فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh tiga setelah prinsip resiprositas: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', penempatan setelah hukum kebaikan-berbalas-kebaikan menegaskan bahwa keadilan kosmik itu sendiri merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh tiga dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi (lih. 55:13). Di pasangan taman pertama ini refrain kedelapan dan terakhir, dan datang sesudah pertanyaan tentang balasan kebaikan di 55:60. Bentuk dual pada rabbikumaa, "Tuhan kalian berdua", tetap menyapa jin dan manusia bersama.

Refrain dibuka dengan (فَبِأَيِّ, fa-bi-ayyi), "maka ... yang manakah", kata tanya untuk memilih di antara beberapa hal. Pertanyaan di 55:60 dibuka dengan (هَلْ, hal), yang dalam terjemahan ayat itu menjadi "adakah". Di surah ini dua kata tanya itu bertemu di sini saja. Kata hal tidak dipakai di ayat lain, dan setiap refrain sebelumnya didahului ayat yang tidak berupa pertanyaan, sehingga dua pertanyaan berturut-turut tidak terjadi di tempat lain dalam Ar-Rahman.

Awalan fa- pada fa-bi-ayyi, yang di terjemahan menjadi "maka", menyambungkan pertanyaan dengan apa yang baru disebut. Pada tujuh refrain sebelumnya di pasangan ini, yang disambung berupa gambaran taman dan penghuninya. Di sini fa- menyambungkan refrain dengan sebuah prinsip, balasan kebaikan, yang tidak menggambarkan isi taman sama sekali.

Kedua pertanyaan itu berbeda cara menjawabnya. Jawaban 55:60 sudah dikunci di dalam kalimatnya oleh (إِلَّا, illaa), "kecuali": balasan kebaikan tidak lain adalah kebaikan. Refrain tidak memuat kata pengecualian semacam itu. Jawabannya tidak tertulis di teks, dan pendengar harus memberikannya sendiri.

Pasangan taman pertama, dari 55:46 sampai ayat ini, terdiri dari enam belas ayat: delapan ayat gambaran dan delapan refrain, berselang-seling. Tujuh ayat gambarannya, dari 55:46 sampai 55:58, menyebut taman, isinya, dan penghuninya, dari dahan-dahan sampai perumpamaan yakut dan marjan. Ayat gambaran kedelapan, 55:60, tidak lagi menerangkan isi taman dan berupa pertanyaan tentang balasan. Refrain ini menutup pasangan yang dibuka dengan (وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ, wa-li-man khaafa maqaama rabbihi), "bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya".

Akar kata kerja refrain, ك-ذ-ب, dipakai di surah ini di luar refrain sekali, di 55:43, (يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ, yukadzdzibu bihaa l-mujrimuuna), "yang didustakan oleh para pendosa", tentang Jahanam. Di sana Jahanam yang didustakan, dan pelakunya disebut sebagai orang ketiga. Di refrain, kata kerja yang sama, (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani), diarahkan kepada pendengar dalam bentuk dual orang kedua, dan di ayat ini diajukan sesudah janji balasan kebaikan.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah menutup gambaran taman pertama dan prinsip balasan kebaikan. Dua pertanyaan yang berturut-turut itu meminta dua hal yang berbeda dari pendengar. Pertanyaan pertama meminta persetujuan atas sebuah prinsip yang jawabannya sudah jelas. Pertanyaan kedua meminta pendengar memeriksa dirinya: sesudah menyetujui prinsip itu, nikmat mana yang masih didustakannya?

Prinsip di 55:60 berlaku juga ke arah sebaliknya. Nikmat-nikmat yang ditanyakan refrain adalah kebaikan Allah kepada jin dan manusia, dan menurut prinsip yang baru saja disetujui, kebaikan patut dibalas dengan kebaikan. Ayat 28:77 menyatakannya terang: (وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ, wa-ahsin ka-maa ahsana llaahu ilayka), "berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu". Mendustakan nikmat, dalam susunan ini, berarti menjawab kebaikan dengan kebalikannya.

Di 55:43 Jahanam disebut sebagai yang didustakan para pendosa. Di sini kata kerja yang sama diajukan sesudah janji taman, sehingga yang bisa didustakan tidak terbatas pada ancaman; janji pun bisa didustakan. Refrain ini berdiri di perbatasan dua pasangan taman. Sesudahnya, 55:62 membuka pasangan yang lain, dan pertanyaan yang sama akan diajukan lagi di sana.

Renungan dan Hikmah

  • Orang mudah menyetujui prinsip bahwa kebaikan layak dibalas kebaikan, terutama ketika dirinya yang berbuat baik. Refrain ini datang tepat sesudah persetujuan itu dan membalik arahnya: Tuhan kalian telah memberi, lalu nikmat mana yang kalian dustakan? Prinsip yang dipakai untuk menuntut balasan dari orang lain berlaku juga untuk menilai sikap diri kepada Pemberi. Pembaca yang mudah menagih balasan atas kebaikannya diajak menghitung balasan apa yang sudah diberikannya atas kebaikan yang diterimanya.
  • Kebaikan Allah tidak dibalas dengan memberi sesuatu kepada-Nya. Ayat 28:77 menunjukkan bentuk balasannya: berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Kebaikan yang diterima dari Tuhan diteruskan kepada orang lain, kepada tetangga, kepada rekan kerja, kepada orang yang sedang kesulitan. Orang yang merasa tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan sebagai tanda syukur bisa mulai dari situ, karena setiap kebaikan kepada sesama adalah jawaban atas kebaikan yang lebih dulu diterimanya.
  • Setiap bagian hidup punya ujung: sekolah yang selesai, pekerjaan yang berganti, anak yang pergi dari rumah. Di ujung pasangan taman pertama, sesudah gambaran yang panjang, surah ini berhenti untuk bertanya. Ujung sebuah bagian adalah saat yang wajar untuk menoleh ke belakang dan menghitung apa yang telah diterima dari Tuhan selama bagian itu berlangsung. Orang yang langsung melompat ke bagian berikutnya tanpa berhenti sering lupa bahwa bagian yang baru saja lewat juga penuh pemberian.
  • Prinsip di 55:60 tidak menyebut pelaku, sehingga berlaku bagi siapa pun, jin dan manusia, orang yang disukai dan yang tidak. Orang sering memakai ukuran yang berbeda: kebaikannya sendiri dianggap layak dibalas, sedangkan kebaikan orang yang tidak disukainya dianggap kebetulan. Refrain ini menyapa dua golongan dengan pertanyaan yang sama, sesudah prinsip yang sama. Di hadapan Tuhan kalian berdua, ukuran untuk kebaikan tidak berubah menurut siapa pelakunya.
  • Mendustakan janji jarang diucapkan terang-terangan. Orang yang percaya bahwa kebaikan dibalas kebaikan, tetapi tidak pernah menyisihkan waktu untuk berbuat baik, hidup seakan-akan janji itu tidak ada. Pengakuan di mulut dan pengabaian dalam perbuatan bisa berjalan bersama tanpa disadari. Refrain yang datang sesudah janji Allah tentang balasan kebaikan bertanya kepada pendengar yang mungkin tidak pernah merasa mendustakan apa pun, tetapi keseharian mereka menunjukkan hal lain.
  • Di dunia, banyak kebaikan tidak tercatat. Pekerja yang jujur tidak selalu naik jabatan, dan orang yang menolong tidak selalu diingat. Kepastian bahwa di hadapan Tuhan kebaikan tidak hilang adalah nikmat tersendiri, dan kepastian itu disebut tepat sebelum refrain ini. Orang yang hampir berhenti berbuat baik karena merasa usahanya sia-sia bisa kembali ke pertanyaan di 55:60, yang jawabannya sudah dikunci oleh Allah sendiri.