Ayat 74:19
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ
Maka binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَfa-qutila kayfa qaddaramaka binasalah dia, bagaimanakah dia menetapkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَقُتِلَfa-qutilamaka binasalah dia
- كَيْفَkayfabagaimana
- قَدَّرَqaddaradia menetapkan
Inti bacaan
Konsekuensi bagi kalkulasi yang salah arah: 'binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?', kutukan yang disertai pertanyaan retoris mengejek proses pemikiran yang seharusnya mengarah pada kebenaran namun justru dipakai untuk membenarkan penolakan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَقُتِلَ, fa qutila) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berupa doa celaka bagi orang itu.
Kata (قُتِلَ, qutila) tanpa awalan muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 3:144, 17:33, 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, 81:9, dan 85:4. Ia berarti dibunuh atau dilaknat.
Rangkaian (كَيْفَ قَدَّرَ, kaifa qaddara) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:19 dan 74:20. Dua-duanya di surah ini.
Perhatikan bahwa dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan. Tidak ada jarak di antara keduanya.
Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa seluruh pemakaiannya berdesakan di dua baris.
Perhatikan bahwa 80:17 dan 51:10 juga memakai sebutan celaka itu. Dua surah pendek memakainya untuk menegur.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga surah memakai bahan yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini memutus gambaran di 74:18. Sebuah seruan menyela sebelum langkah berikutnya.
Susunan itu tidak lazim untuk sebuah gambaran. Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu.
Perhatikan bahwa seruannya diulang di 74:20 hampir persis. Yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung.
Pengulangan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris berbeda satu patah saja.
Perhatikan bahwa yang dicela cara berpikirnya, bukan hasilnya. Yang disebut bagaimana ia menetapkan.
Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa celaannya menyasar caranya.
Perhatikan bahwa ayat ini tiga patah. Ia sependek 74:15.
Kependekan itu berlaku di seluruh bagian ini. Al-Qur'an tidak menandainya.
Perhatikan bahwa seruan ini memakai susunan doa. Ia bukan pernyataan tentang apa yang terjadi.
Susunan itu tidak lazim di tengah gambaran. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Perhatikan bahwa seruan itu memutus gambaran yang baru dimulai. Satu langkah sudah disebut, dan langkah kedua tertunda.
Penundaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris menyela di tengah.
Perhatikan bahwa 85:4 memakai sebutan celaka itu untuk sekelompok orang. Di sini ia dipakai untuk satu orang.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk perorangan dan untuk golongan.
Perhatikan bahwa 81:9 memakainya dalam pertanyaan tentang anak yang dikubur hidup. Susunannya jauh berbeda dari ayat ini.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan berdiri di banyak keadaan.
Perhatikan bahwa yang dicela caranya menetapkan, bukan apa yang ditetapkan. Isinya baru disebut di 74:24.
Jarak antara celaan dan isinya lima ayat. Al-Qur'an tidak menandai jarak itu.
Perhatikan bahwa celaan ini datang sebelum pembacanya tahu apa yang disimpulkannya. Susunan itu menaruh hukumannya lebih dulu.
Tafsiran
Ayat ini mengutuk rancangan tokoh tersebut dengan seruan celaan. Ayat ini menyela gambaran dengan sebuah seruan celaka. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tanpa awalan ia muncul 8 kali, yaitu 3:144, 17:33, 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, 81:9, dan 85:4.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 74:19 dan 74:20, dan dua-duanya di surah ini. Dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan tanpa jarak di antaranya.
Ayat 80:17 dan 51:10 juga memakai sebutan celaka itu, sehingga dua surah pendek memakainya untuk menegur. Ayat ini juga memutus gambaran di 74:18, sebab sebuah seruan menyela sebelum langkah berikutnya.
Seruannya juga diulang di 74:20 hampir persis, dan yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung. Yang dicela juga cara berpikirnya dan bukan hasilnya, sebab yang disebut bagaimana ia menetapkan.
Ayat ini juga tiga patah dan sependek 74:15, dan kependekan itu berlaku di seluruh bagian ini. Seruan ini juga memakai susunan doa dan bukan pernyataan tentang apa yang terjadi, dan susunan itu tidak lazim di tengah sebuah gambaran. Ayat 85:4 memakai sebutan celaka itu untuk sekelompok orang sedangkan di sini untuk satu orang, dan 81:9 memakainya dalam pertanyaan yang susunannya jauh berbeda. Yang dicela juga caranya menetapkan, sedangkan isinya baru disebut di 74:24.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 74:19 dan 74:20, dan dua-duanya di surah ini. Dua pemakaian itu berada di dua ayat berurutan tanpa jarak di antaranya. Seluruh pemakaiannya berdesakan di dua baris yang bersentuhan. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu dengan satu kalimat pun. Seruan yang memakai susunan doa jarang berdiri di tengah gambaran yang sedang berjalan. Ia memotong rangkaian itu tepat sesudah langkah pertama disebut orang. Ayat 74:21 baru menyambungkannya kembali dua baris sesudah itu.
- Kata pertamanya tanpa awalan dipakai Allah 8 kali, antara lain di 51:10, 74:19, 80:17, dan 85:4. Ayat 80:17 dan 51:10 juga memakainya untuk menegur, sehingga tiga surah pendek memakai bahan yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu, dan ia cuma terlihat kalau ketiganya dibandingkan. Delapan pemakaian yang tersebar di tujuh surah menandai sebutan yang dipakai luas. Di 85:4 untuk sekelompok orang, dan di sini untuk satu orang saja. Sebarannya luas sekali, dari surah panjang sampai surah yang pendek.
- Ayat ini memutus gambaran yang dimulai Allah di 74:18, sebab sebuah seruan menyela sebelum langkah berikutnya. Susunan itu tidak lazim untuk sebuah gambaran yang sedang berjalan. Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu, dan pembacanya berhenti tepat di tengah rangkaian. Dua baris menyela di tengah rangkaian tujuh langkah. Langkah kedua tertunda sampai baris kedua puluh satu. Selaan sependek dua baris pun tetap memutus jalannya gambaran.
- Seruannya diulang Allah di 74:20 hampir persis, dan yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung. Dua baris berurutan karena itu berbeda satu patah saja. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu, dan pasangan sedekat itu jarang berdiri berdampingan. Pengulangan hampir persis di dua baris bersebelahan jarang muncul di surah mana pun. Yang membedakan kedua baris itu cuma satu patah penyambung saja. Ayat 74:20 mengulangnya nyaris tanpa satu pun perubahan di dalamnya.
- Yang dicela Allah cara berpikirnya, bukan hasilnya, sebab yang disebut bagaimana ia menetapkan. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Celaannya menyasar caranya, dan itu membuat perbuatannya dinilai sejak sebelum kesimpulannya keluar. Yang dicela caranya menetapkan, dan isinya baru disebut lima baris kemudian di 74:24. Hukumannya jatuh sebelum kesimpulannya terdengar. Isinya baru diucapkan orang itu lima baris kemudian di 74:24.
- Allah menaruh celaan ini sebelum orang itu selesai berpikir. Gambarannya belum sampai ke kesimpulan ketika seruannya sudah jatuh. Kalau sebuah celaan datang sebelum kesimpulan diucapkan, apa yang sebenarnya sudah cukup untuk menilainya? Celaan yang datang lebih dulu membalik urutan yang biasa kita anggap adil. Kalau caranya sudah salah sejak awal, isinya tidak perlu ditunggu untuk dinilai. Ayat 74:24 dan 74:25 baru memuat apa yang akhirnya ia simpulkan.
Ayat 74:20
ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ
Kemudian binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَtsumma qutila kayfa qaddarakemudian binasalah dia, bagaimanakah dia menetapkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- قُتِلَqutilabinasalah
- كَيْفَkayfabagaimana
- قَدَّرَqaddaradia menetapkan
Inti bacaan
Penekanan berulang atas kesalahan yang sama: 'kemudian, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?', pengulangan yang menegaskan besarnya ironi antara kemampuan berpikir yang dimiliki dan hasil akhir yang justru menyesatkan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (كَيْفَ قَدَّرَ, kaifa qaddara) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:19 dan 74:20. Ini pemakaian keduanya.
Perhatikan bahwa ayat ini mengulang 74:19 hampir persis. Yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung di depannya.
Jadi dua ayat berurutan berbeda satu patah saja. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35. Di sana pun dua baris berbeda satu patah.
Dua surah bertetangga memakai cara yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung itu menandai urutan. Celaan kedua datang sesudah yang pertama.
Susunan itu menunda, bukan menambah. Al-Qur'an tidak menyatakan penundaan itu.
Perhatikan bahwa isi celaannya tidak bertambah. Dua baris berlalu tanpa satu keterangan baru.
Kekosongan itu tidak diisi di ayat berikutnya. Al-Qur'an berpindah ke langkah berikutnya.
Perhatikan bahwa sebutan menetapkan dipakai untuk ketiga kalinya. Yang pertama di 74:18 dan yang kedua di 74:19.
Tiga pemakaian beruntun itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.
Perhatikan bahwa tiga pemakaian itu memakai tiga kedudukan yang berbeda. Yang pertama berupa gambaran, dan dua berikutnya berupa celaan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan berpindah kedudukan.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia satu patah lebih panjang daripada 74:19.
Perbedaan sekecil itu memperlambat iramanya. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu.
Perhatikan bahwa dua baris celaan ini menutup selaan. Sesudahnya 74:21 kembali ke gambaran.
Perhatikan bahwa pengulangan hampir utuh seperti ini jarang di Al-Qur'an. Ia biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan.
Di sini dua barisnya berdempetan. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Perhatikan bahwa 75:34 dan 75:35 memakai cara yang sama di surah tetangganya. Di sana pun dua baris berdempetan.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga memakai cara yang sama.
Perhatikan bahwa dua-duanya berupa celaan. Kesamaan jenisnya menambah kesejajarannya.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai bahan yang serupa.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung yang dipakai berarti kemudian. Ia menandai jarak waktu, bukan sekadar urutan.
Pemakaian itu ganjil untuk dua celaan yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan keganjilan itu.
Perhatikan bahwa sebutan penyambung yang sama dipakai di 74:21, 74:22, dan 74:23. Empat baris berturut-turut memakainya.
Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu penghubung terdengar empat kali beruntun.
Kata (قُتِلَ, qutila) tanpa awalan dipakai di baris ini. Ia muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an: 3:144, 17:33, 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, 81:9, dan 85:4.
Perhatikan bahwa 74:19 memakainya dengan awalan penghubung. Dua baris berurutan memakai dua susunan.
Perbedaan itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa awalannya hilang di baris kedua.
Perhatikan bahwa dua baris celaan ini berdiri di tengah tujuh langkah. Letaknya membelah rangkaian itu.
Tafsiran
Ayat ini mengulang seruan celaan sebagai penegasan retoris. Ayat ini mengulang celaan di 74:19 hampir persis. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 74:19 dan 74:20, dan ini pemakaian keduanya.
Yang ditambahkan cuma satu sebutan penyambung di depannya, sehingga dua ayat berurutan berbeda satu patah saja. Cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35, sebab di sana pun dua baris berbeda satu patah.
Sebutan penyambung itu juga menandai urutan, sebab celaan kedua datang sesudah yang pertama. Susunan itu menunda dan bukan menambah, dan isi celaannya tidak bertambah sama sekali.
Sebutan menetapkan juga dipakai untuk ketiga kalinya, sesudah 74:18 dan 74:19, dan tiga pemakaian beruntun itu tidak lazim. Tiga pemakaian itu juga memakai tiga kedudukan yang berbeda.
Ayat ini juga empat patah dan satu patah lebih panjang daripada 74:19. Dua baris celaan ini juga menutup selaan, sebab 74:21 kembali ke gambaran. Pengulangan hampir utuh seperti ini juga jarang di Al-Qur'an, sebab ia biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan, sedangkan di sini dua barisnya berdempetan. Ayat 75:34 dan 75:35 memakai cara yang sama di surah tetangganya, dan dua-duanya juga berupa celaan. Sebutan penyambung yang dipakai juga berarti kemudian, sehingga ia menandai jarak waktu dan bukan sekadar urutan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mengulang 74:19 hampir persis, dan yang ditambahkan Allah cuma satu sebutan penyambung di depannya. Dua ayat berurutan karena itu berbeda satu patah saja. Cara yang sama dipakai di 75:34 dan 75:35, sebab di sana pun dua baris berbeda satu patah. Dua surah bertetangga memakai cara yang sama tanpa satu penanda pun. Pengulangan hampir utuh biasanya dipakai untuk refrein yang berjauhan letaknya. Di sini dua barisnya justru berdempetan, dan hal itu membalik kebiasaan pemakaiannya. Kebiasaan pemakaiannya dibalik di dua baris ini.
- Sebutan penyambung yang dipakai Allah menandai urutan, sebab celaan kedua datang sesudah yang pertama. Susunan itu menunda dan bukan menambah keterangan apa pun. Isi celaannya tidak bertambah, dan dua baris berlalu tanpa satu keterangan baru. Sebutan penyambung yang berarti kemudian menandai jarak waktu, bukan sekadar urutan. Memakainya di antara dua celaan yang sama persis membuat jedanya terasa panjang. Jedanya terasa panjang meski katanya sama.
- Sebutan menetapkan dipakai Allah untuk ketiga kalinya, sesudah 74:18 dan 74:19. Tiga pemakaian beruntun seperti itu tidak lazim di surah mana pun. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan bunyinya terdengar tiga kali dalam tiga baris bersambungan. Tiga pemakaian beruntun satu sebutan dalam tiga baris membuat bunyinya menempel di telinga. Pembacanya sudah mendengarnya sebelum sempat memikirkan apa artinya. Telinganya bekerja lebih dulu daripada pikirannya.
- Tiga pemakaian itu memakai tiga kedudukan yang berbeda, sebab yang pertama berupa gambaran dan dua berikutnya berupa celaan. Satu sebutan berpindah kedudukan tiga kali dalam tiga baris. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pembacanya harus mengenalinya dari susunannya. Satu sebutan berpindah dari gambaran ke celaan lalu ke celaan lagi. Kedudukannya berubah tiga kali tanpa satu huruf pun pada katanya berubah. Katanya tetap, dan kedudukannya yang berpindah.
- Ayat ini empat patah dan satu patah lebih panjang daripada 74:19. Perbedaan sekecil itu memperlambat iramanya tepat di celaan yang kedua. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu, dan telinga pembacanya yang merasakan jedanya. Satu patah tambahan sudah cukup memperlambat baris yang cuma tiga patah. Jeda sekecil itu pun tetap terasa di bagian yang bergerak secepat ini. Bagian ini bergerak cepat, dan jeda kecil pun terasa.
- Dua baris celaan ini menutup selaan, dan sesudahnya Allah kembali ke gambaran di 74:21. Isi celaannya tidak pernah diisi di ayat mana pun. Kalau sebuah celaan diulang persis tanpa ditambah keterangan, apa yang sedang dikerjakan oleh pengulangan itu sendiri? Dua baris celaan ini membelah rangkaian tujuh langkah menjadi dua bagian. Letaknya menandai bahwa penilaiannya sudah jatuh di tengah jalan. Tujuh langkahnya terbelah oleh dua baris di tengah.