وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, ada dua taman,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِwa-li-man khaafa maqaama rabbihidan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya
  2. جَنَّتَانِjannataaniada dua taman

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلِمَنْwa-li-mandan bagi siapa
  2. خَافَkhaafatakut
  3. مَقَامَmaqaamakedudukan
  4. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  5. جَنَّتَانِjannataanidua taman

Inti bacaan

Pergeseran ke gambaran positif: 'bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, ada dua taman', kewaspadaan diberi imbalan yang langsung dilukiskan wujudnya, sehingga rasa gentar itu tidak dibiarkan menjadi beban semata.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ, wa-li-man khaafa maqaama rabbihi jannataani), "dan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, ada dua taman". Kalimatnya dibuka dengan penerima, (لِمَنْ, li-man), "bagi siapa", dan ditutup dengan pemberiannya, (جَنَّتَانِ, jannataani), "dua taman". Kata (مَنْ, man), "siapa", diikuti kata kerja tunggal (خَافَ, khaafa), "takut", dan kata ganti tunggal pada (رَبِّهِ, rabbihi), "Tuhannya". Dua taman itu dijanjikan kepada setiap orang yang takut, satu per satu.

Kata kerja khaafa berasal dari akar خ-و-ف, akar rasa takut, yang dipakai lebih dari seratus kali di Al-Qur'an. Susunan lengkap "takut akan kedudukan Tuhannya" dipakai lagi di 79:40, (وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-ammaa man khaafa maqaama rabbihi wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaa), "dan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa". Ayat sesudahnya menyebut balasannya, (فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ, fa-inna l-jannata hiya l-ma'waa), "maka sesungguhnya taman itulah tempat kembalinya". Di sana rasa takut itu disandingkan dengan menahan diri. Di 14:14 Allah berbicara tentang diri-Nya sendiri: (لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ, li-man khaafa maqaamii wa-khaafa wa'iidi), "bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut akan ancaman-Ku".

Kata (مَقَامَ, maqaama) berasal dari akar ق-و-م, akar berdiri, dan menunjuk tempat seseorang berdiri atau kedudukannya. Kata ini dipakai di empat belas ayat. Di 2:125 kata itu menunjuk tempat berdiri Ibrahim, (مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ, maqaami ibraahiima), dan di 44:51 tempat orang-orang yang bertakwa, (فِي مَقَامٍ أَمِينٍ, fii maqaamin amiinin), "di tempat yang aman". Di 10:71 Nuh memakainya untuk keberadaannya sendiri di tengah kaumnya, yang terasa berat bagi mereka. Di ayat ini kata itu disandarkan kepada rabbihi, sehingga kedudukan itu milik Tuhan, sejalan dengan (مَقَامِي, maqaamii), "kedudukan-Ku", di 14:14. Terjemahan memakai "kedudukan" karena kata itu mencakup tempat dan martabat sekaligus.

Kata jannataani adalah bentuk dual dari kata yang di ayat lain diterjemahkan "taman", seperti (الْجَنَّةَ, l-jannata) di 79:41. Bentuk dual kata ini dipakai di tujuh ayat. Empat di antaranya menyebut dua kebun milik manusia di dunia, yaitu kebun salah seorang dari dua laki-laki dalam perumpamaan di 18:32 dan 18:33, dan kebun kaum Saba' di 34:15 dan 34:16. Kedua pasang kebun itu berakhir rusak: di 18:42 buahnya dibinasakan, dan di 34:16 kebun Saba' diganti dengan dua kebun yang berbuah pahit. Tiga ayat lainnya ada di surah ini, yaitu 55:46, 55:54, dan 55:62, dan ketiganya menyebut taman sebagai balasan. Terjemahan memakai "kebun" untuk kedua pasang kebun di dunia dan "taman" untuk dua taman di sini.

Tafsiran

Ayat ini membalik adegan dari siksaan neraka ke kenikmatan bagi mereka yang takut kepada Allah. Untuk pertama kalinya di surah ini, sebuah pemberian dikaitkan dengan syarat. Buah-buahan, biji-bijian, laut, dan kapal di bagian awal surah diberikan kepada semua yang disapa, sedangkan dua taman ini disediakan bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya. Pemberian itu tetap datang dari Tuhan yang sama, tetapi kali ini penerimanya ditentukan oleh sikapnya kepada Tuhan itu.

Syarat itu berupa keadaan batin, tidak berupa daftar perbuatan. Di 79:40 rasa takut yang sama disandingkan dengan menahan diri dari hawa, sehingga rasa takut itu mencegah seseorang mengikuti keinginannya. Para pendosa di 55:41 baru berhadapan dengan akibat perbuatan mereka ketika sudah dikenali dari tanda mereka. Orang yang takut akan kedudukan Tuhannya menyadari kedudukan itu lebih dulu, sebelum hari tersebut datang.

Para pendosa di 55:41 sampai 55:44 disebut dalam bentuk jamak, sebagai satu kelompok. Penerima dua taman disebut dengan kata tunggal, (مَنْ, man), siapa pun orangnya. Rasa takut itu milik orang per orang, dan balasannya pun diterima orang per orang. Ayat-ayat berikutnya tidak menjelaskan mengapa tamannya dua, tetapi merinci isinya satu per satu, dimulai dari dahan-dahannya di 55:48.

Renungan dan Hikmah

  • Rasa takut biasanya dianggap sesuatu yang perlu dihilangkan. Ayat ini menyebut satu jenis rasa takut yang dibalas dengan dua taman, yaitu takut akan kedudukan Tuhan. Takut semacam ini tidak membuat orang lari atau lumpuh. Di 79:40 rasa takut itu disandingkan dengan menahan diri dari hawa, sehingga bentuknya terlihat dalam keputusan sehari-hari: kesempatan curang yang tidak diambil, kata kasar yang tidak jadi diucapkan, karena seseorang ingat di hadapan siapa dirinya berdiri.
  • Janji ini diberikan kepada "siapa", sebuah kata tunggal. Seseorang tidak bisa menumpang pada rasa takut orang lain, dan tidak pula kehilangan janji ini karena kelompoknya lalai. Di hadapan Tuhannya, setiap orang dinilai dari keadaan batinnya sendiri. Bagi orang yang selama ini merasa aman karena berada di tengah lingkungan yang baik, pertanyaannya menjadi lebih pribadi: apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya ketika tidak ada orang lain yang melihat?
  • Sampai ayat ini, pemberian yang disebut surah ini, dari matahari sampai mutiara, diterima oleh semua yang disapa tanpa syarat. Dua taman adalah pemberian pertama yang dikaitkan dengan keadaan penerimanya. Susunan itu dekat dengan pengalaman banyak orang. Sebagian besar yang dimiliki seseorang datang tanpa diminta, sementara sebagian lain baru sampai kalau orangnya bersedia berubah. Kemurahan Allah terlihat di kedua jenis pemberian itu, dan pemberian yang bersyarat pun tetap disebut di antara nikmat yang ditanyakan.
  • Dalam ayat ini rasa takut tertuju kepada kedudukan Tuhan, tidak kepada hukuman-Nya. Takut kepada hukuman bisa hilang ketika seseorang merasa tidak akan ketahuan. Takut akan kedudukan Tuhan tidak bergantung pada ada atau tidaknya saksi, karena kedudukan itu tetap ada di mana pun seseorang berada. Rasa takut seperti ini bisa lebih dekat dengan rasa segan daripada dengan rasa ngeri, dan rasa itu tumbuh dari mengenal Dia.
  • Janji dua taman datang langsung sesudah gambaran Jahanam. Orang yang baru membaca tentang api dan air mendidih wajar bila merasa takut. Ayat ini memperlihatkan bahwa rasa takut itu tidak harus berhenti sebagai kecemasan. Rasa takut yang diarahkan kepada kedudukan Tuhan dapat menjadi awal jalan menuju taman. Sesudah membaca ayat-ayat tentang api, seseorang bisa bertanya kepada dirinya: apakah rasa takut itu membuatnya putus asa, atau membuatnya lebih jujur kepada Allah?
  • Al-Qur'an menyebut dua pasang kebun lain yang berakhir rusak. Pemilik kebun di 18:35 berkata, "Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya", dan kaum Saba' di 34:16 berpaling, lalu kebun mereka diganti. Dua taman di ayat ini dijanjikan kepada orang yang tidak merasa aman dengan dirinya sendiri karena takut akan kedudukan Tuhannya. Perbandingan ini membalik anggapan umum bahwa rasa aman adalah tanda keberuntungan. Dalam kedua kisah itu, rasa aman yang membuat orang lupa diri datang tepat sebelum kehilangan.