs-samaa'ulangit
- فَكَانَتْfa-kaanatmaka jadilah ia
- وَرْدَةًwardatanmerah mawar
- كَالدِّهَانِka-d-dihaaniseperti minyak
Inti bacaan
Citra kosmik dramatis Hari Akhir: 'apabila langit terbelah, lalu menjadi merah mawar seperti minyak', deskripsi visual yang kuat tentang perubahan tatanan alam semesta yang selama ini dianggap tetap dan stabil, pengingat bahwa struktur kosmik pun tidak abadi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ, fa-idzaa nsyaqqati s-samaa'u fa-kaanat wardatan ka-d-dihaani), "maka, apabila langit terbelah, lalu menjadi merah mawar seperti minyak". Kalimatnya belum selesai di ujung ayat. (فَإِذَا, fa-idzaa), "maka apabila", membuka syarat, dan akibatnya baru datang di 55:39 sesudah disela refrain. Letak refrain itu dibahas di 55:38.
Surah ini memakai dua kata syarat. Di 55:33, (إِنِ اسْتَطَعْتُمْ, ini statha'tum), "jika kalian sanggup", syaratnya sesuatu yang langsung dinyatakan tidak akan terjadi: kalian tidak akan menembus. Di sini syarat dibuka dengan idzaa, dan tidak ada kalimat yang meniadakannya. Terjemahan membedakan keduanya dengan "jika" untuk yang pertama dan "apabila" untuk yang kedua.
Kata (انْشَقَّتِ, nsyaqqati), "terbelah", dipakai untuk langit di tiga ayat: di sini, di 69:16, (وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ, wa-nsyaqqati s-samaa'u fa-hiya yawma'idzin waahiyatun), "dan langit terbelah, karena pada hari itu ia rapuh", dan di 84:1, (إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ, idzaa s-samaa'u nsyaqqat), "apabila langit terbelah". Bentuk yang sama dipakai untuk bulan di 54:1, (وَانْشَقَّ الْقَمَرُ, wa-nsyaqqa l-qamaru), sesudah "saat itu telah mendekat". Di 84:1 susunannya sama dengan ayat ini: kata apabila, lalu langit terbelah. Di 69:16 langsung disebut "pada hari itu", seperti 55:39 menyusul ayat ini. Bentuk lain dari akar yang sama, (تَشَقَّقُ, tasyaqqaqu), dipakai di 25:25 untuk langit yang terbelah dengan awan, pada hari para malaikat diturunkan.
Kata (وَرْدَةً, wardatan), "merah mawar", hanya dipakai di ayat ini. Kata (كَالدِّهَانِ, ka-d-dihaani), "seperti minyak", juga hanya dipakai di sini, dan berasal dari akar د-ه-ن. Akar itu di 23:20 memberi kata (بِالدُّهْنِ, bi-d-duhni), "minyak", yang dihasilkan pohon dari Bukit Sinai, dan di 56:81 serta 68:9 dipakai untuk sikap lunak atau meremehkan. Dari ketiga pemakaian itu, akar ini berkisar pada minyak dan kelunakan. Teks tidak memastikan apakah perbandingan "seperti minyak" menyangkut warna, kilau, atau cairnya, dan terjemahan mempertahankan perbandingan itu apa adanya. Kata wardatan sendiri berbentuk tunggal tanpa kata sandang, dan terjemahan membacanya sebagai warna, "merah mawar", karena ayat ini menggambarkan langit yang berubah.
Perbandingan lain untuk langit pada hari itu ada di 70:8, (يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ, yawma takuunu s-samaa'u ka-l-muhli), "pada hari langit menjadi seperti leburan logam". Kedua ayat memakai kata kerja "menjadi", (فَكَانَتْ, fa-kaanat) di sini dan takuunu di sana, dan keduanya membandingkan langit dengan sesuatu yang cair. Langit yang menaungi digambarkan berubah menjadi sesuatu yang mengalir.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pemandangan langit pada Hari Kiamat: berubah warna dan tekstur secara dramatis. Di awal surah, langit disebut sebagai sesuatu yang Dia tinggikan, (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا, wa-s-samaa'a rafa'ahaa), "dan langit Dia tinggikan" (55:7), berdampingan dengan timbangan yang Dia tegakkan. Kata langit dalam bentuk tunggal hanya dipakai dua kali di surah ini, di 55:7 dan di sini. Di 55:7 langit ditinggikan, di sini langit terbelah.
Di 21:32 langit disebut atap yang terpelihara. Ayat ini menggambarkan atap itu terbelah dan kehilangan bentuknya, menjadi merah dan cair. Langit yang selama ini menaungi dan dianggap tetap ternyata juga punya akhir, sama seperti semua yang di atas bumi di 55:26.
Kalimatnya dibuka dengan syarat dan tidak langsung menyebut akibat. Pendengar dibiarkan menunggu: apa yang terjadi apabila langit terbelah? Jawabannya ditunda sampai 55:39, sesudah refrain, dan jawaban itu tidak lagi tentang langit, tetapi tentang manusia dan jin, dan tentang dosa masing-masing.
Terbelahnya langit tidak digambarkan sebagai kerusakan yang terjadi begitu saja. Di 84:1-2, sesudah langit terbelah, disebut (وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ, wa-adzinat li-rabbihaa wa-huqqat), "dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh". Langit yang terbelah itu menaati Tuhannya. Kepatuhan itu tidak disebut di ayat ini, tetapi kata kerjanya sama dengan 84:1.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini menyebut langit dua kali. Pertama sebagai sesuatu yang Allah tinggikan, di samping timbangan yang Dia tegakkan. Kedua sebagai sesuatu yang terbelah. Langit ditinggikan oleh-Nya dan juga diakhiri oleh-Nya. Manusia terbiasa menganggap langit sebagai hal yang paling kokoh, lebih tetap daripada gunung dan laut. Ayat ini memperlihatkan bahwa ketetapannya adalah pemberian yang berjangka, bukan sifat bawaannya. Pembaca diajak menyadari bahwa hal yang paling tetap dalam hidupnya pun dipinjamkan kepadanya untuk sementara waktu.
- Di 21:32 langit disebut atap yang terpelihara. Setiap orang hidup di bawah atap itu tanpa pernah memikirkannya, sama seperti orang jarang memikirkan atap rumahnya sampai hujan menembus. Ayat ini menggambarkan atap itu terbelah. Rasa aman yang sehari-hari dinikmati tanpa disadari ternyata bergantung pada sesuatu yang dipelihara oleh Dia, bukan pada kekuatan kita sendiri. Kapan terakhir kali perlindungan yang tidak terlihat itu disadari sebagai pemberian? Setiap hari yang dilalui dengan aman di bawah langit berarti hari yang dijaga.
- Di 55:33 surah ini berkata "jika kalian sanggup", untuk sesuatu yang tidak akan terjadi. Di sini katanya "apabila langit terbelah", dan tidak ada yang meniadakannya. Hidup banyak diisi dengan "jika": jika usaha berhasil, jika rencana jalan. Hari yang digambarkan ayat ini tidak termasuk dalam daftar kemungkinan itu, karena disebut dengan "apabila", sebagai sesuatu yang ditunggu kedatangannya, dan pembaca hidup di dalam jeda sebelum apabila itu tiba. Kesadaran itu tidak dimaksudkan untuk menakutkan, tetapi untuk menata ulang apa yang dianggap penting.
- Langit digambarkan mencair, dan di 70:8 disamakan dengan leburan logam. Langit yang selama ini padat dan menaungi berubah menjadi sesuatu yang mengalir. Kepadatan yang kita andalkan, tanah di bawah kaki, dinding rumah, susunan hidup yang tampak kokoh, bukan sifat yang melekat pada benda-benda itu, tetapi dipertahankan oleh Tuhan yang menegakkan segala sesuatu, dan ayat ini memperlihatkan apa yang terjadi ketika Dia tidak lagi mempertahankannya. Kekokohan yang terasa hari ini datang dari pemeliharaan yang terus berlangsung setiap saat.
- Kata terbelah di ayat ini dipakai juga untuk bulan di 54:1, sesudah kalimat "saat itu telah mendekat". Terbelahnya langit dan bulan disebut dalam rangkaian tentang saat yang mendekat. Orang cenderung menganggap akhir sebagai sesuatu yang sangat jauh, sehingga tidak perlu dipikirkan hari ini. Al-Qur'an menyebutnya mendekat, dan setiap hari yang berlalu memang mendekatkannya. Pembaca tidak diminta menghitung jaraknya, cukup menyadari arah waktunya. Menyadari arah itu cukup untuk mengubah cara menggunakan hari yang sedang dijalani.
- Ayat ini berhenti di tengah kalimat: langit berubah rupa, kemudian apa? Jawabannya belum datang. Pembaca dibiarkan menunggu, dan di dalam penantian itu ia bertanya sendiri apa yang akan terjadi pada dirinya pada hari itu. Surah ini tidak segera menjawab. Allah memberi ruang bagi pertanyaan itu tumbuh lebih dulu, sebelum kabarnya disampaikan dua ayat kemudian. Pertanyaan yang tumbuh dari dalam lebih lama tinggal daripada jawaban yang datang terlalu cepat, dan ayat berikutnya memang bertanya lebih dulu sebelum menjawab.