فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Di dalamnya ada yang menahan pandangannya, yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِfiihinna qaashiraatu th-tharfidi dalamnya ada yang menahan pandangannya
  2. لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّlam yathmitshunna insun qablahum wa-laa jaannunyang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. فِيهِنَّfiihinnapada mereka
  2. قَاصِرَاتُqaashiraatuyang membatasi
  3. الطَّرْفِth-tharfipandangan
  4. لَمْlamtidak
  5. يَطْمِثْهُنَّyathmitshunnamenjamah mereka
  6. إِنْسٌinsunmanusia
  7. قَبْلَهُمْqablahumsebelum mereka
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. جَانٌّjaannunjin

Inti bacaan

Kesetiaan relasional yang ditegaskan: 'yang menahan pandangannya, yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin', penekanan pada kemurnian dan eksklusivitas hubungan, nilai kesetiaan yang dijunjung tinggi sebagai bagian dari kenikmatan tertinggi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ, fiihinna qaashiraatu th-tharfi), "di dalamnya ada yang menahan pandangannya", lalu (لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ, lam yathmitshunna insun qablahum wa-laa jaannun), "yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin".

Kata (فِيهِنَّ, fiihinna), "di dalamnya", memakai kata ganti jamak perempuan. Dua ayat sebelumnya yang dibuka dengan kata depan yang sama memakai kata ganti dual, (فِيهِمَا, fiihimaa), "di dalam keduanya" (55:50, 55:52), untuk kedua taman. Pasangan taman kedua mengulang susunan itu: fiihimaa di 55:66 dan 55:68, lalu fiihinna di 55:70. Rujukan kata ganti jamak ini tidak disebut. Ayat 55:54 memuat dua kemungkinan, kedua taman dan (فُرُشٍ, furusyin), "kasur-kasur", dan teksnya tidak memilih salah satunya. Terjemahan memakai "di dalamnya", yang dalam bahasa Indonesia tidak menandai jumlah.

Kata (قَاصِرَاتُ, qaashiraatu) berbentuk jamak perempuan dari akar ق-ص-ر. Akar ini dipakai untuk memendekkan salat, (أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ, an taqshuruu mina sh-shalaati) (4:101), dan memendekkan rambut (48:27). Dari akar yang sama datang kata istana, (قُصُورًا, qushuuran) (7:74, 25:10). Dari pemakaian untuk memendekkan itu, qaashiraatu dibaca sebagai "yang membatasi", dan terjemahan kata per kata menulisnya demikian. Kata itu disandarkan pada (الطَّرْفِ, th-tharfi), "pandangan", sehingga pandanganlah yang dibatasi. Terjemahan ayat memakai "yang menahan pandangannya", sama dengan 37:48 dan 38:52, dua ayat lain yang memakai susunan qaashiraatu th-tharfi. Di pasangan taman kedua akar ini muncul dalam bentuk pasif, (مَقْصُورَاتٌ, maqshuuraatun) (55:72), yang di sana diterjemahkan "yang terpelihara". Di 55:72 bidadari-bidadari itu yang dibatasi di dalam kemah, sedangkan di ayat ini yang menahan pandangannya sendiri yang membatasi.

Di luar susunan qaashiraatu th-tharfi, kata tharf dipakai tiga kali lagi untuk mata. Di 27:40 ada (قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ, qabla an yartadda ilayka tharfuka), "sebelum matamu berkedip". Di 14:43 orang-orang pada hari itu digambarkan (لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ, laa yartaddu ilayhim tharfuhum), "kedipan mata mereka tidak kembali kepada mereka", dan di 42:45 orang-orang yang tertunduk karena kehinaan (يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّ, yanzhuruuna min tharfin khafiyyin), "memandang dengan pandangan yang tersembunyi". Kata yang sama menggambarkan pandangan yang membeku karena takut, pandangan yang disembunyikan karena hina, dan di ayat ini pandangan yang ditahan.

Tambahan "bidadari" tidak dipakai: qaashiraatu th-tharfi berdiri sendiri sebagai sebutan sifat tanpa kata benda tambahan di teks Arabnya. Kata yang diterjemahkan "bidadari", (حُورٌ, huurun), di surah ini baru dipakai di pasangan taman kedua, di 55:72, dan di luar surah ini antara lain di 44:54 dan 56:22. Teks juga tidak menyebut kepada siapa pandangan itu ditahan, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan semacam "hanya kepada pasangannya".

Kata kerja (يَطْمِثْهُنَّ, yathmitshunna) berasal dari akar ط-م-ث, yang di seluruh Al-Qur'an hanya dipakai di ayat ini dan di 55:74, dalam kalimat yang sama persis. Al-Qur'an tidak memberinya konteks lain. Kata "menyentuh" dalam terjemahan ini dipakai untuk dua akar lain: م-س-س di dua puluh lima ayat, dan ل-م-س di empat ayat (4:43, 5:6, 6:7, 72:8). Contoh akar pertama adalah ucapan Maryam (وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ, wa-lam yamsasnii basyarun), "padahal tidak pernah menyentuhku seorang manusia" (3:47, juga 19:20), dan aturan cerai sebelum (تَمَسُّوهُنَّ, tamassuuhunna), "kalian sentuh mereka" (2:236-237). Supaya yathmitshunna, yang hanya dipakai di dua ayat, tidak tercampur dengan kedua akar itu, terjemahan memakai "dijamah".

Kalimat itu memuat dua kata ganti "mereka" yang berbeda. Akhiran (هُنَّ, -hunna) pada yathmitshunna berbentuk jamak perempuan dan menunjuk yang menahan pandangannya. Akhiran (هُمْ, -hum) pada qablahum berbentuk jamak laki-laki dan menunjuk penghuni taman yang bersandar di 55:54. Bahasa Indonesia menulis keduanya "mereka". Susunan (إِنْسٌ, insun) dan (جَانٌّ, jaannun), tunggal tanpa kata sandang, sama dengan 55:39. Tambahan "pula" tidak dipakai pada "dan tidak jin", konsisten dengan 55:39.

Tafsiran

Ayat ini menyebut kesucian pasangan di taman: belum pernah dijamah sebelumnya. Sebutan "pasangan" datang dari ayat lain, (وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ, wa-zawwajnaahum bi-huurin 'iinin), "dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari yang bermata elok" (44:54, juga 52:20). Ayat ini sendiri hanya menyebut dua sifat. Sifat pertama menyangkut sikap mereka, pandangan yang ditahan. Sifat kedua menyangkut masa lalu mereka, tidak pernah dijamah siapa pun. Rupa mereka baru disinggung di 55:58, lewat perumpamaan.

Kata qablahum membatasi pengecualian itu pada waktu sebelum para penghuni. Kalimatnya menyebut manusia dan jin sebelum mereka sebagai pihak yang tidak pernah menjamah, sehingga kalimat itu mengandaikan para penghuni sendiri berasal dari golongan yang disebut. Penyebutan jin di samping manusia sejalan dengan sapaan surah ini kepada dua golongan, meskipun teksnya tidak merinci bagaimana hal itu berlaku bagi jin.

Menahan pandangan juga dituntut di dunia, dengan kata yang lain. Di 24:30 laki-laki yang beriman diperintah (يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ, yaghudhdhuu min abshaarihim), "menjaga pandangannya", dan di 24:31 perempuan yang beriman diperintah hal yang sama. Di dunia menjaga pandangan berupa perintah yang harus dijalankan. Di taman, menahan pandangan disebut sebagai sifat yang sudah ada pada mereka yang menemani penghuninya.

Renungan dan Hikmah

  • Tentang yang menahan pandangannya, mula-mula disebut cara mereka memandang, dan rupa mereka baru disinggung dua ayat kemudian. Di dunia urutannya sering terbalik: orang dinilai dari rupanya lebih dulu, dan sikapnya baru diketahui belakangan, kalau sempat. Allah memperkenalkan pemberian-Nya di taman mulai dari sikap. Urutan itu bisa menjadi ukuran bagi pembaca ketika menilai orang lain, dan juga ketika menilai dirinya sendiri: apa yang pertama kali terlihat dari dirinya oleh orang di sekitarnya?
  • Orang yang berusaha menjaga pandangannya, seperti yang Allah tuntut di 24:30-31, tahu bahwa usaha itu diulang setiap hari. Usaha itu sering tidak dilihat siapa pun dan tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Keberhasilannya berupa sesuatu yang tidak terjadi: pandangan yang tidak dilepaskan. Ayat ini menyebut keadaan yang sama di taman dan menempatkannya di antara pemberian-pemberian Tuhan kalian berdua, sehingga usaha kecil yang tidak disaksikan orang itu terhubung dengan gambaran balasan.
  • Banyak hal yang sampai ke tangan seseorang di dunia sudah lebih dulu melewati tangan orang lain: rumah yang pernah dihuni, barang bekas, jabatan yang ditinggalkan pendahulu. Di taman, yang disiapkan bagi penghuninya digambarkan belum pernah dijamah siapa pun sebelum mereka. Allah menyiapkan kebaruan itu tanpa perlu diperebutkan, dan penghuni taman adalah yang pertama menerimanya. Pembaca yang terbiasa berebut menjadi yang pertama di dunia bisa melihat bahwa di taman hal itu datang sebagai pemberian.
  • Jin jarang dipikirkan manusia, karena tidak terlihat. Ayat ini menyebut mereka di samping manusia, dalam kalimat tentang taman. Surah yang menyapa dua golongan sejak awal tetap membawa keduanya sampai ke gambaran balasan. Pembaca manusia diingatkan bahwa golongannya tidak sendirian ditanya dan diberi kabar. Ada golongan lain yang mendengar pertanyaan yang sama dari Tuhan yang sama, dan kabar tentang taman tidak disusun hanya dengan ukuran manusia.
  • Kepada siapa pandangan itu ditahan tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkannya. Pembaca yang terbiasa dengan penjelasan lengkap mungkin tergoda mengisi kekosongan itu sendiri, dengan dugaan yang terasa wajar. Menahan diri dari mengisi apa yang tidak disebut Allah adalah bagian dari membaca dengan jujur. Teks yang berhenti pada satu sifat sudah memberi tahu apa yang perlu diketahui, dan sisanya dibiarkan sebagaimana Dia menyampaikannya.
  • Menahan pandangan biasanya dirasakan sebagai kehilangan: ada yang ingin dilihat tetapi tidak dilihat. Ayat ini menyebut sifat itu di antara pemberian-pemberian di taman, bersama mata air, buah, dan kasur-kasur. Sesuatu yang di dunia terasa sebagai pengekangan, di taman termasuk yang ditawarkan sebagai kebaikan. Kekangan yang dipilih seseorang atas pandangannya sendiri, dengan begitu, tidak selalu berarti kekurangan, dan surah ini menempatkannya di dalam daftar nikmat Tuhan kalian berdua.