Ayat 57:12

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Pada hari engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, “Ada berita gembira bagi kalian pada hari ini, taman-taman yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, kalian kekal di dalamnya.” Itulah kemenangan yang agung.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِyawma taraa l-mu'miniina wa-l-mu'minaatipada hari engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan
  2. يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْyas'aa nuuruhum bayna aydiihim wa-bi-aymaanihimcahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka
  3. بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَbusyraakumu l-yawmaada berita gembira bagi kalian pada hari ini
  4. جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُjannaatun tajrii min tahtihaa l-anhaarutaman-taman yang mengalir sungai-sungai di bawahnya
  5. خَالِدِينَ فِيهَاkhaalidiina fiihaakalian kekal di dalamnya
  6. ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُdzaalika huwa l-fawzu l-'azhiimuitulah kemenangan yang agung

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. تَرَىtaraaengkau melihat
  3. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
  4. وَالْمُؤْمِنَاتِwa-l-mu'minaatidan perempuan-perempuan beriman
  5. يَسْعَىٰyas'aabersegera
  6. نُورُهُمْnuuruhumcahaya mereka
  7. بَيْنَbaynadi antara
  8. أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
  9. وَبِأَيْمَانِهِمْwa-bi-aymaanihimdan di kanan mereka
  10. بُشْرَاكُمُbusyraakumukabar gembira kalian
  11. الْيَوْمَl-yawmahari ini
  12. جَنَّاتٌjannaatuntaman-taman
  13. تَجْرِيtajriimengalir
  14. مِنْmindari
  15. تَحْتِهَاtahtihaabawahnya
  16. الْأَنْهَارُl-anhaarusungai-sungai
  17. خَالِدِينَkhaalidiinakekal
  18. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  19. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  20. هُوَhuwaitulah
  21. الْفَوْزُl-fawzukemenangan
  22. الْعَظِيمُl-'azhiimuMahaagung

Inti bacaan

Visualisasi cahaya sebagai representasi amal: 'cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka', gambaran konkret bahwa kualitas hidup batin akan termanifestasi secara visual pada hari perhitungan, dorongan untuk membangun 'cahaya' tersebut melalui tindakan nyata sejak sekarang.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja yang dipakai untuk cahaya di ayat ini bukan kata yang berarti bersinar. Rangkaian (يَسْعَىٰ نُورُهُمْ, yas'aa nuuruhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan kata kerjanya berarti bergerak cepat, berlari, atau bergegas. Terjemahan kami "memancar" menyampaikan terangnya tetapi tidak menyampaikan geraknya, sebab bahasa Indonesia tidak punya satu kata yang menampung keduanya sekaligus. Gambar aslinya bukan lampu yang menerangi dari atas, melainkan cahaya yang berlari mendahului pemiliknya.

Arah geraknya disebut dua-duanya. Rangkaian (بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ, bayna aydiihim wa-bi-aymaanihim) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:12 dan 66:8. Kedua ayat itu menggambarkan pemandangan yang sama pada hari yang sama, dengan kalimat yang hampir sepenuhnya sejajar. Depan dan kanan disebut, sedangkan belakang dan kiri tidak, dan penghilangan itu sama tetapnya di kedua tempat.

Dua kelompok disebut terpisah di awal ayat, laki-laki dan perempuan, masing-masing dengan bentuk katanya sendiri. Bahasa Arab sebenarnya bisa memakai satu bentuk jamak laki-laki untuk mencakup keduanya, dan itu yang biasa dipakai di banyak ayat lain. Di sini bentuknya dibelah, dan terjemahan kami mengikuti pembelahan itu dengan menyebut keduanya, bukan menyingkatnya menjadi "orang-orang mukmin" saja. Pola yang sama muncul lagi di ayat berikutnya untuk kelompok yang berlawanan, sehingga pembelahan tersebut jelas disengaja dan bukan kebetulan satu ayat.

Kabar gembiranya diucapkan dalam bentuk kutipan langsung, tanpa disebutkan siapa yang mengucapkan. Terjemahan kami membiarkannya begitu dan tidak menambahkan "(dikatakan kepada mereka)" di dalam kurung. Kalimat yang datang tanpa penutur di dalam pemandangan seperti ini adalah cara teks aslinya bekerja, dan menambahkan penutur akan mengubah suara yang muncul entah dari mana menjadi laporan biasa.

Penutupnya, (الْفَوْزُ الْعَظِيمُ, al-fawzu l-'azhiimu), muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 4:13, 5:119, 9:72, 9:89, 57:12, dan 61:12. Kata sifatnya kami terjemahkan "agung", dipakai secara seragam untuk kata itu di seluruh proyek, dan dibedakan dari "besar" yang dipakai untuk kata lain. Jangkar konkret keluarga kata ini adalah tulang, yaitu yang besar dan menopang, dan KBBI mencatat "agung" berarti besar, mulia, luhur.

Satu catatan tentang kata untuk taman. Yang tertulis berbentuk jamak, dan terjemahan kami "taman-taman" mengikuti bentuk itu, bukan menyingkatnya menjadi bentuk tunggal seperti yang lazim dipakai terjemahan lain. Bentuk jamaknya berulang di sangat banyak ayat, dan menyeragamkan seluruhnya menjadi tunggal akan menghapus satu pilihan yang tetap terjaga di teks aslinya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan sambutan cahaya bagi orang-orang beriman pada Hari Kiamat, disertai kabar gembira langsung ditujukan kepada mereka. Yang membuat gambarannya khas adalah bahwa cahaya itu bergerak, bukan menerangi dari tempat yang tetap.

Kata kerjanya berarti berlari atau bergegas. Cahaya di sini tidak turun dari atas seperti lampu yang dipasang untuk semua orang; ia berlari mendahului pemiliknya masing-masing. Artinya cahaya tersebut melekat pada orangnya, bukan pada tempatnya. Di ruang yang sama, satu orang bisa terang dan orang di sebelahnya gelap, sebab yang menerangi bukan ruangnya.

Arah yang disebut juga bukan sembarang. Depan adalah arah yang dituju, dan kanan adalah arah yang di seluruh Al-Qur'an dikaitkan dengan catatan amal yang diterima dengan baik. Yang tidak disebut adalah belakang dan kiri. Cahaya itu menerangi ke mana orangnya akan pergi, bukan dari mana ia datang, dan itu cocok dengan keadaan hari tersebut: yang di belakang sudah selesai dan tidak perlu dilihat lagi.

Kelompoknya disebut dua-duanya, laki-laki dan perempuan, dengan bentuk kata yang terpisah. Pembelahan itu diulang di ayat berikutnya untuk kelompok yang berlawanan. Susunan tersebut menutup satu penafsiran yang mudah diselipkan orang, yaitu bahwa pemandangan seperti ini sebenarnya sedang berbicara kepada sebagian orang saja.

Kabar gembiranya datang tanpa penutur yang disebutkan. Suara itu muncul begitu saja di tengah pemandangan, memakai kata ganti "kalian", langsung kepada mereka yang sedang berjalan dengan cahayanya. Yang perlu diperhatikan, kabar itu disampaikan pada hari itu juga, bukan ditunda sampai perhitungan selesai. Sambutannya diberikan di pintu, sebelum apa pun dijelaskan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut cahayanya bergerak di depan mereka. Bukan menerangi dari atas. Ia berjalan bersama.
  • Lelaki dan perempuan disebut bersama. Bukan salah satu. Keduanya membawa cahaya.
  • Kabar gembiranya diucapkan Allah pada hari itu juga. Bukan ditunda. Sambutannya di pintu.
  • Kata kerja yang dipakai berarti berlari atau bergegas, bukan bersinar. Gambarannya bukan lampu yang dipasang di langit-langit lalu menerangi semua orang yang kebetulan ada di bawahnya, melainkan cahaya yang berlari mendahului pemiliknya masing-masing. Artinya terang itu melekat pada orangnya, bukan pada tempatnya. Di ruang yang sama, satu orang bisa terang benderang dan orang yang berdiri persis di sebelahnya tetap gelap. Keadaan seperti itu tidak ada bandingannya di dunia, sebab di sini penerangan selalu urusan ruangan: siapa pun yang masuk ke kamar yang sama mendapat terang yang sama, tanpa peduli siapa dia. Ayat ini menggambarkan tempat di mana berdiri berdampingan tidak lagi berarti berbagi keadaan, dan itu satu-satunya alasan mengapa permintaan di ayat berikutnya bisa ditolak. Yang menerangi orang di sana adalah sesuatu yang ia bawa sendiri dari jauh sebelum hari itu.
  • Dua arah disebut, dan dua arah lain tidak. Yang disebut adalah depan dan kanan; yang tidak disebut adalah belakang dan kiri. Penghilangan itu tetap sama di ayat lain yang menggambarkan pemandangan serupa, jadi ia bukan kebetulan susunan kalimat. Depan adalah arah yang dituju, dan kanan sepanjang Al-Qur'an dikaitkan dengan catatan amal yang diterima. Cahaya itu, dengan kata lain, menerangi ke mana orangnya akan pergi, bukan dari mana ia datang. Bagi pembaca yang masih hidup, susunan tersebut mengandung kabar yang menenangkan sekaligus menuntut. Yang di belakang sudah selesai dan tidak akan disorot lagi di hari itu, tetapi terang yang menyorot ke depan besok justru sedang dikumpulkan dari langkah-langkah yang diambil sekarang. Allah menerangi arah maju, dan itu berarti perjalanannya belum selesai di pintu.
  • Kabar gembira di ayat ini diucapkan pada hari itu juga, bukan sesudah semuanya selesai dihitung. Urutan tersebut tidak biasa. Dalam pengalaman manusia, kabar baik selalu datang di ujung: sesudah berkas diperiksa, sesudah sidang, sesudah pengumuman. Di sini sambutannya diberikan lebih dahulu, di pintu, sebelum apa pun dijelaskan kepada mereka. Allah tidak membiarkan orang yang datang dengan cahayanya berdiri menunggu dalam keraguan. Ada yang perlu dipetik dari urutan itu oleh siapa pun yang pernah menunggu kepastian dengan cemas. Menunggu yang paling melelahkan bukan menunggu yang lama, melainkan menunggu tanpa tanda apa pun tentang arah keputusannya. Apakah cara saya memperlakukan orang yang menunggu kabar dari saya sudah sedikit pun menyerupai ini? Kepastian yang diberikan lebih awal meringankan seluruh sisa perjalanannya.

Ayat 57:13

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami, agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Dikatakan, “Kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya.” Maka, dipasang di antara mereka tembok yang mempunyai pintu; bagian dalamnya ada rahmat dan bagian luarnya dari arahnya ada azab.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُواyawma yaquulu l-munaafiquuna wa-l-munaafiqaatu li-lladziina aamanuupada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman
  2. انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْunzhuruunaa naqtabis min nuurikumtunggulah kami, agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian
  3. قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًاqiila rji'uu waraa'akum fa-ltamisuu nuurandikatakan, kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya
  4. فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌfa-dhuriba baynahum bi-suurin lahu baabunmaka, dipasang di antara mereka tembok yang mempunyai pintu
  5. بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُbaathinuhu fiihi r-rahmatu wa-zhaahiruhu min qibalihi l-'adzaabubagian dalamnya ada rahmat dan bagian luarnya dari arahnya ada azab

Terjemahan per kata (27 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. يَقُولُyaquuluberkata
  3. الْمُنَافِقُونَl-munaafiquunaorang-orang munafik
  4. وَالْمُنَافِقَاتُwa-l-munaafiqaatudan perempuan-perempuan munafik
  5. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  6. آمَنُواaamanuuberiman
  7. انْظُرُونَاunzhuruunaatunggulah kami
  8. نَقْتَبِسْnaqtabiskami mengambil
  9. مِنْmindari
  10. نُورِكُمْnuurikumcahaya kalian
  11. قِيلَqiiladikatakan
  12. ارْجِعُواrji'uukembalilah kalian
  13. وَرَاءَكُمْwaraa'akumdi belakang kalian
  14. فَالْتَمِسُواfa-ltamisuumaka carilah kalian
  15. نُورًاnuurancahaya
  16. فَضُرِبَfa-dhuribamaka diadakan
  17. بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
  18. بِسُورٍbi-suurindengan dinding
  19. لَهُlahubaginya
  20. بَابٌbaabunpintu
  21. بَاطِنُهُbaathinuhubagian dalamnya
  22. فِيهِfiihidi dalamnya
  23. الرَّحْمَةُr-rahmaturahmat
  24. وَظَاهِرُهُwa-zhaahiruhudan luarnya
  25. مِنْmindari
  26. قِبَلِهِqibalihiarahnya
  27. الْعَذَابُl-'adzaabuazab

Inti bacaan

Perumpamaan dramatis pemisahan akhir: orang munafik berkata 'tunggulah kami, kami ingin mengambil cahayamu', dijawab dengan pemisahan dinding berpintu, 'di sebelah dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab'. Konkretnya: cahaya spiritual (amal dan iman) tidak bisa dipinjam atau dibagikan di saat-saat terakhir, setiap orang harus membangun kesiapannya sendiri secara bertahap, bukan berharap menumpang pada kebaikan orang lain di menit-menit kritis.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat tiga kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (نَقْتَبِسْ, naqtabis), "kami mengambil sebagian", muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata (بِسُورٍ, bi-suurin), "dengan tembok", juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan juga di ayat ini. Kata (بَاطِنُهُ, baathinuhu), "bagian dalamnya", muncul 1 kali pula di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya sama. Tiga kata sekali pakai berkumpul dalam satu ayat, dan ketiganya memikul bagian yang berbeda dari pemandangan yang sama.

Kata yang pertama tidak berarti meminta cahaya, melainkan mengambil nyala dari nyala yang sudah ada, seperti orang menyalakan obor dari obor orang lain. Karena itu terjemahan kami berbunyi "mengambil sebagian dari cahaya kalian", bukan "meminta cahaya". Perbedaannya menentukan seberapa masuk akal permintaan itu terdengar: menyalakan obor dari obor orang lain memang tidak mengurangi apa pun pada obor yang pertama, dan justru karena itulah permintaan mereka terdengar sederhana.

Pasangan dalam dan luar yang menutup ayat ini adalah pasangan yang sama yang dipakai sebagai sebutan bagi Allah di 57:3, sepuluh ayat sebelumnya. Di sana pasangan itu menerangkan siapa Dia; di sini ia menerangkan sebuah tembok, yang bagian dalamnya berisi rahmat dan bagian luarnya berisi azab. Pasangan yang sama juga menyifati dosa di 6:120, yang kami terjemahkan "dosa yang tampak dan yang tersembunyi". Satu pasangan kata, tiga kedudukan yang sama sekali berbeda, dan terjemahan kami menjaganya tetap memakai kata yang sama supaya kaitan itu bisa dilihat pembaca.

Tambahan "(itu juga)" tidak dipakai pada keterangan waktu pembukanya, sebab kata aslinya hanya membuka anak kalimat waktu lanjutan dan tidak memuat kata tunjuk apa pun. Ayat ini memuat dua kutipan berurutan, bukan bersarang. Yang pertama permintaan orang munafik, yang kedua jawaban yang diterima. Kutipan kedua dibuka dengan kata kerja pasif yang berarti "dikatakan", tanpa menyebut siapa yang mengatakan. Terjemahan kami mempertahankan ketiadaan penutur itu dan tidak menambahkan "(kepada mereka)" di dalam kurung. Pola dialog berurutan semacam ini dipakai juga di 45:32, 46:17, dan 48:11.

Kelompoknya kembali disebut dua-duanya, laki-laki dan perempuan, sama seperti di ayat sebelumnya untuk kelompok yang berlawanan. Dua ayat berturut-turut memakai pembelahan yang sama untuk dua kelompok yang berlawanan, dan keseimbangan itu jelas disengaja.

Kata untuk tembok yang dipakai di sini bukan kata yang biasa dipakai untuk dinding rumah. Ia menunjuk tembok pembatas yang mengelilingi sesuatu, seperti tembok kota, dan bentuk itulah yang membuat gambaran ayat ini utuh: yang dipasang bukan sekadar penghalang di antara dua orang, melainkan batas yang memisahkan dua wilayah. Terjemahan kami memakai "tembok", bukan "dinding", untuk menjaga perbedaan tersebut. Tambahan "(pemisah)" yang lazim diselipkan terjemahan lain kami hapus, sebab kata aslinya sudah memuat sifat memisahkan itu di dalam dirinya, dan menambahkannya hanya mengulang apa yang sudah ada.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan pemisahan tegas antara orang beriman dan munafik pada Hari Kiamat: tembok dengan sisi rahmat dan sisi azab. Yang membuatnya terasa berat bukan hukumannya, melainkan bentuk permintaan yang ditolak.

Kata yang mereka pakai berarti mengambil nyala dari nyala yang sudah menyala, seperti orang menyalakan obor dari obor tetangganya. Perbuatan semacam itu di dunia tidak merugikan siapa pun; obor yang pertama tidak berkurang sedikit pun karenanya. Justru itu yang membuat permintaan mereka terdengar wajar, bahkan sopan. Mereka tidak meminta ditukar tempat dan tidak meminta seluruhnya, hanya sedikit dari yang tidak akan berkurang.

Penolakannya karena itu tidak bisa dibaca sebagai kekikiran. Yang menjadi soal bukan kesediaan orang yang punya, melainkan sifat barangnya. Cahaya di ayat sebelumnya digambarkan berlari mendahului pemiliknya masing-masing, melekat pada orangnya, bukan pada ruangnya. Barang yang melekat seperti itu memang tidak bisa dipindahkan, sebagaimana kesehatan orang lain tidak bisa dipinjam oleh yang sakit meski yang sehat bersedia.

Jawaban yang mereka terima menyuruh kembali ke belakang untuk mencari cahaya. Kalimat itu menunjukkan arah yang benar sekaligus arah yang mustahil, dan di situlah beratnya. Cahaya itu memang dikumpulkan di tempat yang mereka tinggalkan, yaitu hidup yang sudah lewat. Petunjuk yang tepat pada saat tidak bisa lagi ditempuh terasa lebih pahit daripada penolakan mentah.

Yang dipasang di antara mereka bukan jurang, melainkan tembok yang punya pintu. Pintu berarti pernah ada jalan tembus, dan tembok berarti sekarang tidak. Gambaran itu menyimpan keduanya sekaligus. Dan pintu tersebut punya dua sisi dengan isi yang berlawanan, memakai pasangan kata yang sepuluh ayat sebelumnya dipakai untuk menyebut Allah sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Di hadapan Allah, permintaan mereka terdengar sederhana: 'agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian'. Bukan meminta semuanya, cuma sedikit. Dan sedikit pun tidak bisa. Ada hal yang tak bisa dipindahkan bukan karena pelitnya pemilik, melainkan karena sifatnya memang tidak berpindah.
  • Jawaban yang mereka terima 'kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya'. Mereka disuruh kembali ke tempat cahaya itu sebenarnya dikumpulkan, yaitu hidup yang sudah lewat. Yang membuat kalimat itu berat bukan penolakannya, melainkan bahwa arah yang ditunjukkan memang benar dan tidak bisa ditempuh lagi.
  • Yang dipasang bukan jurang, melainkan tembok berpintu. Pintu berarti pernah ada jalan, dan tembok berarti sekarang tidak. Allah memilih gambaran yang menyimpan keduanya sekaligus, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada dinding yang tak pernah punya bukaan sama sekali.
  • Kata yang mereka pakai tidak berarti meminta cahaya, melainkan mengambil nyala dari nyala yang sudah ada, seperti orang menyalakan obornya dari obor tetangga. Di dunia, perbuatan itu tidak merugikan siapa pun. Obor yang pertama tidak berkurang seujung pun, dan menolaknya justru akan dianggap kikir yang aneh. Justru itulah yang membuat permintaan mereka terdengar sopan dan masuk akal, dan justru itu pula yang membuat penolakannya berat dibaca. Yang menjadi soal bukan kesediaan pihak yang punya, melainkan sifat barangnya. Ada hal yang tidak bisa dipindahkan meski pemiliknya bersedia sepenuh hati, sebagaimana orang sehat tidak bisa meminjamkan kesehatannya kepada yang sakit di sebelahnya. Kata sekali pakai ini muncul hanya di ayat ini, dan seluruh isinya bertumpu pada satu perbedaan itu.
  • Jawaban yang mereka terima menyuruh kembali ke belakang, lalu mencari cahaya di sana. Kalimat itu menunjukkan arah yang sepenuhnya benar. Cahaya memang dikumpulkan di tempat itu, di hidup yang sudah mereka lewati, sedikit demi sedikit tanpa terasa. Yang membuatnya menyakitkan bukan penolakannya, melainkan ketepatannya. Penolakan mentah masih menyisakan ruang untuk merasa diperlakukan tidak adil, dan rasa itu punya daya hibur tersendiri. Petunjuk yang tepat pada saat ia tidak bisa lagi ditempuh tidak menyisakan apa-apa untuk digenggam. Bagi pembaca yang masih hidup, kalimat tersebut sedang menunjuk ke arah yang sama, dan bedanya cuma satu: arah itu masih terbuka sekarang. Apa yang sedang saya kumpulkan hari ini di tempat yang besok disebut belakang?
  • Tembok yang dipasang di antara mereka disifati dengan pasangan kata dalam dan luar, dan pasangan itu adalah pasangan yang sepuluh ayat sebelumnya dipakai untuk menyebut Allah sendiri sebagai Sang Tampak dan Sang Tersembunyi. Kata yang sama juga menyifati dosa di tempat lain. Satu pasangan kata dipakai di tiga kedudukan yang jauh berbeda, dan itu bukan permainan bunyi. Ia menandai bahwa yang tampak dan yang tersembunyi adalah dua sisi yang selalu ada pada apa pun, termasuk pada diri orang yang membaca. Yang perlu diperhatikan pada tembok ini, sisi dalamnya berisi rahmat dan sisi luarnya berisi azab. Rahmat itu tidak hilang dan tidak berkurang; ia hanya berada di sisi yang lain, dan orang yang berdiri di luar tetap tahu ia ada di sana.