فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ

Di dalam keduanya ada dua mata air yang memancar deras.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِfiihimaa 'aynaani nadhdhaakhataanidi dalam keduanya ada dua mata air yang memancar deras

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيهِمَاfiihimaapada keduanya
  2. عَيْنَانِ'aynaanidua mata air
  3. نَضَّاخَتَانِnadhdhaakhataanikeduanya memancar

Inti bacaan

Dua mata air di taman susulan: 'di dalam keduanya ada dua mata air yang memancar deras', dilukiskan dengan istilah tunggal dalam mushaf, berlainan dari yang mengalir di 55:50, sehingga tiap pasangan punya citra airnya masing-masing.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ, fiihimaa 'aynaani nadhdhaakhataani), "di dalam keduanya ada dua mata air yang memancar deras". Kata ganti dual pada (فِيهِمَا, fiihimaa), "di dalam keduanya", merujuk ke dua taman yang disebut di 55:62. Kalimat ini tidak memuat kata kerja, dan "ada" di terjemahan ditambahkan seperti di 55:62.

Kata (عَيْنَانِ, 'aynaani) adalah bentuk dual dari (عَيْنٌ, 'aynun). Al-Qur'an memakai kata ini untuk mata dan untuk mata air. Di 5:45 tertulis (وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ, wa-l-'ayna bi-l-'ayni), "mata dengan mata", dan di 88:12 tertulis (عَيْنٌ جَارِيَةٌ, 'aynun jaariyatun), "mata air yang mengalir". Bentuk dualnya dipakai di tujuh ayat: lima untuk dua mata (12:84, 15:88, 18:28, 20:131, 90:8), dan dua untuk dua mata air, di 55:50 dan di ayat ini. Kata Indonesia "mata air" kebetulan menyimpan kaitan yang sama antara mata dan sumber air.

Kata (نَضَّاخَتَانِ, nadhdhaakhataani) berasal dari akar ن-ض-خ, yang tidak dipakai di ayat lain mana pun. Maknanya tidak bisa diuji dengan membandingkan ayat, sama seperti (مُدْهَامَّتَانِ, mud-haammataani) di 55:64. Bentuknya bisa dibandingkan. Huruf tengah akarnya dibaca rangkap dan disusul alif panjang, pola yang juga dipakai (كَذَّابٌ, kadzdzaabun) di 40:28. Di ayat itu akar yang sama muncul pula tanpa huruf rangkap, (كَاذِبًا, kaadziban), dan terjemahan kata per kata membedakan keduanya: "dusta" untuk kaadziban dan "pendusta besar" untuk kadzdzaabun. Kata "deras" di terjemahan ayat ini menandai pola yang sama, sedangkan "memancar" adalah bacaan yang dipilih dan tidak bisa dibuktikan dari ayat lain.

Akhiran -ataani pada nadhdhaakhataani menandai dual perempuan, mengikuti 'aynaani. Kata 'ayn diperlakukan sebagai kata perempuan di Al-Qur'an, seperti terlihat di 88:12, ketika sifatnya, (جَارِيَةٌ, jaariyatun), "yang mengalir", memakai akhiran perempuan.

Mata air di pasangan pertama disifati dengan kata lain. Di 55:50 tertulis (تَجْرِيَانِ, tajriyaani), "keduanya mengalir", kata kerja dari akar ج-ر-ي. Akar itu dipakai di 64 ayat, dan 45 di antaranya juga memuat akar ن-ه-ر, akar kata sungai; 37 dari yang 45 itu juga memuat akar ج-ن-ن, akar kata taman. Pasangan pertama memakai akar air yang paling sering menyertai taman, sedangkan pasangan kedua memakai kata yang tidak dipakai di tempat lain. Jenis katanya pun berbeda: tajriyaani kata kerja, sedangkan nadhdhaakhataani kata sifat. Terjemahan menulis keduanya dengan kata kerja Indonesia, "mengalir" dan "memancar", sehingga perbedaan itu tidak terlihat.

Kata "memancar" di terjemahan ini juga dipakai untuk akar lain, ف-ج-ر. Di 36:34 tertulis (وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ, wa-fajjarnaa fiihaa mina l-'uyuuni), "dan Kami pancarkan padanya mata air", dan di 76:6 (يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا, yufajjiruunahaa tafjiiran), "yang mereka pancarkan dengan sungguh-sungguh". Di kedua ayat itu kata kerjanya punya pelaku yang disebut. Di ayat ini mata air memancar tanpa pelaku, karena nadhdhaakhataani menyifati mata air itu sendiri.

Menurut korpus morfologi, sepuluh akar di surah ini tidak dipakai di ayat lain mana pun. Lima di antaranya berada di gambaran pasangan taman kedua: د-ه-م di 55:64, ن-ض-خ di ayat ini, خ-ي-م di 55:72, serta ر-ف-ر-ف dan ع-ب-ق-ر di 55:76. Gambaran pasangan pertama memuat satu, ف-ن-ن di 55:48.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan air di taman kedua. Kedua pasangan taman sama-sama diberi dua mata air, dan keduanya disebut di urutan yang sama, sesudah sifat pertama tamannya: dahan-dahan di 55:48 lalu mata air di 55:50, warna di 55:64 lalu mata air di ayat ini. Perbedaannya ada pada kata sifat air itu, mengalir di pasangan pertama dan memancar deras di pasangan kedua. Apakah memancar lebih utama daripada mengalir tidak dinyatakan, sama seperti kedudukan kedua pasangan yang tidak dibandingkan di 55:62.

Di ayat lain mata air disebut bersama pihak yang memancarkannya. Di bumi pelakunya Kami, dalam kalimat "Kami pancarkan padanya mata air" (36:34). Di antara balasan orang-orang yang berbuat kebajikan, hamba-hamba Allah sendiri yang memancarkan mata air yang mereka minum (76:5-6). Mata air di taman kedua memancar tanpa disebut siapa yang memancarkannya dan siapa yang meminumnya. Ayat ini hanya menyebut keadaan air itu.

Kata yang dipakai pun tidak bisa dijelaskan dengan ayat lain. Dalam rentang tiga ayat, dari 55:64 sampai 55:66, taman kedua digambarkan dengan dua kata yang akarnya tidak muncul di tempat lain di Al-Qur'an. Pendengar tidak menemukan padanannya di bagian Al-Qur'an yang lain, dan hanya punya kata itu sendiri serta kedudukannya di antara ayat-ayat taman. Terjemahan "memancar deras" adalah salah satu bacaan yang mungkin, dan pembaca perlu mengetahui batas itu.

Renungan dan Hikmah

  • Bahasa Indonesia menyebut sumber air dengan kata "mata", sama seperti Al-Qur'an memakai satu kata untuk mata dan untuk mata air. Keduanya titik kecil yang menentukan banyak hal di sekitarnya. Satu mata yang sakit mengubah cara kita melihat segala sesuatu, dan satu mata air yang kering mengubah seluruh kebun di sekitarnya. Kita jarang memperhatikan keduanya selama keduanya bekerja dengan baik. Ayat ini menyebut dua mata air di taman, dan refrain sesudahnya menanyakannya sebagai nikmat Tuhan kalian berdua.
  • Kata nadhdhaakhataani hanya terdengar sekali di seluruh Al-Qur'an. Pembaca yang ingin memastikan maknanya tidak menemukan ayat lain untuk dibandingkan, dan terjemahan harus memilih satu bacaan. Ada pengalaman yang juga hanya kita alami sekali, tanpa pembanding, dan kita pun hanya bisa menamainya sebaik mungkin. Ayat ini memperlihatkan bahwa Allah menggambarkan pemberian-Nya kadang dengan kata yang tidak bisa diterangkan tuntas oleh kata-kata lain, dan membacanya dengan jujur berarti mengakui batas itu.
  • Di bumi, air sampai ke kebun lewat kerja: sumur digali, saluran dibuat, dan pompa dijalankan. Siapa pun yang pernah menunggu air mengalir dari keran tahu bahwa air baru lancar bila banyak tangan bekerja. Di taman kedua mata air memancar tanpa disebut siapa yang memancarkannya. Ayat ini tidak menjelaskan bagaimana air itu memancar, dan pertanyaan tentang Pemberinya diserahkan kepada pendengar lewat refrain sesudahnya.
  • Kedua pasangan taman sama-sama diberi dua mata air, yang satu mengalir dan yang lain memancar deras. Kita cenderung langsung menyusun peringkat setiap kali melihat dua hal yang mirip tetapi tidak sama. Ayat-ayat ini tidak menyusun peringkat itu, dan refrain sesudah keduanya pun sama. Kedua air itu ditanyakan dengan pertanyaan yang sama tentang nikmat Tuhan, dan perbandingan yang kita buat sendiri tidak mengubah pertanyaan itu.
  • Terjemahan ini memakai "memancar" untuk dua akar yang berbeda: ن-ض-خ di ayat ini dan ف-ج-ر di 36:34 dan 76:6. Pembaca terjemahan melihat satu kata, sedangkan teks Arabnya memakai dua kata dengan susunan yang berbeda, yang satu kata kerja dengan pelaku dan yang lain sifat tanpa pelaku. Pengetahuan seperti ini membuat kita lebih hati-hati ketika menarik kesimpulan dari satu kata terjemahan. Apakah kesamaan kata dalam bahasa kita selalu berarti kesamaan dalam firman Allah?
  • Air disebut di surah ini dalam banyak rupa: dua laut dengan pembatas di antaranya, air mendidih yang sangat panas bagi para pendosa, lalu mata air di kedua pasangan taman. Ayat ini penyebutan air yang terakhir di surah ini. Pendengar yang sudah mendengar air sebagai batas dan sebagai siksa kini mendengar air yang memancar di taman. Rangkaian itu memperlihatkan bahwa unsur yang sama bisa menjadi nikmat atau azab, tergantung di mana Tuhan menempatkannya. Air yang kita minum hari ini pun tidak pernah netral: kehadirannya sudah ditanyakan sebagai nikmat.