Ayat 68:17
إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ
Sesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetiknya pada pagi hari,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِinnaa balawnaahum ka-maa balawnaa ashaaba l-jannatisesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun
- إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَidz aqsamuu la-yashrimunnahaa mushbihiinaketika mereka bersumpah akan memetiknya pada pagi hari
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- بَلَوْنَاهُمْbalawnaahumKami menguji mereka
- كَمَاka-maasebagaimana
- بَلَوْنَاbalawnaaKami menguji
- أَصْحَابَashaabagolongan
- الْجَنَّةِl-jannatitaman
- إِذْidzketika
- أَقْسَمُواaqsamuumereka bersumpah
- لَيَصْرِمُنَّهَاla-yashrimunnahaasungguh mereka akan memetiknya
- مُصْبِحِينَmushbihiinadi waktu pagi
Inti bacaan
Perumpamaan sebagai peringatan universal: 'Kami menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetik (hasil)nya pada pagi hari', pembukaan kisah yang menjadi cermin bagi siapa pun yang merencanakan keuntungan tanpa mempertimbangkan faktor di luar kendalinya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(hasil)' tidak dipakai.
Kata (بَلَوْنَاهُمْ, balawnaahum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:168 dan 68:17. Di 7:168 alat ujinya disebut dengan terang, yaitu kebaikan dan keburukan, dan tujuannya disebut juga, yaitu agar mereka kembali. Di 68:17 dua-duanya tidak disebut. Yang dirinci justru pembandingnya, dan seluruh sisa kisah inilah rinciannya.
Rangkaian (أَصْحَابَ الْجَنَّةِ, ash-haabal-jannah) muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 9 surah, yaitu di 2:82, 7:42, 7:44, 7:46, 7:50, 10:26, 11:23, 25:24, 36:55, 46:14, 46:16, 59:20, dan 68:17; tiga belas kemunculan tetapi sembilan surah karena surah 7 memakainya empat kali dan surah 46 dua kali. Hitungan itu memasukkan ujung kata yang berubah menurut kedudukannya dalam kalimat. Bentuk yang persis sama dengan yang di ayat ini ada di 7:46, 7:50, 36:55, dan 68:17.
Dari tiga belas tempat itu, dua belas berbicara tentang penghuni taman di akhirat. Cuma satu yang berbicara tentang pemilik kebun di dunia, yaitu ayat ini. Rangkaian kata yang sama persis dipakai untuk dua hal yang letaknya sejauh mungkin, yaitu yang kekal dan yang habis dalam semalam. Yang menentukan bacaannya bukan kata-katanya, melainkan kalimat yang mengelilinginya.
Terjemahan memilih 'para pemilik kebun', bukan 'penghuni taman' seperti di dua belas tempat lainnya, sebab yang dibicarakan di sini orang yang memiliki dan memetik, bukan orang yang ditempatkan. Kata Arabnya sendiri berarti yang menyertai atau yang punya urusan dengan sesuatu, dan urusan apa yang dimaksud ditentukan oleh cerita yang mengikutinya, bukan oleh katanya.
Kata (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:17. Huruf (لَ) di depannya dan (نَّ) di ujungnya dua-duanya penanda penegasan, dan keduanya dipakai sekaligus. Jadi yang direkam bukan sekadar niat, melainkan sumpah yang diperkuat dua lapis. Terjemahan sudah memuat kata 'bersumpah', sehingga penegasannya terbawa oleh kata itu dan tidak perlu diulang lagi di belakangnya.
Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21; lima kemunculan tetapi tiga surah karena surah 15 dan surah 68 masing-masing memakainya dua kali. Di 15:66 kata itu menandai pagi ketika akar suatu kaum ditumpas habis, di 15:83 pagi ketika suara yang menggelegar menimpa mereka, dan di 37:137 pagi ketika orang melewati bekas mereka. Di luar surah ini, kata tersebut selalu melekat pada pagi sesudah kehancuran. Di ayat ini ia dipakai untuk pagi yang mereka tetapkan sendiri sebagai waktu panen.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut di mana kebunnya, tidak disebut kapan kejadiannya, tidak disebut berapa orang pemiliknya, dan tidak disebut siapa nama mereka. Yang disebut cuma perbuatan dan waktunya. Kisah tanpa nama dan tanpa tempat lebih mudah dikenakan pada siapa pun yang membacanya, dan pembuka ayat ini memang sudah menyatakan bahwa kisah itu dipakai sebagai pembanding.
Tafsiran
Ayat ini membuka kisah perumpamaan pemilik kebun sebagai ujian, sejajar dengan ujian yang dihadapi umat Mekah.
Ayat ini membuka kisah pemilik kebun dan menyatakan sejak awal bahwa kisah itu dipakai sebagai pembanding.
Kata (بَلَوْنَاهُمْ, balawnaahum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:168 dan 68:17. Di 7:168 alat uji dan tujuannya disebut; di sini dua-duanya tidak, dan yang dirinci justru pembandingnya.
Rangkaian (أَصْحَابَ الْجَنَّةِ, ash-haabal-jannah) muncul 13 kali dalam 9 surah, yaitu di 2:82, 7:42, 7:44, 7:46, 7:50, 10:26, 11:23, 25:24, 36:55, 46:14, 46:16, 59:20, dan 68:17. Dari tiga belas tempat itu, dua belas berbicara tentang penghuni taman di akhirat, dan cuma ayat ini yang berbicara tentang pemilik kebun di dunia. Kata yang sama dipakai untuk yang kekal dan untuk yang habis dalam semalam.
Kata (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:17, dan memakai dua penanda penegasan sekaligus. Kata (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) muncul 5 kali dalam 3 surah, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21; di luar surah ini kata tersebut selalu melekat pada pagi sesudah kehancuran. Tidak disebut di mana kebunnya, kapan kejadiannya, dan siapa pemiliknya.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai kisah kebun sebagai cermin. Bukan cerita lama. Perbandingan untuk yang sekarang. Kata kerjanya satu untuk dua pihak sekaligus, dan itu yang membuat kisahnya bukan berita lama. Pembaca tidak diberi jarak untuk menonton dari luar. Sebelum satu peristiwa pun diceritakan, kedudukannya sudah ditetapkan lebih dahulu sebagai cermin. Kisah yang dibuka begitu tidak menuntut pembaca menyimpulkan sendiri pelajarannya, sebab pelajarannya sudah dipasang di kalimat pertama dan ceritanya menyusul sebagai buktinya.
- Sumpah mereka disebut lebih dahulu daripada kegagalannya. Akan memetik pagi-pagi. Rencananya rapi. Waktunya ditetapkan, sasarannya jelas, dan tekadnya dikuatkan dengan sumpah yang memakai dua penanda penegasan sekaligus. Tidak ada yang keliru pada perencanaan itu jika diukur sebagai perencanaan. Justru kerapiannya yang membuat kisah ini bekerja, sebab kalau rencananya kacau, kegagalannya bisa dijelaskan tanpa membawa Allah ke dalam ceritanya. Yang gagal di sini rencana yang tidak punya cacat teknis satu pun.
- Kata menguji dipakai untuk dua pihak sekaligus. Allah menyamakan keduanya. Yang dahulu dan yang sekarang. Kata untuk menguji cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 7:168. Di tempat yang satu lagi alat ujinya disebut, yaitu kebaikan dan keburukan, dan tujuannya juga disebut. Di ayat ini keduanya dibiarkan kosong. Allah menyamakan dua zaman dengan satu kata kerja tanpa menerangkan isinya, sehingga yang mengisi kekosongan itu kisah yang menyusul, bukan keterangan tambahan.
- Rangkaian kata yang dipakai di sini muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:82, 36:55, dan 46:14, dan dua belas di antaranya berbicara tentang penghuni taman di akhirat. Cuma ayat ini yang memakainya untuk pemilik kebun di dunia. Allah memakai satu nama untuk yang kekal dan untuk yang habis dalam semalam. Yang membedakan bukan kata-katanya, melainkan kalimat di sekitarnya. Pembaca yang menghafal kata tanpa membaca kalimatnya akan salah tempat pada ayat pertama kisah ini.
- Kata untuk pagi hari yang dipakai di sini muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 15:66, 15:83, 37:137, 68:17, dan 68:21. Di luar surah ini ketiganya menandai pagi sesudah suatu kaum ditumpas. Mereka memilih kata itu untuk waktu panen mereka. Yang mereka tetapkan sebagai waktu keuntungan justru kata yang di tempat lain menandai waktu perhitungan. Allah tidak perlu memberi isyarat apa pun tentang akhir kisah ini, sebab pilihan katanya sudah mengerjakannya.
- Di mana kebunnya? Kapan kejadiannya? Berapa orang pemiliknya, dan siapa nama mereka? Tidak satu pun disebut. Yang disebut cuma perbuatan dan waktunya. Kekosongan itu bukan karena keterangannya hilang, melainkan karena kisah yang diberi nama dan tempat akan berhenti sebagai riwayat satu keluarga di satu negeri. Kisah tanpa nama menempel pada siapa saja yang membacanya, dan ayat ini sudah menyatakan sejak kalimat pertamanya bahwa itulah yang dikehendaki.
Ayat 68:18
وَلَا يَسْتَثْنُونَ
Dan mereka tidak mengucapkan pengecualian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَا يَسْتَثْنُونَwa-laa yastatsnuunadan mereka tidak mengucapkan pengecualian
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَسْتَثْنُونَyastatsnuunamengucapkan pengecualian
Inti bacaan
Kelalaian spiritual dalam perencanaan: 'mereka tidak mengucapkan pengecualian (insya Allah)', pengabaian terhadap kebiasaan menyandarkan rencana pada kehendak yang lebih besar, kesombongan implisit dalam kepastian mutlak terhadap hasil yang direncanakan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(insya Allah)' tidak dipakai: spesifikasi jenis pengecualian tidak eksplisit di teks Arab.
Kata (يَسْتَثْنُونَ, yastatsnuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:18. Seluruh ayatnya cuma dua kata, dan yang pertama gabungan huruf sambung dengan huruf ingkar. Jadi yang menanggung isi ayat ini praktis satu kata saja, dan kata itu tidak dipakai lagi di mana pun.
Di surah ini ada lima ayat yang cuma dua kata, yaitu 68:5, 68:6, 68:18, 68:20, dan 68:21. Tiga di antaranya berada di dalam kisah kebun. Ayat pendek dipakai di tempat yang perpindahannya cepat, dan bagian kisah ini memang berpindah cepat dari rencana ke akibat tanpa singgah di mana-mana.
Kata kerjanya tidak punya objek. Apa yang tidak mereka kecualikan tidak disebut, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Terjemahan menahan kekosongan itu dengan 'tidak mengucapkan pengecualian' dan tidak menyisipkan kalimat yang lazim diucapkan orang untuk menyandarkan rencana pada kehendak Allah, sebab kalimat tersebut tidak ada di ayatnya. Menyisipkannya akan mengubah ayat yang menyebut ketiadaan menjadi ayat yang menyebut satu kalimat tertentu.
Akar kata yang dipakai berarti melipat atau menekuk, dan dari akar itu lahir kata untuk mengecualikan. Mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya. Sumpah mereka tidak ditekuk sedikit pun. Ia lurus dari ujung ke ujung, dan justru kelurusan itu yang dicatat sebagai kekurangannya.
Bentuk kata kerjanya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpah di ayat sebelumnya memakai bentuk yang sudah lewat. Perbedaan bentuk itu memindahkan bacaannya. Yang direkam bukan bahwa pada satu malam mereka lupa, melainkan bahwa begitulah kebiasaan mereka. Kelalaian satu malam masih bisa dibaca sebagai kekhilafan, sedangkan kebiasaan tidak bisa dibaca begitu.
Letaknya disisipkan di antara dua hal yang sebenarnya bisa langsung bersambung. Di 68:17 ada sumpah dan rencana, dan di 68:19 ada bencana. Ayat ini berdiri di antara keduanya, dan isinya bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan. Al-Qur'an memberi tempat tersendiri kepada sesuatu yang tidak terjadi, dan tempat itu persis di antara sebab dan akibat.
Huruf (وَ, wa) di awalnya menyambungkan ayat ini ke sumpah tadi, bukan memulai kalimat yang berdiri sendiri. Jadi ini bagian dari gambaran sumpah itu, bukan keterangan tambahan yang terpisah. Sumpah mereka utuh justru karena tidak ada yang disisakan di dalamnya, dan keutuhan itulah yang sedang dilaporkan.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut kalimat apa yang seharusnya diucapkan, tidak disebut kepada siapa diucapkan, dan tidak disebut apakah mereka sadar ada yang kurang. Ayat sependek ini menyebut satu hal saja, dan hal itu berupa sesuatu yang tidak ada.
Tafsiran
Ayat ini mencatat kelalaian pemilik kebun menyisihkan hak Allah dalam sumpah mereka.
Ayat dua kata ini menyebut sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan letaknya persis di antara rencana dan akibat.
Kata (يَسْتَثْنُونَ, yastatsnuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:18. Kata kerjanya tidak punya objek, sehingga apa yang tidak mereka kecualikan tidak disebut dan tidak pernah dilengkapi di ayat sesudahnya.
Terjemahan menahan kekosongan itu dan tidak menyisipkan kalimat yang lazim diucapkan orang untuk menyandarkan rencana pada kehendak Allah, sebab kalimat tersebut tidak ada di ayatnya. Akar katanya berarti melipat, dan mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya; sumpah mereka tidak ditekuk sedikit pun.
Bentuk kata kerjanya menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpah di ayat sebelumnya sudah lewat, sehingga yang direkam kebiasaan dan bukan kelalaian satu malam. Huruf di awalnya menyambungkan ayat ini ke sumpah tadi, jadi ini bagian dari gambaran sumpahnya. Di surah ini ada lima ayat yang cuma dua kata, yaitu 68:5, 68:6, 68:18, 68:20, dan 68:21, dan tiga di antaranya berada di dalam kisah kebun.
Letaknya pun berarti. Ayat ini disisipkan di antara dua hal yang sebenarnya bisa langsung bersambung, yaitu sumpah di 68:17 dan bencana di 68:19, dan isinya bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut yang tidak diucapkan, bukan yang diucapkan. Satu kalimat kecil yang hilang. Akibatnya besar. Ayatnya sendiri cuma dua kata, dan salah satunya gabungan huruf sambung dengan huruf ingkar. Jadi ayat terpendek di bagian ini dipakai untuk melaporkan hal terkecil yang bisa dilaporkan, yaitu sesuatu yang tidak diucapkan. Ukuran ayatnya sejalan dengan ukuran yang dilaporkannya. Namun letaknya tidak kecil sama sekali, sebab ia dipasang persis di antara rencana yang rapi dan bencana yang menghabiskannya.
- Isi pengecualiannya tidak dirinci. Cuma disebut mereka tidak mengucapkannya. Bentuknya dibiarkan terbuka. Kata kerjanya tidak punya objek, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Membiarkannya terbuka menjaga ayat ini tetap berbicara tentang sikap, bukan tentang satu kalimat yang harus dihafal. Kalau kalimatnya disebutkan, yang tertinggal kelak cuma bunyinya. Yang dilaporkan Allah bukan kelalaian menyebut rumusan, melainkan ketiadaan ruang di dalam kepala mereka bagi sesuatu yang bukan keputusan mereka sendiri.
- Sumpah mereka penuh kepastian, dan itu masalahnya. Allah menyebut celah yang tidak mereka sisakan. Yakin tanpa menyisakan ruang. Akar kata yang dipakai berarti melipat atau menekuk, dan mengecualikan berarti menekuk sedikit sebuah pernyataan supaya tidak lurus sepenuhnya. Sumpah mereka lurus dari ujung ke ujung. Bentuk kata kerjanya pun menyatakan sesuatu yang berlaku terus, sedangkan sumpahnya memakai bentuk yang sudah lewat, sehingga yang dilaporkan bukan satu malam melainkan kebiasaan. Kekhilafan sesaat masih bisa dimaklumi; watak yang tetap tidak diperlakukan sama.
- Rencana ada di 68:17 dan bencana ada di 68:19. Keduanya bisa bersambung langsung tanpa kehilangan apa-apa sebagai cerita. Allah menyisipkan satu ayat di antaranya, dan isi ayat itu bukan perbuatan melainkan ketiadaan perbuatan. Memberi tempat tersendiri kepada sesuatu yang tidak terjadi berarti menyatakan bahwa di situlah letak perkaranya. Yang menghubungkan sebab dan akibat di kisah ini bukan apa yang mereka kerjakan, melainkan apa yang tidak ada pada mereka.
- Kata kerja ayat ini tidak dipakai lagi di seluruh Al-Qur'an. Padahal yang dibicarakannya perkara yang paling sehari-hari, yaitu menyisakan ruang ketika menyebutkan rencana. Allah memakai kata sekali pakai untuk urusan yang berulang setiap hari pada setiap orang. Kata yang tidak punya pasangan menahan pembaca dari melewatinya sebagai kalimat yang sudah dikenalnya. Ia harus berhenti pada dua kata ini, dan berhenti memang yang dituntut isinya.
- Kalimat apa yang seharusnya mereka ucapkan? Kepada siapa? Dan apakah mereka sendiri sadar ada yang kurang? Ayatnya tidak menjawab satu pun. Kalau jawabannya disebutkan, yang tersisa pada pembaca kelak cuma rumusan yang bisa diucapkan tanpa dipikirkan, dan rumusan yang diucapkan tanpa dipikirkan tidak berbeda dari tidak mengucapkannya. Allah menyebut ketiadaannya dan menahan isinya, sehingga yang dituntut sikapnya dan bukan bunyinya.
Ayat 68:19
فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ
Maka kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَfa-thaafa 'alayhaa thaa'ifun min rabbika wa-hum naa'imuunamaka kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَطَافَfa-thaafamaka menimpa
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- طَائِفٌthaa'ifunbisikan
- مِنْmindari
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- وَهُمْwa-humdan mereka
- نَائِمُونَnaa'imuunaorang-orang yang tidur
Inti bacaan
Kejutan bencana yang datang di saat lengah: 'kebun itu ditimpa bencana dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur', momentum konsekuensi yang datang justru saat kewaspadaan paling rendah, pengingat bahwa perencanaan matang tidak menjamin kekebalan dari faktor tak terduga.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَطَافَ, fa-thaafa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:19. Kata (طَائِفٌ, thaa'if) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:201 dan 68:19. Keduanya dari akar yang sama, dan ayat ini memakai keduanya berturut-turut di dalam satu kalimat yang pendek.
Kedua tempat yang memakai kata benda itu berlawanan arah. Di 7:201 yang berkeliling datang dari setan dan mengenai orang yang bertakwa, lalu mereka ingat dan seketika melihat. Di 68:19 ia datang dari Tuhanmu dan mengenai kebun, sedangkan pemiliknya sedang tidur dan tidak tahu apa-apa. Satu kata yang sama, dua sumber yang berlawanan, dan dua akibat yang berlawanan juga. Yang satu membangunkan kesadaran, yang lain justru datang ketika kesadaran sedang padam.
Kata (نَائِمُونَ, naa'imuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:97 dan 68:19. Di 7:97 pertanyaannya apakah penduduk negeri merasa aman dari azab yang datang kepada mereka di malam hari ketika mereka sedang tidur. Jadi di dua tempat itu tidur bukan sekadar keterangan waktu, melainkan keadaan ketika pukulan jatuh. Al-Qur'an tidak memakai kata tersebut untuk tidur yang biasa.
Rangkaian (مِنْ رَبِّكَ, min rabbika) memakai kata ganti 'mu', bukan 'mereka'. Padahal yang sedang diceritakan pemilik kebun, dan mereka bukan lawan bicara ayat ini. Al-Qur'an berpindah sebentar dari cerita kepada orang yang sedang diajaknya bicara, lalu kembali lagi ke ceritanya. Perpindahan itu menahan kisahnya dari berdiri sendiri sebagai berita tentang orang lain di zaman lain.
Terjemahan memilih 'bencana' untuk kata bendanya, dan pilihan itu menerangkan akibatnya tetapi kehilangan gambaran aslinya. Kata Arabnya berarti sesuatu yang berkeliling atau berputar mengitari. Yang dilukiskan ayatnya sesuatu yang mengelilingi kebun itu, bukan sesuatu yang jatuh menimpanya dari atas. Menahan gambaran tersebut di dalam bahasa Indonesia menuntut kalimat yang jauh lebih panjang, dan terjemahan mendahulukan hasil yang terbaca daripada gambaran yang utuh.
Kata kerja dan kata bendanya seakar dan berdampingan, susunan yang menguatkan tanpa menambah keterangan. Bahasa Arab memakai susunan seperti itu untuk menegaskan, dan bahasa Indonesia tidak punya padanan yang selancar itu. Terjemahan melewatinya, dan yang hilang bukan makna melainkan tekanannya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut bencananya berupa apa, tidak disebut berapa lama berlangsungnya, dan tidak disebut apakah ada yang terbangun. Yang disebut cuma arah datangnya dan keadaan mereka. Ayat sesudahnya pun langsung meloncat ke hasilnya, sehingga bagian tengah kisah ini memang sengaja dikosongkan.
Tafsiran
Ayat ini mencatat bencana menimpa kebun saat pemiliknya lengah tertidur.
Ayat ini menyebut datangnya bencana pada waktu pemilik kebun sedang tidur, dan menyebut arah datangnya dengan terang.
Kata (فَطَافَ, fa-thaafa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:19. Kata (طَائِفٌ, thaa'if) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:201 dan 68:19. Kedua tempat itu berlawanan arah: di 7:201 yang berkeliling datang dari setan dan mengenai orang bertakwa lalu mereka ingat, sedangkan di sini ia datang dari Tuhanmu dan mengenai kebun ketika pemiliknya tidur.
Kata (نَائِمُونَ, naa'imuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:97 dan 68:19, dan di kedua tempat itu tidur menjadi keadaan ketika pukulan jatuh. Kata ganti 'mu' pada 'dari Tuhanmu' berpindah sebentar dari cerita kepada lawan bicara ayatnya, lalu kembali lagi.
Terjemahan memilih 'bencana' dan dengan itu kehilangan gambaran aslinya, sebab kata Arabnya berarti sesuatu yang berkeliling mengitari, bukan sesuatu yang jatuh dari atas. Kata kerja dan kata bendanya seakar dan berdampingan, susunan yang menegaskan tanpa menambah keterangan, dan bahasa Indonesia tidak punya padanan yang selancar itu.
Tidak disebut bencananya berupa apa, tidak disebut berapa lama berlangsungnya, dan tidak disebut apakah ada yang terbangun. Ayat sesudahnya langsung meloncat ke hasilnya, sehingga bagian tengah kisah ini memang sengaja dikosongkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut waktunya saat mereka tidur. Bukan saat berjaga. Saat paling lengah. Kata untuk tidur di ayat ini cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan yang satu lagi di 7:97, yaitu ketika azab datang kepada penduduk negeri pada malam hari. Kedua tempat itu memakainya untuk keadaan yang sama, yaitu saat pukulan jatuh. Tidur di dalam Al-Qur'an tidak pernah disebut sebagai istirahat yang biasa ketika kata ini yang dipakai. Ia selalu jadi ukuran bagi jarak antara merasa aman dan benar-benar aman.
- Mereka sudah merencanakan semalam sebelumnya. Rencananya matang. Tidurnya nyenyak. Tidur nyenyak itu buah dari rencana yang rapi, bukan lawannya. Karena semuanya sudah diatur semalam sebelumnya, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan sampai pagi. Kematangan rencana menghasilkan ketenangan, dan ketenangan itulah yang membuat mereka tidak terjaga. Allah menaruh peristiwanya persis di jam ketika kerja mereka sudah selesai dan hasilnya dianggap tinggal diambil.
- Bencananya disebut Allah dari Tuhanmu. Bukan kebetulan cuaca. Yang direncanakan tidak menjamin apa-apa. Arah datangnya disebut dengan kata ganti 'mu', bukan 'mereka', padahal yang diceritakan pemilik kebun. Al-Qur'an berpindah sebentar kepada orang yang sedang diajaknya bicara, lalu kembali ke ceritanya. Perpindahan itu menahan kisahnya dari terbaca sebagai berita tentang orang lain di zaman lain. Yang dijelaskan bukan cuma bahwa kebun itu habis, melainkan dari mana datangnya, dan keterangan tentang arah inilah yang membuatnya bukan kecelakaan.
- Kata yang dipakai untuk bencana di sini cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an. Yang satu lagi di 7:201, dan di sana yang berkeliling datang dari setan lalu orang bertakwa ingat dan seketika melihat. Di ayat ini ia datang dari Allah dan yang dikenainya orang yang tertidur. Kata yang sama membangunkan di satu tempat dan datang ketika mata terpejam di tempat lain. Yang menentukan bukan katanya, melainkan siapa yang mengirimnya dan dalam keadaan apa orangnya.
- Kata Arabnya berarti sesuatu yang berputar mengitari, bukan sesuatu yang jatuh dari atas. Terjemahan memilih 'bencana' supaya akibatnya terbaca, dan dengan itu gambaran berkelilingnya hilang. Yang dilukiskan aslinya sesuatu yang mengitari kebun itu sampai selesai, bukan satu pukulan yang mendarat sekali. Kata kerja dan kata bendanya pun seakar dan berdampingan, susunan yang menegaskan tanpa menambah keterangan baru sedikit pun.
- Bencananya berupa apa? Berapa lama berlangsung? Adakah yang sempat terbangun? Ayatnya tidak menjawab, dan ayat sesudahnya langsung meloncat ke hasilnya. Allah menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu membiarkan jaraknya kosong. Mengisi kekosongan itu dengan rupa bencana tertentu akan memindahkan perhatian pembaca kepada peristiwanya. Yang dikehendaki bukan itu, sebab kisah ini sejak 68:17 sudah dinyatakan sebagai pembanding, bukan sebagai laporan kejadian.
Ayat 68:20
فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ
Maka jadilah ia seperti yang telah dipetik habis.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِfa-ashbahat ka-sh-shariimimaka jadilah ia seperti yang telah dipetik habis
Terjemahan per kata (2 kata)
- فَأَصْبَحَتْfa-ashbahatmaka jadilah ia
- كَالصَّرِيمِka-sh-shariimiseperti malam yang gelap
Inti bacaan
Kehancuran total yang instan: 'jadilah ia seperti (kebun) yang telah dipetik (gelap)', transformasi drastis dari harapan panen melimpah menjadi kehancuran gelap dalam semalam, kontras tajam antara rencana dan realitas.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(kebun)' dan '(gelap)' tidak dipakai: dipilih satu makna literal 'dipetik habis' tanpa menggabungkan dua kemungkinan tafsir dalam kurung.
Kata (فَأَصْبَحَتْ, fa-ashbahat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20. Kata (كَالصَّرِيمِ, kash-shariim) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20. Seluruh ayatnya cuma dua kata, dan dua-duanya tidak dipakai lagi di tempat lain mana pun.
Kedua kata itu bukan kata asing bagi kisahnya. Yang pertama seakar dengan (مُصْبِحِينَ, mushbihiin) yang dipakai di 68:17 dan 68:21, yaitu kata untuk pagi hari. Yang kedua seakar dengan (لَيَصْرِمُنَّهَا, la-yashrimunnahaa) di 68:17, yaitu kata dari sumpah mereka sendiri. Jadi dua kata yang melukiskan kerugian mereka diambil dari dua kata yang mereka pakai untuk merencanakan keuntungan.
Mereka bersumpah akan memetik kebun itu pada pagi hari. Yang terjadi, kebunnya sendiri menjadi seperti yang sudah dipetik, dan itu pun pada pagi hari. Kata kerja sumpahnya kembali sebagai gambaran kehilangannya, dan kata waktu rencananya kembali sebagai kata waktu akibatnya. Susunan seperti itu tidak menambah satu keterangan baru pun; ia cuma memulangkan kata-kata mereka kepada mereka.
Akar kata yang kedua berarti memotong atau memetik sampai putus. Bentuk yang dipakai di sini bisa menunjuk sesuatu yang telah dipotong. Sebagian penerjemah membacanya sebagai malam yang gelap, sebab malam dipandang terpotong dari siang. Terjemahan di sini memilih 'yang telah dipetik habis' karena bacaan itulah yang menyambung ke sumpah di 68:17 dan ke kata yang dipakai lagi di 68:22.
Kata kerja pertamanya menunjuk pelaku perempuan tunggal, dan yang dimaksud kebunnya. Pemiliknya tidak disebut sama sekali di ayat ini, padahal merekalah yang tadi bersumpah dan sekarang sedang tidur. Ayat ini memindahkan sorotan sepenuhnya kepada benda yang mereka rencanakan, dan orangnya baru muncul lagi di 68:21.
Huruf (فَ, fa) di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul. Antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di 68:20 tidak ada jeda yang diceritakan sama sekali. Prosesnya dilewati seluruhnya. Al-Qur'an menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu membiarkan pembaca sendiri yang menempuh jarak di antara keduanya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa. Perbandingannya pun dipakai tanpa penjelasan tambahan, yaitu 'seperti yang telah dipetik habis'. Yang membaca diberi hasil akhirnya dan tidak diberi jalan menuju ke sana, sehingga ia berhenti pada akibatnya dan bukan pada peristiwanya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kebun yang berubah total, habis tak bersisa.
Ayat dua kata ini menutup bagian pertama kisah kebun dengan menyebut hasilnya saja, tanpa prosesnya.
Kata (فَأَصْبَحَتْ, fa-ashbahat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:20, dan kata (كَالصَّرِيمِ, kash-shariim) juga cuma di 68:20. Namun keduanya bukan kata asing bagi kisahnya: yang pertama seakar dengan kata untuk pagi hari yang dipakai di 68:17 dan 68:21, dan yang kedua seakar dengan kata dari sumpah mereka di 68:17.
Mereka bersumpah akan memetik kebunnya pada pagi hari, dan yang terjadi kebunnya sendiri menjadi seperti yang telah dipetik, pada pagi hari juga. Kata kerja sumpah dan kata waktu rencana mereka kembali sebagai gambaran akibatnya.
Akar kata yang kedua berarti memotong sampai putus. Sebagian penerjemah membacanya sebagai malam yang gelap; terjemahan di sini memilih 'yang telah dipetik habis' karena bacaan itu menyambung ke 68:17 dan ke 68:22. Kata kerjanya menunjuk kebun, bukan pemiliknya, dan pemiliknya baru muncul lagi di 68:21.
Huruf di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul, sehingga antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di sini tidak ada jeda yang diceritakan. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut hasilnya, bukan prosesnya. Sudah habis. Bagaimananya tidak diceritakan. Huruf di awal ayat menyatakan urutan yang langsung menyusul, sehingga antara bencana di 68:19 dan keadaan pagi di sini tidak ada jeda yang diceritakan sama sekali. Prosesnya dilewati seluruhnya. Allah menyebut keadaan sebelum dan keadaan sesudah, lalu meninggalkan jarak di antaranya tanpa isi. Cerita yang melompat begitu memindahkan perhatian dari peristiwanya kepada akibatnya, dan akibatnya memang yang dipakai kisah ini sebagai pembanding.
- Semalam saja jaraknya. Rencananya kemarin. Kebunnya pagi ini. Kata kerja pertama ayat ini seakar dengan kata untuk pagi hari yang mereka pakai sendiri di 68:17 ketika bersumpah. Pagi yang mereka tetapkan sebagai waktu panen datang tepat pada waktunya, dan yang berubah bukan waktunya melainkan isinya. Jarak antara rencana dan hasilnya cuma satu malam, dan malam itu mereka lewati dengan tidur. Semua yang mereka atur tetap berlaku kecuali satu hal yang tidak pernah mereka masukkan ke dalam hitungan.
- Perbandingannya dipakai Allah, bukan keterangan langsung. Seperti yang dipetik habis. Yang membaca membayangkan sendiri. Perbandingannya dipakai tanpa penjelasan tambahan, dan kata yang dipakai untuk membandingkan pun tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Tidak disebut apa yang menghabiskannya, tidak disebut berapa lama, dan tidak disebut apakah ada yang tersisa. Allah memberi hasil akhirnya dan menahan jalan menuju ke sana. Pembaca yang membayangkan sendiri akan berhenti pada akibat yang dibayangkannya, dan di situlah kisah ini bekerja.
- Kata yang dipakai untuk melukiskan keadaan kebun itu seakar dengan kata kerja yang mereka pakai dalam sumpah di 68:17. Mereka bersumpah akan memetiknya; kebun itu menjadi seperti yang telah dipetik. Allah tidak memakai kata baru untuk menyebut kerugian mereka. Yang dipakai kata mereka sendiri, dikembalikan dengan pelaku yang berbeda. Balasan yang memakai kata orangnya sendiri tidak menuntut penjelasan tambahan apa pun untuk dipahami.
- Ayat ini cuma dua kata, dan dua-duanya tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Namun keduanya seakar dengan kata yang sudah dipakai di dalam kisah yang sama, satu dengan kata untuk pagi hari di 68:17 dan 68:21, satu lagi dengan kata dari sumpah mereka. Jadi kebaruannya cuma pada bentuknya. Bahannya sudah ada sejak kalimat pertama kisah ini, dan yang berubah cuma siapa yang mengerjakan dan siapa yang dikenai.
- Siapa yang sedang dibicarakan ayat ini? Bukan pemiliknya. Kata kerjanya menunjuk kebun, dan pemiliknya tidak disebut satu kata pun, padahal merekalah yang tadi bersumpah dan sekarang sedang tidur. Allah memindahkan sorotan sepenuhnya kepada benda yang mereka rencanakan, dan mereka baru muncul lagi di 68:21 ketika saling memanggil. Orang yang menghilang dari kalimat tentang miliknya sendiri sedang digambarkan sebagai orang yang tidak berperan apa-apa atas miliknya.