فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
Di dalamnya ada yang baik lagi jelita.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌfiihinna khayraatun hisaanundi dalamnya ada yang baik lagi jelita
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيهِنَّfiihinnapada mereka
- خَيْرَاتٌkhayraatunyang baik
- حِسَانٌhisaanunyang indah
Inti bacaan
Pergantian dari rincian kebun menuju sosok pendamping: 'di dalamnya ada yang baik lagi jelita', dua sebutan sifat berdiri sendiri, dan bentuk jamak 'baik' yang di sembilan tempat berlainan berarti amal kebajikan atau hal yang baik, kali ini merujuk makhluk berpribadi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ, fiihinna khayraatun hisaanun), "di dalamnya ada yang baik lagi jelita". Kalimatnya tiga kata dan tidak memuat kata kerja, dan "ada" di terjemahan ditambahkan seperti di 55:62. Kata ganti jamak perempuan pada fiihinna menggantikan (فِيهِمَا, fiihimaa), "di dalam keduanya", yang dipakai di 55:66 dan 55:68. Pergantian yang sama terjadi di pasangan pertama pada 55:56, dan di sana dicatat bahwa rujukan kata ganti ini tidak disebut. Di pasangan kedua pilihan rujukannya lebih sedikit lagi. Dari 55:62 sampai 55:68 tidak ada kata benda berbentuk jamak, hanya kata berbentuk dual dan tunggal, sehingga rujukan kata ganti jamak itu tidak bisa dicari ke belakang. Kata berbentuk jamak pertama di pasangan ini datang sesudahnya, khayraatun.
Kata (خَيْرَاتٌ, khayraatun) berasal dari akar خ-ي-ر dan berbentuk jamak perempuan. Bentuk jamak ini dipakai di sepuluh ayat. Di sembilan ayat lainnya kata itu bertanda sandang dan menunjuk perbuatan atau hal yang baik. Di 2:148 tertulis (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ, fa-stabiquu l-khayraati), "berlomba-lombalah kalian dalam berbagai kebajikan", dan di 3:114, 21:90, serta 23:61 orang-orang yang dipuji disebut bersegera dalam kebaikan. Di 9:88 kata yang sama menunjuk apa yang diterima: (وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ, wa-ulaa'ika lahumu l-khayraatu), "dan mereka itu memperoleh kebaikan-kebaikan". Hanya di ayat ini khayraatun tidak bertanda sandang, dan hanya di sini kata itu menunjuk pribadi, yang di 55:74 disebut tidak pernah dijamah manusia dan jin.
Bentuk tunggal akar ini juga dipakai untuk harta. Di 2:180 tertulis (إِنْ تَرَكَ خَيْرًا, in taraka khayran), "meninggalkan harta", dan di 100:8 (لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ, li-hubbi l-khayri la-syadiidun), "cintanya pada harta benar-benar berlebihan". Karena akar yang sama mencakup harta, perbuatan, dan pribadi, kata "baik" di terjemahan tidak bisa dipersempit menjadi baik akhlaknya saja atau baik rupanya saja. Teksnya tidak menyebut segi mana yang dimaksud.
Kata (حِسَانٌ, hisaanun) berasal dari akar ح-س-ن. Bentuk ini hanya dipakai dua kali, keduanya di pasangan taman kedua: di ayat ini dan di 55:76, (وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ, wa-'abqariyyin hisaanin), "dan permadani-permadani yang indah". Akarnya sama dengan kata kebaikan di 55:60, (هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ, hal jazaa'u l-ihsaani illaa l-ihsaanu), "adakah balasan kebaikan selain kebaikan?", ayat yang menutup gambaran pasangan pertama.
Terjemahan menulis hisaanun sebagai "jelita" di ayat ini dan "indah" di 55:76. Terjemahan kata per kata memakai "yang indah" di kedua tempat. Kata "jelita" dalam bahasa Indonesia lazim dipakai untuk orang, sedangkan di 55:76 kata itu menyifati permadani, jadi perbedaannya mengikuti apa yang disifati.
Di teks Arabnya tidak ada kata benda yang disifati. Kedua kata itu berdiri sendiri, dan terjemahan menulisnya "yang baik lagi jelita" tanpa menambahkan "bidadari", seperti di 55:56. Kata benda yang diterjemahkan "bidadari" baru datang di 55:72.
Tafsiran
Ayat ini beralih dari isi taman ke yang menemani penghuninya. Di pasangan pertama peralihan itu terjadi di 55:56, dengan sifat yang menyangkut sikap: menahan pandangan. Di pasangan kedua sifat pertamanya lebih umum: baik dan jelita. Sifat pertama di pasangan pertama menyangkut apa yang mereka lakukan, sedangkan sifat pertama di pasangan kedua menyangkut keadaan mereka. Kedua pasangan membuka bagian ini dengan kata yang sama, fiihinna, lalu memakai sifat yang berbeda.
Di tempat lain Al-Qur'an, khayraatun menunjuk kebaikan yang dikejar orang-orang yang beriman, yang mereka lombakan dan mereka segerakan di dunia. Di 9:88 kebaikan-kebaikan itu disebut sebagai bagian mereka yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Di ayat ini kata yang sama tidak lagi menunjuk perbuatan yang dikejar, dan menunjuk pribadi yang ada di dalam taman. Apakah kedua pemakaian itu dimaksudkan saling menjawab tidak dinyatakan teksnya. Pembaca yang mengenal kata itu dari 2:148 mendengarnya di sini dalam pemakaian yang baru.
Akar hisaanun juga menghubungkan ayat ini dengan penutup pasangan pertama. Di 55:60 kebaikan disebut sebagai balasan bagi kebaikan, dan di pasangan kedua akar yang sama dipakai untuk menyifati apa yang ada di dalam taman: yang menemani penghuninya di ayat ini, dan permadaninya di 55:76.
Renungan dan Hikmah
- Di banyak ayat, kebaikan adalah sesuatu yang dilombakan: berlomba-lombalah dalam berbagai kebajikan, bersegera dalam kebaikan. Kita mengenal kebaikan terutama sebagai kerja, sesuatu yang harus diupayakan dengan tenaga dan waktu. Di ayat ini kata yang sama muncul sebagai sesuatu yang ada di dalam taman. Susunan itu memperlihatkan bahwa kebaikan yang dikejar di dunia dan kebaikan yang ditemui di taman memakai satu kata, dan keduanya berada di bawah pertanyaan yang sama tentang nikmat Tuhan.
- Ayat ini menyebut "baik" tanpa merinci segi mana yang dimaksud, dan akarnya di tempat lain mencakup harta dan perbuatan. Kita sering tergoda merinci kebaikan orang lain menurut ukuran kita sendiri, lalu menilai mereka dengan ukuran itu. Teks ini membiarkan kata itu tetap luas, sehingga kebaikan mereka mencakup segi mana pun yang bisa disebut baik. Kalau Allah sendiri tidak mempersempitnya, pembaca pun tidak perlu mengisinya dengan daftar yang ia karang sendiri.
- Baik dan jelita disebut berdampingan, tanpa kata yang menyatakan mana yang lebih penting. Dalam hidup kita keduanya sering dipisahkan, bahkan dipertentangkan, seolah orang harus memilih salah satunya. Di ayat ini keduanya hadir bersama pada pribadi yang sama. Susunan itu tidak menyuruh kita memilih. Ayat ini hanya menyebut keduanya sebagai bagian dari pemberian yang ditanyakan sesudahnya sebagai nikmat Tuhan kalian berdua.
- Sesudah taman, warna, air, dan buah, gambaran pasangan kedua beralih ke yang menemani penghuninya. Kehadiran orang yang baik di sekitar kita mudah dianggap kebetulan, padahal ayat ini menyebutnya di antara isi taman yang disiapkan Tuhan. Teman yang baik di dunia pun bisa kita pandang dengan cara yang sama. Ayat ini menempatkan mereka sesudah buah-buahan, dalam deretan pemberian yang sama. Berapa sering kita menghitung kehadiran orang-orang baik di sekitar kita sebagai nikmat, sejajar dengan air dan makanan?
- Akar kata jelita di ayat ini sama dengan akar kata kebaikan di 55:60, adakah balasan kebaikan selain kebaikan. Pendengar yang memperhatikan bunyi kata-katanya mendengar akar yang sama kembali di tengah gambaran taman kedua, sepuluh ayat sesudah 55:60. Kebaikan yang di pasangan pertama dinyatakan sebagai prinsip balasan kini muncul dalam rupa yang bisa dibayangkan. Hubungan antara perbuatan dan balasannya tidak harus diterangkan panjang untuk bisa dirasakan, cukup lewat kata yang terdengar lagi.
- Terjemahan ayat ini tidak menambahkan kata "bidadari", walaupun banyak pembaca terbiasa mendengarnya di sini. Teks Arabnya hanya memuat dua sifat, dan kata bendanya baru disebut dua ayat kemudian. Menahan diri dari menambahkan kata yang terasa akrab menuntut kesabaran, karena pembaca harus menerima kalimat yang terasa belum lengkap. Kesabaran itu bagian dari cara menghormati firman Allah apa adanya, dan pembaca tetap bisa menunggu sampai 55:72 untuk mendengar kata bendanya.