Ayat 71:5
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا
Dia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًاqaala rabbi innii da'awtu qawmii laylan wa-nahaarandia berkata, 'ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam'
Terjemahan per kata (7 kata)
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- دَعَوْتُda'awtuaku menyeru
- قَوْمِيqawmiikaumku
- لَيْلًاlaylanmalam
- وَنَهَارًاwa-nahaarandan siang
Inti bacaan
Kesabaran dan konsistensi usaha yang luar biasa: 'Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam', gambaran dedikasi tanpa henti dalam menjalankan misi, dakwah yang dilakukan terus-menerus tanpa mengenal waktu istirahat, standar ketekunan yang tinggi dalam menyampaikan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka kutip baru: doa Nuh kepada Allah, berbeda dari kutip sebelumnya yang ditujukan kepada kaumnya.
Ayat ini titik balik seluruh surah. Sesudahnya, dua puluh empat ayat berturut-turut sampai 71:28 berakhir dengan tanwin fathah tanpa satu pun kecuali. Empat ayat sebelumnya tidak demikian. Pergantian rima itu jatuh persis di ayat ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah. Bunyi ikut menandai perpindahan lawan bicara.
Bentuk (دَعَوْتُ, da'awtu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akhirannya menunjuk pelaku tunggal, yaitu 'aku', dan bentuknya menandai perbuatan yang sudah selesai. Jadi bunyinya bukan 'aku menyeru' melainkan 'aku telah menyeru'. Perbedaan itu penting: kalimat ini laporan tentang pekerjaan yang sudah dijalankan, bukan permintaan izin untuk memulai.
Kata (قَوْمِي, qawmii) muncul di 5 ayat: 7:142, 25:30, 26:117, 36:26, dan 71:5. Akhirannya berarti 'milikku'. Ini penyebutan ketiga untuk kelompok yang sama dalam lima ayat, sesudah 'kaumnya' di 71:1 dan 'kaumku' di 71:2. Ketiganya memakai akhiran kepemilikan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah, Nuh tetap menyebut mereka miliknya.
Penutup (وَنَهَارًا, wanahaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Pasangannya, (لَيْلًا, laylan), muncul di 5 ayat: 10:24, 17:1, 44:23, 71:5, dan 76:26. Pasangan malam dan siang di sini berdiri sebagai keterangan waktu tanpa kata depan, susunan yang dalam bahasa Arab menandai keberlangsungan penuh. Terjemahan 'siang dan malam' membalik urutannya agar wajar dalam bahasa Indonesia, sedangkan teks Arab menyebut malam lebih dahulu.
Perlu dicatat bahwa mulai ayat ini sampai 71:20, seluruh kalimat berada di dalam satu kutipan doa yang panjang. Kutipan itu dibuka di sini dan baru ditutup enam belas ayat kemudian. Di dalamnya, mulai 71:10, terbuka lagi kutipan kedua yang bersarang: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah. Dua lapis kutipan itu berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup di ujung 71:20.
Sapaan (رَبِّ, rabbi) di awal doa juga perlu dicatat. Ia bentuk seruan dengan akhiran kepemilikan yang huruf terakhirnya dibuang, susunan yang lazim dalam bahasa Arab untuk menyapa dalam doa. Bunyinya 'wahai Tuhanku', dan terjemahan mempertahankan akhiran kepemilikan itu. Sapaan yang sama dipakai lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28, yaitu di ketiga doa berikutnya. Empat kali sapaan yang sama dalam satu surah, dan setiap kali ia menandai bahwa yang berbicara sedang berpaling dari manusia kepada Allah.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke doa Nuh kepada Allah, mengadukan penolakan kaumnya siang dan malam. Ayat ini memutar seluruh arah surah. Sampai 71:4, yang terdengar adalah suara Nuh kepada kaumnya. Sejak di sini, yang terdengar adalah suaranya kepada Allah. Dan pergantian itu tidak hanya terjadi pada isi, melainkan juga pada bunyi. Dua puluh empat ayat berikutnya berakhir dengan rima yang sama tanpa satu pun kecuali, sedangkan empat ayat sebelumnya tidak. Bentuk ikut berpindah bersama isinya.
Yang dilaporkan Nuh adalah kerja, bukan hasil. Ia menyebut apa yang sudah ia lakukan, dan bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang selesai. Tidak ada permintaan, tidak ada tuntutan, tidak ada keluhan tentang dirinya sendiri. Hanya laporan. Keterangan waktunya, malam dan siang, berdiri tanpa kata depan, susunan yang menandai keberlangsungan penuh. Bukan sesekali di malam hari dan sesekali di siang hari, melainkan sepanjang keduanya.
Yang paling menyentuh adalah sebutannya untuk mereka. Ia berkata 'kaumku', memakai akhiran kepemilikan, sama seperti di 71:2 ketika ia menyapa mereka langsung. Ini penyebutan ketiga dalam lima ayat, dan ketiganya memakai akhiran yang menandai kedekatan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah tentang penolakan mereka, ia tidak melepaskan mereka dari dirinya. Pengaduan yang tidak disertai pemutusan hubungan adalah bentuk kesetiaan yang jarang, dan surah ini merekamnya tanpa berkomentar.
Renungan dan Hikmah
- Sejak ayat ini sampai 71:28, dua puluh empat ayat berturut-turut berakhir dengan rima yang sama tanpa satu pun kecuali. Empat ayat sebelumnya tidak demikian. Pergantian itu jatuh persis ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah. Bentuk bunyi ikut menandai perpindahan lawan bicara. Susunan sehalus itu tidak mungkin kebetulan, dan ia hanya terlihat oleh yang membaca surah sebagai satu kesatuan. Membaca sepotong-sepotong menghilangkan justru bagian yang paling halus dari susunan itu.
- Yang disebut Nuh adalah apa yang sudah ia lakukan, dan bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang selesai. Tidak ada permintaan, tidak ada tuntutan, tidak ada keluhan tentang dirinya sendiri. Hanya laporan kepada Allah. Ini menunjukkan bagaimana seorang utusan memahami tugasnya. Yang menjadi tanggung jawabnya adalah kerja, dan hasil bukan bagian yang perlu ia pertanggungjawabkan atau ia tuntut. Melepaskan hasil bukan berarti tidak peduli; ia berarti tahu batas kewenangan sendiri.
- Keterangan waktu di ayat ini berdiri tanpa kata depan, susunan yang dalam bahasa Arab menandai keberlangsungan penuh. Bukan sesekali di malam hari dan sesekali di siang hari, melainkan sepanjang keduanya. Terjemahan membalik urutannya agar wajar dibaca, sedangkan teks Arab menyebut malam lebih dahulu. Allah merekam kesungguhan itu dalam susunan tata bahasa, bukan dalam pujian, dan justru itu yang membuatnya terasa sebagai fakta. Fakta yang tersimpan dalam tata bahasa lebih sulit dibantah daripada pujian yang diucapkan.
- Nuh menyebut mereka kaumku, memakai akhiran kepemilikan, sama seperti ketika menyapa mereka langsung di 71:2. Ini penyebutan ketiga dalam lima ayat, dan ketiganya menandai kedekatan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah tentang penolakan mereka, ia tidak melepaskan mereka dari dirinya. Sanggupkah kita mengeluhkan seseorang kepada Allah tanpa diam-diam sudah memutuskan bahwa ia bukan lagi bagian dari kita? Doa yang masih menyebut seseorang sebagai milik kita adalah doa yang belum menyerah atasnya.
- Mulai ayat ini sampai 71:20, seluruh kalimat berada di dalam satu kutipan doa yang panjang. Di dalamnya, mulai 71:10, terbuka lagi kutipan kedua yang bersarang: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai ditutup di ujung 71:20. Menandai batasnya dengan cermat menentukan apakah pembaca mendengar Nuh berdoa atau Nuh berdakwah. Satu tanda baca yang salah tempat bisa memindahkan seluruh kalimat ke mulut yang keliru.
- Kata untuk kaum dengan akhiran milikku muncul di 5 ayat: 7:142, 25:30, 26:117, 36:26, dan 71:5. Di ayat ini ia dipakai di dalam doa, bukan dalam sapaan. Artinya sebutan itu tidak berubah menurut siapa yang mendengar. Nuh menyebut mereka dengan kata yang sama di depan mereka dan di belakang mereka. Ketetapan sebutan seperti itu adalah ukuran kejujuran yang sederhana dan tidak mudah dipalsukan. Orang yang berbeda sebutannya di depan dan di belakang sedang menyimpan dua penilaian sekaligus.
Ayat 71:6
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
Tetapi seruanku tidak menambah mereka selain lari,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًاfa-lam yazid-hum du'aa'ii illaa firaaran'tetapi seruanku tidak menambah mereka selain lari'
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَلَمْfa-lammaka tidak
- يَزِدْهُمْyazid-hummenambah mereka
- دُعَائِيdu'aa'iiseruanku
- إِلَّاillaakecuali
- فِرَارًاfiraaranlari
Inti bacaan
Hasil paradoks dari usaha tulus: 'seruanku tidak menambah mereka selain lari (menjauh)', pengakuan jujur bahwa niat baik dan usaha maksimal tidak selalu menghasilkan respons positif, kadang justru memperkuat penolakan, kenyataan pahit yang perlu diterima tanpa menyalahkan diri sendiri atas pilihan orang lain.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(menjauh)' tidak dipakai.
Dua kata di ayat pendek ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (يَزِدْهُمْ, yazid-hum) dan (دُعَائِي, du'aa-ii). Dari lima patah kata penyusunnya, dua sudah tidak berulang di mana pun. Bentuk yang serumpun dengan yang pertama akan muncul lagi di 71:21 sebagai (يَزِدْهُ, yazid-hu), juga sekali pakai, dalam kalimat tentang orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Dua ayat itu memakai susunan yang sejajar: sesuatu yang seharusnya menambah kebaikan justru hanya menambah hal yang buruk.
Kata (فِرَارًا, firaaran) muncul di 3 ayat: 18:18, 33:13, dan 71:6. Ia berarti lari menjauh. Di 18:18 kata itu dipakai untuk keadaan orang yang akan lari ketakutan kalau menyaksikan sesuatu, dan di 33:13 untuk sekelompok orang yang meminta izin mundur dari barisan. Di sini ia menjadi satu-satunya hasil dari seruan yang dilakukan siang dan malam. Terjemahan 'lari' dipertahankan telanjang, tanpa menambahkan kata penjelas seperti 'menjauh', sebab teks hanya menuliskan satu kata.
Susunan kalimatnya patut diperhatikan. Yang menjadi pelaku dalam kalimat ini bukan mereka, melainkan seruan Nuh. Bunyi harfiahnya kira-kira 'seruanku tidak menambah mereka selain lari'. Jadi yang bertindak menambah adalah seruannya, dan yang bertambah pada mereka adalah pelarian. Susunan itu terasa terbalik dari yang diharapkan, dan justru keterbalikan itu yang menjadi isi ayat. Terjemahan mempertahankan urutan pelaku tersebut.
Susunan penyangkalannya berupa pengecualian: tidak menambah apa pun kecuali satu hal. Susunan seperti ini menutup semua kemungkinan lain lalu menyisakan satu saja, dan yang tersisa itu justru kebalikan dari yang dituju. Ia muncul lagi di 71:21 dan 71:24 dengan pola yang sama. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk 'tidak menambah selain' dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya.
Draf awal menambahkan '(menjauh)' di dalam kurung sesudahnya, dan tambahan itu tidak dipakai. Kata Arabnya sudah lengkap sendiri, dan menambahkan keterangan berarti menerangkan sesuatu yang tidak menuntut penjelasan.
Perlu diperhatikan pula bahwa ayat ini ayat pertama di surah yang memakai rima baru. Penutupnya berbunyi tanwin fathah, sama seperti 71:5 sebelumnya dan dua puluh dua ayat sesudahnya. Dua ayat berturut-turut, 71:5 dan 71:6, memasang pola bunyi yang akan bertahan sampai ujung surah. Yang pertama menyebut usaha, yang kedua menyebut hasilnya, dan keduanya diucapkan di dalam doa. Rima baru itu lahir bersama nada pengaduan.
Tafsiran
Ayat ini mencatat penolakan kaum Nuh yang justru semakin menjauh. Ayat ini melaporkan hasil, dan hasilnya nol. Bukan sekadar tidak berhasil, melainkan berbalik arah. Seruan yang dilakukan sepanjang malam dan siang tidak menghasilkan satu langkah mendekat, melainkan menambah jarak. Laporan sepahit itu diucapkan dalam lima patah kata tanpa keluhan dan tanpa alasan.
Susunan kalimatnya menyimpan hal yang halus. Yang menjadi pelaku bukan mereka, melainkan seruan Nuh sendiri. Bunyi harfiahnya kira-kira 'seruanku tidak menambah mereka selain lari'. Jadi seruan itulah yang menambah, dan yang bertambah adalah pelarian. Susunan yang terasa terbalik itu justru menjadi isi ayat. Ada usaha yang, karena keras kepala pihak yang dituju, berubah menjadi pendorong ke arah sebaliknya.
Bentuk penyangkalannya menutup semua kemungkinan lalu menyisakan satu, dan yang tersisa adalah kebalikan dari yang dituju. Susunan yang sama muncul lagi di 71:21 dan 71:24. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk 'tidak menambah selain' dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya. Dan kata kerja yang dipakai di sini serumpun dengan yang dipakai di 71:21, keduanya sekali pakai di seluruh Al-Qur'an. Di sini seruan tidak menambah selain pelarian; di sana harta dan anak tidak menambah selain kerugian. Dua hal yang seharusnya menambah kebaikan sama-sama berbalik menjadi penambah keburukan.
Renungan dan Hikmah
- Seruan yang dilakukan sepanjang malam dan siang tidak menghasilkan satu langkah mendekat, melainkan menambah jarak. Bukan sekadar tidak berhasil, melainkan berbalik arah. Laporan sepahit itu diucapkan dalam lima patah kata tanpa keluhan dan tanpa alasan. Allah merekamnya apa adanya. Ada kerja yang benar dan sungguh-sungguh yang tetap berakhir tanpa buah, dan Al-Qur'an tidak menutupi kemungkinan itu demi menyenangkan pembacanya. Menyembunyikan kemungkinan itu justru akan meruntuhkan orang yang kelak mengalaminya.
- Pelaku dalam kalimat ini bukan mereka, melainkan seruan Nuh. Bunyi harfiahnya kira-kira seruanku tidak menambah mereka selain lari. Jadi seruan itulah yang menambah, dan yang bertambah adalah pelarian. Susunan yang terasa terbalik itu justru menjadi isi ayat. Ada usaha yang, karena keras kepala pihak yang dituju, berubah menjadi pendorong ke arah sebaliknya. Kebenaran yang ditolak tidak berhenti netral; ia mengeraskan yang menolaknya. Tidak ada sikap netral terhadap peringatan yang sudah sampai ke telinga.
- Bentuk penyangkalan di ayat ini menutup semua kemungkinan lalu menyisakan satu, dan yang tersisa adalah kebalikan dari yang dituju. Susunan yang sama muncul lagi di 71:21 dan 71:24. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk tidak menambah selain dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya. Pengulangan pola itu mengikat tiga bagian surah menjadi satu keluhan yang sama, diucapkan dengan bentuk kalimat yang sama. Bentuk kalimat yang berulang adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa tiga peristiwa itu satu jenis.
- Dari lima patah kata penyusun ayat ini, dua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kepadatan sebesar itu di ayat sependek ini tidak biasa. Artinya keadaan yang dilaporkan di sini tidak dilaporkan di tempat lain dengan kata yang sama. Allah memberi pengalaman yang khusus perbendaharaan yang khusus. Kegagalan seorang utusan sesudah kesungguhan penuh memang bukan hal yang sering diceritakan, dan bahasanya pun tidak dipinjam dari tempat lain. Bahasa yang tidak dipinjam menandakan pengalaman yang memang tidak ada bandingnya.
- Kata untuk lari di ayat ini muncul di 3 ayat: 18:18, 33:13, dan 71:6. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung sesudahnya, dan tambahan itu tidak dipakai. Kata Arabnya sudah lengkap sendiri. Menambahkan keterangan berarti menerangkan sesuatu yang tidak menuntut penjelasan. Terjemahan yang terlalu membantu akhirnya melemahkan, sebab pembaca kehilangan kesempatan merasakan ketelanjangan kata yang memang dipilih Allah. Kadang tugas penerjemah bukan menerangkan, melainkan menahan diri.
- Kata kerja di ayat ini serumpun dengan yang dipakai di 71:21, dan keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Di sini seruan tidak menambah selain pelarian; di sana harta dan anak tidak menambah selain kerugian. Dua hal yang seharusnya menambah kebaikan sama-sama berbalik menjadi penambah keburukan. Apa yang selama ini kita kira sedang menambah bekal, dan bagaimana kalau ternyata ia menambah yang lain? Yang bertambah pada diri kita belum tentu searah dengan yang kita usahakan.