فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein keenam belas setelah janji dua taman: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kini kembali ke nada anugerah, menegaskan bahwa ganjaran bagi yang takut kepada Tuhan juga termasuk nikmat yang harus disyukuri, bukan dianggap hak otomatis.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan keenam belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan dan kata-katanya ada di 55:13 sampai 55:45. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: letak kemunculan ini di tengah deretan refrain, dan letaknya di tengah sebuah kalimat.

Refrain ini muncul tiga puluh satu kali, dan kemunculan ini yang keenam belas. Lima belas kemunculan datang sebelumnya, dari 55:13 sampai 55:45, dan lima belas sesudahnya, dari 55:49 sampai 55:77. Kemunculan di tengah deretan itu jatuh tepat sesudah surah berpindah dari gambaran Jahanam ke janji dua taman. Kelima belas kemunculan sebelumnya menyertai penciptaan, pemberian di bumi dan laut, kebinasaan segala sesuatu, hari perhitungan, dan api. Kelima belas kemunculan sesudahnya semuanya berada di bagian tentang dua pasang taman dan penghuninya.

Ayat sebelumnya, 55:46, ditutup dengan (جَنَّتَانِ, jannataani), "dua taman", dan ayat sesudahnya, 55:48, berbunyi (ذَوَاتَا أَفْنَانٍ, dzawaataa afnaanin), "keduanya mempunyai dahan-dahan yang bercabang". Kata (ذَوَاتَا, dzawaataa) berbentuk dual dan berbentuk perempuan, selaras dengan jannataani, sehingga kata itu menerangkan kedua taman tadi. Ayat 55:48 tidak punya kata kerja dan tidak punya pokok kalimat sendiri. Ayat itu melanjutkan 55:46, dan refrain ini berdiri di antara sebuah kata benda dan keterangannya.

Keadaan seperti ini pernah terjadi di 55:38, ketika refrain disisipkan di antara syarat di 55:37 dan akibatnya di 55:39. Di sana refrain memotong kalimat bersyarat, sedangkan di sini refrain memotong sebuah gambaran: taman sudah disebut, tetapi keterangannya belum. Terjemahan menandainya dengan cara yang sama seperti di 55:38. Ayat 55:46 diakhiri koma, "ada dua taman,", ayat 55:48 dibuka dengan "Keduanya", yang menunjuk kembali ke kedua taman itu, dan refrain di antaranya diakhiri tanda tanya.

Kata (رَبِّهِ, rabbihi), "Tuhannya", di 55:46 menunjuk Tuhan orang yang takut. Refrain ini langsung menyebut rabbikumaa, "Tuhan kalian berdua". Pergantian kata ganti pada kata yang sama sudah dicatat di 55:28, sesudah (رَبِّكَ, rabbika) di 55:27. Di sini pergantiannya dari pihak yang dibicarakan, yaitu orang yang dijanjikan taman, ke dua pihak yang diajak bicara, yaitu jin dan manusia yang mendengar janji itu.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah penyebutan dua taman. Ketika pertanyaan ini datang, janji itu belum dirinci. Pendengar baru tahu bahwa ada dua taman bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya, belum tahu dahan, mata air, dan buahnya, tetapi sudah ditanya nikmat mana yang mereka dustakan.

Pertanyaan ini diajukan kepada jin dan manusia seluruhnya, termasuk mereka yang belum takut. Janji di 55:46 bersyarat, tetapi kabar tentang janji itu sampai kepada semua yang disapa. Dibaca dengan susunan ini, kabar itu sendiri ikut menjadi pemberian yang ditanyakan, karena jalan menuju dua taman diberitahukan kepada setiap pendengar, termasuk yang belum menempuhnya. Orang yang mendengar kabar itu dan belum takut akan kedudukan Tuhannya masih bisa memulainya, dan pertanyaan ini diajukan kepadanya selagi hal itu masih mungkin.

Sebagai kemunculan keenam belas dari tiga puluh satu, refrain ini menjadi titik tengah deretannya. Separuh pertama menyertai pemberian di dunia dan peringatan tentang hari perhitungan, dan separuh kedua menyertai gambaran balasan. Kalimat refrain tidak berubah di kedua separuh itu, sehingga pemberian di dunia dan balasan di akhirat ditanyakan dengan pertanyaan yang sama. Sesudah titik tengah ini, setiap pertanyaan datang dari dalam gambaran taman.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan tentang nikmat datang ketika janji dua taman baru disebut, belum digambarkan isinya. Orang biasanya baru berterima kasih setelah melihat hadiahnya dengan jelas. Di sini pendengar ditanya lebih dulu, sebelum dahan, mata air, dan buahnya disebut. Kabar bahwa Tuhan menyediakan sesuatu bagi orang yang takut kepada-Nya sudah cukup untuk dipertanyakan. Apakah seseorang bisa bersyukur atas janji yang isinya belum terlihat, semata karena percaya kepada Pemberi janji itu?
  • Janji di ayat sebelumnya bersyarat, tetapi pertanyaan di ayat ini diajukan kepada semua yang mendengar. Orang yang belum memenuhi syaratnya pun ikut ditanya. Susunan itu memberi harapan kepada siapa saja yang merasa jauh, karena kabar tentang dua taman tidak disembunyikan dari mereka. Jalan menuju taman diperlihatkan kepada setiap pendengar. Bagi pembaca, pertanyaan ini bisa menjadi ajakan untuk mulai takut akan kedudukan Tuhannya selagi kabar itu masih sampai kepadanya.
  • Di titik tengah deretan tiga puluh satu pertanyaan, surah ini berpindah dari api ke taman. Pembaca yang menempuh surah ini dari awal sudah melewati lima belas pertanyaan sebelum sampai di sini, dan masih ada lima belas lagi di depan. Pertanyaan yang sama terus diulang, dan pembaca bisa saja merasa sudah tahu jawabannya. Kesediaan mendengar pertanyaan yang sama tanpa merasa bosan, dan tetap menjawabnya dengan sungguh-sungguh, mungkin termasuk yang dilatih surah ini dalam diri orang yang mengenal nikmat Allah.
  • Refrain ini memotong gambaran taman di tengah jalan: taman sudah disebut, keterangannya belum. Pembaca yang ingin segera tahu seperti apa taman itu harus berhenti dulu pada sebuah pertanyaan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang jarang berhenti untuk bersyukur ketika sedang menikmati sesuatu. Rasa terima kasih biasanya datang sesudahnya, atau tidak datang sama sekali. Letak refrain ini memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang nikmat Tuhan bisa diajukan di tengah pengalaman itu sendiri, tanpa menunggu semuanya selesai.
  • Dalam dua ayat berturut-turut, Tuhan yang sama disebut dengan dua kata ganti: "Tuhannya" bagi orang yang takut, dan "Tuhan kalian berdua" bagi jin dan manusia yang mendengar. Orang yang takut dan orang yang baru mendengar kabar tentangnya berada di bawah Tuhan yang sama. Tidak ada Tuhan khusus bagi orang saleh dan Tuhan lain bagi orang yang lalai. Pembaca yang merasa jauh dari golongan orang yang takut tetap disapa oleh Tuhan yang sama, dan tetap ditanya tentang nikmat-Nya.
  • Pertanyaan yang sama dipakai untuk matahari, untuk api, dan kini untuk taman. Kesamaan itu memperlihatkan bahwa balasan di akhirat tidak dipisahkan dari pemberian di dunia. Keduanya datang dari Dia, dan keduanya ditanyakan dengan kalimat yang sama. Orang yang terbiasa mengakui nikmat kecil dalam hidupnya sehari-hari, seperti air minum, tidur yang cukup, atau teman yang jujur, sedang belajar mengenali Pemberi yang sama dengan Pemberi dua taman itu.