يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ
Para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْyu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahumpara pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka
- فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِfa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaamilalu direnggut ubun-ubun dan kakinya
Terjemahan per kata (6 kata)
- يُعْرَفُyu'rafudikenali
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
- بِسِيمَاهُمْbi-siimaahumdengan tanda mereka
- فَيُؤْخَذُfa-yu'khadzumaka diambil
- بِالنَّوَاصِيbi-n-nawaashiipada ubun-ubun
- وَالْأَقْدَامِwa-l-aqdaamidan kaki
Inti bacaan
Tanda yang tak tersembunyikan: 'para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya', penegasan bahwa pola hidup meninggalkan jejak yang pada akhirnya tidak bisa disamarkan, dorongan untuk jujur pada diri sendiri tentang arah hidup yang sedang dijalani sebelum jejak itu menjadi permanen.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ, yu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahum fa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaami), "para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya". Kedua kata kerjanya pasif, (يُعْرَفُ, yu'rafu), "dikenali", dan (فَيُؤْخَذُ, fa-yu'khadzu), "lalu direnggut", sehingga ayat ini menyebut apa yang terjadi pada para pendosa tanpa menyebut siapa yang mengenali dan siapa yang merenggut.
Kata (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa", dipakai di puluhan ayat, antara lain 6:55, 28:78, dan 30:12. Di surah ini kata tersebut muncul dua kali berdekatan, di ayat ini dan di 55:43, tidak lama sesudah 55:39 menyebut dosa untuk pertama dan terakhir kalinya di surah ini.
Kata (بِسِيمَاهُمْ, bi-siimaahum), "dengan tanda-tanda mereka", berasal dari kata (سِيمَا, siimaa), "tanda", yang dipakai di enam ayat: 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 48:29, dan 55:41. Di lima di antaranya, tanda itu dipasangkan dengan kata kerja mengenali dari akar ع-ر-ف, seperti di ayat ini. Di 2:273 orang-orang fakir yang menahan diri dikenali dari tanda mereka, (تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ, ta'rifuhum bi-siimaahum), dan di 7:46 orang-orang di tempat yang tinggi mengenali setiap golongan dengan cara yang sama. Di 48:29 tanda itu disebut tempatnya, yaitu wajah, dan asalnya, yaitu bekas sujud. Kata ini sendiri tidak menentukan baik atau buruk, karena isinya ditentukan oleh perbuatan yang meninggalkannya.
Kata kerja kedua memakai susunan "direnggut pada ubun-ubun", dengan huruf bi- sebelum kata ubun-ubun. Susunan itu muncul juga di 11:56, dengan Allah sebagai pelakunya: (مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا, maa min daabbatin illaa huwa aakhidzun bi-naashiyatihaa), "tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya". Kata ubun-ubun dipakai di empat ayat, yaitu 11:56, 96:15, 96:16, dan ayat ini dalam bentuk jamak, (بِالنَّوَاصِي, bi-n-nawaashii). Di 96:16 ubun-ubun itu disifati (نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ, naashiyatin kaadzibatin khaathi'atin), "ubun-ubun yang dusta lagi bersalah".
Kata (وَالْأَقْدَامِ, wa-l-aqdaami), "dan kaki", di tempat lain muncul dalam doa agar kaki diteguhkan, (وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا, wa-tsabbit aqdaamanaa), di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki disebut bersama ubun-ubun sebagai tempat para pendosa direnggut. Terjemahan menulis "ubun-ubun dan kakinya" mengikuti urutan teks Arabnya, dari kepala sampai kaki.
Kata kerja yang sama, dari akar أ-خ-ذ, diterjemahkan "memegang" di 11:56 dan "direnggut" di ayat ini. Pilihan itu mengikuti keadaan yang digambarkan: di 11:56 genggaman yang terus berlangsung atas setiap makhluk, di ayat ini tindakan terhadap orang yang tidak mau. Arti per katanya, "maka diambil", menyimpan makna dasarnya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pengenalan langsung para pendosa di Hari Kiamat, tanpa perlu penyelidikan lebih jauh. Ayat ini sekaligus menjawab 55:39: tidak ada yang ditanya tentang dosanya karena dosa itu sudah terbaca pada pemiliknya.
Kesejajaran dengan 2:273 memperjelas cara kerja tanda itu. Di sana orang-orang fakir tidak meminta kepada orang lain, (لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا, laa yas'aluuna n-naasa ilhaafan), tetapi keadaan mereka dikenali dari tanda mereka. Di rentang 55:39-41 pertanyaan dan tanda juga bertemu: tidak ada yang ditanya, karena tandanya sudah cukup dikenali. Di kedua tempat, tanda membuat pertanyaan tidak diperlukan, sekali untuk kebutuhan orang yang menahan diri, sekali untuk dosa orang yang berbuat jahat.
Susunan kata kerja yang sama dengan 11:56 memberi arah yang lain. Menurut ayat itu, setiap makhluk sudah dipegang ubun-ubunnya oleh Allah. Di ayat ini ubun-ubun para pendosa direnggut, dan pelakunya tidak disebut. Dibaca bersama 11:56, genggaman itu sudah ada sejak awal, dan pada hari itu barulah terasa oleh orang yang selama hidupnya tidak mengakuinya.
Rupa tanda itu tidak digambarkan. Ayat ini cukup menyatakan bahwa tanda itu membuat para pendosa dikenali, dan pembaca tidak perlu mengisinya dengan gambaran dari luar teks.
Renungan dan Hikmah
- Di 2:273 orang-orang fakir dikenali dari tanda mereka, karena mereka menahan diri untuk tidak meminta. Tanda yang sama, di ayat ini, membuat dosa para pendosa terbaca tanpa perlu ditanyakan. Keadaan seseorang sering lebih jujur daripada kata-katanya. Siapa di sekitar kita yang tidak pernah meminta apa pun, tetapi keadaannya sebenarnya bisa terbaca oleh orang yang mau memperhatikan? Memperhatikan keadaan orang lain dengan cara itu termasuk cara bersyukur atas mata yang diberikan Allah.
- Hud berkata di 11:56 bahwa ia bertawakal kepada Allah, Tuhannya dan Tuhan kaumnya, karena tidak ada satu makhluk pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya. Kenyataan yang sama menenangkan Hud dan menggetarkan para pendosa di ayat ini. Bagi orang yang bersandar kepada Allah, genggaman itu berarti perlindungan. Bagi orang yang merasa bebas dari-Nya, genggaman itu baru terasa ketika ubun-ubunnya direnggut. Perbedaannya tidak terletak pada genggaman, tetapi pada sikap orang yang digenggam terhadap Tuhannya.
- Orang-orang beriman memohon agar kaki mereka diteguhkan, seperti dalam doa di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki para pendosa direnggut. Kaki yang sama bisa menjadi tempat doa dikabulkan atau tempat hukuman dijatuhkan, tergantung ke mana kaki itu dipakai melangkah selama hidup. Setiap langkah ke tempat kerja, ke pasar, atau ke rumah orang lain ikut menentukan akan menjadi apa kaki itu di hadapan Tuhannya. Doa agar kaki diteguhkan karena itu juga doa agar langkah hari ini mengarah ke tempat yang benar.
- Pengadilan manusia membutuhkan penyelidikan, saksi, dan bukti, dan tetap saja bisa keliru. Ayat ini menggambarkan pengenalan tanpa sidang: para pendosa dikenali dari tanda mereka dan langsung direnggut. Tidak ada kesempatan untuk mengarang cerita atau memutar keterangan. Orang yang pandai berkelit di hadapan manusia tidak punya tempat berkelit di hadapan Allah, karena yang diperiksa bukan lagi kata-katanya, tetapi bekas perbuatannya sendiri. Kejujuran di hadapan manusia hari ini melatih diri untuk tidak memerlukan kelihaian itu kelak.
- Urutan 55:39 dan ayat ini bergerak dari tidak ditanya ke dikenali. Banyak orang mengandalkan kesempatan untuk menjelaskan diri: ada alasan, ada keadaan yang memaksa, ada niat yang disalahpahami. Pada hari itu kesempatan menjelaskan tidak lagi diberikan, karena tandanya sudah dikenali sebelum pemiliknya sempat berbicara. Kesempatan menjelaskan diri kepada Allah masih terbuka sekarang, dalam doa dan dalam perbaikan perbuatan. Menunda penjelasan itu sama dengan menyerahkannya kepada tanda yang tidak bisa diatur.
- Ubun-ubun dan kaki disebut bersama, kepala dan ujung tubuh, sehingga seluruh diri tercakup. Pertanggungjawaban tidak berhenti pada kata-kata yang diucapkan atau niat yang disimpan. Seluruh diri ikut dihadapkan: pikiran yang merencanakan, langkah yang menjalankan, dan semua yang ada di antara keduanya. Allah menyebut dua ujung tubuh itu, dan tidak ada bagian diri yang bisa dikecualikan dari apa yang diperbuat oleh seluruhnya. Diri yang kelak dihadapkan seluruhnya adalah diri yang sama yang hari ini dipakai untuk berbuat.