فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh sembilan, yang berdiri di antara 55:72 dan 55:74: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', diletakkan di titik yang pada pasangan taman pertama, di 55:56, tidak berjeda, sehingga kata ganti di ayat berikutnya melintasinya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh sembilan dari refrain tetap surah ini, dan yang keenam dari delapan refrain di pasangan taman kedua. Refrain ini datang sesudah (حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ, huurun maqshuuraatun fii l-khiyaami), "bidadari-bidadari yang terpelihara dalam kemah-kemah" (55:72), dan sebelum 55:74.

Letak refrain ini berbeda dari padanannya di pasangan pertama. Di 55:56, sifat yang menemani penghuni taman dan kalimat (لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ, lam yathmitshunna insun qablahum wa-laa jaannun), "tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin", berada dalam satu ayat, tanpa refrain di antaranya. Di pasangan kedua sifatnya disebut di 55:72, kalimat yang sama disebut di 55:74, dan refrain ini berdiri di antara keduanya, di titik yang di pasangan pertama tidak memuat jeda.

Akhiran kata ganti jamak perempuan pada yathmitshunna di 55:74 menunjuk kembali ke seberang refrain ini, ke bidadari-bidadari di 55:72. Pola menunjuk ke seberang refrain sudah dicatat di 55:58, ketika kata ganti yang sama melewati 55:57. Di sini refrain yang dilewati memisahkan dua bagian yang di pasangan pertama tergabung dalam satu ayat. Refrain ini diapit dua ayat tentang yang menemani penghuni taman, seperti 55:71 yang diapit 55:70 dan 55:72, dan seperti 55:57 di pasangan pertama.

Pembaca terjemahan mengalami lompatan yang sama. Kata "Mereka" di awal terjemahan 55:74 harus dihubungkan dengan "bidadari-bidadari" di 55:72, melewati kalimat refrain yang menyebut "kalian berdua". Di antara kedua kata itu disebut dua pihak lain, Tuhan dan pendengar yang disapa, sehingga pembaca perlu mengingat siapa yang dimaksud "mereka".

Bentuk pasif maqshuuraatun di 55:72 tidak menyebut siapa yang memelihara, dan refrain ini datang sesudahnya dengan menyebut Tuhan kalian berdua, pola yang dicatat di 55:65. Sesudah refrain ini tinggal dua refrain di pasangan kedua, 55:75 dan 55:77, dan dua ayat gambaran, 55:74 dan 55:76. Sebelum refrain ini enam ayat gambaran sudah disebut, dari 55:62 sampai 55:72.

Sampai refrain ini, kata kerja yang terdengar di pasangan kedua hanya tukadzdzibaani, seperti dicatat di 55:67. Kata kerja lain baru muncul di ayat sesudahnya, 55:74, dan kata kerja itu yathmitshunna, yang didahului kata peniadaan.

Terjemahan refrain ini sama dengan kemunculan lainnya. Dengan demikian pembaca terjemahan pun bisa melihat bahwa satu pertanyaan yang sama disisipkan di tengah gambaran yang di pasangan pertama disebut tanpa jeda.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah bidadari-bidadari yang terpelihara dalam kemah-kemah. Di pasangan pertama gambaran tentang yang menemani penghuni taman dan kalimat bahwa mereka tidak pernah dijamah disampaikan dalam satu ayat, 55:56. Di pasangan kedua keduanya dipisahkan oleh pertanyaan ini. Pendengar ditanya tentang nikmat sebelum mendengar bahwa mereka tidak pernah dijamah siapa pun.

Pemisahan itu membuat setiap bagian gambaran berdiri sendiri sebagai nikmat yang ditanyakan. Sebutan dan tempat mereka ditanyakan lebih dulu, lalu keadaan mereka yang tidak pernah dijamah ditanyakan tersendiri sesudah 55:74. Teksnya tidak menjelaskan mengapa pasangan kedua memisahkan apa yang di pasangan pertama digabung. Susunannya hanya memperlihatkan bahwa di pasangan kedua pertanyaan tentang nikmat diajukan di lebih banyak titik.

Dalam susunan ini refrain tidak memotong makna kalimat. Kata ganti di 55:74 tetap menunjuk ke 55:72, dan pendengar tetap bisa menyambung keduanya. Pendengar berhenti sejenak di tengah gambaran, lalu gambaran itu dilanjutkan. Karena diapit dua ayat tentang pihak yang sama, refrain ini menjadi pertanyaan yang diajukan di tengah satu pokok pembicaraan, tidak di peralihan dari satu pokok ke pokok lain.

Renungan dan Hikmah

  • Di pasangan pertama gambaran yang sama disampaikan tanpa jeda, sedangkan di pasangan kedua sebuah pertanyaan disisipkan di tengahnya. Kita sering menikmati sesuatu dalam satu tarikan, tanpa berhenti sampai semuanya selesai. Pertanyaan yang disisipkan di tengah membuat pendengar berhenti sebelum gambaran lengkap. Pendengar belum tahu seluruh isi gambaran, tetapi sudah diminta mengakui bagian yang sudah didengarnya. Rasa syukur tidak harus menunggu sampai seluruh pemberian diterima. Syukur itu bisa diucapkan di tengah jalan, setiap kali satu bagian dari nikmat Tuhan disadari.
  • Refrain berdiri di antara 55:72 dan 55:74, tetapi kalimat sesudahnya tetap menunjuk ke bidadari-bidadari sebelumnya. Alur gambaran tidak terputus, hanya berhenti sejenak. Mengingat Tuhan di tengah pekerjaan pun tidak harus memutus pekerjaan itu. Satu kalimat yang mengingat Pemberi, cukup menyebut dari mana kebaikan itu datang, bisa disisipkan di tengah kegiatan apa pun, lalu kegiatan itu dilanjutkan dengan kesadaran yang baru.
  • Sifat mereka dan kalimat bahwa mereka tidak pernah dijamah, yang di pasangan pertama disusul satu pertanyaan, di pasangan kedua disusul dua: sesudah 55:72 dan sesudah 55:74. Satu pemberian bisa diingat lebih dari sekali, dari sisi yang berbeda. Kita sering merasa cukup berterima kasih sekali untuk satu pemberian, lalu melupakannya. Pertanyaan yang diajukan lagi atas bagian yang sama memperlihatkan bahwa pemberian Tuhan layak diingat berulang, setiap kali sisi lainnya terlihat.
  • Pendengar ditanya tentang nikmat sebelum mendengar kabar bahwa mereka tidak pernah dijamah siapa pun. Pertanyaan datang lebih dulu, kabar menyusul. Kita sering baru bersyukur setelah mendengar semua keterangan tentang sebuah pemberian. Apakah sebagian pemberian yang sudah kita pegang pun belum kita syukuri karena kita masih menunggu keterangan yang lebih lengkap? Keterangan yang lengkap mungkin tidak pernah datang, sedangkan pemberiannya sudah ada di tangan.
  • Pasangan pertama menggabungkan dan pasangan kedua memisahkan, tetapi kalimat bahwa mereka tidak pernah dijamah sama persis di keduanya. Susunan yang berbeda tidak mengubah isi yang disampaikan. Dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain pun, cara bisa berbeda-beda sesuai keadaan, sedangkan isinya tetap. Orang tua yang menasihati anaknya dengan cara berbeda di usia yang berbeda sering menyampaikan pesan yang sama. Di kedua susunan, pertanyaan yang menyusulnya pun sama, dan sama-sama menyebut Tuhan kalian berdua.
  • Sesudah refrain ini hanya dua ayat gambaran dan dua refrain tersisa di pasangan kedua. Pendengar yang sudah mengikuti rangkaian panjang ini mendekati akhirnya. Mendekati akhir sebuah rangkaian sering membuat perhatian mengendur, karena kita merasa sudah tahu polanya. Pertanyaan yang sama tetap diajukan dengan kata yang sama sampai akhir, dan setiap kali pendengar tetap diminta menjawab tentang nikmat Tuhan kalian berdua.