فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh enam, usai dua mata air yang memancar deras: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', hingga 55:73 hanya refrein inilah yang mengandung tindakan, sehingga gambaran lain berupa keadaan diam dan satu-satunya gerak milik penyimak.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh enam dari refrain tetap surah ini, dan yang ketiga dari delapan refrain di pasangan taman kedua. Refrain ini datang sesudah dua mata air yang memancar deras di 55:66 dan sebelum buah-buahan di 55:68.

Di pasangan taman kedua, dari 55:62 sampai 55:73, tidak ada kata kerja selain (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani), "kalian berdua dustakan", di refrain. Ayat-ayat gambaran di rentang itu, 55:62, 55:64, 55:66, 55:68, 55:70, dan 55:72, tersusun tanpa kata kerja: isinya kata benda, kata sifat, kata sambung, dan kata depan. Kata kerja pertama di luar refrain baru muncul di 55:74, dalam kalimat yang mengulang 55:56 di pasangan pertama.

Pasangan pertama memuat lebih banyak kata kerja di luar refrain. Di 55:46 ada (خَافَ, khaafa), "takut", di 55:50 ada (تَجْرِيَانِ, tajriyaani), "keduanya mengalir", dan di 55:56 ada kalimat yang nanti diulang di 55:74. Ayat 55:50 sejajar dengan 55:66, karena keduanya dibuka dengan (فِيهِمَا, fiihimaa), "di dalam keduanya", dan menyebut dua mata air. Di pasangan pertama sifat air dinyatakan dengan kata kerja, dan di pasangan kedua dengan kata sifat, (نَضَّاخَتَانِ, nadhdhaakhataani), seperti dicatat di 55:66. Karena ayat yang sejajar itu tidak lagi memuat kata kerja, kata kerja yang terdengar di pasangan kedua sampai 55:73 hanya tukadzdzibaani.

Kata kerja itu berbeda dari kata-kata di ayat gambaran dalam dua hal. Pertama, kata itu menyebut perbuatan, sedangkan ayat gambaran menyebut benda dan keadaan: taman, warna, air, buah, dan yang baik lagi jelita. Kedua, pelakunya pihak yang disapa. Awalan tu- menandai orang kedua dan akhiran -aani menandai dual, sehingga perbuatan itu milik pendengar, jin dan manusia. Taman, air, dan buah disebut sebagai keadaan yang sudah ada, sedangkan satu-satunya kata kerja di rentang ini menunjuk kepada pihak yang mendengarkan.

Terjemahan tidak memperlihatkan pola ini. Kata "ada" ditambahkan di 55:62, 55:66, 55:68, dan 55:70 supaya kalimatnya utuh, dan kata sifat di 55:66 diterjemahkan dengan kata kerja "memancar". Pembaca terjemahan menemukan kata kerja di hampir setiap ayat gambaran, sedangkan di teks Arabnya kata kerja di rentang ini hanya terdengar di refrain. Tambahan itu wajar dalam bahasa Indonesia, yang jarang menyusun kalimat utuh tanpa kata kerja atau kata "ada", tetapi pola aslinya hanya bisa dilihat dari teks Arabnya.

Refrain ini juga yang keenam dan terakhir di surah ini yang datang sesudah air disebut. Lima yang sebelumnya, di 55:21, 55:23, 55:25, 55:45, dan 55:51, sudah dicatat di 55:51. Sesudah 55:66 air tidak disebut lagi di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran dua mata air yang memancar deras. Di pasangan taman kedua, ayat-ayat gambaran menyebut apa yang ada di dalam taman tanpa menyebut siapa berbuat apa. Perbuatan yang disebut sejauh ini hanya satu, dan perbuatan itu ditanyakan kepada pendengar: mendustakan. Taman itu digambarkan sebagai keadaan yang sudah tersedia, sedangkan sikap pendengar terhadapnya masih terbuka, dan hanya sikap itu yang ditanyakan.

Al-Qur'an mengajukan pertanyaan serupa sesudah mata air di bumi. Di 36:34 disebut kebun-kebun kurma dan anggur serta mata air yang Kami pancarkan, lalu di 36:35 datang pertanyaan (أَفَلَا يَشْكُرُونَ, a-fa-laa yasykuruuna), "maka, tidakkah mereka bersyukur?" Di sana pertanyaan diajukan tentang pihak ketiga, "mereka", dan menanyakan syukur. Di sini pertanyaan diajukan langsung kepada pendengar, "kalian berdua", dan menanyakan pendustaan. Kedua pertanyaan itu datang di tempat yang sama, sesudah kebun dan mata air disebut.

Di pasangan kedua pendengar tidak diminta berbuat apa pun untuk taman itu. Mereka tidak diminta menggali, menanam, atau memancarkan air. Dari mereka hanya diminta jawaban atas pertanyaan tentang nikmat, dan jawaban itu menentukan apakah taman yang digambarkan diakui sebagai pemberian atau didustakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat-ayat taman kedua tidak menyebut pekerjaan apa pun bagi pendengar: air sudah memancar dan buah sudah tersedia. Perbuatan yang disebut hanya satu, dan perbuatan itu pun berupa pertanyaan: apakah mereka mendustakan nikmat Tuhan. Dalam hidup sehari-hari banyak pemberian juga datang dalam keadaan sudah jadi, seperti udara, tubuh yang bekerja, dan keluarga yang menyambut. Kita tidak bisa menambahkan apa pun pada pemberian itu, dan yang masih ada di tangan kita hanyalah cara menyikapinya. Pertanyaan di refrain ini menunjuk tepat ke bagian yang masih bisa kita tentukan sendiri.
  • Enam ayat gambaran berturut-turut disusun tanpa kata kerja, dan di sela-sela ayat itu selalu terdengar satu kata kerja yang sama: mendustakan. Susunan itu seperti ruangan yang tenang dengan satu suara yang terus bertanya. Pendengar yang menikmati gambaran taman diingatkan bahwa di tengah gambaran yang diam itu, hanya sikapnya sendiri terhadap Tuhan kalian berdua yang masih ditanyakan. Keindahan yang dinikmati tanpa pernah ditanya mudah menjadi tontonan saja, dan pertanyaan yang berulang menjaga agar gambaran itu tetap terhubung dengan Pemberinya.
  • Di 36:35 Allah bertanya tentang manusia, "tidakkah mereka bersyukur?", sesudah menyebut kebun dan mata air di bumi. Di refrain ini pertanyaan diajukan langsung kepada pendengar, dan pertanyaannya menyangkut pendustaan. Pertanyaan pertama bisa didengar dari jauh, seolah tentang orang lain. Pertanyaan kedua tidak memberi jarak itu. Ketika membaca ayat tentang orang yang tidak bersyukur, seberapa sering kita menempatkan diri di luar kata "mereka"? Refrain tidak menyisakan ruang untuk itu, karena kata kerjanya menyapa pendengar secara langsung.
  • Terjemahan menambahkan "ada" dan memakai kata kerja di tempat teks Arabnya tidak memuat kata kerja. Tambahan itu perlu supaya kalimat Indonesia utuh, tetapi akibatnya pola yang terdengar dalam bahasa Arab tidak terlihat. Setiap terjemahan membawa tambahan semacam ini. Menyadarinya membantu kita membaca firman Allah dengan rendah hati, karena di tangan kita ada terjemahan yang berusaha setia, dan terjemahan itu tetap berbeda dari teksnya sendiri. Kesadaran ini tidak mengurangi nilai terjemahan. Kesadaran itu mengajak kita kembali ke teks Arabnya setiap kali sebuah kesimpulan terasa terlalu bergantung pada satu kata Indonesia.
  • Mendustakan nikmat tidak selalu berupa ucapan. Refrain memakai kata kerja masa kini, dan perbuatan itu bisa berlangsung diam-diam: memakai air tanpa pernah mengingat asalnya, atau menerima buah tanpa pernah menyebut Pemberinya. Di tengah ayat-ayat yang hanya menyebut keadaan, kata kerja ini mengingatkan bahwa sikap terhadap nikmat Tuhan terus berlangsung selama nikmat itu dipakai. Pendustaan yang tidak pernah diucapkan paling sulit dikenali, karena pelakunya tidak merasa sedang mendustakan apa pun.
  • Sesudah refrain ini surah tidak lagi menyebut air, dan pertanyaan yang menyusul air berhenti di sini. Setiap kali air disebut di surah ini, pertanyaan yang sama datang sesudahnya, enam kali seluruhnya. Air termasuk nikmat yang paling sering kita pakai dan paling jarang kita pikirkan, karena kehadirannya terasa pasti. Surah ini menempatkannya berulang kali tepat sebelum pertanyaan tentang nikmat Tuhan kalian berdua, seolah menahan kita supaya tidak melewatinya begitu saja.