فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh satu setelah penekanan kesetiaan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menyoroti nilai kemurnian relasional sebagai bentuk nikmat yang bermakna, bukan sekadar kesenangan fisik semata.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh satu dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Di pasangan taman pertama ini refrain keenam dari delapan, dan datang sesudah 55:56. Di antara ayat-ayat pasangan taman pertama, manusia dan jin disebut dengan namanya di 55:56 saja.

Bentuk dual pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa), "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Di 55:56 kedua golongan itu disebut sebagai (إِنْسٌ, insun), "manusia", dan (جَانٌّ, jaannun), "jin", bentuk tunggal tanpa kata sandang seperti di 55:39, yang sudah dicatat di 55:40. Nama di ayat sebelumnya dan kata ganti di ayat ini menunjuk dua golongan yang sama.

Susunan seperti ini terjadi enam kali di surah ini: refrain datang langsung sesudah ayat yang menyebut kedua golongan. Di 55:14-15 keduanya diciptakan, manusia dari tanah kering dan (الْجَانَّ, l-jaanna), jin, dari nyala api, lalu datang refrain 55:16. Di 55:31 keduanya dipanggil (أَيُّهَ الثَّقَلَانِ, ayyuha ts-tsaqalaani), "wahai dua golongan yang berat", lalu refrain 55:32. Di 55:33 keduanya ditantang menembus penjuru langit dan bumi, lalu 55:34. Di 55:39 tidak seorang pun dari keduanya ditanya tentang dosanya, lalu 55:40. Di 55:56 dan 55:74 keduanya disebut sebagai pihak yang tidak pernah menjamah, lalu 55:57 dan 55:75.

Peran kedua golongan di tempat-tempat itu berbeda. Di 55:14-15, 55:31, 55:33, dan 55:39 merekalah yang dibicarakan: diciptakan, diberi tahu bahwa perhatian akan dicurahkan kepada mereka, ditantang, dan tidak ditanya tentang dosanya. Di 55:56 keduanya hanya muncul sebagai batas. Kalimat itu membicarakan yang menahan pandangannya, dan manusia serta jin disebut untuk menyatakan bahwa tidak seorang pun dari keduanya pernah menjamah mereka. Refrain lalu kembali menjadikan kedua golongan itu pihak yang disapa.

Urutan penyebutannya juga tercatat. Di 55:14-15, 55:39, 55:56, dan 55:74 manusia disebut lebih dulu, lalu jin. Urutan itu dibalik sekali, di 55:33, (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi), "wahai golongan jin dan manusia", tanpa keterangan tentang sebabnya. Refrain sendiri tidak punya urutan, karena kata ganti dual menyapa keduanya sekaligus.

Terjemahan menjaga hubungan kedua ayat ini lewat kata yang dipakainya. Di 55:56 kedua golongan ditulis dengan nama, "manusia" dan "jin", dan di refrain mereka menjadi "kalian", dengan dual yang ditandai kata "berdua" pada "kalian berdua dustakan". Pembaca terjemahan yang membaca kedua ayat berurutan bisa melihat bahwa "kalian berdua" di refrain menunjuk "manusia" dan "jin" di ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran kesucian pasangan di taman. Dalam gambaran itu manusia dan jin berada di luar: tidak seorang pun dari keduanya pernah menjamah yang menahan pandangannya sebelum para penghuni. Satu ayat kemudian, kedua golongan yang sama disapa langsung dan ditanya tentang nikmat Tuhan mereka.

Sepanjang surah, kedua golongan ini menempati peran yang berganti-ganti. Mereka diciptakan dari bahan yang berbeda, dipanggil sebagai dua golongan yang berat, ditantang menembus penjuru langit dan bumi, dan disebut dalam kabar tentang hari ketika tidak seorang pun ditanya tentang dosanya. Di bagian taman mereka muncul lagi, kali ini dalam kabar tentang balasan. Perannya berganti, sedangkan pertanyaan yang menyusul setiap penyebutan itu tetap sama, diajukan dengan kata-kata yang tidak berubah sejak 55:13.

Seperti dicatat di 55:56, kata qablahum mengandaikan para penghuni taman berasal dari golongan yang disebut. Pendengar yang ditanya di ayat ini, dengan begitu, adalah golongan yang sama dengan calon penghuni taman. Pertanyaan diajukan kepada mereka sebelum mereka menjadi "mereka" yang dibicarakan di 55:54, dan surah ini tidak menyebut siapa di antara pendengar yang kelak sampai ke sana.

Renungan dan Hikmah

  • Membaca 55:56, pembaca manusia menemukan golongannya disebut: "manusia sebelum mereka". Di situ manusia menjadi pembanding saja, pihak yang tidak pernah menjamah. Satu ayat kemudian pembaca yang sama disapa langsung dan ditanya. Pergantian dari disebut menjadi disapa ini terjadi berkali-kali di surah ini. Allah tidak membiarkan pendengar berlama-lama menjadi penonton dalam kabar-Nya; setiap kali golongan mereka disebut, pertanyaan menyusul dan menarik mereka kembali ke percakapan.
  • Seseorang menjalani banyak peran dalam hidupnya: anak, orang tua, pekerja, tetangga. Setiap peran membawa tuntutannya sendiri, dan mudah bagi orang untuk mengira bahwa pertanyaan yang diajukan kepadanya ikut berganti setiap kali perannya berganti. Peran manusia di surah ini juga berganti dari ayat ke ayat, sedangkan pertanyaan yang menyusulnya tetap satu: nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian dustakan? Di tengah pergantian peran itu, pertanyaan dari Tuhannya tidak ikut berganti.
  • Pembaca yang merasa taman terlalu jauh untuk makhluk seperti dirinya bisa kembali ke kata "sebelum mereka" di 55:56. Penghuni taman tidak digambarkan sebagai makhluk jenis lain. Janji itu ditujukan kepada golongan yang dibuat dari bahan yang sama dengan pembaca, dengan kelemahan yang sama. Dia menciptakan manusia dari tanah kering dan jin dari nyala api di awal surah, dan dari golongan-golongan itu pula datang mereka yang digambarkan bersandar di taman.
  • Manusia sering merasa menjadi pusat segala sesuatu. Surah ini terus menyandingkannya dengan jin, golongan yang tidak terlihat, dan menyapa keduanya dengan satu kata ganti dual. Setiap kali manusia disebut, jin disebut di dekatnya. Pertanyaan tentang nikmat juga menjadi urusan golongan lain yang tidak dikenal manusia, dan golongan itu ikut ditanya oleh Tuhan yang sama. Kesadaran itu bisa mengecilkan rasa penting diri tanpa mengecilkan bobot pertanyaannya.
  • Dalam kalimat tentang taman, manusia dan jin disebut sebagai pihak yang dikecualikan: tidak seorang pun dari mereka pernah menjamah. Orang yang membaca kalimat itu bisa merasa berada di luar, tidak termasuk dalam kabar yang indah itu. Refrain yang langsung menyusul memperlihatkan bahwa berada di luar sebuah pemberian tidak berarti berada di luar perhatian. Refrain mengajak bicara pihak yang baru saja dikecualikan, dan pertanyaan kepada mereka menandakan urusannya belum selesai.
  • Kata "sebelum mereka" menyebut waktu. Ada masa sebelum para penghuni sampai di taman, dan selama masa itu tidak seorang pun menjamah yang disiapkan untuk mereka. Pembaca hidup di masa "sebelum" itu. Apa yang Allah siapkan bagi penghuni taman belum diterima siapa pun, dan pertanyaan di ayat ini diajukan kepada pembaca selama masa itu masih berlangsung, ketika jawaban masih bisa diberikan dengan sungguh-sungguh. Selama masa itu nikmat tersebut belum bisa dilihat, sehingga sikap yang tersedia bagi pembaca terhadapnya ada dua: mempercayai kabarnya atau mendustakannya.