Ayat 68:42
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ
Pada hari betis disingkapkan, dan mereka diseru untuk bersujud, maka mereka tidak mampu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَyawma yuksyafu 'an saaqin wa-yud'awna ilaa s-sujuudi fa-laa yastathii'uunapada hari betis disingkapkan, dan mereka diseru untuk bersujud, maka mereka tidak mampu
Terjemahan per kata (9 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يُكْشَفُyuksyafudisingkap
- عَنْ'andari
- سَاقٍsaaqinbetis
- وَيُدْعَوْنَwa-yud'awnadan mereka diseru
- إِلَىilaakepada
- السُّجُودِs-sujuudisujud
- فَلَاfa-laamaka tidak
- يَسْتَطِيعُونَyastathii'uunamereka sanggup
Inti bacaan
Momen krisis yang melumpuhkan: 'pada hari betis disingkapkan, dan mereka diseru untuk bersujud, maka mereka tidak mampu', gambaran ironis ketidakmampuan melakukan tindakan sederhana (sujud) pada momen yang paling genting, konsekuensi dari kebiasaan menolak tindakan yang sama ketika masih mudah dilakukan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُكْشَفُ, yuksyafu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42. Kata (سَاقٍ, saaq) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42. Dua kata sekali pakai berdiri berdampingan di pembuka ayat ini, dan keduanya menanggung gambaran yang paling sulit diterangkan di seluruh surah ini.
Bentuk kata kerjanya menyatakan yang dikenai perbuatan, sehingga yang menyingkap tidak disebut. Ayatnya tidak berkata siapa yang menyingkapkan dan tidak berkata milik siapa yang disingkapkan. Terjemahan menahan kekosongan itu dengan 'disingkapkan' dan tidak menyebutkan pelakunya. Menyebutkan pelakunya akan menambahkan keterangan yang tidak ada di dalam ayatnya, dan pada ayat seperti ini penambahan sekecil apa pun berakibat besar.
Kata bendanya tanpa kata sandang, jadi ia tidak menunjuk sesuatu yang sudah dikenal pembacanya. Susunan begitu menahan ayat ini dari menjadi gambaran yang bisa dibayangkan dengan pasti. Yang bisa dipastikan cuma bahwa hari itu ada sesuatu yang disingkapkan, dan bahwa sesudahnya orang diseru bersujud lalu tidak sanggup.
Rangkaian (إِلَى السُّجُودِ, ilas-sujuud) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42 dan 68:43. Dua-duanya di dalam surah ini, dan dua-duanya berdampingan. Jadi seruan untuk bersujud dengan susunan kata seperti itu tidak dipakai di surah mana pun selain surah ini. Pengulangan yang rapat dalam dua ayat berturut-turut membuat perbandingan antara dua waktu terbaca tanpa perlu dinyatakan.
Yang dilaporkan bukan penolakan melainkan ketidaksanggupan. Ayat ini tidak berkata mereka enggan dan tidak berkata mereka menolak. Kata kerjanya menyatakan tidak mampu. Perbedaan itu penting, sebab enggan masih menyisakan pilihan sedangkan tidak mampu sudah menutupnya. Yang dahulu sanggup tetapi enggan, pada hari itu ingin tetapi tidak sanggup.
Ayat ini datang tepat sesudah tuntutan di 68:41 yang tidak dijawab. Al-Qur'an tidak menyimpulkan bahwa tuntutan itu gagal dipenuhi. Ia berpindah ke sebuah hari, dan di hari itu perkaranya bukan lagi menunjukkan bukti melainkan mengerjakan satu gerak tubuh yang paling sederhana. Perpindahan dari pembuktian ke perbuatan itu menutup seluruh rentetan sebelumnya.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut hari apa itu, tidak disebut siapa yang menyeru, dan tidak disebut apa yang menghalangi mereka. Yang disebut cuma urutannya, yaitu disingkapkan lalu diseru lalu tidak sanggup. Urutan tanpa sebab membuat pembaca berhenti pada gambarannya, dan berhenti di situ memang yang dituntut oleh ayat yang menahan begitu banyak keterangan.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan hari kiamat saat orang durhaka tidak mampu bersujud.
Ayat ini berpindah dari tuntutan bukti ke gambaran sebuah hari, dan di hari itu yang diminta bukan lagi bukti melainkan satu gerak tubuh.
Kata kerja (يُكْشَفُ, yuksyafu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42. Kata (سَاقٍ, saaq) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42. Dua kata sekali pakai berdiri berdampingan di pembukanya.
Bentuk kata kerjanya menyatakan yang dikenai perbuatan, sehingga yang menyingkap tidak disebut, dan terjemahan menahan kekosongan itu tanpa menyebutkan pelakunya. Kata bendanya pun tanpa kata sandang, jadi ia tidak menunjuk sesuatu yang sudah dikenal pembacanya.
Rangkaian (إِلَى السُّجُودِ, ilas-sujuud) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:42 dan 68:43, dua-duanya di dalam surah ini dan berdampingan. Yang dilaporkan bukan penolakan melainkan ketidaksanggupan, dan perbedaan itu penting sebab enggan masih menyisakan pilihan sedangkan tidak mampu sudah menutupnya. Tidak disebut hari apa itu, siapa yang menyeru, dan apa yang menghalangi mereka.
Ayat ini datang tepat sesudah tuntutan di 68:41 yang tidak dijawab. Al-Qur'an tidak menyimpulkan bahwa tuntutan itu gagal dipenuhi, melainkan berpindah ke sebuah hari, dan di hari itu perkaranya bukan lagi menunjukkan bukti melainkan mengerjakan satu gerak tubuh yang paling sederhana. Yang disebut cuma urutannya, yaitu disingkapkan lalu diseru lalu tidak sanggup.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka diseru, lalu tidak mampu. Bukan menolak. Tidak bisa. Ayat ini tidak berkata mereka enggan dan tidak berkata mereka menolak. Kata kerjanya menyatakan tidak mampu. Perbedaan itu menentukan, sebab enggan masih menyisakan pilihan sedangkan tidak mampu sudah menutupnya. Yang dahulu sanggup tetapi enggan, pada hari itu ingin tetapi tidak sanggup lagi. Allah merekam pertukaran kedudukan tersebut dengan satu kata kerja saja, tanpa menambahkan penilaian apa pun. Kehendak yang tersisa tanpa kesanggupan justru yang paling berat ditanggung.
- Yang dulu mudah kini mustahil. Sujud di dunia ringan. Di sana tidak sanggup. Rangkaian seruan yang dipakai di sini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua-duanya di dalam surah ini, yaitu di 68:42 dan 68:43. Keduanya pun berdampingan. Pengulangan yang serapat itu membuat perbandingan antara dua waktu terbaca tanpa perlu dinyatakan, sebab pembaca bertemu susunan yang sama dua kali dalam dua baris dengan akibat yang berlawanan. Dua baris yang memakai susunan sama membuat pembacanya menoleh sendiri ke baris sebelumnya.
- Kalimatnya tidak menyebut siapa yang menyingkap. Allah membiarkannya tanpa pelaku. Yang tersingkap disebut, penyingkapnya tidak. Bentuk kata kerjanya menyatakan yang dikenai perbuatan, sehingga yang menyingkap tidak disebut dan milik siapa yang disingkapkan juga tidak. Kata bendanya pun tanpa kata sandang. Terjemahan menahan dua kekosongan itu apa adanya. Menyebutkan pelakunya akan menambahkan keterangan yang tidak ada di dalam ayatnya, dan pada ayat yang sejak awal menahan begitu banyak, penambahan sekecil apa pun berakibat besar. Ayat yang menahan sebanyak ini menuntut pembacanya diam lebih lama daripada biasanya.
- Kata kerja pembuka dan kata benda yang mengikutinya sama-sama tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berdiri berdampingan. Allah memakai dua kata sekali pakai justru pada gambaran yang paling sulit diterangkan di surah ini. Kata yang tidak punya pasangan di tempat lain tidak bisa dijelaskan dengan membandingkan pemakaiannya, sehingga pembaca tinggal berhadapan dengan gambarannya saja. Kata tanpa pembanding memaksa pembaca berhenti di gambarannya, bukan di keterangannya.
- Ayat ini datang tepat sesudah tuntutan di 68:41 yang tidak dijawab. Allah tidak menyimpulkan bahwa tuntutan itu gagal dipenuhi. Dia berpindah ke sebuah hari, dan di hari itu perkaranya bukan lagi menunjukkan bukti melainkan mengerjakan satu gerak tubuh yang paling sederhana. Perpindahan dari pembuktian ke perbuatan itulah yang menutup seluruh rentetan pertanyaan sebelumnya. Bukti bisa disiapkan bertahun-tahun, sedangkan gerak tubuh cuma menuntut kesanggupan saat itu.
- Hari apa itu? Siapa yang menyeru? Apa yang menghalangi mereka? Tidak satu pun dijawab. Yang disebut cuma urutannya, yaitu disingkapkan lalu diseru lalu tidak sanggup. Allah menahan sebabnya dan memberikan urutannya saja. Urutan tanpa sebab membuat pembaca berhenti pada gambarannya, dan berhenti di situ memang yang dituntut oleh ayat yang menahan sedemikian banyak keterangan. Urutan yang diberikan tanpa sebabnya menutup jalan bagi penjelasan yang dikarang sendiri.
Ayat 68:43
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ
Pandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan. Sungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌkhaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatunpandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan
- وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَwa-qad kaanuu yud'awna ilaa s-sujuudi wa-hum saalimuunasungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat
Terjemahan per kata (11 kata)
- خَاشِعَةًkhaasyi'atantunduk
- أَبْصَارُهُمْabshaaruhumpenglihatan mereka
- تَرْهَقُهُمْtarhaquhummenutupi mereka
- ذِلَّةٌdzillatunkehinaan
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- كَانُواkaanuumereka selalu
- يُدْعَوْنَyud'awnamereka diseru
- إِلَىilaakepada
- السُّجُودِs-sujuudisujud
- وَهُمْwa-humdan mereka
- سَالِمُونَsaalimuunaorang-orang yang selamat
Inti bacaan
Kontras antara kesempatan yang diabaikan dan konsekuensi yang tak terelakkan: 'pandangan mereka tertunduk dan diliputi kehinaan. Sungguh, dahulu mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat', pengingat tajam bahwa penolakan terhadap kewajiban ibadah saat kondisi masih mendukung berujung pada ketidakmampuan menyesal di kemudian hari.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(di dunia)' dan '(tetapi mereka enggan)' tidak dipakai.
Rangkaian (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, khaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43 dan 70:44, sama persis huruf demi huruf. Di 70:44 rangkaian itu disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Di ayat ini ia disusul keterangan bahwa dahulu mereka pernah diseru bersujud ketika masih sanggup. Gambaran yang sama diselesaikan dua surah dengan dua cara yang berbeda.
Kata kerja (تَرْهَقُهُمْ, tarhaquhum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Di 10:27 ia dipakai untuk mereka yang mengumpulkan keburukan, dan di sana wajah mereka digambarkan seakan tertutup potongan malam yang gelap. Jadi kata itu selalu melekat pada gambaran wajah dan pandangan, bukan pada gambaran tubuh secara keseluruhan.
Kata (سَالِمُونَ, saalimuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43. Ia menutup ayat ini dan sekaligus menutup perbandingannya. Kata tersebut berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka. Terjemahan memakai 'pada waktu mereka sehat' dan menahan maknanya tanpa menambahkan keterangan tentang jenis keutuhan yang dimaksud.
Ayat ini memuat dua waktu sekaligus. Paruh pertamanya melukiskan keadaan mereka pada hari itu, dan paruh keduanya menoleh ke belakang, ke masa ketika mereka masih di dunia. Susunan (وَقَدْ, wa-qad) yang menghubungkan keduanya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Jadi yang dibandingkan bukan dua kemungkinan, melainkan dua kenyataan yang keduanya sudah pasti.
Seruan yang mereka terima dahulu dan seruan yang mereka terima pada hari itu memakai susunan kata yang sama, seperti terlihat pada 68:42 dan 68:43. Yang berbeda cuma keadaan tubuh mereka ketika seruan itu datang. Dahulu sanggup tetapi tidak dikerjakan; pada hari itu dikerjakan seruan yang sama tetapi tidak sanggup. Al-Qur'an tidak menyusun satu kalimat pun untuk menyatakan perbandingan itu, dan pengulangan kata yang mengerjakannya.
Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Jadi yang dilaporkan bukan bahwa mereka pernah diseru sekali lalu melewatkannya, melainkan bahwa seruan itu datang berkali-kali sepanjang mereka masih sanggup. Bentuk tersebut memindahkan perkaranya dari satu peristiwa yang terlewat ke kebiasaan yang berlangsung lama.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut berapa kali mereka diseru, tidak disebut siapa yang menyerukan, dan tidak disebut apa alasan mereka dahulu. Yang disebut cuma bahwa seruannya ada dan bahwa mereka waktu itu dalam keadaan utuh. Dua keterangan itu saja sudah cukup untuk membuat gambaran pada paruh pertama terbaca sebagai akibat, bukan sebagai kemalangan.
Tafsiran
Ayat ini mengontraskan keengganan bersujud semasa sehat dengan ketidakmampuan di akhirat.
Ayat ini menaruh dua waktu di dalam satu kalimat, yaitu keadaan mereka pada hari itu dan keadaan mereka dahulu.
Rangkaian (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, khaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43 dan 70:44, sama persis huruf demi huruf. Di 70:44 ia disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan, sedangkan di sini ia disusul keterangan tentang masa lalu mereka.
Kata kerja (تَرْهَقُهُمْ, tarhaquhum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Kata (سَالِمُونَ, saalimuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 68:43, dan ia menutup ayat sekaligus menutup perbandingannya.
Susunan penghubung di tengahnya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi, sehingga yang dibandingkan dua kenyataan dan bukan dua kemungkinan. Seruan yang mereka terima dahulu dan yang mereka terima pada hari itu memakai susunan kata yang sama, dan yang berbeda cuma keadaan tubuh mereka. Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Tidak disebut berapa kali mereka diseru dan apa alasan mereka dahulu.
Kata penutupnya berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyandingkan dua waktu dalam satu ayat. Dahulu sehat dan menolak. Kini tertunduk dan tak sanggup. Paruh pertamanya melukiskan keadaan mereka pada hari itu, dan paruh keduanya menoleh ke belakang, ke masa ketika mereka masih di dunia. Susunan penghubung di tengahnya menyatakan sesuatu yang sudah benar-benar terjadi. Jadi yang dibandingkan bukan dua kemungkinan, melainkan dua kenyataan yang sama pastinya. Allah menaruh keduanya dalam satu kalimat, sehingga jarak di antaranya terbaca sekaligus, bukan berurutan. Dua kenyataan yang disandingkan tidak menyisakan ruang untuk berkata bahwa keadaannya berbeda.
- Kesempatan itu disebut ada saat mereka sehat. Bukan saat sulit. Justru saat paling mampu. Kata penutup ayat ini tidak muncul lagi di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti selamat dan utuh, jadi yang dimaksud keadaan ketika tidak ada satu pun halangan pada tubuh mereka. Dahulu sanggup tetapi tidak dikerjakan, dan pada hari itu dikerjakan seruan yang sama tetapi tidak sanggup. Allah menutup ayatnya dengan kata yang menerangkan seluruh perbandingannya, dan sesudah kata itu tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Kata terakhir yang menerangkan seluruh ayat tidak menuntut kalimat tambahan sesudahnya.
- Tunduk yang datang sekarang tidak dihitung Allah sebagai sujud. Bentuknya mirip. Waktunya sudah lewat. Bentuk kata kerja pada paruh keduanya menyatakan sesuatu yang berulang, bukan satu kali. Jadi yang dilaporkan bukan satu seruan yang terlewat, melainkan seruan yang datang berkali-kali sepanjang mereka masih sanggup. Bentuk itu memindahkan perkaranya dari satu peristiwa yang luput menjadi kebiasaan yang berlangsung lama, dan kebiasaan tidak bisa dibela dengan alasan bahwa kesempatannya cuma sekali. Kesempatan yang berulang menutup alasan bahwa pintunya cuma terbuka sekali.
- Paruh pertama ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 70:44. Di sana rangkaian itu disusul pernyataan bahwa itulah hari yang dijanjikan kepada mereka, sedangkan di sini ia disusul keterangan bahwa dahulu mereka pernah diseru ketika masih sanggup. Allah memakai gambaran yang sama di dua surah dan menyelesaikannya dengan dua cara. Yang satu menunjuk ke depan, dan yang satu lagi menunjuk ke belakang. Satu gambaran yang dipakai dua surah menandai bahwa yang dilukiskan bukan kejadian tunggal.
- Kata kerja yang dipakai di sini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 10:27, 68:43, dan 70:44. Di 10:27 ia dipakai untuk mereka yang mengumpulkan keburukan, dan di sana wajah mereka digambarkan seakan tertutup potongan malam yang gelap. Jadi kata itu selalu melekat pada gambaran wajah dan pandangan, bukan pada tubuh secara keseluruhan. Allah memakainya di tempat yang sama pada tubuh, di tiga surah yang berbeda. Tempat yang sama pada tubuh, disebut di tiga surah, memberi pembaca satu titik yang bisa diperiksa.
- Berapa kali mereka diseru? Siapa yang menyerukan? Apa alasan mereka dahulu? Tidak satu pun dicatat. Yang disebut cuma bahwa seruannya ada dan bahwa mereka waktu itu utuh. Allah menahan alasan mereka, dan penahanan itu bekerja: dua keterangan yang tersisa sudah cukup membuat gambaran pada paruh pertama terbaca sebagai akibat, bukan sebagai kemalangan yang menimpa tanpa sebab. Alasan yang tidak dicatat tidak bisa diperdebatkan, dan yang tersisa cuma akibatnya.