مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ ۚ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ
Mereka bersandar di atas kasur-kasur yang bagian dalamnya dari sutra tebal; dan buah kedua taman dekat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍmuttaki'iina 'alaa furusyin bathaa'inuhaa min istabraqinmereka bersandar di atas kasur-kasur yang bagian dalamnya dari sutra tebal
- وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍwa-janaa l-jannatayni daanindan buah kedua taman dekat
Terjemahan per kata (9 kata)
- مُتَّكِئِينَmuttaki'iinabersandar
- عَلَىٰ'alaaatas
- فُرُشٍfurusyinkasur-kasur
- بَطَائِنُهَاbathaa'inuhaabagian dalamnya
- مِنْmindari
- إِسْتَبْرَقٍistabraqinsutra tebal
- وَجَنَىwa-janaadan buah
- الْجَنَّتَيْنِl-jannataynikedua taman
- دَانٍdaaninyang dekat
Inti bacaan
Kenyamanan yang mudah dijangkau: 'bersandar di atas kasur-kasur yang bagian dalamnya dari sutra tebal; dan buah kedua taman itu dekat (dapat dipetik)', penekanan pada aksesibilitas kenikmatan tanpa usaha berlebihan, kontras dengan kerja keras dan perjuangan yang menjadi ciri kehidupan dunia.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ, muttaki'iina 'alaa furusyin bathaa'inuhaa min istabraqin), "mereka bersandar di atas kasur-kasur yang bagian dalamnya dari sutra tebal", lalu (وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ, wa-janaa l-jannatayni daanin), "dan buah kedua taman dekat". Sejak 55:46, ayat ini yang pertama menyebut penghuni taman, dan yang terpanjang sejauh ini di bagian taman.
Kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki'iina), "bersandar", berasal dari akar و-ك-أ dan berbentuk jamak. Janji di 55:46 memakai bentuk tunggal, (لِمَنْ خَافَ, li-man khaafa), "bagi siapa yang takut", dengan (رَبِّهِ, rabbihi), "Tuhannya". Kata "siapa" di sana menunjuk tiap orang, dan di ayat ini orang-orang itu muncul bersama sebagai "mereka". Akar ini dipakai di sebelas ayat. Delapan di antaranya menggambarkan penghuni taman yang bersandar, termasuk 55:76 untuk pasangan taman kedua. Tiga lainnya berada di dunia: Musa bertumpu pada tongkatnya, (أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا, atawakka'u 'alayhaa), "aku bersandar padanya" (20:18); tempat bersandar yang disiapkan bagi para perempuan kota (12:31); dan dipan-dipan di rumah orang yang kufur, (عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ, 'alayhaa yattaki'uuna), "yang mereka bersandar di atasnya" (43:34).
Kata (فُرُشٍ, furusyin) bentuk jamak dari firaasy, dari akar ف-ر-ش, "menghampar". Di 2:22 bumi dijadikan (فِرَاشًا, firaasyan), "hamparan". Bentuk jamak furusy dipakai di dua ayat, ayat ini dan 56:34, (وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ, wa-furusyin marfuu'atin), "dan kasur-kasur yang ditinggikan". Terjemahan memakai "kasur-kasur" di kedua ayat itu, sedangkan kata "permadani" di surah ini dipakai untuk (عَبْقَرِيٍّ, 'abqariyyin) di 55:76.
Kata (بَطَائِنُهَا, bathaa'inuhaa), "bagian dalamnya", bentuk jamak dari bithaanah, dari akar ب-ط-ن. Bentuk tunggalnya dipakai di 3:118 untuk orang dalam, (بِطَانَةً, bithaanatan), "teman kepercayaan". Di ayat ini kata itu menunjuk lapisan dalam kasur, dan bahannya (إِسْتَبْرَقٍ, istabraqin), "sutra tebal". Bagian luarnya tidak dirinci. Kata istabraq dipakai di empat ayat. Di tiga lainnya, 18:31, 44:53, dan 76:21, sutra tebal itu dipakai sebagai pakaian, berdampingan dengan (سُنْدُسٍ, sundusin), "sutra halus". Di sini sutra tebal menjadi bagian dari tempat bersandar.
Kata (جَنَى, janaa) berasal dari akar ج-ن-ي yang berkaitan dengan memetik buah. Akar ini dipakai di dua ayat: di sini dan di 19:25, ketika pohon kurma menjatuhkan (رُطَبًا جَنِيًّا, ruthaban janiyyan), "kurma yang masak lagi segar". Bunyi janaa berdekatan dengan jannatayni, tetapi keduanya berasal dari akar yang berbeda. Kata (دَانٍ, daanin), "dekat", dari akar د-ن-و, dipakai dalam bentuk lain untuk buah taman di 69:23, (قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ, quthuufuhaa daaniyatun), "buah-buahannya dekat", dan untuk tangkai kurma di bumi di 6:99, (قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ, qinwaanun daaniyatun), "tangkai-tangkai buah yang menjuntai rendah". Akar yang sama membentuk kata sifat (الدُّنْيَا, d-dunyaa), "yang lebih dekat", sebutan untuk kehidupan sekarang, seperti di 43:35.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan untuk pertama kalinya orang-orang di dalam taman. Sejak 55:48 yang dirinci tamannya: dahan, air, dan buah. Sekarang penghuninya muncul, dan mereka pertama kali digambarkan sedang bersandar.
Keadaan itu berlawanan dengan gambaran sepuluh ayat sebelumnya. Di 55:44 para pendosa (يَطُوفُونَ, yathuufuuna), "berkeliling", di antara neraka dan air mendidih, terus bergerak di antara dua hal yang menyiksa. Di bagian taman gerak itu berpindah kepada airnya, yang mengalir di 55:50, sedangkan orangnya bersandar dengan buah di dekatnya.
Bersandar juga disebut untuk kehidupan dunia. Ayat 43:33-35 menyebut bahwa seandainya manusia tidak akan menjadi satu umat, orang yang kufur kepada Ar-Rahman sudah diberi rumah beratap perak dan dipan-dipan tempat mereka bersandar, lalu menyebut semua itu kesenangan hidup dunia, sedangkan akhirat di sisi Tuhan bagi orang-orang yang bertakwa. Sebutan Ar-Rahman di sana sama dengan nama yang membuka surah ini. Surah Ar-Rahman menempatkan sandaran yang dijanjikan di taman, bagi yang takut akan kedudukan Tuhannya.
Buah yang dekat melengkapi gambaran itu. Di 76:14 buah taman disebut (وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا, wa-dzullilat quthuufuhaa tadzliilan), "dan buah-buahnya sangat dimudahkan". Ayat ini menyebutnya dengan satu kata, dekat, sesudah orangnya digambarkan bersandar, dan penghuni taman tidak digambarkan bangkit untuk mencari buah.
Renungan dan Hikmah
- Banyak orang menjalani hari-hari yang penuh gerak: berangkat sebelum terang, pulang sesudah gelap, dan berpindah dari satu urusan ke urusan lain tanpa sempat duduk tenang. Bagi orang yang lelah, keinginan yang paling sederhana sering hanya duduk tanpa harus segera bangkit lagi. Gambaran di 55:44 memperlihatkan gerak yang tidak berhenti sebagai bagian dari siksaan. Ayat ini memperlihatkan kebalikannya: orang-orang yang bersandar, dengan buah di dekat mereka. Istirahat seperti itu disebut Allah sebagai bagian dari balasan bagi yang takut akan kedudukan-Nya.
- Di dunia, bagian yang terlihat biasanya dibuat paling bagus, sedangkan bagian dalam dibuat seadanya. Ayat ini menyebut bahan bagian dalam kasur itu, sutra tebal, dan membiarkan bagian luarnya tanpa rincian, sehingga rinciannya dimulai dari bagian yang biasanya tidak dilihat orang. Kalau bagian yang tersembunyi saja sutra tebal, seperti apa bagian yang terlihat? Pertanyaan itu tidak dijawab di ayat ini, dan pembaca dibiarkan membayangkannya dengan hormat pada batas yang ditetapkan Tuhannya.
- Orang yang beriman kadang melihat orang yang mengingkari Tuhan hidup mewah, duduk bersandar di rumah yang megah. Ayat 43:33-35 menyebut kemewahan semacam itu dengan kata kerja bersandar yang sama, lalu menyebutnya kesenangan hidup dunia. Membaca kedua ayat itu bersama membantu menakar kemewahan yang terlihat hari ini. Surah Ar-Rahman memakai kata bersandar untuk taman yang dijanjikan. Keduanya sama-sama bersandar, tetapi tempat dan lamanya berbeda: yang satu di dunia dan berakhir, yang lain di sisi Tuhan.
- Ketika Allah bertanya kepada Musa tentang apa yang ada di tangan kanannya (20:17), Musa menjawab bahwa itu tongkatnya, tempatnya bertumpu. Dari beberapa kegunaan tongkat yang disebutnya, bertumpu disebut paling awal. Akar yang sama dipakai di ayat ini untuk penghuni taman yang bersandar. Di dunia seseorang bersandar pada sesuatu agar bisa terus berjalan, seperti Musa dengan tongkatnya. Di taman orang bersandar untuk beristirahat. Pembaca bisa bertanya pada dirinya sendiri, pada apa dirinya bertumpu hari ini agar tetap berjalan.
- Orang tua yang lututnya lemah, atau orang sakit yang terbaring, tahu bahwa buah yang ada belum tentu bisa diraih. Jarak dua langkah ke meja pun bisa terasa jauh, dan orang yang merawat merekalah yang sering menjadi tangan pendekat buah itu. Ayat ini menyebut buah kedua taman dekat, dan 76:14 menyebutnya sangat dimudahkan. Janji Allah di sini memperhatikan hal yang jarang dipikirkan orang sehat, yaitu jarak antara tangan dan pemberian.
- Di 55:46 penerima janji ini disebut sebagai orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Delapan ayat kemudian, orang-orang itu digambarkan bersandar dengan tenang. Takut yang disebut di awal tidak menjadi keadaan terakhir mereka. Rasa takut di 55:46 tertuju pada kedudukan Tuhannya, dan ketenangan di ayat ini datang dari Tuhan yang sama. Surah ini menggambarkan perjalanan dari rasa takut di dunia ke ketenangan di taman, dan menggambarkannya lewat satu kata kerja yang sederhana, bersandar.