Ayat 55:43
هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ
Inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa;
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذِهِ جَهَنَّمُhaadzihi jahannamuinilah Jahanam
- الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَallatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuunayang didustakan oleh para pendosa
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَٰذِهِhaadzihiini
- جَهَنَّمُjahannamuJahanam
- الَّتِيallatiiyang
- يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
- بِهَاbihaapadanya
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
Inti bacaan
Penamaan langsung konsekuensi: 'inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa', konfrontasi antara penyangkalan verbal di dunia dan realitas yang tak terbantahkan di akhirat, pengingat bahwa penolakan untuk mempercayai konsekuensi tidak menghapus keberadaannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, haadzihi jahannamu allatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa". Kata (هَٰذِهِ, haadzihi) adalah kata tunjuk untuk yang dekat, dalam bentuk feminin sesuai dengan kata Jahanam, seperti dikonfirmasi morfologi, dan tepat diterjemahkan "inilah". Dengan kata tunjuk itu, Jahanam disebut seakan-akan sudah berada di depan mata.
Kata (جَهَنَّمُ, jahannamu) dipakai di 77 ayat, antara lain 2:206, 3:12, dan 4:93, tetapi di surah ini hanya sekali, di ayat ini. Rangkaian (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ, haadzihi jahannamu) dipakai dua kali, di 36:63 dan di sini. Di 36:63 kalimatnya ditujukan langsung kepada mereka: (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ, haadzihi jahannamu llatii kuntum tuu'aduuna), "inilah Jahanam yang dahulu diancamkan kepada kalian".
Kata sambung (الَّتِي, allatii), "yang", berbentuk feminin mengikuti kata Jahanam, dan huruf bi- pada (بِهَا, bihaa), "padanya", menandai Jahanam sebagai sasaran pendustaan. Cara menandai sasaran itu sama dengan huruf bi- pada kata tanya refrain, yang di 55:21 dicatat sebagai penanda benda yang didustakan.
Morfologi mencatat kata ini sebagai nama diri, bukan kata sifat atau kata kerja. Di surah ini api disebut dengan kata (نَارٍ, naarin) di 55:15 dan 55:35, sedangkan nama Jahanam hanya dipakai di ayat ini. Sesudah ayat ini dan 55:44, surah beralih ke dua taman di 55:46, dan gambaran taman itu berlanjut sampai akhir surah.
Susunan yang paling dekat ada di 52:14: (هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, haadzihi n-naaru allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna), "inilah api yang dahulu kalian dustakan". Unsurnya sama: kata tunjuk, kata sambung "yang", huruf bi-, dan kata kerja mendustakan. Ungkapan "yang dahulu kalian dustakan" dengan kata (كُنْتُمْ, kuntum) dipakai di tujuh ayat, yaitu 23:105, 32:20, 34:42, 37:21, 52:14, 77:29, dan 83:17. Semuanya menyapa orang yang mendustakan dengan "kalian", dan semuanya menempatkan pendustaan di masa lalu.
Ayat ini berbeda dalam dua hal. Kata kerjanya, (يُكَذِّبُ, yukadzdzibu), berbentuk masa kini tanpa kuntum, dan pelakunya disebut sebagai pihak ketiga, (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa". Kalimatnya tidak berbicara kepada mereka, tetapi tentang mereka, dan pendustaan mereka disebut sebagai sesuatu yang masih berlangsung. Terjemahan menulis "yang didustakan oleh para pendosa", sehingga Jahanam tetap menjadi pokok kalimat seperti di teks Arabnya.
Tafsiran
Ayat ini mengutip penegasan langsung: inilah wujud nyata dari apa yang selama ini mereka dustakan. Sesudah para pendosa dikenali dan direnggut di 55:41, tempat tujuan mereka ditunjuk dengan kata tunjuk yang dekat. Siapa yang mengucapkan kalimat ini tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkannya.
Di 52:14 dan 36:63 kalimat serupa diucapkan kepada penghuni api dengan "kalian" dan "dahulu". Di sini kalimatnya diucapkan tentang mereka kepada pendengar surah ini, dengan kata kerja masa kini. Pendengar seperti diperlihatkan tempat itu dari samping, sementara pendustaan para pendosa masih disebut berlangsung.
Kata kerja yukadzdzibu juga menyambungkan ayat ini dengan refrain. Sejak 55:13 pendengar ditanya nikmat mana yang mereka dustakan. Di sini, untuk pertama kalinya, surah ini menyebut sesuatu yang benar-benar didustakan dan menyebut pula siapa yang mendustakannya: sasarannya Jahanam, dan pelakunya para pendosa.
Nama Jahanam hanya disebut sekali di surah ini, dan gambarannya hanya menempati dua ayat, 55:43 dan 55:44. Sesudah itu surah beralih ke dua taman bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya, dan gambaran taman itu mengisi sisa surah. Takaran ini sejalan dengan takaran dosa dan nikmat yang dicatat di 55:40.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa mendustakan Jahanam karena menganggapnya jauh, bahkan tidak ada. Ayat ini menunjuknya dengan kata tunjuk yang dekat, seperti menunjuk sesuatu di depan mata. Akibat yang ditunda biasanya terasa jauh, seperti tagihan yang jatuh tempo bertahun-tahun lagi. Kata tunjuk itu memendekkan jarak tersebut, dan pembaca diajak menimbang apakah akibat yang terasa jauh dalam hidupnya sebenarnya sudah berdiri di dekatnya, menunggu saatnya ditunjuk. Menimbangnya sekarang lebih ringan daripada bertemu dengannya kelak.
- Kata kerjanya berbentuk masa kini: para pendosa mendustakan, bukan dahulu mendustakan. Pendustaan tidak hanya berupa satu penolakan di masa lalu, tetapi kebiasaan yang terus berjalan setiap hari, dalam cara memakai waktu, harta, dan kesempatan yang diberikan Allah. Orang bisa mengaku percaya pada hari akhir sambil menjalani hari-harinya seakan-akan hari itu tidak ada, dan kata kerja masa kini ini menyentuh keadaan tersebut. Pengakuan yang tulus terlihat pada cara hidup, tidak cukup pada ucapan.
- Di 52:14 kalimat serupa diucapkan langsung kepada penghuni api, sedangkan di ayat ini kalimatnya diucapkan tentang mereka. Pendengar surah ini masih diajak bicara, sedangkan para pendosa sudah dibicarakan. Selama seseorang masih diajak bicara, ia masih bisa menjawab, membantah, atau berubah. Apakah kesempatan untuk tetap diajak bicara oleh Tuhan sudah dihargai sebagaimana mestinya? Menjawab selagi masih diajak bicara adalah cara menghargainya.
- Para pendosa mendustakan Jahanam, dan Jahanam tetap ada untuk ditunjuk. Menolak percaya pada sesuatu tidak membuatnya hilang. Dalam urusan sehari-hari hal ini mudah dipahami: utang yang tidak diakui tetap tercatat, dan penyakit yang tidak diperiksa tetap berjalan. Ayat ini menerapkan kenyataan yang sama pada akibat terbesar, yang tetap menunggu meskipun terus didustakan. Kejujuran untuk melihat akibat, betapapun tidak menyenangkan, termasuk bentuk syukur atas peringatan yang diberikan lebih dulu.
- Sejak 55:13 refrain bertanya nikmat mana yang didustakan. Di ayat ini untuk pertama kalinya disebut sesuatu yang benar-benar didustakan, dan pelakunya diberi nama. Pembaca bisa memakai ayat ini untuk memeriksa jawabannya sendiri atas pertanyaan refrain. Jawaban yang jujur hari ini lebih ringan daripada jawaban yang kelak diberikan oleh tanda-tanda perbuatan di hadapan Tuhan yang bertanya. Memeriksa jawaban itu tidak perlu menunggu hari yang digambarkan ayat ini.
- Para pendosa tidak disebut dengan nama, suku, atau kedudukan mereka. Mereka disebut menurut perbuatan mereka. Di dunia, orang dikenal lewat gelar dan jabatan, dan gelar itu sering menutupi apa yang diperbuatnya. Pada hari yang digambarkan ayat ini, sebutan seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri di hadapan Allah, dan sebutan itu dibentuk sedikit demi sedikit oleh pilihan yang dibuat setiap hari. Nama yang kelak disandang ditulis oleh tangan sendiri, sedikit demi sedikit, sejak hari ini.
Ayat 55:44
يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ
mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَطُوفُونَ بَيْنَهَاyathuufuuna baynahaamereka berkeliling di antaranya
- وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍwa-bayna hamiimin aanindan air mendidih yang sangat panas
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَطُوفُونَyathuufuunamereka berkeliling
- بَيْنَهَاbaynahaadi antaranya
- وَبَيْنَwa-baynadan antara
- حَمِيمٍhamiiminair mendidih
- آنٍaaninyang sangat panas
Inti bacaan
Detail siksaan yang spesifik: 'mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas', gambaran konkret yang berfungsi sebagai peringatan serius, bukan abstraksi kosong yang mudah diabaikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ, yathuufuuna baynahaa wa-bayna hamiimin aanin), "mereka berkeliling di antaranya dan air mendidih yang sangat panas". Akhiran pada (بَيْنَهَا, baynahaa), "di antaranya", kembali kepada Jahanam di 55:43, sehingga kedua ayat ini tersambung dalam satu gambaran, dan pelaku (يَطُوفُونَ, yathuufuuna), "mereka berkeliling", adalah para pendosa yang baru disebut.
Kata kerja itu berasal dari akar ط-و-ف. Dalam bentuk ini akar tersebut dipakai di delapan ayat, dan enam di antaranya menggambarkan surga, ketika sesuatu diedarkan kepada penghuninya atau orang lain berkeliling melayani mereka: (يُطَافُ عَلَيْهِمْ, yuthaafu 'alayhim), "diedarkan kepada mereka", di 37:45, 43:71, dan 76:15, serta (وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ, wa-yathuufu 'alayhim), "dan berkeliling melayani mereka", di 52:24 dan 76:19, juga 56:17. Ayat 68:19 memakainya untuk bencana yang menyambangi sebuah kebun, (فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ, fa-thaafa 'alayhaa thaa'ifun), dan ayat ini menjadi yang kedelapan.
Di ayat-ayat surga, penghuninya dilayani, karena orang lain berkeliling di sekitar mereka membawa gelas dan piring. Di ayat ini arahnya terbalik. Para pendosa sendiri yang berkeliling, bolak-balik di antara dua tempat, dan tidak ada yang dibawakan kepada mereka.
Kata (بَيْنَهَا, baynahaa) dan (وَبَيْنَ, wa-bayna), "di antara", mengingatkan pada 55:20, ketika surah ini menyebut pembatas (بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ, baynahumaa barzakhun), "di antara keduanya ada pembatas". Di 55:20 batas yang dijaga berada di antara dua laut, dan batas itu termasuk nikmat yang ditanyakan. Di ayat ini para pendosa sendiri berada di antara api dan air mendidih, tanpa batas yang melindungi mereka.
Bentuk lain dari akar yang sama dipakai untuk tawaf, (وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, wa-l-yaththawwafuu bi-l-bayti l-'atiiqi), "dan melakukan tawaf di sekeliling Rumah Purba itu" (22:29), dan untuk bertawaf di antara Safa dan Marwah di 2:158. Teks tidak menghubungkan ayat ini dengan tawaf, dan penjelasan ini sekadar mencatat bahwa akarnya sama.
Kata (حَمِيمٍ, hamiimin), "air mendidih", dipakai di 19 ayat, antara lain 6:70, 10:4, dan 22:19. Di lima di antaranya kata yang sama berarti teman karib, yaitu di 26:101, 40:18, 41:34, 69:35, dan 70:10, misalnya (وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ, wa-laa shadiiqin hamiimin), "dan tidak pula teman yang akrab" (26:101). Kata (آنٍ, aanin), "yang sangat panas", hanya dipakai di ayat ini, sedangkan akarnya muncul lagi di 88:5, (مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ, min 'aynin aaniyatin), "dari mata air yang mendidih".
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan siksaan berulang: berkeliling antara neraka dan air mendidih. Kalimatnya menyambung 55:43, sehingga Jahanam yang ditunjuk dengan "inilah" langsung digambarkan dari dalam. Para pendosa bergerak di antara api dan air yang mendidih, tanpa tempat untuk berhenti.
Akar kata kerjanya di tempat lain hampir selalu dipakai untuk surga, ketika hidangan diedarkan kepada penghuninya. Di sini akar yang sama menggambarkan gerak orang yang tidak dilayani siapa pun. Perbandingan itu tidak dibuat ayat ini secara langsung, tetapi terlihat bila kata kerja yang sama dibaca di kedua tempat.
Kata hamiimin juga dipakai untuk teman karib, dan di 69:35 dinyatakan bahwa pada hari itu (فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ, fa-laysa lahu l-yawma haahunaa hamiimun), "tidak ada baginya di sini seorang teman setia". Di ayat ini, hamiimin di dekat para pendosa berupa air yang mendidih. Kedua makna itu tidak dihubungkan di ayat ini, tetapi kata yang sama menunjuk dua hal yang sama-sama hilang dari mereka: teman yang menolong dan air yang menyejukkan.
Ayat ini tidak menyebut berapa lama perputaran itu berlangsung. Refrain sesudahnya, 55:45, kembali bertanya tentang nikmat, dan dengan itu gambaran Jahanam di surah ini selesai sebelum surah beralih ke dua taman.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa berkeliling di antara dua tempat, dan tidak satu pun dari keduanya memberi tempat untuk berhenti. Gambaran ini menyentuh sesuatu yang juga dikenal dalam hidup: berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain, dari satu keinginan ke keinginan lain, tanpa pernah sampai. Allah memperlihatkan ujung dari gerak tanpa tujuan itu, dan pembaca bisa bertanya ke mana sebenarnya langkah-langkahnya sehari-hari sedang menuju. Tujuan yang jelas membuat langkah yang sama terasa berbeda.
- Kata kerja yang sama menggambarkan dua keadaan akhir. Di surga, hidangan diedarkan dan pelayan berkeliling di sekitar penghuninya. Di ayat ini, para pendosa sendiri yang berkeliling tanpa dilayani. Di dunia, kedudukan orang sering terbalik dari itu: sebagian dilayani, sebagian melayani. Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa kedudukan di akhirat tidak mengikuti kedudukan di dunia, tetapi mengikuti apa yang diperbuat di hadapan Allah. Melayani orang lain hari ini dengan tulus tidak merendahkan kedudukan siapa pun di hadapan-Nya.
- Kata hamiim juga berarti teman karib, dan di 69:35 dikatakan bahwa pada hari itu tidak ada teman setia bagi orang yang celaka. Teman dipilih dan dikumpulkan selama hidup: teman yang mengajak berbuat baik, dan teman yang mengajak lalai. Teman seperti apa yang sedang dikumpulkan sekarang, dan apakah kehadiran mereka akan menolong ketika setiap orang berdiri di hadapan Tuhannya? Memilih teman karena itu termasuk menyiapkan hari itu.
- Di surah 76, gelas-gelas perak diedarkan kepada orang-orang yang dulu memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan demi wajah Allah (76:8-9 dan 76:15). Orang yang di dunia memberi makan orang lain kelak dilayani. Ayat ini memperlihatkan keadaan sebaliknya: tidak ada yang diedarkan kepada para pendosa. Memberi hari ini, bahkan sepiring nasi untuk tetangga yang kekurangan, termasuk dalam hitungan yang akan menentukan keadaan itu. Hidangan kecil yang diberikan dengan ikhlas tidak pernah kecil di hadapan Allah.
- Akar kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk tawaf di sekeliling Rumah Purba. Ayat ini tidak menghubungkan keduanya, tetapi perbandingan itu bisa direnungkan. Gerak berkeliling yang sama bisa menjadi ibadah atau siksaan, tergantung pusatnya. Hidup yang berputar mengelilingi Allah punya arah dan tempat kembali. Hidup yang berputar mengelilingi keinginan sendiri bisa berakhir bolak-balik di antara dua hal yang sama-sama menyakitkan. Pertanyaannya sederhana: apa yang selama ini menjadi pusat perputaran hari-hari kita?
- Sepanjang surah ini air hadir sebagai nikmat: dua laut yang bertemu tanpa bercampur, mutiara dan marjan yang keluar dari keduanya, dan kapal-kapal yang berlayar di atasnya. Di ayat ini air muncul lagi dalam keadaan mendidih. Pemberian yang sama bisa berubah menjadi hukuman bagi orang yang sepanjang hidupnya mendustakannya. Air yang hari ini diminum dengan tenang termasuk nikmat Tuhan yang ditanyakan refrain berulang kali. Meminumnya dengan sadar akan Pemberinya adalah jawaban kecil atas pertanyaan itu.