مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

Mereka bersandar di atas bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍmuttaki'iina 'alaa rafrafin khudhrinmereka bersandar di atas bantal-bantal hijau
  2. وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍwa-'abqariyyin hisaanindan permadani-permadani yang indah

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. مُتَّكِئِينَmuttaki'iinabersandar
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. رَفْرَفٍrafrafinbantal-bantal
  4. خُضْرٍkhudhrinhijau
  5. وَعَبْقَرِيٍّwa-'abqariyyindan permadani-permadani
  6. حِسَانٍhisaaninyang indah

Inti bacaan

Enam kata yang menutup rangkaian lukisan surah: rafraf dan 'abqariyy tak punya padanan di seluruh mushaf, sementara khudhr (lima ayat, termasuk 12:43, 18:31, 76:21) dan hisaan (55:70) berbentuk jamak, maka kedua bendanya diterjemahkan dengan kata ulang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ, muttaki'iina 'alaa rafrafin khudhrin wa-'abqariyyin hisaanin), "mereka bersandar di atas bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah". Ayat ini gambaran terakhir di surah ini, sebab sesudahnya tinggal refrain 55:77 dan ayat penutup 55:78.

Kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki'iina), "mereka bersandar", sudah diuraikan di 55:54: akarnya و-ك-أ, dan dari sebelas ayat yang memakai akar itu, delapan menggambarkan penghuni taman yang bersandar. Kata depan (عَلَىٰ, 'alaa) diterjemahkan "di atas", seperti di 55:54, 36:56, 52:20, dan 76:13, tempat kata yang sama menyertai muttaki'iina.

Dua kata benda di ayat ini tidak dipakai di tempat lain dalam Al-Qur'an. Akar (رَفْرَفٍ, rafrafin) dan akar (عَبْقَرِيٍّ, 'abqariyyin) tidak muncul di ayat lain mana pun, seperti dicatat di 55:66, sehingga maknanya tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain. Terjemahan ini menulis rafrafin sebagai "bantal-bantal" dan 'abqariyyin sebagai "permadani-permadani".

Kata sifatnya, sebaliknya, bisa ditelusuri. Masing-masing kata benda itu disertai kata sifat yang dikenal: (خُضْرٍ, khudhrin), "hijau", dan (حِسَانٍ, hisaanin), "indah". Kata khudhrin dipakai di lima ayat. Di empat ayat lainnya kata itu menyifati kata benda jamak: tangkai-tangkai dalam mimpi raja, (سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ, sunbulaatin khudhrin), "tangkai-tangkai hijau" (12:43, 12:46), dan pakaian penghuni taman, (ثِيَابًا خُضْرًا, tsiyaaban khudhran), "pakaian hijau" (18:31), serta (ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ, tsiyaabu sundusin khudhrun), "pakaian sutra halus yang hijau" (76:21). Kata hisaanin, yang di 55:70 menyifati mereka yang menemani penghuni taman, juga berbentuk jamak.

Kedua kata benda di ayat ini tidak memakai akhiran jamak seperti -aat pada sunbulaatin, tetapi kata sifat yang menyertainya berbentuk jamak. Karena itu terjemahan menulis keduanya dengan kata ulang, bantal-bantal dan permadani-permadani, untuk menunjukkan bahwa benda yang disebut banyak.

Warna hijau dan sutra tebal berkumpul di dua ayat tentang pakaian penghuni taman, 18:31 dan 76:21. Keduanya menyebut pakaian hijau dari (سُنْدُسٍ, sundusin), "sutra halus", dan (إِسْتَبْرَقٍ, istabraqin), "sutra tebal". Di surah ini keduanya terpisah di dua pasangan taman: sutra tebal menjadi lapisan tempat bersandar pasangan pertama (55:54), dan hijau menjadi warna tempat bersandar pasangan kedua, di ayat ini.

Dibandingkan dengan 55:54, ayat ini lebih pendek: enam kata, sedangkan 55:54 sembilan kata dan ditutup dengan buah yang dekat, (وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ, wa-janaa l-jannatayni daanin). Di pasangan kedua buah sudah disebut di 55:68, dan ayat tentang bersandar ini tidak menyebutnya lagi.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi gambaran kenyamanan fisik penghuni taman kedua, dan gambaran itu sekaligus gambaran terakhir di surah ini. Dari 55:62 sampai 55:74, pasangan kedua menyebut taman, warna, mata air, buah, dan mereka yang menemani penghuninya, sedangkan penghuni itu sendiri disebut sebatas kata ganti "mereka" di 55:74. Di ayat ini penghuni itu tampak, dan mereka diperlihatkan dalam sikap tenang: bersandar.

Kedua pasangan taman berakhir dengan cara berbeda. Pasangan pertama ditutup dengan pertanyaan tentang balasan kebaikan di 55:60, dan pasangan kedua dengan gambaran orang yang bersandar. Pasangan pertama berhenti pada alasan pemberian, dan pasangan kedua berhenti pada keadaan penerimanya.

Ayat ini juga menggabungkan dua jenis kata. Kata bendanya tidak bisa dibandingkan dengan ayat lain, sedangkan kata sifatnya dikenal: hijau, warna yang di ayat lain dipakai untuk pakaian penghuni taman, dan indah, kata yang di 55:70 dipakai untuk mereka yang menemani penghuni taman. Pendengar mungkin tidak bisa membayangkan bentuk tepat bantal dan permadani itu, tetapi warna dan sifatnya disebut dengan kata yang bisa ditelusuri ke ayat lain. Dengan begitu gambaran terakhir surah ini tetap terikat pada gambaran taman yang dikenal dari surah-surah lain.

Renungan dan Hikmah

  • Pasangan taman pertama ditutup dengan pertanyaan, adakah balasan kebaikan selain kebaikan (55:60), dan pasangan kedua ditutup dengan orang-orang yang bersandar. Allah menyebut kebaikan sebagai alasan, lalu istirahat sebagai gambaran terakhir. Banyak orang menjalani hari yang penuh kerja baik tanpa pernah merasa boleh berhenti, dan lelahnya dianggap tanda kesungguhan. Gambaran terakhir surah ini berupa istirahat, dan istirahat itu disebut di antara pemberian Tuhan.
  • Di 76:13 orang-orang yang bersandar di taman digambarkan tidak melihat terik matahari dan tidak merasakan dingin yang menusuk. Istirahat di dunia hampir selalu terganggu: oleh panas, oleh dingin, oleh pikiran tentang urusan yang belum selesai. Allah menggambarkan istirahat yang tidak diputus apa pun. Apa yang paling sering memutus istirahat kita, dan berapa di antaranya berasal dari kekhawatiran yang tidak pernah terjadi?
  • Dalam mimpi raja di 12:43, tujuh tangkai hijau disebut berdampingan dengan tangkai-tangkai lain yang kering, dan kelanjutan kisah itu menjelaskan bahwa masa subur akan disusul masa sulit. Di dunia, hijau selalu punya pasangan kering. Di ayat ini warna hijau menyifati tempat bersandar penghuni taman, dan tidak ada yang kering di sebelahnya. Mengetahui bahwa masa hijau di dunia bersifat sementara membantu kita memakainya dengan bijak, sambil mengingat janji Tuhan tentang hijau yang tidak disusul musim kering.
  • Kata sifat jamak di ayat ini menunjukkan bahwa bantal dan permadani itu banyak. Di dunia tempat duduk yang nyaman sering terbatas, dan sering menjadi milik sebagian orang saja. Gambaran Allah tentang taman tidak menyebut antrean atau perebutan tempat bersandar. Orang yang di dunia terbiasa mengalah dan menunggu giliran mendapat gambaran tempat yang cukup untuk semua penghuninya. Di sana tidak ada yang perlu disisihkan supaya yang lain mendapat tempat.
  • Dua kata benda di ayat ini tidak bisa dibandingkan dengan ayat lain, dan 32:17 menyebut bahwa tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang disembunyikan bagi orang-orang beriman berupa penyejuk mata. Allah tetap menyebut warna dan sifatnya dengan kata yang kita kenal: hijau dan indah. Dua kata sifat itu sudah cukup untuk membuat pendengar membayangkan tempat yang menyenangkan, walaupun bentuk bendanya tidak diketahui. Kita tidak perlu mengetahui bentuk tepat balasan itu untuk mempercayainya. Cukup mengenal sifat-sifatnya lewat kata yang Dia pilih, dan menyerahkan sisanya kepada-Nya.
  • Taman kedua disebut "selain keduanya", tetapi penghuninya digambarkan dengan kata yang sama seperti penghuni taman pertama: muttaki'iina, bersandar. Tempat bersandarnya berbeda, kasur berlapis sutra tebal di satu pasangan dan bantal hijau di pasangan lain, sedangkan sikap penghuninya sama. Di dunia orang sering mengukur kebahagiaan dari perabotnya. Dalam susunan Allah di sini, ketenangan penghuni kedua taman tidak dibedakan, walaupun perabotnya berbeda.