Ayat 55:41
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ
Para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْyu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahumpara pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka
- فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِfa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaamilalu direnggut ubun-ubun dan kakinya
Terjemahan per kata (6 kata)
- يُعْرَفُyu'rafudikenali
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
- بِسِيمَاهُمْbi-siimaahumdengan tanda mereka
- فَيُؤْخَذُfa-yu'khadzumaka diambil
- بِالنَّوَاصِيbi-n-nawaashiipada ubun-ubun
- وَالْأَقْدَامِwa-l-aqdaamidan kaki
Inti bacaan
Tanda yang tak tersembunyikan: 'para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya', penegasan bahwa pola hidup meninggalkan jejak yang pada akhirnya tidak bisa disamarkan, dorongan untuk jujur pada diri sendiri tentang arah hidup yang sedang dijalani sebelum jejak itu menjadi permanen.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ, yu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahum fa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaami), "para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya". Kedua kata kerjanya pasif, (يُعْرَفُ, yu'rafu), "dikenali", dan (فَيُؤْخَذُ, fa-yu'khadzu), "lalu direnggut", sehingga ayat ini menyebut apa yang terjadi pada para pendosa tanpa menyebut siapa yang mengenali dan siapa yang merenggut.
Kata (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa", dipakai di puluhan ayat, antara lain 6:55, 28:78, dan 30:12. Di surah ini kata tersebut muncul dua kali berdekatan, di ayat ini dan di 55:43, tidak lama sesudah 55:39 menyebut dosa untuk pertama dan terakhir kalinya di surah ini.
Kata (بِسِيمَاهُمْ, bi-siimaahum), "dengan tanda-tanda mereka", berasal dari kata (سِيمَا, siimaa), "tanda", yang dipakai di enam ayat: 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 48:29, dan 55:41. Di lima di antaranya, tanda itu dipasangkan dengan kata kerja mengenali dari akar ع-ر-ف, seperti di ayat ini. Di 2:273 orang-orang fakir yang menahan diri dikenali dari tanda mereka, (تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ, ta'rifuhum bi-siimaahum), dan di 7:46 orang-orang di tempat yang tinggi mengenali setiap golongan dengan cara yang sama. Di 48:29 tanda itu disebut tempatnya, yaitu wajah, dan asalnya, yaitu bekas sujud. Kata ini sendiri tidak menentukan baik atau buruk, karena isinya ditentukan oleh perbuatan yang meninggalkannya.
Kata kerja kedua memakai susunan "direnggut pada ubun-ubun", dengan huruf bi- sebelum kata ubun-ubun. Susunan itu muncul juga di 11:56, dengan Allah sebagai pelakunya: (مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا, maa min daabbatin illaa huwa aakhidzun bi-naashiyatihaa), "tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya". Kata ubun-ubun dipakai di empat ayat, yaitu 11:56, 96:15, 96:16, dan ayat ini dalam bentuk jamak, (بِالنَّوَاصِي, bi-n-nawaashii). Di 96:16 ubun-ubun itu disifati (نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ, naashiyatin kaadzibatin khaathi'atin), "ubun-ubun yang dusta lagi bersalah".
Kata (وَالْأَقْدَامِ, wa-l-aqdaami), "dan kaki", di tempat lain muncul dalam doa agar kaki diteguhkan, (وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا, wa-tsabbit aqdaamanaa), di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki disebut bersama ubun-ubun sebagai tempat para pendosa direnggut. Terjemahan menulis "ubun-ubun dan kakinya" mengikuti urutan teks Arabnya, dari kepala sampai kaki.
Kata kerja yang sama, dari akar أ-خ-ذ, diterjemahkan "memegang" di 11:56 dan "direnggut" di ayat ini. Pilihan itu mengikuti keadaan yang digambarkan: di 11:56 genggaman yang terus berlangsung atas setiap makhluk, di ayat ini tindakan terhadap orang yang tidak mau. Arti per katanya, "maka diambil", menyimpan makna dasarnya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pengenalan langsung para pendosa di Hari Kiamat, tanpa perlu penyelidikan lebih jauh. Ayat ini sekaligus menjawab 55:39: tidak ada yang ditanya tentang dosanya karena dosa itu sudah terbaca pada pemiliknya.
Kesejajaran dengan 2:273 memperjelas cara kerja tanda itu. Di sana orang-orang fakir tidak meminta kepada orang lain, (لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا, laa yas'aluuna n-naasa ilhaafan), tetapi keadaan mereka dikenali dari tanda mereka. Di rentang 55:39-41 pertanyaan dan tanda juga bertemu: tidak ada yang ditanya, karena tandanya sudah cukup dikenali. Di kedua tempat, tanda membuat pertanyaan tidak diperlukan, sekali untuk kebutuhan orang yang menahan diri, sekali untuk dosa orang yang berbuat jahat.
Susunan kata kerja yang sama dengan 11:56 memberi arah yang lain. Menurut ayat itu, setiap makhluk sudah dipegang ubun-ubunnya oleh Allah. Di ayat ini ubun-ubun para pendosa direnggut, dan pelakunya tidak disebut. Dibaca bersama 11:56, genggaman itu sudah ada sejak awal, dan pada hari itu barulah terasa oleh orang yang selama hidupnya tidak mengakuinya.
Rupa tanda itu tidak digambarkan. Ayat ini cukup menyatakan bahwa tanda itu membuat para pendosa dikenali, dan pembaca tidak perlu mengisinya dengan gambaran dari luar teks.
Renungan dan Hikmah
- Di 2:273 orang-orang fakir dikenali dari tanda mereka, karena mereka menahan diri untuk tidak meminta. Tanda yang sama, di ayat ini, membuat dosa para pendosa terbaca tanpa perlu ditanyakan. Keadaan seseorang sering lebih jujur daripada kata-katanya. Siapa di sekitar kita yang tidak pernah meminta apa pun, tetapi keadaannya sebenarnya bisa terbaca oleh orang yang mau memperhatikan? Memperhatikan keadaan orang lain dengan cara itu termasuk cara bersyukur atas mata yang diberikan Allah.
- Hud berkata di 11:56 bahwa ia bertawakal kepada Allah, Tuhannya dan Tuhan kaumnya, karena tidak ada satu makhluk pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya. Kenyataan yang sama menenangkan Hud dan menggetarkan para pendosa di ayat ini. Bagi orang yang bersandar kepada Allah, genggaman itu berarti perlindungan. Bagi orang yang merasa bebas dari-Nya, genggaman itu baru terasa ketika ubun-ubunnya direnggut. Perbedaannya tidak terletak pada genggaman, tetapi pada sikap orang yang digenggam terhadap Tuhannya.
- Orang-orang beriman memohon agar kaki mereka diteguhkan, seperti dalam doa di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki para pendosa direnggut. Kaki yang sama bisa menjadi tempat doa dikabulkan atau tempat hukuman dijatuhkan, tergantung ke mana kaki itu dipakai melangkah selama hidup. Setiap langkah ke tempat kerja, ke pasar, atau ke rumah orang lain ikut menentukan akan menjadi apa kaki itu di hadapan Tuhannya. Doa agar kaki diteguhkan karena itu juga doa agar langkah hari ini mengarah ke tempat yang benar.
- Pengadilan manusia membutuhkan penyelidikan, saksi, dan bukti, dan tetap saja bisa keliru. Ayat ini menggambarkan pengenalan tanpa sidang: para pendosa dikenali dari tanda mereka dan langsung direnggut. Tidak ada kesempatan untuk mengarang cerita atau memutar keterangan. Orang yang pandai berkelit di hadapan manusia tidak punya tempat berkelit di hadapan Allah, karena yang diperiksa bukan lagi kata-katanya, tetapi bekas perbuatannya sendiri. Kejujuran di hadapan manusia hari ini melatih diri untuk tidak memerlukan kelihaian itu kelak.
- Urutan 55:39 dan ayat ini bergerak dari tidak ditanya ke dikenali. Banyak orang mengandalkan kesempatan untuk menjelaskan diri: ada alasan, ada keadaan yang memaksa, ada niat yang disalahpahami. Pada hari itu kesempatan menjelaskan tidak lagi diberikan, karena tandanya sudah dikenali sebelum pemiliknya sempat berbicara. Kesempatan menjelaskan diri kepada Allah masih terbuka sekarang, dalam doa dan dalam perbaikan perbuatan. Menunda penjelasan itu sama dengan menyerahkannya kepada tanda yang tidak bisa diatur.
- Ubun-ubun dan kaki disebut bersama, kepala dan ujung tubuh, sehingga seluruh diri tercakup. Pertanggungjawaban tidak berhenti pada kata-kata yang diucapkan atau niat yang disimpan. Seluruh diri ikut dihadapkan: pikiran yang merencanakan, langkah yang menjalankan, dan semua yang ada di antara keduanya. Allah menyebut dua ujung tubuh itu, dan tidak ada bagian diri yang bisa dikecualikan dari apa yang diperbuat oleh seluruhnya. Diri yang kelak dihadapkan seluruhnya adalah diri yang sama yang hari ini dipakai untuk berbuat.
Ayat 55:42
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein keempat belas setelah gambaran tanda pendosa: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang terus menuntut jawaban jujur, bahkan di tengah deskripsi konsekuensi yang keras sekalipun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan keempat belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:40. Di sini dibahas kata kerja refrain yang muncul lagi satu ayat sesudahnya dengan pelaku lain.
Di luar refrain, kata kerja mendustakan dari akar ك-ذ-ب dipakai sekali di surah ini, di 55:43: (الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, allatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "yang didustakan oleh para pendosa". Bentuknya sama dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani) di refrain, yaitu bentuk mendustakan yang diuraikan di 55:34, dan kedua ayat itu hanya berjarak satu ayat. Di refrain kata kerja ini dipakai tiga puluh satu kali, sedangkan di luar refrain surah ini memakainya di 55:43 saja.
Kedua kata kerja itu berbeda dalam tiga hal. Refrain menyapa pendengar dengan awalan tu- dan akhiran dual -aani, "kalian berdua", sedangkan 55:43 membicarakan pihak lain dengan awalan yu-, "mereka", yaitu para pendosa. Refrain berbentuk pertanyaan, sedangkan 55:43 berbentuk pernyataan. Refrain menanyakan nikmat, yang ditandai huruf bi- pada (بِأَيِّ, bi-ayyi), sedangkan 55:43 menyebut Jahanam, yang ditandai huruf bi- pada (بِهَا, bihaa), "padanya".
Refrain ini diapit dua ayat yang sama-sama memakai kata (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa", yaitu 55:41 dan 55:43, dan di surah ini kata itu tidak dipakai di tempat lain. Pendengar yang disapa refrain tidak disebut dengan kata itu. Mereka tetap "kalian berdua", sedangkan para pendosa dibicarakan sebagai "mereka". Kedua kata kerja juga sama-sama berbentuk masa kini tanpa kata kuntum, "dahulu", sehingga pendustaan di kedua ayat disebut sebagai sesuatu yang masih bisa berlangsung sekarang, berbeda dari tujuh ayat yang menaruhnya di masa lalu, seperti diuraikan di 55:43.
Dengan susunan itu, dua ayat yang berdekatan memperlihatkan dua keadaan pendustaan. Kepada pendengar, pendustaan masih diajukan sebagai pertanyaan: nikmat mana yang kalian dustakan. Tentang para pendosa, pendustaan sudah dinyatakan sebagai kenyataan: Jahanam yang mereka dustakan. Terjemahan menjaga kesejajaran itu dengan kata yang sama di kedua tempat, "yang kalian berdua dustakan" di refrain dan "yang didustakan oleh para pendosa" di 55:43.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran pengenalan para pendosa. Ayat sebelumnya menyebut para pendosa sebagai pihak ketiga yang dikenali dan direnggut, lalu refrain kembali kepada pendengar dan menanyakan hal yang sama seperti tiga belas kali sebelumnya. Pendengar tidak disamakan dengan para pendosa: mereka masih ditanya, sedangkan para pendosa sudah dikenali.
Satu ayat kemudian, kata kerja refrain dipakai untuk para pendosa, dalam kalimat tentang Jahanam yang mereka dustakan. Pertanyaan kepada pendengar dan pernyataan tentang para pendosa memakai kata kerja yang sama, sehingga jarak di antara keduanya terasa pendek. Perbedaannya terletak pada bentuk kalimat: pendengar masih diberi pertanyaan, sedangkan para pendosa sudah diberi pernyataan.
Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud di sini. Letaknya di antara 55:41 dan 55:43 memperlihatkan bahwa keadaan masih ditanya berbeda dari keadaan para pendosa di kedua ayat itu, dan perbedaan tersebut ada selama pertanyaan dari Tuhan kalian masih diajukan.
Kedua ayat yang mengapit refrain ini sama-sama menyebut para pendosa, tetapi refrain tidak memakai kata itu untuk pendengarnya. Sapaan "kalian berdua" tetap dipertahankan, dan hubungan "Tuhan kalian" tetap disebut.
Renungan dan Hikmah
- Kepada pendengar, pendustaan masih berupa pertanyaan. Tentang para pendosa, pendustaan sudah menjadi pernyataan. Pertanyaan membuka ruang untuk menjawab dengan cara lain, sedangkan pernyataan menutupnya. Selama Allah masih bertanya nikmat mana yang didustakan, jawaban itu masih bisa diubah: nikmat yang selama ini dianggap biasa bisa mulai diakui, dan pemberian yang dilupakan bisa mulai disebut kembali. Pertanyaan yang masih diajukan adalah pintu yang masih terbuka.
- Kata kerja yang sama dipakai untuk pendengar dan untuk para pendosa, dan jaraknya hanya satu ayat. Pendustaan tidak dimulai dari penolakan besar. Pendustaan bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang tidak disadari, seperti menganggap rezeki semata hasil usaha atau menganggap keselamatan sebagai kebetulan. Apakah pendustaan kecil hari ini sedang berjalan pelan-pelan menuju pernyataan yang disebut di 55:43? Memeriksa kebiasaan kecil itu hari ini jauh lebih mudah daripada menjawabnya kelak.
- Sesudah menggambarkan para pendosa, refrain tidak menyebut pendengarnya pendosa. Allah tetap menyapa mereka dengan hubungan, "Tuhan kalian berdua". Manusia cepat memberi cap kepada orang lain begitu melihat kesalahannya, lalu berhenti menyapanya. Cara Tuhan dalam ayat ini berbeda: gambaran tentang akibat diperlihatkan, tetapi pendengar tetap diajak bicara sebagai pihak yang masih bisa menjawab dan memperbaiki. Menahan diri dari memberi cap kepada orang lain berarti meniru cara Tuhan menyapa di ayat ini.
- Refrain menanyakan pendustaan terhadap nikmat, sedangkan 55:43 menyebut pendustaan terhadap Jahanam. Keduanya memakai kata kerja yang sama. Mengingkari pemberian dan mengingkari akibat berangkat dari sikap yang serupa, yaitu menganggap hidup tidak berhubungan dengan Tuhan. Orang yang merasa semua yang dimilikinya datang dari dirinya sendiri akan sulit percaya bahwa semua yang diperbuatnya juga akan kembali kepadanya. Mengakui asal setiap pemberian karena itu juga melatih kesiapan menerima akibat setiap perbuatan.
- Gambaran para pendosa yang direnggut mudah membuat pembaca merasa aman, seakan-akan yang dibicarakan orang lain. Refrain sesudahnya tidak membiarkan rasa aman itu tumbuh, karena kata kerjanya kembali menyapa "kalian berdua". Kisah tentang kesalahan orang lain berguna kalau dipakai sebagai cermin, dan menjadi berbahaya kalau dipakai sebagai alasan untuk tidak memeriksa diri sendiri di hadapan Allah. Setiap kali membaca kisah orang yang binasa, pertanyaan yang patut diajukan tertuju kepada diri sendiri.
- Rangkaian 55:41 sampai 55:44 seperti membawa pendengar mendekati Jahanam, dari pengenalan para pendosa sampai tempat mereka berkeliling. Refrain ini diletakkan di tengah perjalanan itu. Pendengar diberi jeda untuk berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri sebelum gambaran berikutnya datang. Jeda seperti itu jarang ada dalam hidup yang sibuk, dan surah ini menyediakannya berulang kali atas kehendak Tuhan yang memberi. Memakai jeda itu untuk merenung termasuk mengakui salah satu nikmat yang ditanyakan.
Ayat 55:43
هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ
Inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa;
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذِهِ جَهَنَّمُhaadzihi jahannamuinilah Jahanam
- الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَallatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuunayang didustakan oleh para pendosa
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَٰذِهِhaadzihiini
- جَهَنَّمُjahannamuJahanam
- الَّتِيallatiiyang
- يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
- بِهَاbihaapadanya
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
Inti bacaan
Penamaan langsung konsekuensi: 'inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa', konfrontasi antara penyangkalan verbal di dunia dan realitas yang tak terbantahkan di akhirat, pengingat bahwa penolakan untuk mempercayai konsekuensi tidak menghapus keberadaannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, haadzihi jahannamu allatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa". Kata (هَٰذِهِ, haadzihi) adalah kata tunjuk untuk yang dekat, dalam bentuk feminin sesuai dengan kata Jahanam, seperti dikonfirmasi morfologi, dan tepat diterjemahkan "inilah". Dengan kata tunjuk itu, Jahanam disebut seakan-akan sudah berada di depan mata.
Kata (جَهَنَّمُ, jahannamu) dipakai di 77 ayat, antara lain 2:206, 3:12, dan 4:93, tetapi di surah ini hanya sekali, di ayat ini. Rangkaian (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ, haadzihi jahannamu) dipakai dua kali, di 36:63 dan di sini. Di 36:63 kalimatnya ditujukan langsung kepada mereka: (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ, haadzihi jahannamu llatii kuntum tuu'aduuna), "inilah Jahanam yang dahulu diancamkan kepada kalian".
Kata sambung (الَّتِي, allatii), "yang", berbentuk feminin mengikuti kata Jahanam, dan huruf bi- pada (بِهَا, bihaa), "padanya", menandai Jahanam sebagai sasaran pendustaan. Cara menandai sasaran itu sama dengan huruf bi- pada kata tanya refrain, yang di 55:21 dicatat sebagai penanda benda yang didustakan.
Morfologi mencatat kata ini sebagai nama diri, bukan kata sifat atau kata kerja. Di surah ini api disebut dengan kata (نَارٍ, naarin) di 55:15 dan 55:35, sedangkan nama Jahanam hanya dipakai di ayat ini. Sesudah ayat ini dan 55:44, surah beralih ke dua taman di 55:46, dan gambaran taman itu berlanjut sampai akhir surah.
Susunan yang paling dekat ada di 52:14: (هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, haadzihi n-naaru allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna), "inilah api yang dahulu kalian dustakan". Unsurnya sama: kata tunjuk, kata sambung "yang", huruf bi-, dan kata kerja mendustakan. Ungkapan "yang dahulu kalian dustakan" dengan kata (كُنْتُمْ, kuntum) dipakai di tujuh ayat, yaitu 23:105, 32:20, 34:42, 37:21, 52:14, 77:29, dan 83:17. Semuanya menyapa orang yang mendustakan dengan "kalian", dan semuanya menempatkan pendustaan di masa lalu.
Ayat ini berbeda dalam dua hal. Kata kerjanya, (يُكَذِّبُ, yukadzdzibu), berbentuk masa kini tanpa kuntum, dan pelakunya disebut sebagai pihak ketiga, (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa". Kalimatnya tidak berbicara kepada mereka, tetapi tentang mereka, dan pendustaan mereka disebut sebagai sesuatu yang masih berlangsung. Terjemahan menulis "yang didustakan oleh para pendosa", sehingga Jahanam tetap menjadi pokok kalimat seperti di teks Arabnya.
Tafsiran
Ayat ini mengutip penegasan langsung: inilah wujud nyata dari apa yang selama ini mereka dustakan. Sesudah para pendosa dikenali dan direnggut di 55:41, tempat tujuan mereka ditunjuk dengan kata tunjuk yang dekat. Siapa yang mengucapkan kalimat ini tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkannya.
Di 52:14 dan 36:63 kalimat serupa diucapkan kepada penghuni api dengan "kalian" dan "dahulu". Di sini kalimatnya diucapkan tentang mereka kepada pendengar surah ini, dengan kata kerja masa kini. Pendengar seperti diperlihatkan tempat itu dari samping, sementara pendustaan para pendosa masih disebut berlangsung.
Kata kerja yukadzdzibu juga menyambungkan ayat ini dengan refrain. Sejak 55:13 pendengar ditanya nikmat mana yang mereka dustakan. Di sini, untuk pertama kalinya, surah ini menyebut sesuatu yang benar-benar didustakan dan menyebut pula siapa yang mendustakannya: sasarannya Jahanam, dan pelakunya para pendosa.
Nama Jahanam hanya disebut sekali di surah ini, dan gambarannya hanya menempati dua ayat, 55:43 dan 55:44. Sesudah itu surah beralih ke dua taman bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya, dan gambaran taman itu mengisi sisa surah. Takaran ini sejalan dengan takaran dosa dan nikmat yang dicatat di 55:40.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa mendustakan Jahanam karena menganggapnya jauh, bahkan tidak ada. Ayat ini menunjuknya dengan kata tunjuk yang dekat, seperti menunjuk sesuatu di depan mata. Akibat yang ditunda biasanya terasa jauh, seperti tagihan yang jatuh tempo bertahun-tahun lagi. Kata tunjuk itu memendekkan jarak tersebut, dan pembaca diajak menimbang apakah akibat yang terasa jauh dalam hidupnya sebenarnya sudah berdiri di dekatnya, menunggu saatnya ditunjuk. Menimbangnya sekarang lebih ringan daripada bertemu dengannya kelak.
- Kata kerjanya berbentuk masa kini: para pendosa mendustakan, bukan dahulu mendustakan. Pendustaan tidak hanya berupa satu penolakan di masa lalu, tetapi kebiasaan yang terus berjalan setiap hari, dalam cara memakai waktu, harta, dan kesempatan yang diberikan Allah. Orang bisa mengaku percaya pada hari akhir sambil menjalani hari-harinya seakan-akan hari itu tidak ada, dan kata kerja masa kini ini menyentuh keadaan tersebut. Pengakuan yang tulus terlihat pada cara hidup, tidak cukup pada ucapan.
- Di 52:14 kalimat serupa diucapkan langsung kepada penghuni api, sedangkan di ayat ini kalimatnya diucapkan tentang mereka. Pendengar surah ini masih diajak bicara, sedangkan para pendosa sudah dibicarakan. Selama seseorang masih diajak bicara, ia masih bisa menjawab, membantah, atau berubah. Apakah kesempatan untuk tetap diajak bicara oleh Tuhan sudah dihargai sebagaimana mestinya? Menjawab selagi masih diajak bicara adalah cara menghargainya.
- Para pendosa mendustakan Jahanam, dan Jahanam tetap ada untuk ditunjuk. Menolak percaya pada sesuatu tidak membuatnya hilang. Dalam urusan sehari-hari hal ini mudah dipahami: utang yang tidak diakui tetap tercatat, dan penyakit yang tidak diperiksa tetap berjalan. Ayat ini menerapkan kenyataan yang sama pada akibat terbesar, yang tetap menunggu meskipun terus didustakan. Kejujuran untuk melihat akibat, betapapun tidak menyenangkan, termasuk bentuk syukur atas peringatan yang diberikan lebih dulu.
- Sejak 55:13 refrain bertanya nikmat mana yang didustakan. Di ayat ini untuk pertama kalinya disebut sesuatu yang benar-benar didustakan, dan pelakunya diberi nama. Pembaca bisa memakai ayat ini untuk memeriksa jawabannya sendiri atas pertanyaan refrain. Jawaban yang jujur hari ini lebih ringan daripada jawaban yang kelak diberikan oleh tanda-tanda perbuatan di hadapan Tuhan yang bertanya. Memeriksa jawaban itu tidak perlu menunggu hari yang digambarkan ayat ini.
- Para pendosa tidak disebut dengan nama, suku, atau kedudukan mereka. Mereka disebut menurut perbuatan mereka. Di dunia, orang dikenal lewat gelar dan jabatan, dan gelar itu sering menutupi apa yang diperbuatnya. Pada hari yang digambarkan ayat ini, sebutan seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri di hadapan Allah, dan sebutan itu dibentuk sedikit demi sedikit oleh pilihan yang dibuat setiap hari. Nama yang kelak disandang ditulis oleh tangan sendiri, sedikit demi sedikit, sejak hari ini.
Ayat 55:44
يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ
mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَطُوفُونَ بَيْنَهَاyathuufuuna baynahaamereka berkeliling di antaranya
- وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍwa-bayna hamiimin aanindan air mendidih yang sangat panas
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَطُوفُونَyathuufuunamereka berkeliling
- بَيْنَهَاbaynahaadi antaranya
- وَبَيْنَwa-baynadan antara
- حَمِيمٍhamiiminair mendidih
- آنٍaaninyang sangat panas
Inti bacaan
Detail siksaan yang spesifik: 'mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas', gambaran konkret yang berfungsi sebagai peringatan serius, bukan abstraksi kosong yang mudah diabaikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ, yathuufuuna baynahaa wa-bayna hamiimin aanin), "mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas". Akhiran pada (بَيْنَهَا, baynahaa), "di antaranya", kembali kepada Jahanam di 55:43, sehingga kedua ayat ini tersambung dalam satu gambaran, dan pelaku (يَطُوفُونَ, yathuufuuna), "mereka berkeliling", adalah para pendosa yang baru disebut.
Kata kerja itu berasal dari akar ط-و-ف. Dalam bentuk ini akar tersebut dipakai di delapan ayat, dan enam di antaranya menggambarkan surga, ketika sesuatu diedarkan kepada penghuninya atau orang lain berkeliling melayani mereka: (يُطَافُ عَلَيْهِمْ, yuthaafu 'alayhim), "diedarkan kepada mereka", di 37:45, 43:71, dan 76:15, serta (وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ, wa-yathuufu 'alayhim), "dan berkeliling melayani mereka", di 52:24 dan 76:19, juga 56:17. Ayat 68:19 memakainya untuk bencana yang menyambangi sebuah kebun, (فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ, fa-thaafa 'alayhaa thaa'ifun), dan ayat ini menjadi yang kedelapan.
Di ayat-ayat surga, penghuninya dilayani, karena orang lain berkeliling di sekitar mereka membawa gelas dan piring. Di ayat ini arahnya terbalik. Para pendosa sendiri yang berkeliling, bolak-balik di antara dua tempat, dan tidak ada yang dibawakan kepada mereka.
Kata (بَيْنَهَا, baynahaa) dan (وَبَيْنَ, wa-bayna), "di antara", mengingatkan pada 55:20, ketika surah ini menyebut pembatas (بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ, baynahumaa barzakhun), "di antara keduanya ada pembatas". Di 55:20 batas yang dijaga berada di antara dua laut, dan batas itu termasuk nikmat yang ditanyakan. Di ayat ini para pendosa sendiri berada di antara api dan air mendidih, tanpa batas yang melindungi mereka.
Bentuk lain dari akar yang sama dipakai untuk tawaf, (وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, wa-l-yaththawwafuu bi-l-bayti l-'atiiqi), "dan melakukan tawaf di sekeliling Rumah Purba itu" (22:29), dan untuk bertawaf di antara Safa dan Marwah di 2:158. Teks tidak menghubungkan ayat ini dengan tawaf, dan penjelasan ini sekadar mencatat bahwa akarnya sama.
Kata (حَمِيمٍ, hamiimin), "air mendidih", dipakai di 19 ayat, antara lain 6:70, 10:4, dan 22:19. Di lima di antaranya kata yang sama berarti teman karib, yaitu di 26:101, 40:18, 41:34, 69:35, dan 70:10, misalnya (وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ, wa-laa shadiiqin hamiimin), "dan tidak pula teman yang akrab" (26:101). Kata (آنٍ, aanin), "yang sangat panas", hanya dipakai di ayat ini, sedangkan akarnya muncul lagi di 88:5, (مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ, min 'aynin aaniyatin), "dari mata air yang mendidih".
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan siksaan berulang: berkeliling antara neraka dan air mendidih. Kalimatnya menyambung 55:43, sehingga Jahanam yang ditunjuk dengan "inilah" langsung digambarkan dari dalam. Para pendosa bergerak di antara api dan air yang mendidih, tanpa tempat untuk berhenti.
Akar kata kerjanya di tempat lain hampir selalu dipakai untuk surga, ketika hidangan diedarkan kepada penghuninya. Di sini akar yang sama menggambarkan gerak orang yang tidak dilayani siapa pun. Perbandingan itu tidak dibuat ayat ini secara langsung, tetapi terlihat bila kata kerja yang sama dibaca di kedua tempat.
Kata hamiimin juga dipakai untuk teman karib, dan di 69:35 dinyatakan bahwa pada hari itu (فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ, fa-laysa lahu l-yawma haahunaa hamiimun), "tidak ada baginya di sini seorang teman setia". Di ayat ini, hamiimin di dekat para pendosa berupa air yang mendidih. Kedua makna itu tidak dihubungkan di ayat ini, tetapi kata yang sama menunjuk dua hal yang sama-sama hilang dari mereka: teman yang menolong dan air yang menyejukkan.
Ayat ini tidak menyebut berapa lama perputaran itu berlangsung. Refrain sesudahnya, 55:45, kembali bertanya tentang nikmat, dan dengan itu gambaran Jahanam di surah ini selesai sebelum surah beralih ke dua taman.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa berkeliling di antara dua tempat, dan tidak satu pun dari keduanya memberi tempat untuk berhenti. Gambaran ini menyentuh sesuatu yang juga dikenal dalam hidup: berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, dari satu keinginan ke keinginan lain, tanpa pernah sampai. Allah memperlihatkan ujung dari gerak tanpa tujuan itu, dan pembaca bisa bertanya ke mana sebenarnya langkah-langkahnya sehari-hari sedang menuju. Tujuan yang jelas membuat langkah yang sama terasa berbeda.
- Kata kerja yang sama menggambarkan dua keadaan akhir. Di surga, hidangan diedarkan dan pelayan berkeliling di sekitar penghuninya. Di ayat ini, para pendosa sendiri yang berkeliling tanpa dilayani. Di dunia, kedudukan orang sering terbalik dari itu: sebagian dilayani, sebagian melayani. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kedudukan di akhirat tidak mengikuti kedudukan di dunia, tetapi mengikuti apa yang diperbuat di hadapan Allah. Melayani orang lain hari ini dengan tulus tidak merendahkan kedudukan siapa pun di hadapan-Nya.
- Kata hamiim juga berarti teman karib, dan di 69:35 dikatakan bahwa pada hari itu tidak ada teman setia bagi orang yang celaka. Teman dipilih dan dikumpulkan selama hidup: teman yang mengajak berbuat baik, dan teman yang mengajak lalai. Teman seperti apa yang sedang dikumpulkan sekarang, dan apakah kehadiran mereka akan menolong ketika setiap orang berdiri di hadapan Tuhannya? Memilih teman karena itu termasuk menyiapkan hari itu.
- Di surah 76, gelas-gelas perak diedarkan kepada orang-orang yang dulu memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan demi wajah Allah (76:8-9 dan 76:15). Orang yang di dunia memberi makan orang lain kelak dilayani. Ayat ini memperlihatkan keadaan sebaliknya: tidak ada yang diedarkan kepada para pendosa. Memberi hari ini, bahkan sepiring nasi untuk tetangga yang kekurangan, termasuk dalam hitungan yang akan menentukan keadaan itu. Hidangan kecil yang diberikan dengan ikhlas tidak pernah kecil di hadapan Allah.
- Akar kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk tawaf di sekeliling Rumah Purba. Ayat ini tidak menghubungkan keduanya, tetapi perbandingan itu bisa direnungkan. Gerak berkeliling yang sama bisa menjadi ibadah atau siksaan, tergantung pusatnya. Hidup yang berputar mengelilingi Allah punya arah dan tempat kembali. Hidup yang berputar mengelilingi keinginan sendiri bisa berakhir bolak-balik di antara dua hal yang sama-sama menyakitkan. Pertanyaannya sederhana: apa yang selama ini menjadi pusat perputaran hari-hari kita?
- Sepanjang surah ini air hadir sebagai nikmat: dua laut yang bertemu tanpa bercampur, mutiara dan marjan yang keluar dari keduanya, dan kapal-kapal yang berlayar di atasnya. Di ayat ini air muncul lagi dalam keadaan mendidih. Pemberian yang sama bisa berubah menjadi hukuman bagi orang yang sepanjang hidupnya mendustakannya. Air yang hari ini diminum dengan tenang termasuk nikmat Tuhan yang ditanyakan refrain berulang kali. Meminumnya dengan sadar akan Pemberinya adalah jawaban kecil atas pertanyaan itu.