تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Berkahlah nama Tuhanmu, Pemilik kebesaran dan kemuliaan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَtabaaraka smu rabbikaberkahlah nama Tuhanmu
- ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِdzii l-jalaali wa-l-ikraamiPemilik kebesaran dan kemuliaan
Terjemahan per kata (6 kata)
- تَبَارَكَtabaarakaberkahlah
- اسْمُsmunama
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- ذِيdziipemilik
- الْجَلَالِl-jalaalikebesaran
- وَالْإِكْرَامِwa-l-ikraamidan kemuliaan
Inti bacaan
Dari sembilan kemunculan tabaaraka, semuanya merujuk Allah, dan subjeknya ismu di 55:78 saja; tujuh ayat lain memuat ism rabbika dalam bentuk seruan. Jalaal diterjemahkan kebesaran, selaras dengan 55:27.
Penjelasan pilihan kata
Ayat penutup surah ini berbunyi (تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, tabaaraka smu rabbika dzii l-jalaali wa-l-ikraami), "berkahlah nama Tuhanmu, Pemilik kebesaran dan kemuliaan".
Kata kerja (تَبَارَكَ, tabaaraka), "berkahlah", berakar ب-ر-ك dan dipakai di sembilan ayat, selalu dalam bentuk yang sama dan selalu untuk Allah: 7:54, 23:14, 25:1, 25:10, 25:61, 40:64, 43:85, 67:1, dan ayat ini. Di tiga ayat kata sesudahnya Allah, misalnya (تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ, tabaaraka llaahu rabbu l-'aalamiina), "berkahlah Allah, Tuhan seisi alam" (7:54). Di lima ayat kata sesudahnya "Yang", disusul keterangan tentang perbuatan-Nya, misalnya (تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ, tabaaraka lladzii bi-yadihi l-mulku), "berkahlah Yang di tangan-Nya kekuasaan" (67:1). Di ayat ini kata sesudahnya (اسْمُ, smu), "nama", dan susunan itu tidak dipakai di ayat lain. Di dua surah kata tabaaraka membuka surah, di 25:1 dan 67:1, dan di surah ini menutupnya.
Bentuk lain dari akar yang sama dipakai untuk benda dan tempat. Air yang diturunkan dari langit disebut (مَاءً مُبَارَكًا, maa'an mubaarakan), "air yang diberkahi", lalu dengan air itu (فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ, fa-anbatnaa bihi jannaatin wa-habba l-hashiidi), "lalu Kami tumbuhkan dengannya taman-taman dan biji-bijian yang dapat dipanen" (50:9). Tentang bumi, 41:10 menyebut (وَبَارَكَ فِيهَا, wa-baaraka fiihaa), "dan Dia memberkahinya", bersama (وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا, wa-qaddara fiihaa aqwaatahaa), "dan menentukan padanya kadar makanan-makanannya". Di ayat-ayat itu berkah melekat pada air dan bumi, dan kata yang dipakai menunjukkan ada yang memberkahi: air itu diberkahi, dan bumi diberkahi oleh Dia. Kata tabaaraka tidak pernah dipakai untuk benda. Kata itu dipakai untuk Dia yang memberkahi.
Di 25:10, tabaaraka disusul sebutan tentang taman: (تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَٰلِكَ, tabaaraka lladzii in syaa'a ja'ala laka khayran min dzaalika), "berkahlah Yang, jika Dia menghendaki, niscaya menjadikan bagimu yang lebih baik daripada itu", lalu (جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ, jannaatin tajrii min tahtihaa l-anhaaru), "kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai". Di sana kata itu mendahului sebutan taman, dan di surah ini kata itu datang sesudah dua pasang taman selesai digambarkan.
Sebutan "nama Tuhanmu" dipakai di delapan ayat. Di tujuh ayat nama itu disebut di dalam perintah kepada orang yang disapa: (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى, sabbihi sma rabbika l-a'laa), "sucikanlah nama Tuhanmu yang tertinggi" (87:1), (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ, iqra' bi-smi rabbika), "bacalah dengan nama Tuhanmu" (96:1), bertasbih dengan nama-Nya di 56:74, 56:96, dan 69:52, serta menyebut nama-Nya di 73:8 dan 76:25. Di ayat ini nama itu menjadi pokok kalimat, dan kepada orang yang disapa tidak diberikan perintah apa pun.
Surah ini dibuka dengan satu nama, (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) (55:1). Bahwa kata itu nama ditunjukkan 17:110, yang menyuruh menyeru Allah atau Ar-Rahman, lalu menyatakan (فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, fa-lahu l-asmaa'u l-husnaa), "maka milik-Nya nama-nama yang terindah". Kata asmaa'u dan smu berasal dari akar yang sama, س-م-و. Surah yang dibuka dengan sebuah nama ditutup dengan kata "nama".
Sebutan (ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ, dzii l-jalaali wa-l-ikraami) sudah diuraikan di 55:27, tempat kata pembukanya berbentuk (ذُو, dzuu). Di 55:27 bunyi akhir dzuu sama dengan bunyi akhir (وَجْهُ, wajhu), sehingga di sana sebutan itu melekat pada wajah. Di ayat ini bunyi akhirnya -ii, sama dengan bunyi akhir rabbi- pada rabbika, sedangkan smu, "nama", berbunyi akhir -u. Karena itu sebutan di ayat ini melekat pada Tuhan, tidak pada nama. Terjemahan menulis l-jalaali sebagai "kebesaran", sama dengan terjemahan 55:27, dan menulis dzii sebagai "Pemilik" sesudah koma, supaya sebutan itu terbaca sebagai sebutan bagi Tuhan.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan keberkahan nama Tuhan sesudah seluruh rangkaian anugerah yang telah disebutkan sepanjang surah. Tiga puluh satu kali pendengar ditanya nikmat mana yang mereka dustakan, dan ayat terakhir tidak bertanya lagi. Kalimatnya pernyataan: nama Tuhanmu berkah.
Di ayat-ayat lain berkah melekat pada air yang menumbuhkan taman dan biji-bijian (50:9) dan pada bumi yang ditentukan kadar makanannya (41:10). Bumi, biji-bijian, dan taman juga ada di daftar pemberian surah ini, dari 55:10-12 sampai dua pasang taman di bagian akhirnya. Di ujung daftar itu, berkah disebut sebagai milik nama Tuhan. Ayat 7:96 memakai dalam satu kalimat dua akar yang dipakai surah ini di refrainnya dan di ayat penutupnya, ك-ذ-ب dan ب-ر-ك: keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan bagi penduduk negeri seandainya mereka beriman dan bertakwa, tetapi mereka mendustakan. Surah ini menanyakan pendustaan tiga puluh satu kali, lalu berhenti pada berkah.
Sebutan penutupnya memuat kata kemuliaan, yang di 55:27 sudah dicatat berasal dari kata kerja "memuliakan", seperti di 89:15, ketika Tuhan menguji manusia lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan. Dua pasang taman yang baru selesai digambarkan termasuk bentuk memuliakan itu. Surah ini ditutup dengan menyebut Tuhan sebagai Pemilik kemuliaan tepat sesudah memperlihatkan bagaimana Dia memuliakan penghuni taman-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Di tujuh ayat lain, nama Tuhanmu disebut bersama perintah: sucikanlah, bacalah, bertasbihlah, sebutlah. Di ayat penutup ini Allah menyebut nama-Nya tanpa memberi perintah apa pun, dan menyatakan bahwa nama itu berkah. Sesudah tiga puluh satu pertanyaan, kalimat terakhir tidak meminta sesuatu dari pendengar. Ibadah sering kita pahami sebagai daftar perbuatan. Ayat ini memperlihatkan bahwa mengenal siapa Dia juga bagian dari hubungan dengan-Nya, bahkan ketika tidak ada yang sedang diperintahkan.
- Di 50:9 air yang diberkahi menumbuhkan taman dan biji-bijian, dan di 41:10 bumi diberkahi bersama kadar makanannya. Berkah dalam ayat-ayat itu terlihat pada sesuatu yang tumbuh dan mencukupi. Nasi di piring kita, air yang kita minum, dan hasil kerja yang cukup untuk sebulan termasuk dalam gambaran itu. Dari mana datangnya kebaikan yang terus bertambah dalam hidup kita, dan kapan terakhir kali kita menyebut nama Tuhan ketika melihatnya?
- Al-Qur'an menyebut kitab, air, dan bumi sebagai yang diberkahi, dengan bentuk kata yang menunjukkan ada yang memberkahi, sedangkan kata tabaaraka dipakai untuk Allah saja. Kita sering menyebut suatu tempat, benda, atau hari membawa berkah, lalu perhatian kita berhenti pada benda itu. Dengan pilihan kata itu, perhatian pembaca Al-Qur'an diarahkan lebih jauh, kepada Dia yang memberkahi, sehingga benda yang kita anggap berkah tetap dipahami sebagai pemberian.
- Surah ini dibuka dengan nama Ar-Rahman dan ditutup dengan kata "nama Tuhanmu". Semua yang disebut di antaranya, dari matahari dan bulan sampai taman, berada di antara dua sebutan tentang nama-Nya. Nama pembukanya berakar ر-ح-م, akar yang sama dengan kata rahmat, sehingga seluruh pemberian di antaranya dibuka dengan nama yang berkaitan dengan rahmat-Nya. Di 96:1 Allah menyuruh membaca dengan nama Tuhanmu. Memulai dan mengakhiri pekerjaan dengan mengingat nama-Nya menempatkan pekerjaan itu dalam bingkai yang sama dengan surah ini.
- Sesudah menyebut begitu banyak pemberian, surah ini tidak ditutup dengan kesimpulan tentang pemberiannya, dan ditutup dengan pujian kepada nama Pemberinya. Kita juga menghitung pemberian dalam hidup, misalnya di akhir tahun atau sesudah berhasil melewati masa sulit. Hitungan itu mudah berakhir pada rasa puas terhadap diri sendiri, seakan-akan semua itu hasil usaha kita. Ayat ini memperlihatkan ke mana hitungan pemberian bisa diarahkan: kepada nama Tuhan yang memberi semuanya.
- Kata kemuliaan di ayat ini berasal dari memuliakan, dan di 89:15 Tuhan menguji manusia dengan memuliakannya. Dua ayat kemudian, 89:17 menegur manusia karena tidak memuliakan anak yatim, dan 89:18 menambahkan teguran karena mereka tidak saling mendorong memberi makan orang miskin. Tuhan Pemilik kemuliaan memuliakan hamba-Nya, dan hamba yang dimuliakan diharapkan memuliakan orang yang lemah di sekitarnya. Siapa di sekitar kita yang selama ini belum kita muliakan?