هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ
Inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa;
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذِهِ جَهَنَّمُhaadzihi jahannamuinilah Jahanam
- الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَallatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuunayang didustakan oleh para pendosa
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَٰذِهِhaadzihiini
- جَهَنَّمُjahannamuJahanam
- الَّتِيallatiiyang
- يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
- بِهَاbihaapadanya
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
Inti bacaan
Penamaan langsung konsekuensi: 'inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa', konfrontasi antara penyangkalan verbal di dunia dan realitas yang tak terbantahkan di akhirat, pengingat bahwa penolakan untuk mempercayai konsekuensi tidak menghapus keberadaannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, haadzihi jahannamu allatii yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "inilah Jahanam yang didustakan oleh para pendosa". Kata (هَٰذِهِ, haadzihi) adalah kata tunjuk untuk yang dekat, dalam bentuk feminin sesuai dengan kata Jahanam, seperti dikonfirmasi morfologi, dan tepat diterjemahkan "inilah". Dengan kata tunjuk itu, Jahanam disebut seakan-akan sudah berada di depan mata.
Kata (جَهَنَّمُ, jahannamu) dipakai di 77 ayat, antara lain 2:206, 3:12, dan 4:93, tetapi di surah ini hanya sekali, di ayat ini. Rangkaian (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ, haadzihi jahannamu) dipakai dua kali, di 36:63 dan di sini. Di 36:63 kalimatnya ditujukan langsung kepada mereka: (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ, haadzihi jahannamu llatii kuntum tuu'aduuna), "inilah Jahanam yang dahulu diancamkan kepada kalian".
Kata sambung (الَّتِي, allatii), "yang", berbentuk feminin mengikuti kata Jahanam, dan huruf bi- pada (بِهَا, bihaa), "padanya", menandai Jahanam sebagai sasaran pendustaan. Cara menandai sasaran itu sama dengan huruf bi- pada kata tanya refrain, yang di 55:21 dicatat sebagai penanda benda yang didustakan.
Morfologi mencatat kata ini sebagai nama diri, bukan kata sifat atau kata kerja. Di surah ini api disebut dengan kata (نَارٍ, naarin) di 55:15 dan 55:35, sedangkan nama Jahanam hanya dipakai di ayat ini. Sesudah ayat ini dan 55:44, surah beralih ke dua taman di 55:46, dan gambaran taman itu berlanjut sampai akhir surah.
Susunan yang paling dekat ada di 52:14: (هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, haadzihi n-naaru allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna), "inilah api yang dahulu kalian dustakan". Unsurnya sama: kata tunjuk, kata sambung "yang", huruf bi-, dan kata kerja mendustakan. Ungkapan "yang dahulu kalian dustakan" dengan kata (كُنْتُمْ, kuntum) dipakai di tujuh ayat, yaitu 23:105, 32:20, 34:42, 37:21, 52:14, 77:29, dan 83:17. Semuanya menyapa orang yang mendustakan dengan "kalian", dan semuanya menempatkan pendustaan di masa lalu.
Ayat ini berbeda dalam dua hal. Kata kerjanya, (يُكَذِّبُ, yukadzdzibu), berbentuk masa kini tanpa kuntum, dan pelakunya disebut sebagai pihak ketiga, (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa". Kalimatnya tidak berbicara kepada mereka, tetapi tentang mereka, dan pendustaan mereka disebut sebagai sesuatu yang masih berlangsung. Terjemahan menulis "yang didustakan oleh para pendosa", sehingga Jahanam tetap menjadi pokok kalimat seperti di teks Arabnya.
Tafsiran
Ayat ini mengutip penegasan langsung: inilah wujud nyata dari apa yang selama ini mereka dustakan. Sesudah para pendosa dikenali dan direnggut di 55:41, tempat tujuan mereka ditunjuk dengan kata tunjuk yang dekat. Siapa yang mengucapkan kalimat ini tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkannya.
Di 52:14 dan 36:63 kalimat serupa diucapkan kepada penghuni api dengan "kalian" dan "dahulu". Di sini kalimatnya diucapkan tentang mereka kepada pendengar surah ini, dengan kata kerja masa kini. Pendengar seperti diperlihatkan tempat itu dari samping, sementara pendustaan para pendosa masih disebut berlangsung.
Kata kerja yukadzdzibu juga menyambungkan ayat ini dengan refrain. Sejak 55:13 pendengar ditanya nikmat mana yang mereka dustakan. Di sini, untuk pertama kalinya, surah ini menyebut sesuatu yang benar-benar didustakan dan menyebut pula siapa yang mendustakannya: sasarannya Jahanam, dan pelakunya para pendosa.
Nama Jahanam hanya disebut sekali di surah ini, dan gambarannya hanya menempati dua ayat, 55:43 dan 55:44. Sesudah itu surah beralih ke dua taman bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya, dan gambaran taman itu mengisi sisa surah. Takaran ini sejalan dengan takaran dosa dan nikmat yang dicatat di 55:40.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa mendustakan Jahanam karena menganggapnya jauh, bahkan tidak ada. Ayat ini menunjuknya dengan kata tunjuk yang dekat, seperti menunjuk sesuatu di depan mata. Akibat yang ditunda biasanya terasa jauh, seperti tagihan yang jatuh tempo bertahun-tahun lagi. Kata tunjuk itu memendekkan jarak tersebut, dan pembaca diajak menimbang apakah akibat yang terasa jauh dalam hidupnya sebenarnya sudah berdiri di dekatnya, menunggu saatnya ditunjuk. Menimbangnya sekarang lebih ringan daripada bertemu dengannya kelak.
- Kata kerjanya berbentuk masa kini: para pendosa mendustakan, bukan dahulu mendustakan. Pendustaan tidak hanya berupa satu penolakan di masa lalu, tetapi kebiasaan yang terus berjalan setiap hari, dalam cara memakai waktu, harta, dan kesempatan yang diberikan Allah. Orang bisa mengaku percaya pada hari akhir sambil menjalani hari-harinya seakan-akan hari itu tidak ada, dan kata kerja masa kini ini menyentuh keadaan tersebut. Pengakuan yang tulus terlihat pada cara hidup, tidak cukup pada ucapan.
- Di 52:14 kalimat serupa diucapkan langsung kepada penghuni api, sedangkan di ayat ini kalimatnya diucapkan tentang mereka. Pendengar surah ini masih diajak bicara, sedangkan para pendosa sudah dibicarakan. Selama seseorang masih diajak bicara, ia masih bisa menjawab, membantah, atau berubah. Apakah kesempatan untuk tetap diajak bicara oleh Tuhan sudah dihargai sebagaimana mestinya? Menjawab selagi masih diajak bicara adalah cara menghargainya.
- Para pendosa mendustakan Jahanam, dan Jahanam tetap ada untuk ditunjuk. Menolak percaya pada sesuatu tidak membuatnya hilang. Dalam urusan sehari-hari hal ini mudah dipahami: utang yang tidak diakui tetap tercatat, dan penyakit yang tidak diperiksa tetap berjalan. Ayat ini menerapkan kenyataan yang sama pada akibat terbesar, yang tetap menunggu meskipun terus didustakan. Kejujuran untuk melihat akibat, betapapun tidak menyenangkan, termasuk bentuk syukur atas peringatan yang diberikan lebih dulu.
- Sejak 55:13 refrain bertanya nikmat mana yang didustakan. Di ayat ini untuk pertama kalinya disebut sesuatu yang benar-benar didustakan, dan pelakunya diberi nama. Pembaca bisa memakai ayat ini untuk memeriksa jawabannya sendiri atas pertanyaan refrain. Jawaban yang jujur hari ini lebih ringan daripada jawaban yang kelak diberikan oleh tanda-tanda perbuatan di hadapan Tuhan yang bertanya. Memeriksa jawaban itu tidak perlu menunggu hari yang digambarkan ayat ini.
- Para pendosa tidak disebut dengan nama, suku, atau kedudukan mereka. Mereka disebut menurut perbuatan mereka. Di dunia, orang dikenal lewat gelar dan jabatan, dan gelar itu sering menutupi apa yang diperbuatnya. Pada hari yang digambarkan ayat ini, sebutan seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri di hadapan Allah, dan sebutan itu dibentuk sedikit demi sedikit oleh pilihan yang dibuat setiap hari. Nama yang kelak disandang ditulis oleh tangan sendiri, sedikit demi sedikit, sejak hari ini.