فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kedua puluh lima, usai warna hijau tua: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', warna yang dilukiskan tanpa pelaku dihubungkan kepada Pemiliknya melalui kalimat tanya, satu-satunya lokasi penyebutan-Nya di bagian ini.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh lima dari refrain tetap surah ini, dan yang kedua dari delapan refrain di pasangan taman kedua. Refrain ini datang sesudah (مُدْهَامَّتَانِ, mud-haammataani), "keduanya hijau tua" (55:64), sifat pertama yang disebut untuk taman kedua.
Di pasangan taman kedua, dari 55:62 sampai 55:77, Tuhan hanya disebut di refrain. Ayat-ayat gambarannya menyebut taman, warna, mata air, buah, yang baik lagi jelita, bidadari di dalam kemah, dan tempat bersandar. Tidak satu pun dari ayat-ayat itu menyebut Allah, memakai kata dari akar ر-ب-ب, "Tuhan", atau memakai kata ganti yang merujuk kepada-Nya. Kata ganti yang ada di sana menunjuk taman, isinya, dan penghuninya. Di pasangan ini Tuhan disebut lewat (رَبِّكُمَا, rabbikumaa), "Tuhan kalian berdua", delapan kali, satu di setiap refrain.
Pasangan pertama berbeda di satu tempat. Kalimat yang membukanya di 55:46 memuat (رَبِّهِ, rabbihi), "Tuhannya", dalam susunan "bagi siapa yang takut akan kedudukan Tuhannya". Sesudah itu, dari 55:48 sampai 55:60, ayat-ayat gambaran pasangan pertama juga tidak menyebut Tuhan. Di kedua pasangan, rincian taman disampaikan tanpa menyebut pemberinya, dan pasangan kedua dibuka tanpa kalimat seperti 55:46.
Warna di 55:64 disebut tanpa pelaku. Kata mud-haammataani menyifati kedua taman dengan warnanya, dan ayat itu tidak memuat kata kerja yang menyebut siapa yang menjadikannya hijau. Di ayat lain Al-Qur'an menyebut pelakunya. Di 6:99 tertulis (فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا, fa-akhrajnaa minhu khadhiran), "lalu Kami keluarkan darinya yang hijau". Di 22:63 tertulis (أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً, anna llaaha anzala mina s-samaa'i maa'an), "bahwa Allah menurunkan air dari langit", disusul (فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً, fa-tushbihu l-ardhu mukhdharratan), "sehingga bumi menghijau".
Refrain ini menyebut pemberi itu lewat susunan (آلَاءِ رَبِّكُمَا, aalaa'i rabbikumaa), "nikmat Tuhan kalian". Kata aalaa'i, "nikmat-nikmat", langsung disandarkan pada rabbikumaa tanpa kata penghubung, sehingga setiap nikmat yang ditanyakan dikaitkan langsung dengan Tuhan kalian berdua. Hijau yang di 55:64 disebut tanpa pelaku termasuk dalam pertanyaan itu, karena refrain datang langsung sesudahnya dengan awalan fa-, "maka", yang menyambung pertanyaan dengan apa yang baru disebut, seperti dicatat di 55:61.
Terjemahan menjaga kedua hal itu. Ayat 55:64 diterjemahkan "Keduanya hijau tua," tanpa kata kerja dan tanpa pelaku tambahan, dan refrain diterjemahkan "nikmat Tuhan kalian", dua kata benda yang berdampingan seperti susunan Arabnya.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah warna hijau tua kedua taman. Taman kedua diperkenalkan di 55:62 tanpa menyebut untuk siapa, seperti dicatat di sana, dan sifat pertamanya di 55:64 disebut tanpa menyebut siapa yang memberinya. Lewat refrain ini, salah satu dari dua hal yang tidak disebut itu terisi. Pemberinya disebut, Tuhan kalian berdua, sedangkan penerimanya tetap tidak disebut.
Pemberi itu disebut di dalam pertanyaan. Pasangan kedua tidak memuat kalimat berita yang menyatakan bahwa Tuhan menjadikan taman itu hijau. Kaitan antara hijau itu dan Pemberinya diajukan kepada pendengar dalam bentuk pertanyaan tentang nikmat Tuhan, dan jawabannya harus diberikan pendengar sendiri. Di 22:63 kaitan yang sama juga dibuka dengan pertanyaan, "tidakkah engkau memperhatikan", tetapi pelakunya disebut di dalam kalimat itu: Allah menurunkan air, lalu bumi menghijau.
Pola ini berulang sampai akhir pasangan kedua. Setiap rincian taman disampaikan tanpa pemberi, lalu disusul pertanyaan yang menyebut Tuhan kalian berdua. Pendengar menerima rincian taman dari ayat-ayat gambaran, dan menerima nama Pemberinya hanya dari pertanyaan. Siapa penerima taman kedua tetap tidak dinyatakan sampai akhir pasangan ini, dan pertanyaannya tetap diajukan kepada kedua golongan pendengar, jin dan manusia.
Renungan dan Hikmah
- Pohon di tepi jalan, rumput di halaman, dan sawah yang menghijau sesudah hujan jarang datang dengan keterangan siapa yang memberinya. Kita melihatnya sebagai pemandangan, dan pemandangan mudah dinikmati tanpa pernah ditanyakan asalnya. Ayat 55:64 menyebut warna taman tanpa menyebut pelakunya, lalu refrain langsung menyebut Tuhan kalian berdua. Susunan itu memperlihatkan jarak yang sering ada antara menikmati sesuatu dan menyadari asalnya, dan pertanyaan ini diletakkan tepat di jarak itu. Siapa pun yang pernah melewati kebun yang sama setiap hari tahu betapa cepat pemandangan hijau berubah menjadi latar yang tidak lagi dilihat.
- Di pasangan taman kedua, Tuhan disebut delapan kali, dan kedelapannya di dalam pertanyaan. Pendengar tidak diberi pernyataan untuk disetujui. Pendengar ditanya, dan jawaban yang jujur atas pertanyaan itu sendiri yang menyebut Pemberinya. Pengakuan yang keluar dari mulut sendiri berbeda dari pernyataan yang sekadar kita setujui, dan susunan refrain memberi ruang bagi pengakuan jenis pertama. Allah tidak menyodorkan kesimpulan kepada pendengar. Dia bertanya, lalu membiarkan pendengar sampai pada jawabannya sendiri.
- Di 22:63 hijau bumi disebut bersama pelakunya: Allah menurunkan air dari langit, lalu bumi menghijau. Kalimat itu mengajak pendengar menelusuri urutan sebab, dari air yang turun sampai daun yang tumbuh. Di taman kedua urutan itu tidak disebut, dan hijau hadir sebagai keadaan yang sudah jadi. Dua cara itu sama-sama kita kenal: ada nikmat yang kita saksikan prosesnya, dan ada yang kita temui sudah jadi. Refrain menanyakan keduanya dengan pertanyaan yang sama. Nikmat yang kita saksikan prosesnya mengajak kita menelusuri sebab, sedangkan nikmat yang kita temui sudah jadi mengajak kita menerima, dan keduanya bermuara pada Tuhan yang sama.
- Warna biasanya hal pertama yang terlihat dari kejauhan, sebelum pohon, buah, dan air bisa dibedakan satu per satu. Surah ini sudah menanyakan nikmat pada tahap itu, sebelum rinciannya disebut di 55:66 dan 55:68. Kesadaran tentang pemberian tidak perlu menunggu sampai kita mengenal seluruh isinya. Kesan pertama yang masih samar pun sudah berada di dalam pertanyaan tentang nikmat Tuhan kalian berdua. Kita sering menunda bersyukur sampai sebuah pemberian terasa lengkap, padahal warna yang terlihat dari jauh pun sudah ditanyakan sebagai nikmat.
- Refrain ini menyebut pemberi, tetapi penerima taman kedua tetap tidak disebut. Kita terbiasa menanyakan "untuk siapa" lebih dulu, karena dari situ kita menilai apakah sebuah pemberian kelak menjadi milik kita. Pasangan kedua membiarkan hal itu terbuka dan tetap menanyakan nikmat Tuhan kepada semua pendengarnya, jin dan manusia. Apakah seseorang harus yakin akan menerima sebuah pemberian sebelum mau mengakuinya sebagai nikmat?
- Dalam enam belas ayat pasangan kedua, rincian taman mengisi setengahnya dan nama Tuhan hadir di setengah yang lain, selalu dalam kalimat yang sama. Pembagian itu mudah terlewat karena refrain terdengar berulang. Setiap kali pendengar mulai larut dalam rincian taman, kalimat yang sama mengembalikan perhatian kepada Dia yang memilikinya. Pengulangan yang terasa biasa itu menjadi satu-satunya tempat nama-Nya disebut di pasangan ini.