فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ

Di dalam keduanya ada dua mata air yang mengalir.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِfiihimaa 'aynaani tajriyaanidi dalam keduanya ada dua mata air yang mengalir

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيهِمَاfiihimaapada keduanya
  2. عَيْنَانِ'aynaanidua mata air
  3. تَجْرِيَانِtajriyaanikeduanya mengalir

Inti bacaan

Detail konkret pertama: 'di dalam keduanya ada dua mata air yang mengalir', kehadiran air mengalir sebagai elemen kenyamanan mendasar, simbol kehidupan dan kesegaran yang tak pernah kering.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ, fiihimaa 'aynaani tajriyaani), "di dalam keduanya ada dua mata air yang mengalir". Ketiga katanya berbentuk dual. Kata ganti -himaa pada (فِيهِمَا, fiihimaa) menunjuk dua taman di 55:46, (عَيْنَانِ, 'aynaani) berarti dua mata air, dan kata kerja (تَجْرِيَانِ, tajriyaani) berakhiran dual karena pelakunya kedua mata air itu.

Kata 'aynaani berasal dari 'ayn, kata yang dalam Al-Qur'an dipakai untuk mata yang melihat dan untuk mata air. Di 90:8 bentuk dualnya berarti mata: (أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ, a-lam naj'al lahu 'aynayni), "bukankah Kami telah menjadikan baginya sepasang mata". Bahasa Indonesia kebetulan menyimpan gambaran yang sama dalam kata "mata air", sehingga terjemahan tidak perlu menambahkan apa pun. Kata "dua" dalam terjemahan datang dari bentuk dual itu, tanpa kata bilangan terpisah dalam teks Arabnya. Untuk mata air, bentuk dual kata ini dipakai di dua ayat, ayat ini dan 55:66. Di ayat-ayat lain mata air disebut satu per satu, seperti di 88:12, atau dengan bentuk jamak (عُيُونٍ, 'uyuunin), seperti di 15:45.

Kata kerja tajriyaani berasal dari akar ج-ر-ي, "mengalir" atau "berjalan". Kata kerja ini dipakai di 57 ayat. Di 40 di antaranya pelakunya sungai-sungai, hampir selalu dalam rumus "mengalir di bawahnya sungai-sungai", seperti (تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ, tajrii min tahtihaa l-anhaaru) di 2:25. Di ayat-ayat lain pelakunya kapal, matahari dan bulan, atau angin, dan mata air menjadi pelakunya di ayat ini saja. Bentuk masa kini pada tajriyaani menggambarkan air yang sedang mengalir ketika disebut, sama dengan bentuk kata kerja dalam rumus sungai-sungai tadi. Mata air yang mengalir disebut lagi di 88:12 dengan bentuk kata sifat: (عَيْنٌ جَارِيَةٌ, 'aynun jaariyatun), "mata air yang mengalir".

Di surah ini akar ج-ر-ي dipakai dua kali. Pertama di 55:24 untuk (الْجَوَارِ, l-jawaari), kapal-kapal yang berlayar di laut, dan kedua di ayat ini. Di 55:24 kata itu berarti "yang berlayar" dan dipakai sebagai sebutan untuk kapal, seperti dicatat di sana. Di sana kapal yang dibuat bergerak di atas air, sedangkan di ayat ini airnya sendiri yang mengalir.

Pasangan taman kedua juga mempunyai dua mata air, di 55:66, dengan sifat yang lain: (نَضَّاخَتَانِ, nadhdhaakhataani), "memancar deras". Di pasangan pertama mata airnya mengalir, di pasangan kedua memancar. Terjemahan menulis "di dalam keduanya" untuk fiihimaa, dan kata "keduanya" di sini menunjuk kedua taman, sesuai pembedaan yang dicatat di 55:49.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan rincian kedua dari dua taman. Sesudah dahan-dahan di 55:48, yang disebut sekarang air, dan air itu digambarkan sedang bergerak di dalam taman.

Taman dan mata air sering disebut berdampingan dalam Al-Qur'an. Orang-orang yang bertakwa disebut berada (فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ, fii jannaatin wa-'uyuunin), "di dalam taman-taman dan mata air", di 15:45, 44:52, dan 51:15. Pasangan kata yang sama dipakai untuk kaum yang kehilangan keduanya. Firaun dan kaumnya dikeluarkan dari taman-taman dan mata air (26:57), dan 44:25 menyebut betapa banyak taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Surah Ad-Dukhan memuat keduanya: 44:25 untuk yang ditinggalkan, 44:52 untuk yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. Dua kaum lain diingatkan oleh rasul mereka tentang kebun-kebun dan mata air yang sedang mereka nikmati (26:134, 26:147).

Dengan latar itu, dua mata air di ayat ini masuk ke dalam pasangan kata yang sudah dikenal: taman dan mata air yang bisa ditinggalkan di dunia, serta taman dan mata air yang dijanjikan bagi yang takut akan kedudukan Tuhannya. Ayat ini menambahkan jumlahnya, dua, sejalan dengan jumlah tamannya.

Urutan rinciannya juga layak dicatat. Air disebut di ayat ini, lalu buah-buahan di 55:52. Urutan yang sama ada di 2:22: Dia menurunkan air dari langit, lalu dengannya mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki. Di taman hubungan sebab itu tidak dinyatakan, dan kesamaannya terbatas pada urutan.

Renungan dan Hikmah

  • Di banyak tempat di negeri ini, air yang mengalir sendiri ke rumah belum menjadi hal yang pasti. Orang menampung air di ember dan drum ketika alirannya datang, sering pada malam hari, lalu menghematnya sampai aliran berikutnya. Bagi yang pernah hidup seperti itu, dua mata air yang mengalir di dalam taman terbaca sebagai rincian yang sangat nyata. Allah menyebut air sebagai rincian kedua dari janji-Nya, sesudah dahan-dahan, dan menyebutnya dalam keadaan sedang mengalir.
  • Kata-kata yang dipakai untuk janji ini, taman dan mata air, juga dipakai untuk milik Firaun dan kaumnya yang akhirnya mereka tinggalkan (44:25). Kebun dan sumber air yang dimiliki seseorang hari ini bisa menjadi bagian dari salah satu dari dua kisah itu. Apa yang membedakan orang yang meninggalkan taman dari orang yang diberi taman? Surah ini menjawabnya di 55:46: takut akan kedudukan Tuhannya. Jawaban itu tidak menyangkut banyak sedikitnya harta yang dimiliki sekarang.
  • Kata untuk dua mata air di ayat ini sama dengan kata untuk sepasang mata di 90:8, ketika Allah bertanya, "Bukankah Kami telah menjadikan baginya sepasang mata?" Orang yang membaca ayat ini sedang memakai pemberian yang pertama untuk membaca kabar tentang pemberian yang kedua. Mata yang dipakai membaca sehari-hari jarang dihitung sebagai nikmat sampai penglihatan mulai berkurang. Surah ini menanyakan nikmat, dan mata yang membaca pertanyaan itu termasuk di antaranya.
  • Musa memohon air untuk kaumnya di 2:60, lalu diperintahkan memukul batu dengan tongkatnya, dan dua belas mata air memancar sehingga setiap kelompok mengetahui tempat minumnya. Air di dunia datang lewat permohonan dan usaha, bahkan bagi seorang nabi. Ayat ini menyebut dua mata air yang sudah ada di dalam taman, tanpa kisah permohonan atau usaha. Orang yang hari ini masih harus bekerja keras untuk mendapat air bersih bisa membaca kedua ayat itu berdampingan, dan melihat bahwa keduanya sama-sama datang dari Allah.
  • Kapal-kapal yang dibuat, yang di 55:24 disebut milik-Nya, membawa manusia bergerak di atas air. Perjalanan di laut menuntut kerja, perhitungan, dan keberanian menghadapi gelombang. Di taman, akar kata yang sama dipakai untuk air yang mengalir sendiri, sementara penghuninya, seperti disebut di 55:54, bersandar. Kedua gambaran itu memperlihatkan dua keadaan manusia di hadapan air: berusaha menyeberanginya di dunia, dan menikmatinya di taman.
  • Orang yang makan buah jarang mengingat air yang menumbuhkannya. Al-Qur'an berulang kali menyebut keduanya berurutan, seperti di 2:22 dan 6:99: Dia menurunkan air dari langit, lalu mengeluarkan tumbuhan dan buah dengannya. Rincian taman di surah ini juga menyebut air lebih dulu, baru buah di 55:52. Urutan itu mengajak pembaca melihat buah di tangannya bersama air yang ada sebelumnya, dan bersama Dia yang menurunkan air itu.