فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein kedua puluh tujuh, sesudah buah-buahan, pohon kurma, dan delima: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', kalimat tanya menempati posisi yang di 6:99 diisi ajakan mengamati hasilnya dan di 6:141 suruhan menyantapnya serta menunaikan haknya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh tujuh dari refrain tetap surah ini, dan yang keempat dari delapan refrain di pasangan taman kedua. Refrain ini datang sesudah buah-buahan, pohon kurma, dan delima di 55:68, dan sesudahnya surah ini tidak lagi menyebut tumbuhan.
Pohon kurma dan delima disebut bersama di tiga ayat, seperti dicatat di 55:68: 6:99, 6:141, dan 55:68. Di dua ayat surah Al-An'am, daftar tumbuhan itu langsung disusul kalimat yang ditujukan kepada pendengar. Di 6:99 kalimatnya dibuka dengan (انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ, unzhuruu ilaa tsamarihi), "perhatikanlah buahnya", dan ayat itu ditutup dengan (إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ, inna fii dzaalikum la-aayaatin li-qawmin yu'minuuna), "sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman". Di 6:141 kalimatnya dibuka dengan (كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ, kuluu min tsamarihi), "makanlah buahnya", disusul (وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ, wa-aatuu haqqahu yawma hashaadihi), "dan berikanlah haknya pada waktu memetik hasilnya", dan (وَلَا تُسْرِفُوا, wa-laa tusrifuu), "dan janganlah berlebih-lebihan". Di 55:68 daftar yang sama disusul refrain ini.
Kalimat-kalimat di 6:99 dan 6:141 memakai kata kerja perintah dan larangan dengan akhiran jamak: unzhuruu, kuluu, wa-aatuu, dan tusrifuu. Refrain tidak memuat perintah. Kalimatnya dibuka dengan kata tanya, dan kata kerjanya berbentuk masa kini dengan akhiran dual. Surah ini sendiri hanya memuat dua kata kerja perintah, di 55:9 dan 55:33, dan keduanya berada di luar bagian taman.
Pihak yang disapa juga berbeda. Kata kerja di 6:99 dan 6:141 berakhiran jamak, "kalian", dan ditujukan kepada penerima tumbuhan itu. Refrain berakhiran dual, "kalian berdua", dan menyapa jin dan manusia bersama, seperti di seluruh refrain surah ini.
Di 6:99 dan 6:141 buah juga dikaitkan dengan waktu. Kedua ayat itu memuat (إِذَا أَثْمَرَ, idzaa atsmara), "ketika berbuah", dan 6:141 menambahkan yawma hashaadihi, "pada waktu memetik hasilnya". Ayat 55:68 tidak memuat kata waktu apa pun. Buah di taman kedua disebut tanpa musim berbuah dan tanpa hari panen.
Refrain ini menutup bagian pasangan kedua yang menyebut isi taman. Sesudahnya, 55:70 beralih ke "yang baik lagi jelita", dengan kata ganti (فِيهِنَّ, fiihinna), "di dalamnya", menggantikan fiihimaa, seperti dicatat di 55:51. Empat refrain tersisa sesudah ayat ini: 55:71, 55:73, 55:75, dan 55:77.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah buah-buahan, pohon kurma, dan delima. Di surah Al-An'am, tumbuhan yang sama disusul ajakan dan perintah: perhatikan buahnya, makanlah, berikan haknya pada waktu memetik hasilnya, dan jangan berlebih-lebihan. Di bumi pemberian itu datang bersama tugas. Buahnya diamati sebagai tanda, dimakan tanpa berlebihan, dan haknya diberikan pada waktu memetik hasilnya.
Di taman kedua, pohon yang sama disusul pertanyaan, tanpa perintah. Ayat-ayat taman tidak menyebut hak yang harus diberikan atau batas yang tidak boleh dilampaui. Pengamatan di 6:99 berujung pada tanda bagi kaum yang beriman, dan pertanyaan di refrain ini berujung pada pengakuan atau pendustaan nikmat Tuhan. Keduanya menyangkut cara pendengar memandang buah itu, sebagai pemberian yang menunjuk kepada Pemberinya.
Apakah hak dan batas yang disebut di 6:141 tidak berlaku lagi di taman, ayat ini tidak menyatakannya. Menjawabnya berarti menambahkan sesuatu yang tidak disebut teks. Yang bisa dibaca dari susunannya hanya ini: di bumi, buah yang sama disusul perintah, dan di taman kedua disusul pertanyaan. Pertanyaan itu sama dengan yang diajukan sesudah buah di bumi pada 55:13, sesudah buah-buahan dan pohon kurma di 55:11 serta biji-bijian dan bunga-bunga di 55:12. Buah di bumi dan buah di taman kedua sama-sama ditanyakan sebagai nikmat Tuhan kalian berdua.
Renungan dan Hikmah
- Di 6:141 pohon kurma dan delima disusul tiga kalimat untuk pendengar: makanlah, berikan haknya, jangan berlebih-lebihan. Di taman kedua pohon yang sama disusul satu pertanyaan tentang nikmat Tuhan. Selama di bumi, buah di tangan kita datang bersama tugas, dan tugas itu bagian dari cara menerima pemberian Allah dengan benar. Pertanyaan di refrain ini tidak menghapus tugas itu. Pertanyaan itu mengingatkan dasar dari semua tugas tersebut: pengakuan bahwa buahnya pemberian. Orang yang lupa dasar itu bisa menjalankan tugasnya sebagai kewajiban kosong, sedangkan orang yang mengingatnya menjalankannya sebagai balasan atas pemberian.
- Ayat 6:141 menyebut bahwa buah punya hak yang harus diberikan pada waktu memetik hasilnya. Hasil kebun yang kita anggap milik kita ternyata membawa hak yang harus ditunaikan. Refrain ini, yang datang sesudah pohon yang sama di taman, menanyakan apakah kita mendustakan nikmat Tuhan. Menahan hak itu bisa berangkat dari anggapan bahwa buah sepenuhnya hasil kerja sendiri, dan anggapan itu dekat dengan pendustaan yang ditanyakan di sini. Hak yang melekat pada hasil panen mengingatkan bahwa hujan, tanah, dan benihnya tidak kita buat sendiri.
- Di 6:99 pendengar diajak memperhatikan buah ketika berbuah dan ketika matang, dan pengamatan itu disebut sebagai tanda bagi kaum yang beriman. Kita makan buah setiap hari tanpa sempat memperhatikan bagaimana buah itu terbentuk dan matang. Pertanyaan di refrain ini dan ajakan di 6:99 sama-sama meminta perhatian yang sama, perhatian yang berujung pada pengakuan kepada Allah. Sebutir buah yang diperhatikan sungguh-sungguh sebelum dimakan bisa menjadi awal dari rasa syukur yang tidak perlu diucapkan panjang.
- Buah di bumi terikat pada musim: ada waktu berbuah, waktu matang, dan hari panen. Kita belajar menunggu, dan kadang kecewa ketika musim tidak berpihak. Buah di taman kedua disebut tanpa kata waktu apa pun. Kesabaran menunggu musim di bumi termasuk bagian dari hidup yang kita jalani sekarang, dan ayat ini menyebut buah yang tidak digambarkan dengan penantian itu, sebagai nikmat Tuhan kalian berdua. Menunggu musim tidak perlu dianggap kekurangan, karena penantian itu pun bagian dari pemberian yang ditanyakan.
- Perintah di 6:99 dan 6:141 ditujukan kepada "kalian" yang menerima tumbuhan itu. Refrain ini menyapa jin dan manusia bersama, dengan bentuk dual. Nikmat yang digambarkan di taman ditanyakan kepada dua golongan sekaligus. Apakah kita pernah membayangkan bahwa pertanyaan tentang nikmat yang kita terima juga diajukan kepada makhluk lain yang tidak kita lihat? Kesadaran itu membuat nikmat terasa kurang sebagai milik pribadi, dan lebih sebagai bagian dari pemberian Tuhan yang luas kepada seluruh ciptaan-Nya.
- Sesudah refrain ini surah tidak lagi menyebut tumbuhan, dan gambaran beralih ke yang baik lagi jelita. Daftar yang dimulai dengan dua taman, warna, mata air, dan buah ditutup dengan pertanyaan yang sama seperti pembukanya. Rangkaian panjang pemberian Tuhan tidak ditutup dengan ringkasan atau kesimpulan, dan setiap bagiannya berakhir dengan pertanyaan kepada pendengar. Daftar nikmat dalam hidup kita pun tidak pernah benar-benar selesai, dan setiap bagiannya masih menunggu jawaban kita sendiri.