فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

Di dalam keduanya ada buah-buahan, pohon kurma, dan delima.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌfiihimaa faakihatun wa-nakhlun wa-rummaanundi dalam keduanya ada buah-buahan, pohon kurma, dan delima

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فِيهِمَاfiihimaapada keduanya
  2. فَاكِهَةٌfaakihatunbuah
  3. وَنَخْلٌwa-nakhlundan pohon kurma
  4. وَرُمَّانٌwa-rummaanundan delima

Inti bacaan

Buah yang disebut namanya: 'di dalam keduanya ada buah-buahan, pohon kurma, dan delima', dua tanaman yang di surah Al-An'am tercantum dalam deretan hasil tanah (6:99, 6:141) kini hadir sebagai isi ganjaran.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ, fiihimaa faakihatun wa-nakhlun wa-rummaanun), "di dalam keduanya ada buah-buahan, pohon kurma, dan delima". Kata ganti dual pada (فِيهِمَا, fiihimaa) merujuk ke dua taman kedua, dan kemunculan ini yang keempat dan terakhir dari fiihimaa di surah ini. Tiga kata benda sesudahnya tidak bertanda sandang dan dihubungkan dengan wa-, "dan".

Kata (فَاكِهَةٌ, faakihatun), "buah-buahan", sebutan umum untuk buah, dan pemakaiannya di surah ini sudah diuraikan di 55:52. Sesudah sebutan umum itu, ayat ini menyebut dua tumbuhan dengan namanya, (نَخْلٌ, nakhlun) dan (رُمَّانٌ, rummaanun). Pasangan pertama tidak menyebut nama jenis buah apa pun. Di 55:52 buahnya disebut dengan "setiap" dan "sepasang", dan di 55:54 disebut buah kedua taman yang dekat, tetap tanpa nama jenisnya. Dengan demikian, kedua nama di ayat ini satu-satunya nama jenis tumbuhan di seluruh gambaran taman surah ini.

Kata nakhlun menunjuk pohonnya. Ketika buahnya yang dimaksud, Al-Qur'an memakai susunan lain: 16:67 menyebut (ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ, tsamaraati n-nakhiili), "buah-buah kurma", dan buah kurma yang masak di 19:25 disebut dengan kata yang berbeda, (رُطَبًا, ruthaban). Terjemahan menulis "pohon kurma" untuk kata ini, sama seperti di 55:11 dan di hampir semua ayat lain yang memuatnya.

Kata yang sama sudah disebut di bagian awal surah, di 55:11, dalam susunan (وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ, wa-n-nakhlu dzaatu l-akmaami), "dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang". Di sana kata itu bertanda sandang al- dan diberi sifat. Di ayat ini nakhlun berdiri tanpa kata sandang dan tanpa sifat. Buah-buahan dan pohon kurma disebut bersama di tiga ayat saja: 23:19, 55:11, dan ayat ini. Dari tumbuhan yang disebut dengan namanya di surah ini, hanya pohon kurma yang muncul di bagian bumi dan di bagian taman.

Kata rummaanun, "delima", dipakai di tiga ayat: 6:99, 6:141, dan ayat ini. Di ketiganya delima disebut bersama pohon kurma. Di 6:99 dan 6:141 delima juga disebut bersama zaitun, dalam susunan yang hampir sama. Di 6:141 tertulis (وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ, wa-z-zaytuuna wa-r-rummaana mutasyaabihan wa-ghayra mutasyaabihin), "zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa". Di ayat ini delima disebut tanpa zaitun dan tanpa sifat, dan hanya di ayat ini delima disebut sebagai isi taman balasan.

Terjemahan menulis faakihatun sebagai "buah-buahan", seperti di 55:11, dan dua kata sesudahnya sebagai "pohon kurma" dan "delima". Urutan ketiganya sama dengan urutan teks Arabnya: sebutan umum lebih dulu, lalu dua nama. Terjemahan juga tidak menambahkan kata sifat untuk ketiganya, sehingga kesederhanaan susunan Arabnya tetap terlihat.

Tafsiran

Ayat ini menyebut isi taman kedua dengan nama-nama yang juga dipakai untuk tumbuhan bumi. Pasangan pertama menyebut buahnya secara umum, setiap buah dengan pasangannya, sedangkan pasangan kedua menyebut buah-buahan lalu dua pohon yang di ayat-ayat lain disebut di antara tumbuhan bumi. Pohon kurma sudah muncul di awal surah sebagai isi bumi yang Dia bentangkan untuk makhluk (55:10-11), dan kini muncul lagi di taman. Nama yang sama menghubungkan pemberian di bumi dengan pemberian di taman.

Mengapa pohon kurma dan delima disebut tersendiri sesudah buah-buahan, dan tidak pohon lain, tidak dijelaskan ayat ini. Di 6:99 dan 6:141 keduanya muncul dalam daftar tumbuhan bumi bersama zaitun, dan di 6:99 juga bersama anggur. Di taman kedua daftarnya lebih pendek, dan zaitun tidak disebut. Ayat-ayatnya tidak memberi alasan, dan terjemahan membiarkannya demikian.

Kata-kata di ayat ini juga lebih sederhana daripada padanannya di awal surah. Pohon kurma di 55:11 diberi sifat, mempunyai kelopak mayang, dan buah-buahan di sana disusul biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya di 55:12. Di ayat ini ketiga kata berdiri tanpa sifat. Gambaran pasangan kedua memang lebih ringkas, seperti dicatat di 55:63, dan ayat ini salah satu contohnya.

Renungan dan Hikmah

  • Pohon kurma dan delima disebut dengan nama yang sama dengan pohon di bumi. Pemberian yang dijanjikan tidak digambarkan dengan kata-kata yang asing semuanya. Sebagian gambarannya memakai nama yang sudah dipakai Al-Qur'an untuk tumbuhan yang tumbuh di bumi. Pohon di halaman atau buah di pasar, dengan demikian, bisa mengingatkan kita pada taman yang dijanjikan Tuhan, sekaligus pada kenyataan bahwa yang di bumi pun sudah pemberian. Buah yang kita beli dengan uang tetap tumbuh dari pohon yang tidak kita ciptakan.
  • Ayat ini menyebut pohon kurma, tidak hanya buah kurma. Sebutir buah habis sekali dimakan, sedangkan pohon terus berbuah selama masih hidup. Dalam hidup kita ada pemberian yang habis sekali pakai dan ada yang terus memberi, seperti ilmu, kebiasaan baik, atau sumber air yang dijaga. Pemberian jenis kedua sering kurang kita syukuri karena kehadirannya terasa biasa, padahal Allah menyebut pohonnya di antara isi taman. Merawat sesuatu yang terus memberi termasuk cara mensyukurinya.
  • Mengapa pohon kurma dan delima yang disebut, tidak pohon lain, tidak dijelaskan ayat ini. Pembaca mudah tergoda mengisi kekosongan itu dengan dugaan. Membiarkan sebuah pertanyaan tetap terbuka karena teksnya memang tidak menjawab termasuk cara menghormati firman Allah. Berapa banyak dugaan kita tentang Al-Qur'an yang sebenarnya kita tambahkan sendiri? Kerendahan hati di hadapan teks berarti rela berkata "tidak disebutkan" ketika memang tidak disebutkan, walaupun jawaban yang terdengar indah mudah dikarang.
  • Pohon kurma disebut di awal surah sebagai bagian dari bumi yang Dia bentangkan untuk makhluk, dan disebut lagi di taman kedua. Surah ini memakai satu nama untuk dua pemberian yang jaraknya jauh. Yang kita terima di bumi dan yang dijanjikan di taman tidak digambarkan sebagai dua dunia yang sama sekali lain. Keduanya berasal dari Tuhan yang sama, dan keduanya disusul pertanyaan yang sama tentang nikmat-Nya. Cara kita menerima kurma di meja hari ini termasuk bagian dari cara kita memandang pemberian yang dijanjikan.
  • Di 55:11 pohon kurma diberi sifat, mempunyai kelopak mayang. Di ayat ini tiga kata berdiri tanpa sifat apa pun. Kita sering merasa sebuah pemberian baru berharga kalau digambarkan dengan banyak kata sifat. Ayat ini menyebut nama saja, dan nama itu cukup untuk ditanyakan sebagai nikmat pada refrain sesudahnya. Sebuah pemberian dari Tuhan tidak memerlukan pujian panjang untuk layak disyukuri. Menyebut namanya dengan sadar sudah merupakan awal pengakuan.
  • Di 6:99 tumbuhan bumi disebut dalam daftar panjang: tumbuhan segala sesuatu, yang hijau, butir yang bertumpuk, tangkai-tangkai buah kurma, kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima. Di taman kedua daftarnya tiga kata. Kita sering membayangkan kebahagiaan sebagai daftar keinginan yang panjang. Ayat ini menggambarkan kelimpahan dengan tiga kata, dan tiga kata itu sudah diletakkan di bawah pertanyaan tentang nikmat Tuhan kalian berdua. Di meja makan yang sederhana pun biasanya ada lebih dari tiga pemberian yang bisa disebut satu per satu dengan namanya.